Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Kosong


__ADS_3

"Baik, anak-anak. Sebelumnya ibu mengucapkan terima kasih pada Vino yang sudah menyampaikan keluh kesah kalian. Ibu mengerti apa yang kalian rasakan. Tetapi tentu tidak semudah itu mengganti guru. Ibu akan coba bicarakan kembali dengan wakil kurikulum. Semoga ada solusi terbaik ya..." Ujar Ibu Suhartini sambil bergantian menatap para siswanya.


Semua siswa di kelas I-2 menatap Ibu Suhartini dengan tatapan penuh harap. Beberapa dari mereka berdo'a di dalam hati agar Ibu Suhartini dapat membantu menyelesaikan masalah mereka.


Semua siswa kelas I-2 sudah merasa sangat tidak nyaman belajar dengan Pak Cahyono, tak terkecuali bagi Amanda dan Helena. Mereka selalu merasa terintimidasi dengan kehadiran Pak Cahyono di dalam kelas.


Mata pelajaran matematika yang dari bawaan lahirnya sudah sangat mempersulit kehidupan belajar para siswa, semakin diperparah dengan kehadiran sang guru pengampu yang sangat killer.


Sehingga setelah beberapa kali tatap muka, akhirnya semua siswa kelas I-2 sepakat untuk melakukan aksi demo pada wali kelas. Semua siswa kompak meminta Vino dan Agung selaku ketua kelas dan wakil ketua kelas untuk menyampaikan aspirasi mereka pada Ibu Suhartini yang saat ini menjadi wali kelas mereka.


Kelas masih terlihat lengang. Beberapa siswa saling melirik dalam diam. Beberapa siswa lainnya memperlihatkan ekspresi wajah tegang. Sedangkan juara bertahan pemilik wajah santuy masih tetap dipegang oleh Vino, sang ketua kelas.


Ibu Suhartini menyampaikan beberapa kalimat penutup untuk menenangkan hati para siswa sambil membereskan buku-buku dan bersiap-siap meninggalkan kelas. Helena menghela nafas dengan berat. Dia menoleh ke arah Amanda.


"Huhhh... Ga kebayang deh kalau minggu depan kita masih belajar bareng Pak Cahyono..." Helena berbisik pada Amanda.


"Iya, Helen. Sumpah, bapak itu serem banget..." Amanda berkata dengan suara lirih.


"Belum lagi PR segudang! Stress lahir batin." Tukas Helena.


Amanda mengangguk, setuju dengan komentar Helena. Helena melirik iWatch di pergelangan tangannya.


"Yes, lima menit lagi waktu istirahat..." Gumam Helena senang.


Bel tanda waktu istirahat berbunyi dengan nyaring. Ibu Suhartini berpamitan dan bergegas keluar dari kelas, diikuti oleh para siswa. Helena dengan cepat menarik tangan Amanda untuk mengikuti langkahnya.


"Yuk ke kantin! Aku laper banget!" Ajak Helena.


"Oh... Iya, Helen. Hemmm... Tapi aku..." Ujar Amanda panik. Kata-katanya terhenti ketika melihat sosok cowok bertubuh tinggi berdiri di depan kelasnya dan menatapnya seperti biasa.


Helena tidak menggubris kata-kata Amanda. Dia tetap menarik tangan Amanda dan menuntun Amanda berjalan keluar dari kelas.


Amanda berjalan melewati Doni yang ternyata sudah standby sejak tadi di depan kelas Amanda. Amanda melirik Doni dengan tatapan panik. Doni berdiri dengan tegap dan santai seperti biasa sambil memperhatikan Amanda yang berjalan berdampingan dengan Helena.


Doni tidak menyapa Amanda karena ada Helena di sana. Dia memilih mengikuti kedua gadis itu, berjalan santai di belakang mereka.

__ADS_1


Amanda semakin panik ketika melihat Doni berjalan santai di belakangnya. Helena tiba-tiba mempercepat langkahnya.


"Kita ke kantin utama aja ya..." Ajak Helena tanpa menoleh ke arah Amanda.


"Hemmm... Iya..." Amanda hanya bisa manut.


Kemanapun Helena melangkah, rasanya tidak menjadi masalah bagi Amanda. Yang menjadi masalah utama adalah sosok cowok yang berjalan santai di belakang mereka. Amanda sangat yakin bahwa Doni pasti membuntutinya kemanapun dia pergi saat ini.


"Aduhhh... Mudah-mudahan dia ga kumat lagi..." Gumam Amanda dalam hati. Dia merasa ngeri sendiri kalau-kalau Doni bersikap aneh lagi seperti saat mereka berada di rumah sakit kemarin.


