
Tuan Muda Anthony menegakkan tubuh ketika mobil yang dikendarai Tuan Alfred berbelok menuju area SMA Negeri 10.
Diam-diam Alfred memperhatikan raut wajah Doni yang agak berbeda pagi ini. Wajah Doni terlihat tegang, kaku, dingin, sedikit mengerikan... Namun tetap saja dia terlihat tampan.
"Hanya ada pameran anak sekolah di sana, mengapa dia setegang itu?" Alfred bertanya dalam hati.
Tuan Alfred dengan cepat berhasil mendapatkan informasi kegiatan apa yang sedang diselenggarakan di SMA Negeri 10. Hanya berselang beberapa menit dari perintah Tuan Muda Anthony, Tuan Alfred sudah berhasil mengumpulkan rincian informasi terbaru tentang suasana di sekolah tersebut.
Tuan Alfred juga sudah memastikan suasana di sana aman untuk keselamatan Tuan Muda Anthony.
Sekretaris tampan itu telah memerintahkan para pengawalnya berjaga-jaga di sana dan melaporkan pada dirinya jika ada kejanggalan atau bahaya yang mungkin mengancam keselamatan Tuan Muda.
"Mungkin ada perlombaan yang akan diikutinya di sana. Hemmm..." Alfred masih mencoba menemukan beberapa kemungkinan yang cocok.
"Kita sampai, Tuan Muda." Kata-kata Alfred sepertinya mengejutkan Doni yang diam membisu sejak tadi.
"Hemmm... Terima kasih, Tuan Alfred." Ucap Doni.
"Saya akan menghubungi anda lagi nanti." Ujar Doni ketika akan keluar dari mobil Alfred.
"Siap, Tuan Muda." Kata Alfred.
Doni menunggu sebentar sampai Alfred dan mobilnya menghilang dari pandangan. Kemudian dia berjalan memasuki area pekarangan SMA Negeri 10 yang sangat luas.
Suasana di SMA Negeri 10 sudah mulai riuh dan ramai. Para siswa yang menjadi pengunjung utama terlihat begitu bersemangat, mereka tertawa dan bergembira.
Sebuah photobooth yang keren terletak di sisi kiri aula SMA Negeri 10. Banyak siswa yang antri di sana untuk sekedar selfie atau melakukan pemotretan dengan berbagai gaya yang aneh dan allay.
Doni menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menghubungi Amanda atau tidak. Ia sudah berada di depan pintu masuk aula. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Amanda. Ia akan mencari sendiri Amanda di dalam gedung aula tersebut. Ia yakin tidak akan sulit menemukan Amanda di sana.
"Permisi kakak... Mohon diisi buku tamunya..." Ucap seorang gadis manis yang berdiri di samping sebuah meja resepsionis di pintu masuk.
"Oh... Hemmm..." Doni menggumam dan segera mengisi buku tamu yang disodorkan kepadanya.
Beberapa panitia yang berada di sana mengalihkan pandangan mereka ke arah Doni. Para gadis menatap Doni nyaris tanpa berkedip.
"Terima kasih, kakak..." Ucap gadis itu ketika Doni selesai mengisi buku tamu.
Doni mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Panitia lainnya sepertinya begitu terpesona melihat senyuman Doni yang hanya bertahan beberapa detik itu.
Doni tidak peduli dengan tatapan penuh minat dari gadis-gadis panitia tersebut. Konsentrasinya benar-benar terfokus untuk menemukan Amanda di dalam gedung pameran itu.
"Gila... Ganteng benerrrr!" Ucap salah seorang gadis di antara para panitia yang berada di sekitar pintu masuk aula.
"Iya... Matanya itu loh... Melted ga sihhh kaliannnn!!" Seru gadis lainnya yang langsung disambut sorak-sorai teman-temannya.
"Sumpah! Cowok-cowok di SMA Adhyaksa pada damage semua!" Gadis-gadis panitia itu mengangguk setuju akan kata-kata teman mereka.
"Namanya Anthony... Hemmm... Yang tadi namanya Ryan... Wowww..." Gumam gadis yang sedang membaca daftar nama di buku tamu.
"Ada nomornya kan?" Tanya seorang gadis di sebelahnya.
"Ada dong! Ada e-mailnya juga!" Seru gadis yang bertugas menjaga buku tamu dengan mata berbinar-binar.
Para panitia tersenyum puas. Mereka masih memperhatikan Doni yang berjalan dengan gagah dan santai di tengah kerumunan pengunjung pameran.
