
Tiga orang pria tampan terlihat sangat sibuk dan berjalan cepat menuju sebuah mobil alphard berwarna hitam yang sudah stand by sejak tadi di depan lobby utama perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd.
Beberapa karyawan perusahaan berhenti dan membungkukkan badan ketika Tuan Wishnu berjalan di depan mereka.
Gerimis yang mulai turun perlahan membuat suasana malam itu terasa sejuk. Pintu kaca pada lobby utama terbuka secara otomatis ketika Tuan Wishnu, Tuan Muda Anthony, dan Tuan Alfred berjalan mendekat.
Seorang staf khusus membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Tuan Wishnu dan rombongan masuk ke dalam mobil mewah itu.
Tuan Muda Anthony tampil sempurna malam ini dalam balutan jas panjang berwarna hitam yang elegant. Kulitnya yang putih bak pualam terlihat begitu kontras dengan warna outfit yang dikenakannya malam ini. Dia memang tampan, dalam setelan apapun, ketampanannya tidak perlu diragukan.
Meskipun suasana di sekitarnya terasa dingin, namun tidak begitu suasana di dalam hati Tuan Muda Anthony Rafsanjani. Hatinya terasa panas.
Doni tidak bisa mengendalikan gejolak di dalam hatinya. Amarah dan rasa curiga pelan-pelan mulai merayapi relung hati, membuat udara di sekitarnya yang sejuk terasa hangat.
Bagaimana tidak, Doni sudah tiga kali menghubungi Amanda. Namun Amanda sedang berada di panggilan lain. Sepertinya dia sedang telponan dengan orang lain.
Ini aneh.
Tidak biasanya dia begitu.
Tidak biasanya dia telponan malam-malam begini, dalam durasi yang begitu lama.
Bukankah dia biasanya sibuk belajar atau mengerjakan tugasnya di malam hari?
Berbagai fikiran yang aneh bermunculan di dalam benaknya. Prasangka buruk mulai bermunculan dengan perlahan tapi pasti. Doni masih resah dengan fikirannya sendiri. Ingin rasanya ia menghubungi Amanda sekali lagi, namun ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat.
Alphard hitam yang ditumpangi oleh Tuan Wishnu dan dua pemuda tampan di belakangnya melaju dengan sigap menembus gerimis yang mulai deras. Driver pribadi Tuan Wishnu yang bertubuh tegap itu mengemudikan mobil dengan lihai melewati kemacetan di beberapa persimpangan jalan utama yang padat.
Tuan Wishnu duduk dengan penuh wibawa di bangku depan, di sebelah driver. CEO perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd. itu melihat ke arah spion depan. Pria tampan itu melirik putera kebanggaannya yang duduk tepat di belakangnya.
Tuan Muda Anthony dan Tuan Alfred duduk bersebelahan. Tuan Alfred terlihat fokus dengan Mac Book di pangkuannya. Sedangkan Doni menatap ke jalan dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit tegang. Tuan Wishnu sudah sangat paham dengan ekspresi wajah puteranya tersebut. Sepertinya ada hal serius yang sedang mengganggu fikiran puteranya.
Tuan Wishnu menghela nafas perlahan. Ia kembali serius menatap layar ponselnya selama beberapa menit. Jemarinya yang panjang terlihat mengetikkan kalimat-kalimat dengan cepat pada ponsel pintar yang sedang digenggamnya.
"Doni, apakah kau sudah paham apa yang akan kita lakukan selama di Jepang?" Tuan Wishnu bertanya dengan suaranya yang berat dan dalam.
__ADS_1
Pria tampan itu bertanya untuk memancing perhatian Doni. Ia melirik Doni dari spion depan selama beberapa detik dan kemudian kembali menatap layar ponselnya.
"Hemmm... Iya pa." Jawab Doni singkat.
"Bagus! Tetap koordinasi dengan Tuan Alfred untuk setiap agenda kita." Ujar Tuan Wishnu.
"Baik pa." Ucap Doni, tetap singkat.
