Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Penyelewengan


__ADS_3

"Tuan Muda, ini bisa jadi hal yang serius." Ujar Nyonya Martha.


"Hemmm... Iya..." Ucap Doni sambil membolak-balik laporan yang sedang dibacanya.


Meskipun belum piawai dalam urusan bisnis, namun Doni bisa mencium ada ketidak beresan dalam laporan itu.


Ditambah lagi oleh analisa mendalam yang telah semalaman dilakukan oleh Tuan Alfred.


"Saya fikir ini harus segera ditindak lanjuti, Nyonya Martha." Tuan Alfred yang sejak tadi berdiam diri akhirnya ikut angkat suara.


"Ya. Ini seperti sebuah virus. Jika dibiarkan begitu saja, lama-lama akan menyebar dan sulit untuk dibasmi." Kata Nyonya Martha.


"Saya setuju!" Ujar Tuan Alfred.


Doni menatap serius dua orang sekretaris andalan di perusahaan papanya itu.


Tentu saja analisa mendalam kedua sekretaris itu tidak boleh diragukan oleh seorang pemimpin muda yang masih minim pengalaman seperti dirinya.


Doni terlihat berfikir lebih serius selama beberapa detik.


"Apakah hal seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya, Nyonya Martha?" Tanya Doni.


Tuan Alfred spontan menatap Nyonya Martha. Pria tampan itu sepertinya tertarik dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Doni. Dia menunggu jawaban dari Nyonya Martha.


"Sepengetahuan saya, ini adalah pertama kalinya, Tuan Muda." Jawab Nyonya Martha.


Tuan Alfred mengernyitkan dahinya.


"Apakah ini artinya ada pemain baru yang bergerak diam-diam?" Tuan Alfred melirik Nyonya Martha.


"Mungkin saja. Ada beberapa karyawan baru yang bisa kita curigai." Nyonya Martha membuka file khusus di laptop-nya.


"Tapi karyawan lama yang lebih senior juga perlu tetap diwaspadai." Nyonya Martha mengingatkan.


"Hemmm... Ya, anda benar, Nyonya Martha." Gumam Doni.


Doni menyadari setiap orang punya peluang untuk melakukan pengkhianatan.


"Karyawan lama maupun karyawan baru, mereka semua bisa saja punya alibi dalam hal ini." Tuan Alfred menimpali.


"Hemmm..." Nyonya Martha menggumam pelan dan mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju.


"Sebaiknya kita bisa mengumpulkan data secepatnya! Selengkap mungkin!" Lanjut Nyonya Martha.


"Hemmm... Anda benar, Nyonya Martha." Doni menggumam pelan.


"Kita akan segera serahkan data itu pada Tuan Wishnu, sekembalinya dari kunjungan kerja." Nyonya Martha memberikan saran untuk rencana mereka selanjutnya.

__ADS_1


"Ya, begitu mungkin lebih baik." Ujar Doni.


Doni terdiam sesaat. Dia kelihatan sedang berfikir keras lagi. Dia merutuk di dalam hati, mengapa hal-hal begini terjadi di saat papanya sedang tidak ada.


"Mereka memang mencari kesempatan..." Doni membatin.


Doni menoleh pada Nyonya Martha dan kemudian kepada Tuan Alfred.


"Baiklah, Nyonya Martha dan Tuan Alfred. Terima kasih atas laporan dan diskusi kita kali ini. Saya fikir, anda berdua dapat kembali ke ruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan." Titah Doni.


"Saya tetap menunggu informasi perkembangan selanjutnya dari anda berdua." Ucap Doni tegas.


"Siap, Tuan Muda!" Sahut Tuan Alfred.


"Baik, Tuan Muda!" Nyonya Martha juga menjawab dengan sigap.


Kedua orang penting perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd. itu meninggalkan Doni sendirian di ruang kerjanya.


Doni mencoba menarik nafasnya sebentar dengan lega setelah Nyonya Martha dan Tuan Alfred menghilang di balik pintu.


Doni melakukan stretching ringan untuk melonggarkan kembali tulang belakangnya yang terasa kaku sekali seharian ini.


Di sekolah tadi pagi juga dia hanya bisa duduk tegak dan kaku mengikuti mata pelajaran. Kemudian di kantor juga dia harus duduk tegak lagi untuk menyimak laporan para sekretaris perusahaan.


Sungguh berat menjadi seorang pimpinan. Doni mulai membayangkan masa depannya yang terasa semakin suram. Hidup dalam tekanan dunia kerja yang tidak ada habisnya.


