Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Bahagia dalam Berbagi


__ADS_3

Doni sudah selesai mandi. Ia mematut dirinya di depan cermin. Akhir-akhir ini ia suka melamun di depan cermin.


Ia memperhatikan tubuhnya yang sudah semakin kekar. Olah raga dan bela diri yang rutin diikutinya mulai menunjukkan hasil yang memuaskan. Otot-ototnya sudah mulai kelihatan. Proporsional dengan ukuran tubuhnya.


Doni mengambil sebuah hoodie kesayangannya di lemari pakaian. Sudah lama dia tidak menggunakan hoodie tersebut.


"Ah... Ga muat lagi..." Doni mendengus kesal. Rasanya baru beberapa bulan dia tidak menggunakan hoodie itu. Namun kini sudah kekecilan, tidak bisa lagi dipakai. Pertumbuhan Doni pesat sekali dalam beberapa bulan ini.


Setelah selesai berpakaian, Doni segera turun dari kamarnya di lantai dua. Ia berpapasan dengan Pak Wicaksono di ruang tengah.


"Wah... Tuan Muda sudah siap? Pak Heru sudah menunggu di depan." Ucap Pak Wicaksono.


"Baik, pak." Doni mengangguk dan tersenyum. Dia beranjak menuju teras rumah. Terlihat Pak Heru sedang duduk di kursi teras.


"Selamat sore, Tuan Muda." Sapa Pak Heru ketika melihat Doni muncul di teras. Lelaki paruh baya itu bangun dari duduknya dan membungkukkan badan untuk memberi hormat.


"Tuan Muda ingin menggunakan mobil yang mana?" Pak Heru menunjuk tiga mobil mewah yang terparkir rapi di garasi mereka yang lebar.


"Sesuai keinginan mama saja, pak." Doni memberi pendapat. "Baik, Tuan Muda." Pak Heru bergegas berjalan dan mengeluarkan mobil yang dimaksud Doni dari garasi.


Doni berjalan santai sambil memperhatikan beberapa tukang taman mereka bekerja merapikan tumbuhan-tumbuhan hias di halaman rumah mereka yang luas.


Beberapa tukang taman tersebut menyapa Doni. Doni terlihat berbicara santai dengan mereka.


Tiba-tiba smartphone Doni berdering. "Halo... Iya. Aku mau pergi, temani mama ke..." Belum selesai perkataan Doni, lawan bicaranya di seberang sana sudah memotong pembicaraan.


"Ah... Payah lo! Dasar anak mami! Lain kali lo harus ikutan ya!" Tukas Hendi julid. Hendi mengakhiri panggilan. Doni mendengus kesal.


Hendi, teman sebangkunya yang sombong ini memang sangat mengesalkan. Tidak mengherankan jika para senior memukulinya beberapa hari yang lalu.


Doni juga terkadang ingin sekali menghajarnya. Namun mengingat kebaikan hati Hendi yang pernah meminjaminya uang beberapa kali, berhasil membuat Doni mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Ya, Doni seringkali lupa membawa sejumlah uang cash di dompetnya. Dia sudah terbiasa menggunakan E-Wallet, beberapa kartu debit dan kartu kredit platinum untuk melakukan berbagai jenis pembayaran dan transaksi keuangan lainnya.


Tentu saja semua kantin di SMA Adhyaksa masih menggunakan metode pembayaran by cash. Sehingga semua kartu platinum dan E-Wallet Doni otomatis tidak berfungsi.


"Sayang, ayo! Nanti keburu senja!" Nyonya Wishnu memanggil Doni agar segera mengikutinya masuk ke dalam mobil mereka. Doni berpamitan dengan sopan pada para tukang taman.


Mobil Oddysey berwarna Platinum White Pearl meninggalkan perkarangan rumah Doni yang megah. Pak Heru menurunkan kaca mobil dan berhenti sejenak ketika melewati pos security di dekat pintu gerbang.


"Selamat jalan, Nyonya dan Tuan Muda." Kedua security yang sedang bertugas membungkukkan badan mereka dan mempersilahkan Pak Heru melewati pintu gerbang.


"Pak, bagaimana dengan hadiah pesanan kita?" Nyonya Wishnu bertanya pada Pak Heru mengenai hadiah yang akan mereka berikan pada anak-anak di yayasan.


"Siap, Nyonya. Semuanya sudah beres. Saya sudah menghubungi kembali agar mereka segera mengantar pesanan kita sore ini." Jawab Pak Heru.


"Syukurlah... Terima kasih, Pak Heru." Ujar Nyonya Wishnu.


"Bukannya kemarin juga mama sudah mengirimkan hadiah ke sana?" Tanya Doni. Dia masih ingat kemarin mamanya memerintahkan Pak Heru memesan buku-buku dan kitab suci untuk diserahkan ke yayasan. Sekarang hadiah apa lagi yang dimaksud mamanya?