Tuan Alfred menoleh ke arah Doni. Ia tersenyum tipis. Doni mengangguk pelan sambil tersenyum lebih tipis. Sepertinya Doni sedang agak sulit menggerakkan bibirnya agar bisa tersenyum lebih lebar.
Tidak berapa lama kemudian, Tuan Wishnu, Tuan Muda Anthony, dan Tuan Alfred sudah duduk dengan nyaman di dalam private jet milik perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd.
Doni mengibas-ngibas rambutnya yang sedikit kebasahan akibat terkena tepias hujan yang turun deras.
Dia menoleh ke arah papanya yang sedang memeriksa sebuah file map tebal di pangkuannya. Setelah membolak-balik beberapa halaman, terlihat Tuan Wishnu menutup file map tersebut dan meletakkannya di atas meja mungil di sisi kirinya yang super mewah.
Selang beberapa menit kemudian, private jet yang membawa para petinggi perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd. itu telah lepas landas dengan sempurna.
Doni menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan suasana hatinya. Rasa kesal, penasaran, dan curiga bercampur aduk memenuhi hatinya.
Doni bertekad akan menghubungi Amanda esok hari setibanya di Jepang. Gadis itu harus menjelaskan semuanya.
Dia telponan sama siapa malam-malam begini?
Mengapa begitu lama?
Beraninya dia mengabaikan aku!
Doni melirik secangkir minuman hangat yang diletakkan di hadapannya oleh seorang pramugari yang sangat cantik.
"Silahkan, Tuan Muda." Ucap pramugari cantik tersebut dengan sopan dan nada suara yang lemah lembut.
"Terima kasih." Ucap Doni datar.
Doni mencicipi minuman hangat tersebut. Rasanya khas sekali, mirip seperti rasa minuman wedang jahe. Minuman itu sedikit mengubah suasana hati sang Tuan Muda.
__ADS_1
Mood Tuan Muda kini berangsur-angsur membaik. Kini ia terlihat lebih santai duduk selonjoran di kursinya yang mewah dan nyaman sambil menggunakan headphone khusus untuk mendengarkan musik favoritnya.
Sementara itu, di pojok kamarnya yang sempit, Amanda terlihat sedikit panik ketika menatap layar ponselnya yang usang dan retak di sana-sini.
Tanpa sengaja smartphone yang sedang digenggamnya tergelincir dari tangannya dan jatuh ke lantai.
"Huhhh... Gara-gara Doni nih! Napa sih dia bolak-balik nelpon. Udah tau juga aku lagi telponan!" Ujar Amanda geram.
"Ditelpon balik malah ga aktif! Dasar aneh!!!" Amanda ngedumel di dalam hati.
"Kak, kenapa itu? Rusak ya hp nya?" Tanya Magdalena.
"Hemmm... Ga sih... Mudah-mudahan ga rusak..." Ucap Amanda pilu.
Tadi ponselnya memang mendadak mati setelah terjatuh ke lantai. Tetapi sekarang sudah bisa hidup lagi. Hanya saja, ada beberapa garis halus yang tiba-tiba muncul di layar ponselnya. Garis yang berupa retakan di pelapis anti gores layar.
"Waduhhh! Pecah layarnya kak!" Seru Magdalena panik ketika melihat layar smartphone Amanda.
"Ga ah... Ini cuma retak di anti goresnya. Nanti cukup ganti ini aja." Ujar Amanda tenang.
"Oh... Syukurlahh kak. Kan sayang kalau hp kakak rusak..." Magdalena berkata dengan mimik wajah sedih.
"Hehehe... Tenang aja, Lena. Hp ini masih aman!" Ucap Amanda.
"Ayo kita tidur, ini udah larut malam. Besok pagi kamu piket kan?" Amanda mengingatkan Magdalena.
"Oh iyaaa... Hehehe... Ayo kak!" Ujar Magdalena cengengesan.
Setelah melakukan ritual bersih-bersihnya di kamar mandi, Amanda segera naik ke tempat tidur. Dia sudah sangat mengantuk.
"Doni... