Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Sederhana


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Doni terus saja memikirkan Amanda. Dia terlihat serius sekali dan fokus dengan fikirannya sendiri. Tuan Alfred tidak ingin mengusik ketenangan Doni yang sedang duduk nyaman sendirian di jok belakang.


Tuan Muda Anthony sampai lupa pindah duduk ke depan, saking fokus parah dengan fikirannya sendiri.


Selama ini Doni sungguh tidak menyangka bahwa Amanda adalah anak dari sebuah keluarga yang sangat sederhana. Meskipun Amanda sehari-hari memang terlihat tampil sederhana dan apa adanya.


Bukan tidak pernah Doni berkenalan atau berteman dengan anak-anak dari kalangan keluarga yang sederhana. Namun biasanya anak-anak dari keluarga sederhana itu adalah anak-anak yang minderan, tidak berani berekspresi sebagaimana anak-anak lain pada umumnya.


Mereka, anak-anak dari keluarga yang sederhana itu seolah merasa terdiskualifikasi dari kehidupan dunia ini. Seolah menjadi manusia yang terbuang dari kehidupan, tidak berani mendongakkan kepala sendiri, dan seringkali membenci ataupun iri dengan teman-teman yang bernasib lebih baik.


Jadi anak orang kaya mah enak.


Semua gampang, tinggal nunjuk doang.


Semua udah tersedia, ga perlu kerja keras.


Semua orang sayang karena banyak uang.


Bla... Bla... Bla...


Serta beragam opini lain yang tak pernah seratus persen benar adanya. Semua itu seolah secara spontan terdoktrin dalam benak anak-anak yang merasa kecewa terlahir dari keluarga yang sederhana atau mungkin pas-pasan secara ekonomi.


Padahal kenyataannya, menjadi seorang anak yang terlahir di keluarga yang kaya raya tidaklah semudah bayangan mereka. Apa yang dihadapi Doni sejak kecil dalam hidupnya, benar-benar bertolak belakang dengan asumsi-asumsi konyol anak-anak itu.


Sejak kecil Doni sudah dididik dengan keras oleh orang tuanya. Bahkan di usia muda belia, Doni harus bekerja keras sembari belajar berbagai hal penting untuk bertahan hidup di masa depan.


Tanggung jawab besar telah dititipkan di atas pundaknya. Bukan hanya tanggung jawab pribadi atau tanggung jawab keluarga, namun juga tanggung jawab terhadap masyarakat, lingkungan, dan lain sebagainya. Itu sama sekali bukan hal remeh-temeh.


Semua fasilitas kemewahan yang sehari-hari diterima oleh Doni tidak sepenuhnya bisa dinikmati dengan tenang. Beratnya beban fikiran yang diemban oleh Doni membuat jiwa dan raganya terkadang begitu lelah. Sehingga acap kali dia tidak bisa menikmati hidupnya sendiri.


Namun siapa yang mau peduli?


Tidak ada.


Tidak akan ada yang benar-benar peduli.


Doni sebetulnya menyadari kedua orang tuanya sesungguhnya sangat menyayangi dirinya. Namun keadaan yang membuat mereka harus bersikap keras pada Doni.


Terkhusus mamanya, wanita cantik itu selalu berusaha mengimbangi ketegasan papanya dengan memberi perhatian, kelembutan, dan kasih sayang tanpa batas.


Doni menghela nafasnya dengan berat setelah melihat gerbang rumahnya yang mewah mulai muncul dalam jarak beberapa meter di depan mobilnya.


Tuan Alfred melirik sekilas ke arah Doni melalui kaca spion depan. Dia lalu menyetir mobil dengan santai memasuki pekarangan kediaman Tuan Wishnu.

__ADS_1


"Hemmm... Aku penasaran gimana nanti sikap Tuan Muda setelah mengetahui kehidupan gadis itu yang sebenarnya..." Tuan Alfred menggumam dalam hati.


Tentu saja Tuan Alfred sudah lebih dahulu mengetahui latar belakang Amanda dan keluarganya. Sebagaimana perintah Nyonya Wishnu sebelumnya.


Tuan Alfred juga secara berkala melaporkan hasil pengamatannya tentang perkembangan hubungan Doni dan Amanda kepada Nyonya Wishnu.


Tuan Alfred sendiri yakin suatu waktu Doni akan mengetahui siapa sebenarnya Amanda. Akan tetapi, Tuan Alfred tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya sikap Doni pada gadis itu.


Sikap Tuan Muda Anthony terkadang sulit diprediksi. Ditambah lagi dengan sifat Tuan Muda yang cukup hemat dalam kata-kata, semakin membuat semuanya absurd untuk diterka-terka.


