
Helena menatap Amanda dengan serius. "Aku mau ke kelas sebelah." Ucap Helena setelah berfikir sekian lama.
"Hemmm... Baiklah..." Ujar Amanda. Dia tidak berhasil membujuk Helena untuk pergi ke kantin utama. Helena tidak ingin ke sana, dia khawatir nanti berpapasan dengan kak Edo. Helena masih belum ingin bertemu mantan pujaan hatinya itu.
Amanda juga sebenarnya tidak ingin ke kantin utama. Rasa kecewanya masih lebih besar daripada rasa laparnya. Namun dia tidak tega mengabaikan Yuni dan teman-teman sekelasnya yang lain. Yuni mengajak Amanda ikut ke kantin utama bersama mereka.
Amanda keluar dari kelas dengan perasaan was-was. "Ah... Kenapa aku harus khawatir? Dari dulu kan kak Edo memang tidak mengenaliku. Aku bukan siapa-siapa..." Amanda berkata pada dirinya sendiri. Dia berusaha menenangkan diri.
Kantin utama penuh dengan hiruk pikuk siswa-siswa yang sedang antri menunggu pesanan makanan mereka.
"Rame banget hari ini!" Yuni mengeluh melihat padatnya siswa-siswa di dalam kantin tersebut.
"Kita beli kue aja deh... Biar ga lama antrinya!" Salah seorang teman Yuni memberi saran.
"Iya, kita makan di kelas aja." Ujar teman Yuni yang lain.
Mereka sepakat membeli kue dan memesan aneka minuman Thai Tea yang kelihatan agak sepi pembeli siang ini.
Amanda tidak menyadari, Doni terus memperhatikan pergerakannya selama berada di kantin utama.
Doni tidak sengaja melihat Amanda dan teman-temannya masuk ke kantin utama. Perhatiannya langsung terarah ke Amanda. Dia terus memperhatikan gadisnya itu sampai hilang dari pandangan.
Tanpa disadari oleh Amanda, dirinya kini sudah memiliki pengawal pribadi.
Setelah semua mendapatkan makanan, mereka berjalan kembali ke kelas. Amanda bersyukur dia tidak melihat kak Edo di kantin utama. Setidaknya dia bisa menikmati kue-kue yang sudah dibelinya. Nafsu makan Amanda bisa mendadak hilang jika dia berpapasan dengan kak Edo di sana.
"Duduk di sini aja Amanda. Helena juga belum balik kan?" Ujar Yuni ketika melihat Amanda berjalan menuju ke bangkunya.
"Hemmm... Iya..." Ucap Amanda. Dia melirik bangku Helena yang kosong. Akhirnya dia setuju untuk duduk bersama Yuni dan teman-teman sekelasnya yang lain. Mereka duduk mengerumuni Yuni sambil asyik ngerumpi tentang berbagai topik.
"Kalian udah pada daftar ekskul?" Tanya Tania, teman sebangku Yuni. Pertanyaan Tania membuat teman-temannya yang lain berhenti ngerumpi.
"Aku udah." Jawab Yuni. "Wowww... Bagus!" Puji Tania.
"Amanda, kamu jadi ikut kelas jurnalistik?" Tanya Yuni. Dia ingat Amanda pernah berkata ingin mengikuti kegiatan ekstra kurikuler bidang jurnalistik.
"Hemmm... Jadi. Tapi aku belum mendaftarkan diri." Jawab Amanda.
"Oh... Kamu bisa minta formulirnya di ruang pengurus OSIS." Tania menjelaskan bagaimana cara mendaftarkan diri untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstra kurikuler di SMA Adhyaksa.
__ADS_1
"Dihhh... Rempong amat!" Tukas salah satu cewek di antara mereka. "Iya ya... Kenapa bukan ketua kelas yang mengambilkan formulirnya untuk kita?" Seorang teman yang lain bertanya pada Tania.
"Iya sih... Maunya gitu ya... Tapi tahu sendiri kan ketua kelas kita gimana? Hahaha..." Tania berkata sambil tertawa lebar.