Setiap gadis yang berlalu di sekitar Doni tidak mampu menahan tatapan mata mereka untuk tidak melirik Doni. Kehadiran Doni di aula tersebut seolah mampu menyedot perhatian pengunjung pameran. Beberapa panitia dan pengunjung pameran tersebut bahkan mengambil foto Doni secara diam-diam.
Doni tidak menyadari bahwa dirinya telah menarik perhatian para pengunjung di sana. Matanya yang indah masih menatap fokus ke berbagai stand pameran yang berjejer rapi di hadapannya.
Doni menghentikan langkahnya ketika matanya berhasil menangkap sosok seorang cowok bertubuh tinggi yang sedang berbicara santai dengan panitia di stand humaniora. Dia mengenali sosok cowok itu.
Ryan.
Doni berjalan perlahan sambil terus memperhatikan Ryan dari jauh. Amanda berjalan ke arah Ryan sambil membawa sesuatu yang terlihat seperti notes kecil.
Amanda terlihat begitu ceria, tertawa bersama Ryan dan panitia di sana. Doni tidak suka melihat pemandangan itu. Dia benar-benar tidak suka melihat Ryan.
Belum lagi Doni meredam emosinya yang sudah bergejolak, dia harus bertahan dalam kesabaran penuh ketika melihat Ryan menarik tangan Amanda untuk mengikutinya berjalan ke stand lain.
Dia kini merasa aliran panas menjalar di dalam tubuhnya.
"Beraninya dia...!!!" Doni menggerung di dalam hati.
Doni berjalan cepat melewati kerumunan para pengunjung pameran dan hanya butuh waktu beberapa detik ia sudah berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Amanda dan Ryan.
Amanda dan Ryan sepertinya belum menyadari kehadiran Doni di dekat mereka. Dua orang panitia mendekati Ryan yang sedang berdiskusi dengan Amanda.
"Kakak... Boleh kita minta foto bareng?" Tanya seorang gadis di antara kedua panitia tersebut.
Ryan melirik Amanda sambil tertawa pelan.
"Oh... Hahaha... Hemmm... OK!" Ujar Ryan setelah mendapat anggukan dan senyuman lebar dari Amanda.
"Amanda, ayo!" Ujar Ryan.
"Ga ah... Kamu aja!" Seru Amanda sambil terkekeh-kekeh sendiri.
Ryan akhirnya pasrah mengikuti kemauan panitia. Tiba-tiba saja Ryan sudah dikerumuni cewek-cewek. Semuanya bergantian ingin selfie dengannya. Ryan meladeni mereka semua dengan ramah. Amanda tertawa terbahak-bahak melihat tontonan yang lucu itu.
"Ehemmm..." Amanda terlonjak kaget mendengar seseorang berdehem di belakangnya.
__ADS_1
Ia menoleh dan melihat Doni sudah berdiri di belakangnya, menatapnya tajam seperti biasa.
"Ya ampun! Kamu di sini juga!" Seru Amanda ceria.
"Hemmm..." Gumam Doni.
"Hahaha... Lihat tuh! Dia udah kayak artis aja! Hahaha..." Amanda menunjuk ke arah Ryan.
Doni hanya melirik sekilas sambil memasang wajahnya yang kaku. Dia kembali menoleh ke arah Amanda. Ini pertama kalinya ia melihat Amanda tanpa seragam sekolah. Amanda terlihat begitu manis hari ini dengan rambutnya yang dikuncir seperti itu. Menggemaskan.
"Hai kakak... Ikutan foto bareng kita dong!" Sebuah suara mengagetkan Doni yang sedang fokus menatap Amanda.
"Hemmm..." Doni menggumam lagi.
Sepertinya dia ingin menolak permintaan panitia tersebut. Namun Amanda dengan sigap menarik tangan Doni.
"Ayo... Kita foto-foto!" Seru Amanda.
"Wahhh... Terima kasih kakak! Mari, di sebelah sini kak!" Ujar seorang panitia.
Para panitia mulai mengatur posisi. Mereka merapikan beberapa kursi yang ada di stand tersebut dan mencari spot terbaik untuk pemotretan.
Doni tidak menolak karena Amanda masih menggenggam tangannya dan membawa Doni ke arah yang ditunjuk oleh panitia.
"Kak Ryan... Boleh gabung ke sini?" Seorang panitia mengajak Ryan bergabung bersama mereka.
Ryan yang sudah terlihat agak bosan terpaksa mengikuti permintaan panitia karena melihat Amanda melambai ke arahnya.
Ryan sedikit terkejut melihat Doni tiba-tiba ada di samping Amanda.
"Wowww... Damage!!!" Seru gadis-gadis yang ada di stand.
Stand mendadak ramai. Para gadis yang bersileweran di sana dengan sigap mengambil foto Ryan dan Doni sebanyak mungkin.