Tuan Alfred lalu menghentikan mobil dan dengan sigap ia keluar dari mobil. Ia membukakan pintu mobil agar Doni bisa keluar.


"Silahkan, Tuan Muda." Ucap Tuan Alfred sopan.


Doni menarik ranselnya dan keluar dari mobil dengan tenang.


"Terima kasih, Tuan Alfred." Balas Doni.


"Siap... Selamat beristirahat, Tuan Muda." Tuan Alfred berkata sambil sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.


Doni tersenyum tipis dan berkata, "Anda juga."


Doni kemudian meninggalkan Tuan Alfred yang terlihat masuk lagi ke mobil dan menyetir mobil menuju garasi mereka.


Pak Wicaksono menyambut Doni dengan hangat di ruang tamu.


"Oh... Terima kasih, Pak Wicaksono. Anda pasti repot sekali." Ujar Doni.


"Sudah menjadi tugas saya, Tuan Muda." Pak Wicaksono tersenyum dengan tulus.


"Hemmm... Papa sudah pulang?" Tanya Doni.


"Malam ini Tuan Wishnu pulang lebih telat, Tuan Muda." Jawab Pak Wicaksono.


"Oh... Papa sepertinya lembur." Gumam Doni.


"Iya, sepertinya begitu, Tuan Muda." Ujar Pak Wicaksono.


"Apakah mama sudah makan malam?" Tanya Doni lagi.


"Nyonya sudah makan malam tadi, Tuan Muda." Jawab Pak Wicaksono.


"Saat ini Nyonya sedang beristirahat di kamar." Sambung Pak Wicaksono.

__ADS_1


"Oh... Baik. Kalau begitu, mungkin makan malam saya bisa Pak Wicaksono antarkan ke kamar saja." Perintah Doni.


"Baik, Tuan Muda." Ujar Pak Wicaksono.


"Terima kasih, Pak Wicaksono." Doni berkata sambil tersenyum.


Pak Wicaksono berpamitan untuk segera kembali ke dapur dan melaksanakan perintah Doni. Doni segera naik ke kamarnya. Ia ingin segera berendam di bathtub untuk menyegarkan tubuhnya.


Doni melepaskan pakaiannya dan mengisi bathtub dengan sabun beraroma buah peach yang harum dan segar.


Sambil berendam, Doni mencoba menenangkan fikirannya. Bayangan wajah Amanda kembali melintas di benaknya. Begitu pula bayangan rumah Amanda yang sangat sederhana itu.


Rumah itu terlalu kecil. Doni bertanya-tanya dalam hatinya apakah Amanda bisa tinggal dengan nyaman di sana.


Tetapi Amanda juga tidak pernah mengeluh dengan hidupnya. Gadis itu terlihat enjoy saja. Dia juga tidak terlihat canggung bergaul dengan siswa-siswa SMA Adhyaksa. Semuanya mengalir begitu saja. Mengalir apa adanya. Amanda juga bersikap wajar dengannya.


"Hemmm... Apakah setelah dia tahu siapa aku sebenarnya, sikapnya akan berubah?" Doni bertanya pada dirinya sendiri.


"Permisi, Tuan Muda. Makan malam anda sudah siap di atas meja nakas." Terdengar suara Pak Wicaksono .


"OK, pak. Terima kasih." Sahut Doni dari dalam kamar mandi.


"Baik, Tuan Muda." Ucap Pak Wicaksono.


Terdengar langkah Pak Wicaksono yang meninggalkan kamar Doni. Doni lalu menyelesaikan mandinya dan bersiap-siap menikmati makan malam yang sudah disediakan oleh Pak Wicaksono.


Di rumah yang berbeda, rumah yang sangat sederhana menurut Tuan Muda Anthony, Amanda sedang bercengkerama dengan adik-adiknya.


"Kak, mobil tadi keren bener ya!" Seru Mutiara.


"Hahhh... Apa? Emang kamu lihat?" Tanya Amanda.


Mutiara mengangguk cepat. "Aku ngintip tadi dari jendela." Ujar Mutiara jujur.


"Hahaha... Dasar!" Amanda tertawa.


"Kakak diantar teman kan? Itu mobil teman kakak ya?" Mutiara sepertinya masih kepo.


"Bukan. Kami naik ojol tadi." Jawab Amanda.


"Oh... Keren banget mobilnya!" Mutiara masih saja terlihat excited.


"Kak, temennya kok ga diajak mampir?" Gantian Magdalena yang bertanya.

__ADS_1


"Ummm... Dia mungkin buru-buru kan, takut kemalaman kalau nyinggah lagi." Sahut Amanda.


"Oh... Iya juga ya..." Desis Magdalena sambil tetap fokus menatap layar televisi di depannya.


__ADS_2