Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Mulai Dekat


__ADS_3

"Hai, Helen!" Sapa Amanda ceria.


"Wowww... Ceria amat hari ini!" Sahut Helena riang.


Amanda tergelak sendiri mendengar kata-kata Helena. Dia memang sedang ceria hari ini. Satu beban sudah berhasil dia tuntaskan. Beban menulis sebuah essay untuk perlombaan di SMA Negeri 10. Jadi kini Amanda bisa lebih fokus mengikuti pelajaran di sekolah.


Amanda memang tipe siswa yang tidak biasa mengikuti perlombaan. Dia selalu minderan, tidak pede bersaing dengan siapa pun. Oleh karena itu, dia selalu menghindari ajang perlombaan.


Amanda adalah siswa yang berprestasi namun dia tidak suka berkompetisi. Baginya, sebuah kompetisi hanyalah ajang unjuk kemampuan yang melelahkan.


Amanda dan Helena sudah tiba di kelas mereka. Suasana di dalam kelas sudah mulai ramai. Para siswa masih membicarakan tentang Pak Cahyono.


Teringat akan Pak Cahyono, Amanda melirik ke arah bangku Vino. Tapi Vino belum terlihat batang hidungnya. Ahmad yang baru saja masuk ke kelas, langsung meletakkan tas ranselnya di atas meja.


"Kayaknya dia belum datang..." Gumam Amanda.


"Apa? Siapa?" Tanya Helena. Ternyata dia mendengar gumaman Amanda.


"Itu, si Vino. Dia belum datang." Jawab Amanda.


"Ohhh... Si ketua kelas geblek itu?" Cibir Helena.


Amanda mengangguk dan duduk santai di bangkunya menunggu jam masuk pelajaran pertama.


"Ya, moga aja dia ga bolos hari ini." Ujar Helena ketus.


"Bolos?!" Amanda mendongak melihat Helena yang sedang berdiri di sampingnya.


Helena terlihat celingak-celinguk melihat ke arah jendela. Sepertinya ada sesuatu di luar kelas yang menarik perhatiannya.


"Ya, kamu tahu sendiri kan gimana perangai ketua kelas kita!" Sahut Helena.


"Iya juga ya... Mudah-mudahan aja dia tetap hadir hari ini. Kasihan Ryan, dia kan sudah janji sama Ryan." Ujar Amanda.


"Janji? Janji apa?" Tanya Helena.


"Lho... Ya itu, yang kemarin mereka bicarakan. Soal pak Cahyono." Jawab Amanda.


"Oh... Iya... Iya..." Gumam Helena.

__ADS_1


"Kamu lihat apa sih?" Amanda tiba-tiba jadi kepo.


Amanda ikut berdiri di samping Helena. Dia mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat oleh Helena.


"Ga ada apa-apa... Apa sih yang dilihatnya?" Batin Amanda.


Helena lalu duduk dan berkata, "Itu lohhh... Kak Edo tadi lewat. Aku lihat dia jalan dengan seorang cewek. Tapi ga jelas kelihatan siapa cewek itu."


"Cewek?" Amanda terlihat kaget mendengar perkataan Helena.


"Iya, cewek. Tapi aku ga tahu itu siapa. Anak kelas mana..." Ucap Helena.


"Huhhh... Selalu aja dikelilingi cewek." Amanda membatin kesal di dalam hati.


"Amanda, do'ain aku dong. Aku janji ntar kalau aku jadian sama kak Edo, aku bakal traktir kamu deh!" Helena berkata dengan ekspresi penuh harap.


Amanda melengos. Mendo'akan idolanya agar jadian dengan Helena adalah perkara paling konyol di dunia menurut dirinya.


"Ngapain juga aku do'ain kamu jadian sama dia. Huhhh..." Amanda ngomel-ngomel dalam hati.


"Selama ini kami udah makin dekat. Kak Edo sering curhat soal mantannya yang gatal itu." Celoteh Helena.


Sedikit rasa nyeri terasa muncul di ulu hatinya ketika mendengar cerita Helena tentang progress kedekatannya dengan kak Edo akhir-akhir ini.


Belum lagi kata-kata Nunik yang tiba-tiba terngiang lagi di telinganya. Kak Edo yang begitu cuek dengan dirinya. Sedangkan dengan Helena, kak Edo bisa sedekat itu.


Entah rasa cemburu, entah rasa kecewa, Amanda tidak mampu membedakannya. Yang jelas, dia selalu baper sendiri kalau Helena sudah menggembar-gemborkan kedekatannya dengan kak Edo.