"Iya, makanya aku gercep. Tadi langsung mendaftar sama kakak kelas." Ujar Yuni.
Beberapa gadis itu ikut tertawa. Yuni menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya udah... Berhubung aku udah duluan daftar, nanti biar aku yang ngomong sama Vino." Ujar Yuni memberi solusi.
"Heiiii cewek-cewek... Aku dapet kabar dari teman-teman. Kata kak Andrew, sebaiknya ada perwakilan dari setiap kelas untuk mengambil formulir di ruang pengurus OSIS. Jadi ga perlu rame-rame antri di sana." Seorang cowok yang tiba-tiba melewati meja mereka menyampaikan sebuah berita yang baru saja didengarnya.
"Oh... OK! OK! Begitu memang lebih baik!" Seru Tania. Semua setuju dengan ide yang baru saja disampaikan oleh siswa laki-laki tersebut.
Semua menikmati kue mereka dengan suka cita dan saling berbagi cerita. Amanda tidak banyak bicara. Dia hanya memperhatikan pembicaraan teman-temannya itu sambil sesekali menyeruput Thai Tea yang tadi dipesannya.
Amanda berfikir betapa beruntungnya dia memiliki teman-teman baru yang baik hati. Mereka sangat ramah dan juga tidak pernah mem-bully dirinya. Ini tentu saja berbeda sekali dengan teman-temannya di sekolahnya yang dulu. Dia kerap kali menjadi bahan bully-an teman-temannya sewaktu berada di SMP Pelita Bangsa.
Vino berjalan memasuki kelas. Clara memanggil Vino dengan suaranya yang lembut.
"Vino, aku dan teman-teman mau daftar kegiatan ekskul. Udah ada formulirnya?" Tanya Clara sambil tersenyum.
"Hahhh... Apa? Formulir apa?" Vino malah balik bertanya dengan ekspresi bingung di wajahnya.
Vino mendengus pelan. Dia mengernyitkan dahinya. Clara tetap tersenyum dan bertahan dengan wajah cantiknya.
Tania menyikut lengan Yuni. "Tuh... Udah disampein sama si Clara." Ucap Tania dengan suara pelan.
Yuni mengangguk. "Untung aja bukan aku yang nyampein. Aku bisa emosi kalau gitu ekspresinya si Vino!" Ujar Yuni berang. Tania dan teman-temannya terkekeh-kekeh menyetujui kata-kata Yuni.
Amanda ikut tertawa. Dalam hati dia bertanya mengapa kemarin sikap Vino di rumah sakit agak berbeda dari biasanya. Dia tidak terlihat menyebalkan begitu. Dia bahkan mau membalas sapaan Amanda dengan ekspresi normal.
"Hemmm... Dasar cowok aneh!" Amanda menggumam dalam hati.
Beberapa siswa memandangi Vino yang masih berbicara dengan Clara. Ini adalah pemandangan yang jarang ditemukan di kelas I-2. Seorang gadis cantik yang anggun dan lemah lembut berbicara dengan ketua kelas yang songong, cuek, bin ketus.
Wajah Vino memang cukup tampan, namun berbanding terbalik dengan sikapnya yang menyebalkan.
Vino berhasil mendapat simpati dari para siswa perempuan di sekolah itu. Banyak gadis-gadis di kelas lain yang mengidolakan dirinya. Vino sudah mulai menyadari hal itu, namun dia tidak menggubrisnya sama sekali.
Menjadi cowok yang diidolakan oleh para gadis sebenarnya adalah hal yang biasa bagi seorang Vino. Dia tidak pernah merasa di atas angin. Dia bahkan tidak peduli. Gadis-gadis itu hanya angin lalu baginya. Mereka mendekatinya karena menyukai dirinya yang tampan, keren, dan bergelimangan harta. Jiwa hedonisme Doni sering dimanfaatkan oleh teman-temannya.
__ADS_1
Beberapa gadis yang pernah dekat dan menjalin hubungan khusus dengannya juga seringkali memanfaatkan hal itu. Oleh sebab itu, Doni tidak pernah serius dalam hubungannya dengan gadis-gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Dia tidak pernah betul-betul menyukai mereka.
