
Smartphone Amanda bergetar di dalam tasnya. Ternyata sudah ada dua buah panggilan dari ayahnya. Ia sedang serius mengerjakan soal latihan di buku tulisnya sehingga tidak menyadari ayahnya sudah dua kali menghubunginya.
"Ada apa ya? Kok tiba-tiba ayah nelpon?" Amanda bertanya-tanya dalam hati. Mendadak dia menjadi gelisah, khawatir ada sesuatu yang terjadi pada ayahnya.
Amanda memperhatikan suasana di dalam kelasnya. Guru mata pelajaran sejarah duduk di kursi sembari memeriksa tugas dan latihan yang telah dikumpulkan beberapa siswa. Sebagian siswa yang sudah menyelesaikan latihan, melanjutkan menulis catatan berikutnya. Sedangkan siswa-siswa yang belum menyelesaikan latihan mereka, terlihat serius dan fokus.
Amanda menghela nafas. Dia meraih smartphone-nya dan menelpon kembali ayahnya dengan perasaan was-was.
"Halo... Ayah, ada apa?" Ucap Amanda dengan suara pelan sambil menunduk agar tidak terlihat dan kedengaran oleh gurunya dari depan kelas.
"Nanti pulang ayah jemput ya. Kebetulan ayah lewat sana. Tunggu saja di sekolah." Ujar ayah Amanda dengan suara baik-baik saja.
"Oh... Iya, ayah." Ujar Amanda singkat. Ayah Amanda memutuskan panggilan. Setidaknya sekarang Amanda merasa lega. Ayahnya dalam keadaan baik-baik saja, hanya berniat menjemput Amanda pulang karena kebetulan ayahnya akan melewati arah SMA Adhyaksa.
"Kenapa Amanda? Ada sesuatu?" Tanya Helena yang melihat Amanda berbicara di telpon dengan ayahnya.
"Oh... Ga kok... Ayahku nelpon, nanti mau jemput aku." Jawab Amanda pelan agar suaranya tidak menarik perhatian teman-teman sekelasnya.
"Oh... OK!" Ucap Helena. Dia melanjutkan mengerjakan latihan bab 1 di buku sejarah. "Ehh... Nyontek dong. Jawaban soal nomor 4. Aku lagi males mikir." Ujar Helena tiba-tiba sambil melirik buku tulis Amanda. Amanda sudah selesai menuliskan jawaban untuk soal nomor 4.
Amanda sebenarnya merasa sedikit keberatan. Namun dia tidak punya keberanian menolak permintaan Helena.
Tanpa menunggu izin dari Amanda, Helena langsung menyontek dan menyalin jawaban Amanda di buku tulisnya. Tanpa merasa bersalah sama sekali.
Bukan baru sekali Helena bersikap begitu. Jika tidak bisa menyontek dari Amanda, dia akan berusaha mendapat contekan dari teman-teman yang lain. Mungkin salah satu hobi Helena adalah menyontek jawaban teman-temannya.
Amanda sangat tidak suka jika jawabannya dicontek oleh temannya. Dia sendiri juga membiasakan dirinya untuk tidak menyontek pada teman-temannya. Budaya menyontek tidak ada dalam kamus belajar Amanda. Bisa atau tidak bisa, dia tetap akan berusaha mengerjakannya sendiri.
__ADS_1
Tapi apa daya... Amanda juga merasa tidak enak hati jika melarang Helena menyontek jawaban di buku tulisnya.
"Ah biarlah... Ini kan cuma latihan biasa, toh bukan ujian juga." Amanda berkata dalam hati. Ia memandangi Helena yang menyalin jawaban di buku tulisnya dengan sangat serius.
"Apa sulitnya ya berfikir sedikit untuk menjawab soal-soal itu? Buat apa juga dia sekolah?" Gerutu Amanda di dalam hati.
Setelah selesai menyalin jawaban soal nomor 4, Helena langsung mengembalikan buku tulis Amanda. "Makasih ya." Ucap Helena puas.
Amanda mengambil buku tulisnya dan melanjutkan mengerjakan soal-soal yang lain. Ia membolak-balik buku referensi untuk menemukan jawaban dari soal-soal tersebut.
Tidak ada seorang pun siswa yang berani menggunakan smartphone mereka untuk browsing atau searching jawaban di Google.
Semua guru yang masuk di kelas I-2 telah menyampaikan larangan penggunaan smartphone selama kegiatan pembelajaran berlangsung di dalam kelas.
Siswa tidak dibenarkan menggunakan smartphone untuk mencari jawaban dari setiap soal latihan yang diberikan. Bahkan ada beberapa guru yang lebih strict lagi. Siswa diwajibkan menon-aktifkan smartphone mereka dan mengumpulkannya di meja guru.