Ryan akhirnya mengakhiri sesi pemotretan dadakan itu dengan berkata, "Terima kasih. Kita pada mau keliling-keliling dulu nih! Hehehe..."
Panitia akhirnya melepaskan Ryan dan Doni dengan berat hati. Ryan bergegas mencari pintu keluar, diikuti oleh Amanda dan Doni.
"Huhhh... Kelar juga!" Desis Ryan ketika mereka telah berhasil keluar dari aula.
"Hahaha... Kalian luar biasa!" Ujar Amanda sambil tertawa terbahak-bahak.
"Luar biasa apaan..." Tukas Ryan.
"Ya, luar biasa dong! Pasti kalian berdua bakalan jadi trending topic di sekolah ini!" Amanda berkata penuh semangat.
Doni hanya diam. Dia memperhatikan suasana di sekitar aula dengan tatapan tajam. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Hemmm... Iya..." Ujar Doni.
"Aku senang banget, Doni. Kamu ternyata ada di sini juga!" Amanda berkata dengan jujur.
"Hemmm... Benarkah?" Tanya Doni.
Amanda mengangguk cepat sambil tersenyum sumringah ke arah Ryan. Ryan membalas dengan tawanya yang renyah.
Amanda sedang bercerita dengan penuh semangat pada Doni tentang lomba yang akan diikutinya bersama Ryan ketika Ryan tiba-tiba mendapat telpon dari adiknya, Rudy.
"Kak... Ada tamu nih di villa. Kakak dimana?" Tanya Rudy di seberang sana.
"Aku lagi di pameran..." Jawab Ryan.
"Oh... OK... Aku segera pulang!" Ujar Ryan lagi.
Ryan mendengus pelan dan menutup telpon. Dia sepertinya harus segera kembali ke villa. Pak Sam akan datang menjemputnya dalam lima belas menit.
"Guys... Kayaknya aku duluan nih!" Kata Ryan.
"Amanda, kamu mau aku anterin pulang?" Ryan menawarkan tumpangan untuk Amanda.
"Errrr... Hemmm..." Amanda terlihat ragu-ragu, ia melirik Doni.
"Hemmm... Makasih, Ryan. Aku pulangnya nanti aja. Doni kan masih di sini." Ujar Amanda sambil tersenyum.
"OK. See you, guys!" Ryan berpamitan dan meninggalkan Doni dan Amanda.
Dia berjalan cepat menuju gerbang sekolah. Pak Sam sudah menghubunginya. Sebentar lagi pria paruh baya tersebut akan tiba di depan gerbang SMA Negeri 10.
Doni memperhatikan Ryan yang berjalan menjauh meninggalkan dirinya dan Amanda. Setiap gadis yang berpapasan dengan Ryan pasti akan melirik dengan tatapan penuh kekaguman. Doni merasa kesal melihat pemandangan itu. Rasa tidak sukanya terhadap Ryan semakin menjadi-jadi.
"Heiiii... Kok tegang gitu sih? Santai aja..." Amanda menepuk pundak Doni lembut.
"Hemmm..." Doni melirik Amanda.
"Kamu kenapa masih dekat-dekat sama dia?" Tanya Doni.
"Dekat? Dekat gimana? Kami kan cuma ke pameran!" Amanda mencoba membela diri.
Doni menatap Amanda lekat-lekat membuat Amanda tidak bisa berkutik.
"Kamu suka sama dia?" Tanya Doni lagi.
__ADS_1
"Idiiihhh... Apaan sih... Siapa juga yang suka sama dia!" Amanda mulai mengelak.
"Jawab yang jujur..." Doni berkata dengan suara yang berat dan dalam.
Kini Doni benar-benar mengunci Amanda dalam tatapannya yang tajam. Amanda melenguh. Ia mencoba menghindari bertatapan dengan Doni.
"Aku ga suka lihat kamu dekat-dekat dia..." Doni berkata dengan lembut namun tegas.
Amanda bisa merasakan aura intimidasi yang sangat kuat dari Doni. Namun dia berusaha tidak peduli.
"Kamu kenapa, Doni? Ryan itu baik lohhh... Sama seperti kamu." Ujar Amanda.
"Jangan samakan aku dengan dia!" Sergah Doni.
Amanda menatap Doni. Dia merinding melihat Doni menatapnya dengan tatapan dingin dan menusuk. Indah namun mengerikan.
"OK... OK... Jadi aku cuma boleh dekat sama kamu, gitu ya?!" Tanya Amanda sambil berusaha menetralisir suasana.
Doni masih menatap Amanda dalam diam. Amanda mencari-cari kalimat apa yang sebaiknya dia ucapkan agar Doni bisa mengalihkan perhatiannya.
