
Doni menghempaskan tas ranselnya ke atas sofa di samping tempat tidurnya yang mewah. Ia beranjak mendekati jendela, menyibak gorden dan kemudian membuka jendela itu lebar-lebar.
Semilir angin dingin dan butiran-butiran air yang halus menerpa wajah dan tubuhnya. Hujan deras sudah berhenti, berganti menjadi gerimis halus yang dingin dan sejuk dipandang mata.
Ia terdiam beberapa waktu. Berfikir keras, mengapa saat ini dia harus begitu gelisah. Gadis itu betul-betul membuatnya gelisah. Ada apa ini? Apakah dia sedang jatuh cinta? Atau ini semua hanyalah efek dari kelelahannya menghadapi segudang aktivitas dan pekerjaan yang menguras energi setiap hari...
Doni menatap setumpuk buku-buku tentang saham dan bisnis yang harus dipelajarinya nanti malam. Ia menghela nafas panjang. Bingung kapan mempelajari buku-buku itu, kapan lagi mengerjakan PR dari sekolah.
Para guru di SMA Adhyaksa tidak segan-segan memberi segudang PR untuk dikerjakan setiap siswa. Belum lagi tugas kelompok yang rumit.
Ditambah lagi dengan peraturan baru, semua siswa SMA Adhyaksa diwajibkan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.
Gila! Doni merasa untuk bernafas sambil duduk santai saja waktunya sangat-sangat terbatas. Kini ditambah lagi dengan agenda kegiatan yang baru di sekolah. Ini benar-benar gila!
Andaikan saja dia punya saudara kembar. Mungkin mereka bisa berbagi tugas. Semua akan terasa lebih mudah.
Ini masih tahun pertama, semester pertama di SMA. Mengapa rasanya seperti berada di semester akhir? Doni merasa begitu merana.
Tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan. Suhu di kamarnya sudah cukup dingin dengan AC, ditambah lagi angin dingin yang masuk dari jendela dan menerpa tubuhnya yang sedikit basah karena hujan tadi di sekolah.
Doni menutup jendela, melepaskan seragam sekolahnya yang lembab, membuka pintu lemari pakaiannya yang besar, dan memilih kaos yang paling nyaman digunakan.
Dia berdiri di depan cermin, terpaku. Dia melihat seseorang di dalam cermin itu. Seseorang yang sangat dikenalinya. Seseorang itu adalah dirinya. Seorang pemuda yang sedang tumbuh dewasa.
"Bukankah sekarang aku cukup tampan?" Doni berkata pada dirinya sendiri sambil merapikan rambutnya yang agak basah dan berantakan.
"Mengapa sepertinya dia tidak tertarik sama sekali?" Desis Doni. Ia merasa penasaran, siapa cowok yang sedang dekat dengan Amanda saat ini. Sampai-sampai gadis itu bersikap begitu cuek dengan dirinya.
Doni merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memejamkan mata, namun rasa kantuk tidak juga hadir. Akhirnya dia memutuskan untuk turun dan bersantai di ruang keluarga.
Berada lama-lama di kamar hanya akan membuatnya semakin bucin dan merana.
"Sayang... Kamu ga makan siang?" Nyonya Wishnu menyapa Doni ketika mereka berpapasan di ruang keluarga.
__ADS_1
Nyonya Wishnu memperhatikan puteranya sama sekali tidak beranjak ke ruang makan mereka siang ini.
"Ga ma... Doni masih kenyang." Ucap Doni pelan.
Doni duduk selonjoran di ruang keluarga mereka yang luas, mewah dan nyaman. Ia menatap serius layar Micro LED TV di ruangan itu. Sesekali ia terlihat bosan dan tontonannya berpindah dari satu channel ke channel yang lain.
Nyonya Wishnu duduk di salah satu sofa, sedang memperhatikan sikap dan gerak-gerik puteranya yang tidak biasa.
Nyonya Wishnu percaya Doni sedang tidak kelaparan. Wanita itu sudah khatam beberapa sifat khas puteranya. Doni memang pendiam, tetapi dia bukan anak yang tenang jika sedang kelaparan. Jadi kesimpulannya... Jika dia tenang begini, pastilah perutnya dalam kondisi yang aman.
"Gimana hari-harinya di sekolah, sayang? Kamu suka sekolahnya?" Nyonya Wishnu mulai memancing dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Hemmm... Iya, ma. Doni suka." Doni menjawab dengan singkat, seperti biasa.
"Syukurlah... Mama ikut senang dengarnya..." Ucap Nyonya Wishnu sambil berfikir pertanyaan apa lagi yang harus diajukan agar Doni mau bercerita lebih banyak.
Nalurinya sebagai seorang ibu membisikkan ada sesuatu yang sedang dialami oleh putera kesayangannya itu.