Amanda adalah siswa yang merasa paling risih jika sudah berurusan dengan hal ini. Smartphone Amanda adalah gadget paling usang di antara gadget teman-temannya yang lain. Tidak akan ada siswa yang khilaf menukar smartphone mereka dengan miliknya.
Clara bangun dari tempat duduknya dan berjalan dengan begitu anggun ke depan kelas. Beberapa siswa laki-laki melirik takjub dari tempat duduk mereka.
Helena masih sibuk melanjutkan mengerjakan soal-soal latihan, sementara Amanda sudah selesai dan mengumpulkan bukunya di meja guru. Tidak ada satupun siswa laki-laki yang melirik ketika dirinya berjalan. Amanda merasa lega.
Amanda kembali ke bangkunya, duduk manis sembari menatap jam di dinding. Lima belas menit lagi mereka sudah bisa pulang. Ia melirik Helena. Amanda masih merasa kesal di dalam hatinya karena belum mendapat informasi tentang kencan Helena dan kak Edo.
"Napa kali ini dia ga mau cerita ya? Ga seperti biasanya. Aneh..." Amanda menggumam sendiri dalam hati.
Ini benar-benar tidak lazim. Seorang Helena tidak mungkin bersikap seperti itu. Dia adalah tipikal cewek yang dengan rela hati menceritakan apa saja yang menurutnya menarik untuk diceritakan.
__ADS_1
"Hemmm... Apa mungkin kak Edo melarang dia menceritakan hubungan mereka?" Gumam Amanda sambil menatap sinis Helena yang baru saja mengumpulkan tugasnya di depan kelas. Dia menghela nafas lagi. Rasanya seperti down sendiri.
"Ketua kelas! Tolong bagikan buku-buku tulis ini." Teriak Pak Munir, guru sejarah kelas I-2. Amanda tersentak dari lamunannya.
Vino bangun dengan gaya ogah-ogahan seperti biasa. Helena melirik Vino dengan pandangan tidak senang ketika mereka berpapasan di depan kelas.
Vino mengabaikan lirikan mata Helena dan mengambil beberapa buku tulis di atas meja guru dan mengembalikannya pada masing-masing siswa.
Vino sudah mampu mengingat nama lengkap beberapa teman sekelasnya, meskipun belum seluruhnya. Ia selalu ditugaskan untuk mengumpulkan tugas teman-teman sekelasnya, jadi mau tidak mau akhirnya dia berhasil mengenali mereka satu per satu.
Semua siswa sudah selesai mengerjakan soal latihan. Pak Munir juga sudah selesai memberikan penilaian. Guru sejarah itu mengakhiri kegiatan pembelajaran dan mengucapkan salam sebelum meninggalkan kelas. Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Semua siswa sangat bersemangat untuk pulang.
Sepertinya, bel tanda pulang sekolah adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa SMA Adhyaksa.
"Aku duluan ya..." Ujar Helena seperti biasanya. Dia bergegas keluar dari kelas. Amanda menatap Helena sekilas sambil membereskan buku-bukunya.
Amanda kemudian berjalan keluar dari kelas sambil menatap smartphone di tangannya. Ia menunggu kabar dari ayahnya yang tadi mengatakan akan menjemputnya siang ini di sekolah.
"BRUGGG!!"
Amanda menubruk seseorang yang tiba-tiba berhenti berjalan di hadapannya. Beberapa siswa lain yang berjalan di belakang Amanda ikut kaget. Amanda benar-benar tidak menyangka cowok di depannya ini akan berhenti mendadak. Vino berbalik arah. Ia menatap Amanda. "Sorry, Vino!" Ujar Amanda kaget.
"Hemmm... Sorry! Aku ga tahu di belakang ada kamu." Ujar Vino sambil buru-buru berjalan ke mejanya. Hampir saja dia lupa mengambil smartphone-nya yang tertinggal di laci meja.
Amanda merasa aneh. "Tumben ini anak ngomong bener..." Gumam Amanda dan berlalu keluar dari kelas. Ia berjalan santai dan memperhatikan begitu ramai siswa-siswa yang kece dan parlente lalu lalang di hadapannya.
Semua siswa mempercepat langkah mereka. Langit mulai gelap, angin yang berhembus mulai terasa dingin. Sepertinya hujan akan turun. Amanda melihat-lihat tempat mana yang cocok untuk berteduh jika sewaktu-waktu hujan turun dan ayahnya belum juga tiba.
__ADS_1
"Hemmm... Masa iya aku berteduh di pos satpam..." Gerutu Amanda ketika melihat hanya itulah satu-satunya bangunan terdekat dengan gerbang sekolah.