
"Baik, Tuan Muda." Alfred membalas pesan Doni dengan cepat.
Doni menarik nafas dalam-dalam sambil melirik balasan pesan dari sekretaris pribadinya, Tuan Alfred.
Hanya beberapa detik lagi bel tanda pulang sekolah akan berbunyi. Para siswa sudah mulai merapikan alat tulis mereka, bersiap-siap untuk segera pulang.
"Ton, lo ikut ekskul apa?" Pertanyaan Hendi membuat Doni merasa sedikit kaget.
"Hemmm... Ekskul?" Gumam Doni. Dia kelihatan berfikir sejenak. Sepertinya Doni masih belum bisa menentukan kegiatan ekstra kurikuler apa yang akan diikutinya.
"Gue mau coba daftar di kelas pecinta alam." Ujar Hendi lagi.
"Oh... Keren!" Tukas Doni singkat.
"Lo mau ikutan juga?" Tanya Hendi dengan nada berharap.
"Hemmm... Entahlah..." Ucap Doni.
"OK, Ton. Kalau nanti lo mau ikutan, kita bisa satu club!" Hendi berkata sambil menepuk bahu Doni.
Doni tersenyum sinis. Dia bergegas keluar dari kelas setelah mendengar bel sekolah berbunyi. Sedangkan Hendi masih sibuk berkelakar dengan siswa yang duduk di bangku belakang.
Amanda dan beberapa orang teman sekelasnya berjalan santai sambil sesekali tertawa ringan. Mereka semua terlihat ceria. Doni menatap wajah Amanda yang tertawa lepas. Sepertinya Amanda hari ini sangat bahagia.
Dari jauh Amanda bisa melihat Doni yang sedang berdiri di depan kelasnya. Dia tahu cowok itu sedang menatapnya. Amanda mencoba menenangkan debaran jantungnya.
"Diiihhh... Kenapa aku sekarang selalu deg-degan kalau ketemu dia..." Amanda membatin dalam hati.
Amanda menoleh, menatap Doni dengan rasa khawatir yang tidak jelas. Entah apa yang dikhawatirkan, tapi tetap saja perasaan Amanda kini mulai berubah terhadap Doni.
Jika sebelumnya Amanda merasa cuek-cuek saja ketika bertemu Doni, kini dia tidak bisa lagi bersikap begitu. Terkadang Amanda merasa canggung berada di dekat Doni. Namun terkadang ia juga khawatir jika tiba-tiba Doni bersikap aneh dengannya.
Yang jelas, sejak Doni mengatakan menyukainya, Doni seringkali bersikap aneh pada dirinya.
"Dia itu benar-benar suka apa gimana? Dasar cowok aneh!" Amanda bertanya-tanya dalam hati.
Amanda belum bisa menilai perasaan Doni yang sesungguhnya terhadap dirinya. Dia masih terlalu polos untuk urusan perasaan ataupun cinta-cintaan.
Amanda dan teman-temannya sudah semakin dekat dengan tempat Doni berdiri. Debaran jantung Amanda semakin kencang.
"Aduhhh... Apaan sih! Aku ga boleh baper gini!" Batin Amanda.
__ADS_1
Amanda dan teman-teman sekelasnya terus berjalan melewati Doni. Sambil berjalan mereka masih sibuk meng-ghibah. Amanda mulai tidak fokus dengan topik ghibahan yang sedang dibicarakan teman-temannya. Fikirannya bercabang.
"Amanda!" Seru Doni dengan suaranya yang berat dan dalam.
"Mati aku!" Jerit Amanda dalam hati.
Mau tak mau Amanda menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pemilik suara tersebut. Teman-teman Amanda ikut berhenti. Mereka melirik Amanda dan ikut menoleh ke arah Doni.
"Ehemmm... Eh, kita duluan aja yuk!" Seru Yuni sambil mengedipkan sebelah matanya. Teman-teman Amanda yang lain tertawa pelan. Mereka seolah mengerti dengan kode rahasia dari Yuni.
Amanda tercenung beberapa saat melihat teman-teman sekelasnya meninggalkan dirinya begitu saja sambil terkikik.
"Huhhh... Pasti mereka mulai mikir macem-macem..." Desah Amanda pilu.
"Ayo pulang!" Ujar Doni dengan nada memerintah.
"Ehh... Mau pulang ya pulang aja. Ga usah pake nada sok merintah gitu dong!" Amanda mulai ngomel-ngomel.
