Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Vino Lagi Sensi


__ADS_3

Vino tidak henti-hentinya merutuk sepanjang perjalanan pulang dari sekolah. Teguh sampai bosan sendiri mendengar cuap-cuap adik sepupunya itu.


"Huhhh... Bukan mauku juga jadi ketua kelas!" Sungut Vino.


"Ada apa sih? Kamu dari tadi ngomel terus! Ada masalah?" Tanya Teguh setelah Vino sedikit mereda emosinya.


Vino mendengus. Dia terlihat sedang berusaha mengelola kekesalannya.


"Iya, gini loh. Aku tuh ditunjuk jadi ketua kelas tapi bukan atas kemauanku!" Terang Vino.


"Hemmm... OK. So?" Teguh memberi tanda agar Vino melanjutkan kata-katanya.


"Jadi, ada nih satu guru killer di kelas. Teman-teman minta guru itu diganti. Mereka pada maksa-maksa aku gimana caranya supaya guru itu harus berhasil diganti." Tutur Vino.


Teguh menyimak dengan seksama sambil menyetir mobil. Dia mengecilkan volume musik MP3-nya agar bisa lebih jelas mendengar uneg-uneg Vino.


"So, masalahnya dimana?" Teguh masih belum mengerti duduk persoalan yang sebenarnya.


"Lohhh... Mas Teguh ini gimana sih?! Kan aku udah ngonggong panjang lebar dari tadi!" Tukas Vino sewot.


Teguh tertawa terpingkal-pingkal melihat Vino mengamuk. Jujur sebenarnya dia sejak tadi memang tidak fokus mendengarkan keluh kesah Vino. Teguh terlalu sibuk dengan fikirannya sendiri dan menikmati musik yang mengalun merdu.


"Hahaha... Iya, kamu nyerocos terus! Jadi aku belum nemu ini masalah sebenarnya itu dimana?!" Teguh berusaha mencari alasan untuk membela diri.


"Huhhh... Memangnya aku ini presiden apa! Seenak jidatku bisa ganti guru yang aku mau!" Rutuk Vino.


Teguh tertawa lagi. Sepertinya dia sudah mulai paham dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Vino. Atau lebih tepatnya, masalah yang membuat Vino bad mood parah begitu.


"Hemmm... OK! OK! Kayaknya aku mulai paham." Ujar Teguh.


"Ya, baguslah kalau sudah paham!" Kata Vino ketus.


"Hahaha... Aku rasa untuk sekolah sekeren sekolah kalian, tidak semudah itu mengganti guru!" Teguh memulai analisa awalnya.


Vino melirik ke arah Teguh. Wajahnya seolah mengespresikan kata-kata: "Tuh... Bener kan!"


Teguh tersenyum dikulum. Dia berusaha setengah mati menahan tawanya agar Vino tidak semakin tersinggung.


Kalau sedang emosi begitu, Vino memang berubah menjadi sangat sensitif. Sensitif seperti kulit bayi.


"Apalagi kalau guru tersebut adalah guru senior. Wahhh... Power-nya sulit dikalahkan." Sambung Teguh.


"Nah, itu dia! Ini pastinya guru yang udah senior dong! Mana ada guru kaleng-kaleng di SMA Adhiyaksa!" Seru Vino.


Teguh mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ucapan Vino.

__ADS_1


"Kamu sudah lapor ke wali kelas tentang hal itu?" Tanya Teguh.


"Sudah! Tapi guru itu tetap masuk di kelas, ya seperti biasa." Jawab Vino.


"Hemmm..." Teguh menggumam, kini dia semakin paham kondisi yang sedang dihadapi oleh Vino.


"Jadi, kamu disalahkan teman-teman karena belum berhasil mengeluarkan guru itu dari kelas kalian?" Teguh mencoba menebak konflik utamanya.


"Iya!" Sahut Vino kesal.


"Hemmm... Susah juga sih. Teman-teman kamu belum mengerti gimana susahnya kita menghadapi suatu sistem administrasi di negara ini." Teguh mulai berdiplomasi.


Gantian Vino kini yang berusaha menyimak kata-kata Teguh. Vino merasa Teguh berpihak padanya.


"Vino, ini sifatnya administratif sekali." Ujar Teguh.


"Sebenarnya akan lebih aman kalau kalian mengikuti saja peraturan yang ada. Hemmm... Maksudku, kalian jadi murid yang baik saja. Ikuti semua peraturan yang diterapkan guru itu. Itu lebih baik!" Teguh melanjutkan kata-katanya.


"Karena bagaimanapun metode mengajar sang guru, beliau pasti punya tujuan baik untuk murid-muridnya." Ujar Teguh bijak.