"Sudahlah, Amanda. Jangan fikirkan lagi dia! Dia aja ga pernah mikirin kamu!!" Sebuah suara yang tegas muncul di fikiran Amanda.


Amanda tidak ingin mood-nya yang baik pagi ini rusak hanya karena curhatan Helena tentang kak Edo. Dia berusaha setengah mati terlihat happy agar Helena tidak curiga padanga.


Amanda merutuki dirinya yang sampai saat ini belum juga bisa move on dari kak Edo.


"Sebuah hati yang patah hanya bisa diobati oleh kehadiran hati yang lain." Sebuah pepatah lama yang mungkin ada benarnya.


Amanda berusaha optimis bahwa suatu saat dia akan bisa melupakan kak Edo dan mengikhlaskan idolanya itu dimiliki oleh gadis lain. Meski dia sendiri ragu apakah ada hati yang akan mampu mengobati hatinya yang patah saat ini.


Tiba-tiba Amanda teringat Doni. Cowok itu sepertinya punya ketertarikan khusus dengan dirinya. Sebenarnya Amanda sudah mulai bisa merasakan hal itu setelah beberapa kali Doni bersikap aneh padanya.

__ADS_1


Namun Amanda belum bisa sepenuhnya menghilangkan bayangan kak Edo di benaknya. Hatinya masih saja bergetar jika mengingat nama itu, kak Edo, kakak kelasnya yang mempesona.


Amanda tidak ingin pacaran. Dia belum kefikiran ke arah itu. Namun sebagai gadis ABG yang baru puber, tentu lonjakan-lonjakan hasrat untuk lawan jenis sudah mulai menggelora di dalam jiwanya. Ia menyadari hal itu.


Terkadang Amanda baperan sendiri dengan Doni. Doni sering bersikap romantis pada dirinya.


"Ehhh... Bener ga sih dia sering romantis? Jangan-jangan malah akunya yang kebaperan. Ke-geer-an... Seperti cerita Ryan tadi malam. Hiiiiyyy..." Amanda bergidik sendiri jika ingat curhatan Ryan tentang seorang gadis yang salah paham akan sikap Ryan yang ramah.


"Ehhh... Kok melamun?!" Tegur Helena.


"Ohh... Ehhh... Hemmm... Hehehe..." Amanda jadi kikuk sendiri.


"Amanda, itu tuh... Ada yang melambai ke arah kamu tuh!" Helena menunjuk dengan matanya ke arah pintu kelas yang tadi sempat terbuka sebentar.


"Hemmm... Ohh... Ryan!" Ujar Amanda.


"Kamu ke sana gih! Dia manggil kamu tuh! Mungkin ada yang penting." Ucap Helena.


"Iya ya... Sebentar ya, Helen!" Tukas Amanda dan segera menjumpai Ryan yang telah menunggu dirinya di luar kelas.


Ryan cengar-cengir ketika melihat Amanda tersenyum kepadanya.


"Kamu ga bilang-bilang ya! Ternyata kamu udah submit duluan!" Ujar Ryan.


"Errrrrr... Iya... Hehehe... Dilama-lamain malah jadi beban!" Tukas Amanda.


"Hahaha..." Ryan tertawa lebar.


"Kamu udah submit?" Tanya Amanda. Dia belum lagi membuka website lomba essay tersebut setelah submit karya tulisnya tadi malam.


Semua peserta lomba yang sudah submit essay mereka bisa dicek statusnya di website tersebut. Ryan iseng-iseng membuka website lomba essay tersebut dan melihat nama-nama peserta yang sudah submit essay. Dia melihat nama Amanda ada di sana.


"Hemmm... Belum. Mungkin hari ini akan aku selesaikan." Ucap Ryan.


"Ohh... Kamu pasti nulis sebagus mungkin. Aku sih udah nyerah, udah kehabisan ide. Jadinya ya udah, pasrah aja... Langsung submit." Tutur Amanda.


"Optimis dong! Kita kan sudah ikut coaching." Ryan mencoba memberi semangat.


Amanda menimpali dengan senyuman. Dia benar-benar sudah pasrah dan tidak peduli dengan hasil seleksi lomba nantinya. Dia tidak terlalu berambisi untuk menjadi juara. Lagipula ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti perlombaan menulis essay. Jadinya Amanda tidak berani berharap banyak.

__ADS_1


__ADS_2