Selalu saja ada oknum-oknum yang merasa kurang dan ingin mendapatkan hak yang lebih namun tidak mau mengimbangi dengan kinerja yang lebih baik ataupun lebih berkualitas. Selalu saja begitu.


Rasanya pepatah "menggunting dalam lipatan" atau "musuh dalam selimut" memang layak disematkan untuk kasus-kasus seperti ini.


Manusia seolah tidak pernah puas dengan apa-apa yang telah dimiliki.


"Huffffttt..." Doni menghembuskan nafasnya dengan berat.


Rasanya ia sedikit iri membayangkan teman-temannya yang bisa enjoy sekali menikmati masa muda mereka tanpa beban sama sekali.


Hanya dibebani kegiatan belajar mengajar agar bisa meraih cita-cita di masa depan. Beban yang ringan sekali dibandingkan beban yang disematkan di bahu Doni saat ini.


Tuan Muda Anthony sejak kecil sudah ditempa dengan situasi sulit dan mencekam. Dengan segudang beban besar sebagai pewaris tunggal perusahaan.


Kedisiplinan yang tinggi, kemampuan yang harus melebihi orang-orang kebanyakan, pembelajaran bisnis yang rumit dan jelimet, dan segudang hal-hal lainnya yang membuat pusing kepala jika dibayangkan.


Learning by doing. Begitulah kegiatan yang harus setiap hari dijalani oleh Doni. Waktu tidak mau menunggu. Doni tidak punya waktu untuk menunda-nunda pekerjaannya.


Jika sekali dua kali dia pernah terlupa mengerjakan satu agenda saja, maka bisa dipastikan beban pekerjaannya langsung akan bertambah berat.


Akan tetapi bagi orang lain yang melihat Doni dari luar, tentu saja akan berfikiran berbeda. Bahkan mungkin banyak orang yang ingin berada di posisi Doni yang bergelimangan harta.

__ADS_1


Begitulah kehidupan. Terkadang hidup yang kita keluhkan adalah hidup yang diimpikan oleh banyak orang.


Di satu sisi, Doni menyadari hal itu. Oleh sebab itu, dia tidak mau mengeluh berlebihan atau menyalahkan takdir.


Dia cukup paham bahwa keputusan Tuhan untuk dirinya tentu bukanlah tanpa alasan. Meskipun saat ini Doni belum tahu makna di balik itu semua, tetapi dia yakin suatu hari nanti Tuhan akan menunjukkan semuanya.


Doni melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali menguap lebar-lebar. Entah mengapa hari ini Doni merasa mengantuk sekali.


Ingin rasanya dia merebahkan tubuhnya sebentar di atas sofa. Rasanya sebentar saja bisa memejamkan mata akan membuat dirinya merasa lebih enakan.


"Huaaahhh..." Doni menguap lagi, entah sudah yang keberapa kali.


Akhirnya Doni menyerah dengan rasa kantuknya. Dia memejamkan mata dan tertidur pulas di kursinya selama beberapa menit.


Getaran yang berasal dari smartphone-nya berhasil membuat Doni terjaga. Dia terbangun karena kaget. Alam bawah sadarnya berhasil membuat dia membelalakkan mata dan refleks melirik ke layar ponselnya.


Amanda.


Sebuah panggilan masuk dari Amanda. Wowww... Ini kejutan. Amanda jarang sekali menghubungi dirinya.


Doni berfikir tentulah ada hal penting yang ingin disampaikan gadis pujaan hatinya itu.


"Halo, Doni!" Suara Amanda yang renyah terdengar indah di telinga Doni.


"Hemmm..." Seperti biasa Doni hanya membalas dengan gumaman.


"Kamu lagi apa?"


"Apakah aku mengganggu?"


Amanda merasa sepertinya Doni pasti sedang sibuk bekerja membantu papanya.


"Hemmm... Ada apa?" Tanya Doni ga nyambung.


"Ada yang mau aku bicarakan nih..." Suara Amanda terdengar lirih.


"Tentang apa?" Tanya Doni lagi.


"Hemmm... Tentang pensi..." Ujar Amanda ragu-ragu.


"Hemmm..." Gumam Doni.


"Errrrr... Tapi ntar aja deh, kita ngobrolin di sekolah aja ya... Hehehe..." Tiba-tiba Amanda memutar haluan.


Amanda tiba-tiba saja berfikir akan lebih baik jika dia bisa berbicara langsung dengan Doni.


Akhirnya Amanda mencari topik pembicaraan lain dan tidak lama kemudian mengakhiri telpon karena tidak ingin mengganggu Doni lebih lama.

__ADS_1


***


__ADS_2