"Apaan sih itu? Napa ekskul jadi urusanku juga?" Vino bertanya pada Ahmad dengan nada suaranya yang menyebalkan. Dia duduk di bangkunya, di sebelah Ahmad.
"Yaelah! Elo kan ketua kelasnya!" Ujar Ahmad tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphone-nya. Dia sedang seru sekali dengan permainan game online di smartphone-nya.
"Buruan bro! Elo mau bermasalah lagi sama kak Ravel!?" Ahmad mengingatkan Vino agar tidak membuat masalah lagi.
Vino berdecak. Mau tidak mau dia harus mengikuti saran Ahmad. Sambil menggerutu dia berjalan keluar dari kelas. Clara tersenyum anggun ketika berpapasan dengan Vino.
"Nyebelin banget jadi ketua kelas. Gara-gara si Ravel bodoh itu, aku jadi ribet begini!" Gerutu Vino.
Dia melirik smartwatch di pergelangan tangannya. Sebentar lagi waktu istirahat akan selesai. Dia berjalan cepat menuju ruangan pengurus OSIS.
Vino berpapasan dengan Doni di koridor dekat ruangan pengurus OSIS. Vino berjalan dengan wajah tampan dan cueknya yang tak terbantahkan. Dia sama sekali tidak menyadari Doni yang menatapnya dengan tajam dari tadi. Dia tidak mengenali Doni sama sekali.
Doni merasa panas melihat ekspresi Vino. "Apa sih lebihnya dia?!" Gumam Doni kesal. Dia melihat beberapa cewek yang berpapasan dengan Vino merasa girang sekali.
"Cool banget ya si Vino itu!" Ujar seorang cewek yang berjalan di belakang Doni. "Iya! Suka bangetttt!!" Cewek yang lain menimpali dengan antusias.
Kata-kata pujian dari gadis-gadis itu terdengar begitu menyebalkan di telinga Doni.
"Apa dia juga sebodoh mereka?" Doni merasa penasaran apakah Amanda juga mengagumi Vino seperti cewek-cewek lain. Memikirkan itu membuatnya ingin melangkah ke kelas Amanda.
Doni mendengus kesal. Dia merasa tidak sabar menunggu jam pulang. Dia ingin cepat-cepat bertemu Amanda. Amanda harus melihat dirinya setiap hari.
Tidak. Sebenarnya bukan begitu! Lebih tepatnya, dia yang harus melihat Amanda setiap hari. Dia akan memastikan Amanda baik-baik saja dan tidak didekati oleh cowok-cowok lain. Khususnya si Vino itu.
Sebagai seorang laki-laki, Doni juga menyadari bahwa Vino memang tampan dan keren. Namun rasa cemburu menghalanginya mengakui hal itu.
"Kenapa aku jadi ribet? Ya Tuhan... Dia benar-benar meresahkan..." Doni menjadi resah setiap kali membayangkan wajah Amanda.
Doni juga merasa heran dengan dirinya sendiri. Mengapa dirinya bisa begitu tertarik dengan Amanda. Pesona apa yang ada pada diri Amanda sehingga mampu membuat dirinya begitu khawatir memikirkannya? Dia bahkan belum bisa menemukan jawabannya.
Yang jelas, saat ini dia sudah mulai menyukai Amanda. Ada rasa yang tak biasa di hati Tuan Muda Anthony untuk gadis yang sederhana itu.
Rasa ingin memiliki, rasa cemburu dan khawatir yang tidak wajar, rasa ingin selalu melihat dirinya, dan berjuta rasa aneh lainnya yang saat ini dirasakan oleh Doni.
Doni belum pernah jatuh hati separah ini pada seorang gadis. Setiap kali matanya menatap mata Amanda, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada aura yang berbeda pada diri Amanda. Ketika dia menatap Doni dengan wajah yang polos... Wajah polosnya yang merona...
__ADS_1
"Aha! Iya, itu dia... Aku suka... Sangat suka!" Sesuatu berbisik dengan penuh semangat di dalam hati Doni.