"Ahh... Tapi memang killer banget gurunya!" Keluh Vino.


"Hahaha... Guru killer itu ada, agar kalian tahu bagaimana sebenarnya sosok guru teladan yang seharusnya!" Teguh mulai berfilosofi.


Mobil sudah memasuki pekarangan rumah Vino. Teguh dan Vino sedikit terkejut melihat mobil yang dibawa mamanya Vino tadi pagi sudah terparkir rapi di dalam garasi.


"Lho... Sepertinya mama udah pulang..." Ujar Vino ketika melihat mobil mamanya sudah terparkir rapi di dalam garasi.


"Hemmm... Iya, sepertinya begitu..." Imbuh Teguh.


Vino dan Teguh masuk ke dalam rumah. Mereka melihat mama Vino sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Ma, tumben pulang cepat..." Ujar Vino ketika bersua dengan mamanya di ruang keluarga.


"Iya, mama minta izin pulang lebih awal hari ini. Kebetulan ini mama lagi kurang enak badan." Nyonya Handoko berkata dengan suara pelan.


Vino melirik sekilas wajah mamanya. Mamanya terlihat pucat dan agak lemas. Vini berfikir mungkin mamanya kelelahan.


Beberapa hari ini jadwal bedah jantung yang harus dilakukan oleh mamanya sangat padat.


Semakin banyak saja orang yang bermasalah dengan jantung sekarang ini. Mungkin kehidupan sudah semakin berat sehingga banyak jantung yang tidak kuat lagi menanggung beban kehidupan zaman sekarang.


"Selamat siang, tante!" Sapa Teguh.


"Ehhh... Siang, Teguh." Balas mama Vino sambil berusaha tersenyum ramah.

__ADS_1


"Tante kayaknya lagi kurang sehat ya?" Teguh memperhatikan wajah mama Vino yang telihat agak pucat.


"Iya, sepertinya begitu... Tante kebanyakan lembur selama ini... Jadi drop juga akhirnya..." Keluh mama Vino.


"Hemmm... Iya, tante butuh istirahat." Ucap Teguh.


"Iya... Nanti sore, kalau kondisi tante ga lebih baik, tante akan ke klinik untuk berobat." Ujar mama Vino.


Setiap kali sakit, mama Vino tidak mau membiasakan dirinya sering minum obat-obatan atau suplemen buatan.


Sebagai seorang dokter, mama Vino cukup paham efek samping yang akan diterima tubuh jika terbuasa dengan ketergantungan pada obat-obatan kimia.


Oleh karena itu, setiap kali sakit, mama Vino membiasakan dirinya rutin mengkonsumsi air putih, buah-buahan dan sayuran. Selain itu, didukung dengan istirahat yang cukup, kondisi kesehatan semakin membaik.


Namun jika kondisi tidak juga membaik, mama Vino akan berkonsultasi dengan team dokter dan mengikuti arahan dokter tersebut.


"Nanti kalau mau Teguh yang anterin, kabarin aja ya tante..." Kata Teguh.


"Ohhh... Terima kasih, Teguh." Ucap mama Vino lega.


"Vino, mama istirahat di kamar dulu ya. Kalau nanti ada tamu yang cari mama, tolong sampaikan saja mama sedang kurang sehat." Pesan mama Vino.


"Iya, ma." Sahut Vino.


Nyonya Handoko lalu meninggalkan Teguh dan Vino di ruang keluarga. Vino dan Teguh saling pandang.


"Capek banget jadi dokter..." Ujar Teguh prihatin.


"Iya. Makanya aku ga mau jadi dokter!" Tukas Vino.


"Hemmm..." Gumam Teguh.


"Kak Emma aja tuh yang mau ngikut jejak mama... Dia pengen banget jadi dokter!" Ujar Vino.


"Terus kamu maunya jadi apa dong!?" Teguh mulai mengeluarkan pertanyaan yang menantang.


"Entah..." Sahut Vino sekenanya.


"Oh... Kamu ikut jejak manusia purba ya!" Ledek Teguh dengan wajah santuy.


"Jiahhhh... Ya ga lah!!!" Vino menjawab dengan suara ngegas.


"Hahaha... Siapa tahu kamu mau seperti manusia purba, yang hidup di masa pra sejarah! Tapi manusia purba juga selalu berusaha, ga cuek ga jelas kayak kamu!" Tuding Teguh tanpa merasa bersalah.


Vino tidak berani membantah kata-kata Teguh. Dia hanya menatap Teguh dengan wajah jutek.

__ADS_1


__ADS_2