Amanda melihat kerumunan siswa di kantin utama. Ia juga khawatir jika tiba-tiba berpapasan dengan kak Edo di sana.


Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu kak Edo di sekolah. Di satu sisi, dia merasa lega. Namun di sisi lain, dia sebenarnya juga masih sedikit kepo tentang hubungan kak Edo dengan pacar barunya itu.


Helena selama ini seolah seperti menghindari pembahasan tentang kak Edo. Hal itu membuat Amanda kehilangan sumber berita terpercaya tentang kakak kelas yang dulu sangat dipujanya itu.


Tiba-tiba Helena menoleh ke arah Amanda. "Rame banget hari ini..." Desis Helena. Amanda mengangguk.


Helena sepertinya sama sekali tidak curiga dengan keberadaan Doni di belakang mereka. Dia sama sekali tidak memperhatikan Doni yang sejak tadi membuntuti Amanda dengan setia.


Seperti biasa, Amanda berusaha menyembunyikan dirinya di belakang Helena sambil melirik kiri-kanan dan memastikan tidak ada siswa yang memperhatikan mereka.


Padatnya arus antrian siswa membuat mereka harus berdesak-desakan dalam antrian masuk ke dalam kantin utama. Amanda merasa seperti ada aliran listrik yang mengalir dalam pembuluh darahnya ketika tangan Doni menyentuh tangannya dengan lembut.


Amanda menoleh dan terpaksa mendongak untuk memastikan seseorang yang berada di belakangnya adalah Doni. Doni menatap mata Amanda dengan lembut, membuat Amanda jadi salah tingkah. Amanda refleks mengalihkan tatapannya, jantungnya berdegup kencang. Wajahnya terasa panas lagi.


Doni kini menggenggam erat tangan Amanda. Amanda merasakan tangan Doni begitu lembut dan hangat.


"DEG! DEG! DEG!"


Amanda betul-betul merasa deg-degan di tengah suasana hiruk-pikuk keramaian di kantin utama.


"Ya Tuhan... Gimana ini..." Amanda membatin dalam hati. Amanda tidak bisa menyangkali bahwa dirinya kini mulai terpesona melihat Doni.


Namun Amanda dengan kesadaran penuh segera menarik tangannya dari genggaman Doni. Ia khawatir kalau tiba-tiba ada siswa lain yang memperhatikan mereka.

__ADS_1


Tentu saja Doni tidak ingin melepaskan genggamannya. Dia tidak peduli dengan Amanda yang terus menghentakkan tangannya.


"Doni... Lepasin..." Amanda mendesis dengan ekspresi wajah cemas.


Helena buru-buru menoleh ke arah Amanda, membuat Amanda semakin gugup.


"Kamu ngomong sama siapa?" Tanya Helena.


"Errrr... Hehehe... Ga kok... Hehehe..." Ujar Amanda cengengesan.


"Hemmm..." Gumam Helena. Dia melirik sekilas segerombolan siswa senior yang bergerak cepat di belakang Doni. Mereka terlihat tidak sabar.


"BRUGGG!!!"


Sesorang siswa senior laki-laki tanpa sengaja menubruk Doni dari belakang, membuat Doni sedikit terjungkal dan menubruk Amanda dan Helena di depannya.


Amanda nyaris menjerit karena kaget. Genggaman tangan Doni terlepas.


"Aduhhh!!!" Seru Helena. Dia menatap Doni dengan kesal.


"Sorry..." Ucap Doni.


Helena hanya mendengus. Dia tahu sebenarnya Doni tidak bersalah, kakak kelas mereka yang menyebabkan Doni dan beberapa siswa lain di sekitar Doni ikut terjungkal.


"Doni, kamu gapapa?!" Tanya Amanda panik.


"Maaf, aku ga sengaja..." Ucap Doni.


Helena menoleh, dia mulai menyadari bahwa Amanda ternyata mengenali cowok tampan itu. Ya, Helena langsung bisa menilai ketampanan Doni. Helena kemudian mengajak Amanda masuk lebih jauh ke dalam kantin, mencari antrian yang tidak terlalu panjang.


"Hemmm... Ya udah ya, nanti siang kita ketemu lagi..." Ujar Amanda pada Doni.


Doni terhenyak beberapa detik. Dia ingin mengatakan pada Amanda bahwa mulai siang ini dia tidak akan lagi pulang bersama Amanda. Namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia masih terdiam, menatap Amanda yang meninggalkan dirinya di tengah keramaian kantin utama.


Doni merasa sesuatu telah terjadi di relung hatinya. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Sesuatu yang tidak disukainya. Hatinya terasa kosong.

__ADS_1


__ADS_2