Walaupun nervous, tetap saja Amanda sulit menahan mulutnya untuk tidak protes. Menurutnya Doni kadang-kadang kelewatan juga.
Doni tentu saja tidak ambil pusing dengan omelan Amanda. Dia segera menggenggam tangan Amanda, membuat Amanda terperanjat kaget dan menjerit.
Beberapa siswa yang lewat di sekitar mereka menoleh karena ikutan kaget. Amanda menepis tangan Doni membuat genggaman tangan Doni terlepas.
"Hemmm..." Gumam Doni.
"Doni, jangan sampai kita jadi bahan gossip di sini ya!" Amanda mulai mengingatkan Doni untuk menjaga sikapnya.
"Gossip!? Gossip apa!?" Tanya Doni tanpa rasa bersalah.
"Ya Tuhan..." Amanda mendengus.
Ia berjalan cepat-cepat di depan Doni sambil mendekap kedua tangannya. Ia khawatir kalau-kalau Doni menangkap tangannya lagi.
"Ini cowok, bego atau ga tahu malu ya!" Amanda merutuk dalam hati.
Sepertinya Tuan Muda Anthony memang sudah terobsesi dengan tangan Amanda. Dia selalu berusaha menyentuh tangan Amanda jika mereka sedang berdekatan. Dia sungguh-sungguh menyukai tangan Amanda yang hangat.
Namun sebenarnya, di balik itu semua, hal yang paling disukainya adalah melihat ekspresi Amanda yang lucu dan menggemaskan ketika gadis itu sedang kesal.
Alfred memperhatikan gelagat Tuan Mudanya dari kejauhan. Ia dapat melihat dengan jelas Doni berjalan dengan seorang gadis ke arah halte.
__ADS_1
"Oh God... Sepertinya Tuan Muda benar-benar menyukai gadis itu." Alfred menggumam sambil tersenyum geli.
Alfred tertawa sendiri melihat tontonan yang menurutnya terasa begitu lucu.
Bagaimana tidak, dua orang remaja itu terlihat lucu sekali. Yang satu wajahnya datar dan santuy, yang satunya lagi terlihat panik dan kesal namun terlihat malu-malu.
"Dan kita membuang-buang waktumu yang begitu berharga untuk gadis itu, Tuan Muda..." Alfred mendesah sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.
Alfred terpaksa menunggu Tuan Muda Anthony dengan sabar di dalam mobilnya.
Dia sudah menerima perintah dari Doni untuk tetap standby menunggu Doni selesai menemani temannya di halte.
Alfred memperhatikan dengan seksama suasana di sekitar sekolah dan halte, berjaga-jaga dan memastikan tidak ada bahaya yang mengintai Tuan Mudanya.
Sementara itu, di halte terlihat sepasang remaja berdiri dalam jarak yang aman namun aneh. Ya, sepasang remaja itu adalah Doni dan Amanda.
Amanda berdiri sambil menjaga jarak dari Doni. Ia berdiri dengan sikap badan waspada. Takut-takut kalau Doni tiba-tiba mendekatinya lagi.
Doni akhirnya tertawa pelan. Ia tidak mampu menyembunyikan tawanya yang tertahan sejak tadi.
"Apaan sih!?" Tukas Amanda masih dengan wajah sewot dan panik.
"Itu... Angkotnya..." Tunjuk Doni.
Amanda menoleh cepat ke arah yang ditunjuk Doni. Angkot tersebut berhenti di depan halte. Hanya ada seorang penumpang di dalam angkot.
"Kamu naik duluan gih!" Ujar Amanda.
Dia merasa lebih aman jika Doni yang lebih dahulu masuk ke dalam angkot. Jadi Amanda nanti bisa bebas memilih duduk dimana. Tidak perlu duduk berdekatan dengan Doni.
Doni menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Aku ga naik angkot itu, kamu duluan aja..." Ucap Doni.
"Oh... OK..." Ujar Amanda sambil bergegas masuk ke dalam angkot.
Doni menatap angkot yang membawa Amanda. Dia terus menatap angkot itu sampai hilang dari pandangan. Dia sedikit merasa nelangsa.
"Aku akan selalu menemanimu pulang..." Doni berkata dalam hati.
Sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti dengan elegant di depan Doni. Doni dengan sigap masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita sudah bisa berangkat, Tuan Muda?" Alfred bertanya pada Doni.
"Silahkan, Tuan Alfred." Jawab Doni sopan.