"Oh... Begitu..." Ucap Doni polos. Mamanya memang suka sekali dengan anak-anak.


Yayasan Tunas Kasih Bunda didirikan oleh Tuan Wishnu tujuh tahun yang lalu. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan merekrut anak-anak jalanan, anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar lainnya. Memberdayakan mereka, memberi pendidikan dan penghidupan yang layak.


Tuan Wishnu mengerti betapa rasa kesepian sang istri membawa dampak yang buruk bagi keluarganya. Nyonya Wishnu awalnya adalah wanita karir yang sukses. Namun setelah beberapa tahun usia pernikahan mereka, ia memutuskan mendedikasikan pengabdian penuh pada suami dan anak-anaknya.


Nyonya Wishnu mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, mendukung penuh karir suaminya hingga mencapai puncak kejayaan dalam waktu singkat. Tuan Wishnu berhasil menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan pertambangan terkemuka di negara ini.


Benarlah pepatah yang mengatakan:


"Dibalik kesuksesan seorang pria, selalu ada sosok wanita hebat yang mendukungnya."


Perusahaan Tuan Wishnu berkembang pesat. Kantor cabang telah mulai tumbuh di berbagai provinsi. Namun sebuah kecelakaan besar yang menimpa keluarga mereka, nyaris merenggut semua kebahagiaan yang mereka punya.

__ADS_1


Nyonya Wishnu adalah orang yang paling terpukul. Kesedihannya ketika merelakan kepergian semua buah hatinya meninggalkan trauma yang mendalam. Rasa kesepian, kesedihan, dan terpuruk membuat Nyonya Wishnu hidup namun seolah tak bernyawa. Hari-hari menjadi begitu kelam.


Hingga pada suatu hari, Tuan Wishnu mendapat ide untuk membentuk satu yayasan yang dapat dikelola langsung oleh Nyonya Wishnu.


Hari demi hari berlalu, Nyonya Wishnu kembali menemukan semangatnya setiap kali berkunjung ke yayasan tersebut. Kesibukannya mengelola yayasan dan bermain bersama anak-anak di sana seolah-olah telah mengembalikan separuh nyawa Nyonya Wishnu yang hilang.


Nyonya Wishnu selalu membawa Doni kecil bersamanya, membiarkan Doni bergaul dengan anak-anak di yayasan. Bagi Nyonya Wishnu, ada kebahagiaan yang sulit digambarkan ketika melihat putera semata wayangnya itu bercengkerama ria dengan pengurus dan anak-anak di yayasan.


Kini yayasan Tunas Kasih Bunda semakin berkembang. Anak-anak semakin ramai, donatur semakin bertambah, beberapa bangunan tambahan juga sedang dibangun agar dapat menampung lebih banyak lagi anak-anak tuna wisma.


"Sayang, mama berencana membangun sekolah di yayasan kita..." Nyonya Wishnu menggenggam tangan Doni dengan lembut.


"Oh... Iya. Itu bagus, ma." Ucap Doni singkat. Dia akan selalu mendukung apapun kegiatan yang ingin dilakukan oleh mamanya.


Nyonya Wishnu tersenyum bahagia, membuat wajahnya terlihat semakin cantik.


"Sayang, mama fikir kamu tidak perlu repot-repot naik angkutan umum lagi. Pak Heru bisa antar jemput kamu di sekolah..." Nyonya Wishnu berkata sambil melirik Doni. Pembicaraan mulai out of the topic.


Doni terlihat agak shock. "Hemmm... Gapapa, ma. Doni suka naik angkot." Tukas Doni. Ia kaget mengapa tiba-tiba mamanya mempermasalahkan tentang hal itu.


"Benarkah? Mama khawatir dengan keselamatan dan keamanan kamu di jalan..." Nyonya Wishnu berkata sambil berusaha menahan senyumnya.


"Aman kok ma.. Dari sekolah ke perusahaan papa juga ga jauh." Doni mulai mencoba mencari alasan.


"Nanti mama akan bicara dengan papa ya sayang... Mama ga mau kamu terlalu lelah di jalan, belum lagi resiko keselamatan..." Ucap Nyonya Wishnu sambil tersenyum.


Beberapa detik wajah Doni terlihat panik. Nyonya Wishnu ingin tertawa melihat ekspresi Doni, namun wanita itu berusaha terlihat tenang.


"Gapapa, ma. Doni naik angkot aja kayak biasa." Ucap Doni. Ada nada tegas di dalam ucapannya.


"Oh... OK, sayang. Jika kamu butuh driver khusus, katakan pada mama!" Ujar Nyonya Wishnu sambil tersenyum dikulum.

__ADS_1


Dalam hatinya Doni merasa lega. Yang benar saja, kalau dia selalu dijemput oleh Pak Heru, dia akan sulit bertemu Amanda di halte dekat sekolah. Sepertinya itu bukan ide yang bagus untuk saat ini.


__ADS_2