Sejujurnya Amanda sebenarnya merasa terpesona melihat penampilan Doni hari ini. Amanda belum terbiasa melihat Doni dengan outfit sekeren itu. Pantas saja semua gadis di aula tadi mencuri-curi pandang ke arah Doni.
Anak ini benar-benar tampan.
Tiba-tiba sebuah ide konyol muncul di benak Amanda. Dia menyeringai sendiri.
"Kalau gitu... Kamu jadi pengawal pribadiku aja, gimana?" Amanda merasa ide konyol ini akan berguna nantinya.
"Hemmm..." Doni mengernyitkan dahinya.
"Gimana? Cepat jawab!" Amanda mulai meninggikan suaranya beberapa oktaf.
Doni terhenyak. Dia berusaha mencerna maksud kata-kata Amanda. Kedengarannya aneh sekali.
Pengawal pribadi?
Seperti Tuan Alfred?
Doni menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Amanda.
"Kenapa kamu menginginkanku menjadi seperti itu?" Doni bertanya dengan suaranya yang berat dan menggoda.
Amanda mencoba mundur beberapa langkah dengan wajah memerah.
"Gawat... Gimana kalau dia kumat di sini?" Batin Amanda. Dia mulai panik sendiri.
"Anda berani bayar berapa, Nyonya Besar?" Doni mendekatinya lagi. Menatapnya dalam-dalam sambil tersenyum tipis.
Amanda semakin nervous. Sepertinya ide konyol tadi tidak berhasil. Doni malah semakin aneh.
"Jangan menatapku begitu! Awas! Minggir sana!" Amanda mulai mendorong tubuh Doni menjauh.
Siswa-siswa yang sedang lewat di sekitar mereka melirik penuh tanda tanya. Amanda khawatir keberadaan mereka di sana akan menarik perhatian lebih banyak orang. Dia juga merasa risih melihat seorang guru pendamping yang sepertinya sejak tadi sudah memperhatikan mereka berdua.
"Aku lapar..." Ujar Amanda sambil melirik jam tangannya.
"Hemmm... Kita makan di luar saja. Biar aku yang traktir Nyonya Besar hari ini." Doni berkata sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Hahaha... Thanks, my bodyguard..." Amanda tertawa lebar agar bisa lebih santai sambil menenangkan debaran jantungnya.
Setidaknya Doni sudah terlihat lebih rileks. Hal itu sangat disyukuri Amanda. Melihat Doni tegang seperti tadi benar-benar tidak menyenangkan. Namun sesungguhnya, tatapan mata Doni yang tajam itu yang lebih meresahkan.
Amanda yakin jika saja Doni menatap gadis lain seperti itu, bisa dipastikan gadis itu akan meleleh sendiri seperti lilin yang sedang menyala.
"Ayo... Itu mobilnya udah datang..." Doni memberi tanda pada Amanda agar mengikutinya.
"Kenapa kita ga naik angkot aja?" Tanya Amanda sambil berjalan mengikuti Doni.
"Hemmm... Jangan banyak protes, Nyonya Besar." Doni tersenyum tipis.
Amanda menyeringai. Kini dia merasa geli sendiri melihat sikap Doni. "Kayaknya dia lagi banyak uang nih..." Batin Amanda dalam hati.
Sebuah mobil BMW berwarna hitam elegant berhenti tepat di hadapan Doni. Doni membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Amanda masuk. Amanda merasa heran dan sedikit kegeeran.
"Kenapa dia sok manis begini?" Amanda mulai berfikir apakah Doni menganggap serius kata-katanya tadi mengenai ide konyol tentang pengawal pribadi itu.
"Kita sudah bisa berangkat, Tuan Mu...?" Suara driver mendadak terhenti ketika Doni memotong kalimatnya dengan berdehem kuat.
"Ayo jalan, pak!" Jawab Doni cepat.
Doni duduk dengan tenang di samping Amanda sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Amanda sangat menikmati perjalanan di dalam mobil yang nyaman tersebut.
"Hemmm... Doni, kamu kenal ga sama guru pendamping yang pake baju batik biru tadi?" Amanda tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang memecah keheningan di dalam mobil.
"Yang mana?" Tanya Doni.
"Yang tadi berdiri di depan aula, waktu kita ngobrol tadi..." Ujar Amanda santai.
"Hemmm... Ga... Kenapa? Kamu kenal?" Doni balik bertanya.
"Ga juga sih..." Desis Amanda.
__ADS_1
Doni melirik Amanda sambil tersenyum tipis. Driver melirik Doni dari kaca spion depan.