"Gimana teman-teman kamu di sekolah? Udah kenal banyak teman baru kan?" Nyonya Wishnu tahu ini bukanlah pertanyaan yang tepat, namun hanya pertanyaan itu yang sedang muncul di fikirannya.
"Ya Tuhan... Anakku sayang... Katakan apa yang sebenarnya sedang kamu fikirkan!" Nyonya Wishnu berteriak di dalam hati.
"Aku sebagai ibunya saja bingung... Gimana nanti wanita yang jadi istrinya?" Nyonya Wishnu meratap dalam diam.
Nyonya Wishnu mulai khawatir melihat sikap dingin puteranya yang terkadang agak berlebihan. Bagaimana orang lain bisa menebak apa yang ada di fikirannya, kalau dia tidak mau menceritakannya sedikit pun.
"Guru-gurunya gimana? Kamu bisa mengikuti pelajarannya? Apakah ada kendala, sayang?" Nyonya Wishnu mencoba bertanya lagi dengan penuh kesabaran.
"Ga ada, ma. Sejauh ini lancar." Ujar Doni sambil tetap menatap ke layar TV yang super besar itu.
Nyonya Wishnu menghela nafas panjang. Sepertinya sudah di titik akhir batas kesabaran.
"Sayang... Lihat mama dong kalau ngomong. Mama kok dicuekin gitu..." Nyonya Wishnu mulai membujuk puteranya, berharap metode ini akan berhasil.
__ADS_1
VOILAAA!! Doni bangun dari posisi rebahannya. Ia beranjak duduk di sofa, menatap mamanya dan berusaha tersenyum. "Maafin Doni, ma..." Ucapnya pelan.
Tiba-tiba ia merebahkan diri dan membiarkan kepalanya berada di pangkuan mamanya.
Nyonya Wishnu kini mulai memahami situasi. Wanita itu membelai rambut Doni dengan penuh kasih sayang.
"Istirahat saja dulu, sayang... Nanti sore temani mama ke yayasan ya..." Ucap Nyonya Wishnu. Doni mengangguk pelan. Ia mulai menguap lebar.
Doni masih berusaha menikmati tontonannya. Namun rasa kantuknya kini datang menyerang. Beberapa menit kemudian, Doni tertidur pulas dalam pangkuan mamanya.
Nyonya Wishnu tahu betul kebiasaan puteranya. Jika sedang lelah dengan beban fikirannya sendiri, dia seringkali bersikap begitu. Mendekati Nyonya Wishnu, agar mendapat pelukan atau belaian hangat penuh kasih sayang dari wanita yang paling disayanginya itu.
Jika saja Tuan Wishnu ada di ruangan saat ini, tentu akan merasa cemburu dengan adegan itu. Nyonya Wishnu tersenyum geli membayangkan ekspresi suaminya jika sedang cemburu dengan puteranya sendiri.
Sejenak wanita itu terdiam, memperhatikan wajah putera kesayangannya dengan tatapan pilu.
"Kamu sudah semakin dewasa, sayang... Semakin tampan... Mama tahu kamu lelah..." Nyonya Wishnu meratap sedih ketika memandangi wajah Doni yang tertidur pulas di pangkuannya.
Nyonya Wishnu mengambil sebuah bantal di sofa, memindahkan kepala Doni ke bantal dengan hati-hati agar ia tidak terbangun dari tidurnya yang pulas.
"Terima kasih sudah menjadi anak yang terbaik buat mama dan papa..." Desah Nyonya Wishnu pilu.
-- Tanaka Mining Co. Ltd. --
"Halo... Selamat siang, Nyonya." Ucap Alfred sopan. Ia menghentikan aktivitasnya dan menyimak dengan seksama kata-kata yang disampaikan oleh lawan bicaranya di telpon.
"Baik, Nyonya. Saya akan segera ke sana." Pembicaraan berakhir. Alfred dengan sigap menutup file map yang ada di hadapannya.
Alfred menghubungi Nyonya Martha dan menyampaikan bahwa Nyonya Wishnu memintanya datang ke rumah siang ini untuk membicarakan beberapa hal tentang Tuan Muda Anthony.
"OK! Segera temui Nyonya Wishnu. Saya akan menyampaikan ini ke Tuan Wishnu nanti setelah beliau selesai rapat dengan dewan komisaris." Ujar Nyonya Martha.
"Siap. Terima kasih, Nyonya Martha." Alfred kembali mengakhiri panggilan dan meraih kunci mobilnya. Ia melangkah dengan tegap, keluar dari ruang kerjanya yang eksklusif.
__ADS_1
Sebuah mobil BMW berwarna hitam dengan plat nomor yang eksklusif terlihat meninggalkan gedung Tanaka Mining Co. Ltd. yang megah.