
“Ehemmm…” Amel berdehem pelan di belakang Amanda.
Amanda yang sedang berjalan bersama Doni mendadak menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan tersenyum lebar ketika melihat Amel ada di belakangnya. Sedangkan Doni hanya memasang wajah yang santuy seperti biasa.
“Cieeee… Pulang bareng terus nih yeeee!!!” Ledek Amel.
“Hehehe… Ga kok, kita cuma barengan nyampe halte doang.” Ujar Amanda jujur.
Amel terperangah. Dia sepertinya sangat terkejut mendengar kata-kata Amanda.
“Halte?” Tanya Amel.
“Maksudmu, Tonny juga ke halte? Nunggu angkot, gitu?” Amel memperjelas lagi pertanyaannya.
Dia melirik Doni dengan tatapan penuh tanda tanya.
Amanda mengangguk cepat. Doni masih bertahan dengan ekspresi wajah yang datar. Dalam hatinya dia berharap Amel segera meninggalkan dirinya dan Amanda.
“Hemmm… Oh gitu…” Gumam Amel. Dia melongo sejenak.
Amanda berjalan lagi. Dia menarik tangan Amel. Amel tersentak kaget dari lamunannya.
“Hahaha… Jangan melamun di tengah jalan, Mel. Kasihan siswa lain pada ga bisa lewat tuh...” Amanda berkata sambil tertawa.
Sekelompok siswa senior terlihat berjalan mendekati tempat mereka berdiri. Amanda dan Amel kemudian berjalan di belakang Doni.
“Iya juga ya… Hehehe…” Ujar Amel sambil nyengir lebar.
Sepertinya Amel masih kepikiran dengan kata-kata Amanda bahwa Doni juga selalu pulang naik angkot sama seperti Amanda.
Rasa-rasanya itu hal yang tidak mungkin. Penampilan Doni tidak terlihat seperti orang yang sederhana. Justru pembawaannya terlihat berkelas dan elegant, seperti berasal dari keturunan keluarga ninggrat.
“Hemmm… Masa iya sih dia naik angkot terus? Yang benar saja…” Gumam Amel dalam hati.
“Jangan-jangan dia naik angkot cuma untuk mendekati Amanda…” Amel mulai curiga.
Dia terus memperhatikan Doni dari belakang, dari ujung sepatu sampai ujung rambutnya.
“Kamu mau langsung pulang atau gimana?” Tanya Amel dengan nada curiga.
“Hemmm… Ga sih Mel… Sebenarnya aku ga pulang dulu nih…” Ucap Amanda.
“Oh ya?! Mau kemana?” Amel bertanya lagi. Firasat kecurigaannya sepertinya ada benarnya.
“Aku mau ke rumah sakit lagi.” Ujar Amanda.
Doni yang sejak tadi berdiam diri menyimak pembicaraan kedua gadis yang berjalan di belakangnya, diam-diam mempertajam pendengarannya.
“Apa? Kamu sakit ya?” Amel bertanya dengan nada panik.
“Bukan… Bukan…” Tukas Amanda cepat.
“Aku mau jenguk teman yang kemarin dulu dioperasi di rumah sakit.” Amanda menjelaskan janjinya dengan teman-teman di sekolahnya yang dulu untuk menjenguk lagi Tiwi siang ini.
“Oh… Gitu… Baiklah, semoga temanmu lekas sembuh ya…” Amel mengucapkan rasa simpatinya dengan tulus.
“Makasih Amel…” Ucap Amanda sambil tersenyum manis.
“Ya udah deh… Aku duluan yahhh…” Ujar Amel pada Amanda dan Doni ketika mereka berpisah jalan di depan gerbang sekolah.
Diam-diam Doni menghela nafas dengan lega. Dia benar-benar tidak suka jika waktunya berdua dengan Amanda terganggu oleh kehadiran orang lain.
Doni mensejajarkan langkahnya dengan langkah Amanda. Dia melirik Amanda sekilas lalu. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu ga pulang ke rumah ya?” Tiba-tiba Doni buka suara setelah sekian lama berdiam diri.
“Ga, Doni. Aku mau ke rumah sakit…” Ujar Amanda.
“Ngapain?” Tanya Doni.
“Jenguk teman yang dirawat di sana.” Ujar Amanda santai.
Amanda menyeka butiran keringat di dahinya. Cuaca siang ini terasa panas sekali. Musim pancaroba sedang menghampiri kota itu. Kemarin cuaca agak mendung, tetapi hari ini cuaca kembali panas terik.
“Hemmm…” Gumam Doni.
Mereka berdua telah tiba di halte. Doni melirik Amanda yang kelihatannya mulai kepanasan. Untung saja angkot yang ditunggu Amanda langsung nongol di halte.
“Aku duluan…” Amanda berpamitan pada Doni.
__ADS_1
Amanda masuk ke dalam angkot. Doni tiba-tiba ikut naik ke dalam angkot yang sama. Amanda terkejut bukan main.
“Ehhh… Ehhh… Ngapain kamu ke sini?” Hardik Amanda panik.
Doni tidak menjawab. Dia melirik dengan cepat beberapa tempat duduk yang kosong di dalam angkot. Namun dia memilih duduk di dekat Amanda.
“Doni, kamu mau kemana?!” Tanya Amanda dengan wajah serius.
“Hemmm…” Gumam Doni pelan.
Amanda melengos. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dasar cowok aneh!” Amanda menggerutu di dalam hati.
Sepanjang jalan Amanda terus kepikiran mengapa Doni naik angkot yang sama dengan yang dinaikinya sekarang.
Jelas-jelas angkot itu memiliki rute yang berbeda dengan angkot yang biasanya mereka tumpangi bersama.
Namun karena Doni adalah tipikal cowok yang hemat kata-kata, Amanda juga malas bertanya lebih jauh. Daripada nanti malah jadi emosi jiwa sendiri, lebih baik woles…
Amanda tidak ingin datang ke rumah sakit dengan perasaan bad mood yang berlebihan.
Tidak berapa lama kemudian, Amanda terlihat bersiap-siap memberi tanda agar angkot berhenti.
Amanda segera turun dari angkot, disusul oleh Doni di belakangnya. Setelah membayar ongkos angkot, Amanda menatap Doni dengan galak.
“Heiiii… Ngapain kamu ikut-ikutan turun?” Teriak Amanda.
“Kenapa? Emang ga boleh?” Tanya Doni santai.
Amanda mendengus kesal.
“Kamu mau ngekorin aku ya?!” Tanya Amanda asal.
Doni kelihatan berfikir sejenak. “Hemmm… Iya…” Ujar Doni sekenanya.
“Hahhh… Apa!? Ngawur bener ini orang!” Tukas Amanda. Dia semakin berang.
Amanda melihat kiri-kanan, bersiap-siap untuk menyeberangi jalan besar di depannya.
Doni tersenyum simpul. Dia menarik tangan Amanda dan menuntunnya menyeberangi jalan tepat ketika suasana di jalan terlihat agak lengang.
Doni mempererat genggamannya. Amanda melotot ke arah Doni.
“Idiiiihh… Apaan sih?! Lepasin! Lepasin!” Amanda mulai berteriak kesal.
Beberapa orang di sekitar mereka mulai melihat dengan tatapan penasaran.
“Jangan ribut! Mereka perhatiin kita tuh…” Doni mengingatkan Amanda. Tetapi dia masih belum melepaskan genggaman tangannya.
Amanda menjadi kikuk. Dia bingung sendiri harus bersikap bagaimana. Jelas sekali Doni sepertinya tidak berniat melepaskan tangan Amanda.
“Aduhhh… Kamu ini mau apa sih sebenarnya? Lepasin tangan aku…” Ujar Amanda dengan nada memohon.
Amanda mendongakkan wajahnya agar bisa menatap Doni dari dekat. Ini adalah hal yang paling disukai Doni.
Tatapan Amanda dalam jarak sedekat ini selalu berhasil membuat Doni meleleh. Walaupun sebenarnya Amanda menatap Doni dengan tatapan yang tajam. Namun tetap saja Doni sangat suka.
“Ayo, kita ke rumah sakit…” Ucap Doni setengah berbisik.
Doni menatap Amanda dengan lembut.
Amanda terhenyak.
Sepasang mata Doni yang indah itu seolah-olah membius dirinya, menghilangkan setengah kesadarannya.
Amanda kini benar-benar melihat wajah Doni dari dekat. Wajahnya nyaris sempurna.
Matanya, alisnya, hidungnya, senyuman tipis di bibirnya yang indah… Semua terpahat dengan sempurna.
“Oh Tuhan… Dia benar-benar tampan…” Batin Amanda.
Sepertinya Amanda benar-benar terkesima dengan ketampanan wajah Doni yang tak terbantahkan.
Doni mengedipkan sebelah matanya untuk mengembalikan kesadaran Amanda.
Amanda tersentak kaget. Sepertinya kedipan mata Doni berhasil menyadarkan Amanda, namun kini Amanda merasa salah tingkah. Doni tersenyum sumringah.
Amanda menundukkan wajahnya, dia yakin saat ini wajahnya pasti memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
Kalau saja dia bisa lari sebentar dari Doni, dia pasti akan lari sejauh-jauhnya dan bersembunyi di tempat yang aman. Dia merasa malu sekali. Ini benar-benar memalukan. Doni pasti tahu kalau tadi Amanda sangat terpesona.
“Ayo… Aku temanin kamu ke sana…” Ujar Doni.
Doni tersenyum senang melihat wajah Amanda yang merona. Rasanya ingin sekali menyentuh wajah itu. Ide-ide nakal mulai bersileweran di benaknya.
Sambil berjalan masuk ke area halaman rumah sakit, Doni menggandeng tangan Amanda. Dia masih merasa enggan melepaskan tangan Amanda.
