
"Yuni!" Panggil Amanda.
Amanda berjalan cepat untuk menyusul langkah Yuni yang berada tidak jauh darinya. Yuni menoleh ke arah Amanda dan tersenyum ramah.
"Heiii... Kamu udah siap PR biologi?" Tanya Yuni.
"Sudah." jawab Amanda.
"Wahhh... Kebetulan. Hehehe... Boleh ga aku nyontek jawaban soal uraian yang nomor empat?" Ujar Yuni tanpa rasa bersalah.
"Eummm... Iya..." Sahut Amanda walau dalam hatinya ia merasa keberatan.
Diam-diam Amanda menyesal telah memanggil Yuni tadi. Jadinya malah Yuni minta contekan padanya. Budaya mencontek memang seolah sudah berakar di dunia pendidikan negara ini.
Walaupun para guru selalu menasehati dan melarang para siswa perihal contek-mencontek, tetap saja dunia percontekan ini sulit untuk dihilangkan.
Padahal sejatinya, kebiasaan mencontek adalah sama dengan kebiasaan berbuat curang. Jika sejak di bangku sekolah para siswa sudah terbiasa berbuat curang, maka bagaimana lagi nanti sikap mereka ketika dewasa dan terjun ke tengah-tengah masyarakat.
Bukan hal yang tidak mungkin jika generasi penerus bangsa nantinya adalah generasi yang berpendidikan namun hobi berbuat curang, menjadi orang-orang pintar yang culas. Mengerikan!
Amanda tidak mau membiasakan diri meminta contekan pada orang lain. Setiap tugas dan PR dari sekolah selalu dikerjakannya sendiri, semampu dirinya.
Jika pada akhirnya dia tidak mampu juga menyelesaikan tugasnya, ia akan membuka banyak buku, belajar sendiri sampai bisa atau dia akan berdiskusi dengan teman-temannya.
Bagi Amanda, diskusi tidak sama dengan mencontek. Dalam sebuah diskusi, semua anggota saling berfikir dan menuangkan ide untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Bukan menyalin mentah-mentah jawaban teman!
"Ehhh... Ngomong-ngomong gimana ya cerita perkembangan kasus dengan Pak Cahyono? Eummm..." Gumam Yuni.
"Apa si ketua kelas sudah berhasil bertemu wakil kurikulum?" Tanya Yuni.
Amanda menarik nafas dengan berat setiap kali ia ingat nama guru killer itu.
"Mudah-mudahan aja udah ya. Semoga sudah ada keputusan." Ucap Amanda penuh harap.
"Tapi gimana yahhh... Aku sih ga yakin ama si ketua kelas..." Yuni berbisik pada Amanda.
"Tahu sendiri kan gimana sifat si Vino. Kayaknya dia tuh cuek-cuek aja gitu... Huhhh... Ga bisa diandalkan." Gerutu Yuni.
Benar seperti kata Yuni. Sebagai seorang ketua kelas, seharusnya Vino bisa mengkomunikasikan permasalahan dengan Pak Cahyono. Sehingga masalah tidak menjadi semakin rumit begini dan merugikan para siswa.
__ADS_1
Vino juga seharusnya bisa membicarakan kembali tentang hal itu dengan Bu Suhartini, guru pengganti wali kelas mereka untuk semester ini.
Tapi... ya gitu deh... Bukan Vino namanya kalau dia sepeduli itu. Vino auto ganti nama jika sikapnya bisa berubah dan dia layak mendapatkan hadiah apabila nanti berhasil menyelesaikan masalah dengan Pak Cahyono.
"Mudah-mudahan udah beres ya. Soalnya ketua kelas I-3 juga mengalami hal yang sama seperti kelas kita. Jadi ga cuma kelas kita aja yang bermasalah." Ujar Amanda.
"Iya... Aku harap begitu. Tapi, ketua kelas I-3 itu memang gesit. Beda banget sama Vino." Tukas Yuni.
Amanda setuju dengan pendapat Yuni. Vino dan Ryan seolah seperti langit dan bumi. Sifat-sifat mereka banyak yang bertolak belakang.
"Sssstttt..." Amanda memberi kode pada Yuni ketika mereka melihat Vino sedang berdiri santai di depan kelas.
Amanda khawatir suara mereka bisa terdengar sama Vino. Yuni memahami kode tersebut. Ia mengerti apa maksud Amanda. Mereka berdua lalu masuk kelas seperti biasanya.