Amanda sendiri memilih pasrah. Dia masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi berdetak di luar normal.
Baru beberapa langkah, Doni tiba-tiba melepaskan tangan Amanda. Dia berdiri kaku dan terdiam sejenak. Lagi-lagi Amanda dibuat kaget dengan sikap Doni.
“Aku lapar… Rumah sakit ini punya kantin, kan? Dimana kantinnya?” Tanya Doni. Dia terlihat resah.
“Hemmm… Ada, di ujung sana. Sebelah kanan.” Amanda menunjuk arah yang dimaksudnya.
“Ayo kita ke sana!” Tukas Doni cepat.
Dia menggandeng lagi tangan Amanda. Mereka berdua berjalan menuju kantin yang dimaksud Amanda.
Beberapa orang yang melewati mereka berdua melirik sekilas. Ada yang tersenyum-senyum, ada juga yang terheran-heran.
Para perawat muda yang mereka lewati menatap Doni dengan penuh minat. Namun ketika menyadari Doni menggandeng tangan Amanda, mereka mulai mengalihkan pandangannya.
Amanda melongo. Sebenarnya dia merasa risih dengan tatapan orang-orang di sekitar mereka. Namun berdebat dengan Doni di sini hanya akan menambah masalah. Lebih baik mengalah.
“Semoga aja aku ga dianggap aneh-aneh…” Amanda berdo’a dalam hati.
Amanda betul-betul kaget dan heran melihat sikap Doni yang lain dari biasanya. Hari ini Doni agresif sekali. Ini bukan sosok Doni yang biasanya. Dia biasanya sangat tenang, cuek, dan kalem.
“Apa karena kelaparan dia jadi makin aneh?” Amanda bertanya-tanya dalam hati.
Amanda menunjuk ke arah kantin yang sudah terlihat di pojok kanan gedung rumah sakit. Doni menatap dengan mata berbinar. Dia seperti melihat oase di tengah gurun pasir.
Amanda juga sebenarnya sudah kelaparan. Dia tidak sempat jajan tadi pada saat jam istirahat karena menghabiskan waktu di perpustakaan.
Hanya saja Amanda lupa dengan rasa laparnya karena panik dengan sikap Doni yang tiba-tiba agresif sekali.
“Kita duduk di situ…” Tunjuk Doni.
Amanda lagi-lagi hanya bisa pasrah.
“Heiiii… Apa kamu mau makan sambil terus pegang tangan aku?” Amanda bertanya. Dia mulai menyeringai.
“Oh… Sorry…” Ucap Doni. Dia melepaskan tangan Amanda dan duduk berhadapan dengan Amanda.
Seorang pelayan datang dan mengantarkan daftar menu untuk dipilih oleh Doni dan Amanda. Amanda terbelalak melihat daftar harga yang tertera di sana.
“Wahhh… Uangku ga cukup… Pesan minum aja deh…” Batin Amanda.
“Hemmm… Sebagai permohonan maaf, aku yang akan traktir kamu…” Ujar Doni.
“Hahhh… Apa!? Maaf untuk apa?” Tanya Amanda heran.
“Itu… Untuk yang tadi…” Ucap Doni sambil menunjuk pergelangan tangan Amanda yang terlihat sedikit memerah.
“Oh…” Amanda tercekat.
Amanda tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia juga tidak mampu menatap wajah Doni. Dia yakin Doni saat ini pasti sedang melihat dirinya dengan tatapan mautnya.
“Hemmm… Amanda, aku…” Suara Doni terdengar sedikit serak dan lebih berat dari biasanya.
Mau tak mau Amanda menatap lagi cowok tampan di hadapannya. Lagi-lagi pandangan mata mereka bertemu. Desiran halus menjalar cepat di hati dua remaja itu. Keduanya mulai merasakan getaran yang sama, debaran yang sama.
“Dia betul-betul tampan… Hikssss… Jangan menatapku begitu, please… Aku bisa gila!” Batin Amanda meronta-ronta.
Dia menunduk, berpura-pura fokus membaca daftar menu di meja.
“Aku menyukaimu…” Desah Doni.
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Doni. Tapi bukan kata-kata itu yang sebenarnya ingin diucapkannya.
Doni merutuki dalam hati mengapa mulut, hati, dan otaknya saat ini tidak bisa sinkron. Mungkin ini efek kelaparan.
Amanda terperangah. Dia mengatupkan mulutnya dengan kedua tangannya. Jantungnya serasa mau copot karena berdetak cepat sekali akibat shock mendengar kata-kata Doni.
Amanda mulai berfikir konyol, apakah setelah ini dia harus menemui dokter spesialis jantung di rumah sakit itu untuk memastikan jantungnya baik-baik saja.
“Apa? Dia ngomong apa barusan? Apa maksudnya itu?” Pertanyaan itu secara bergantian terlintas di dalam fikiran Amanda.
__ADS_1