Amanda sangat lega, dia sudah tidak lagi sakit perut atau pusing. Hari ini dia sudah sehat dan segar kembali seperti biasa.
"Heiii... Udah sehat?" Teriak Helena ketika melihat Amanda masuk ke kelas.
Yuni sontak terkejut mendengar teriakan Helena.
"Lho... Emangnya kamu kemarin-kemarin sakit ya?" Tanya Yuni polos.
"Ohhh... Yang penting hari ini udah seger lagi!" Ujar Yuni.
"Hehehe... Iya... Hemmm... Terima kasih, Yuni." Ucap Amanda.
Yuni duduk di bangkunya. Amanda mendekati Helena yang sedang menatapnya.
"Emang kemarin kamu sakit apa sih? Mendadak gitu..." Tanya Helena kepo.
"Ternyata cuma PMS, Helen..." Jawab Amanda jujur.
"Ohhh... Yaelah... Aku kirain kamu kenapa..." Ujar Helena.
"Aku sih sering banget ngalamin masalah PMS. Sumpah ga enak banget! Emosiku juga cepat naik kalau udah datang masa-masa PMS." Jelas Helena.
"Iya, PMS memang langsung pengaruh ke mood." Amanda setuju dengan kata-kata Helena.
"Duhhh... Kalau aku sih udah jatah bulanan persoalan PMS itu." Keluh Yuni.
__ADS_1
"Oh ya?" Tanya Amanda.
Yuni cepat-cepat mengangguk. Ia berkata, "Setiap kali jadwal datang bulanku tiba, aku pasti semerana itu."
"Waduhhh..." Amanda terperangah.
"Iya. Jadi jangan heran deh kalau kadang-kadang aku ga masuk ke kelas. Kadang-kadang sakitnya itu bisa terasa parah banget." Lanjut Yuni menceritakan pengalamannya.
Diam-diam Amanda bersyukur dalam hatinya. Dia tidak pernah mengalami hal seperti itu. Pengalaman kemarin adalah pengalaman pertamanya. Bahkan itu sebenarnya dipicu oleh kondisi Amanda yang sedang kurang fit dan perutnya terasa kembung. Sehingga berpengaruh pada proses menstruasi yang sedang dia alami.
"Yahhh... Begini lah menjadi cewek. Rempong bener! Setiap bulan harus begitu." Helena ikut menimpali kata-kata Yuni.
Amanda setuju dan sependapat dengan Helena. Tapi apa daya, sudah kodratnya wanita begitu.
Masa iya sih, gara-gara hal itu dia harus berganti gender. Merubah gender-nya jadi laki-laki. Seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. Banyak yang merasa salah gender yang diberikan oleh Tuhan. Untung saja Amanda masih cukup waras jadi dia tidak pernah berfikiran begitu.
"Jadi, ngomong-ngomong kelas kita bakal buat aksi pentas apa nih?" Yuni kembali teringat tentang topik pensi yang akan diselenggarakan di sekolah.
"Nah itu dia yang buat aku emosi ngelihat si Vino. Dia berdiri di depan kelas cuma untuk ngasi tahu pengumuman bahwa sekolah kita akan mengadakan pensi...." Tutur Helena.
Amanda menyimak kata-kata Helena. Yuni mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi dia ga bahas lagi apa yang bisa kita persiapkan untuk mengikuti pensi nanti. Kan tolol itu namanya!" Umpat Helena.
Yuni tertawa terkekeh-kekeh melihat Helena yang sedang kesal.
"Iya, ya...Padahal seharusnya kita udah bisa persiapan dari sekarang kan ya..." Tukas Amanda.
"Nah itu... Betul-betul!" Seru Helena.
"Kalau gitu kita tunggu aja gimana nanti persiapan kelas lain..." Saran Amanda.
"Iya, tapi kita juga ga boleh dong meniru kelas lain." Ujar Helena.
"Ohhh... Iya juga yaa..." Sahut Amanda.
"Ya, inilah resiko punya ketua kelas yang seperti itu. Ga peduli apapun di sekitarnya." Bisik Yuni pelan.
"Huffffttt... Kita bisa apa coba..." Sahut Amanda frustrasi.
__ADS_1
Bel masuk mulai terdengar nyaring. Semua siswa kelas I-2 yang sedang nongkrong di luar, bergegas masuk ke dalam kelas. Mereka semua bersiap-siap mengikuti pelajaran jam pertama.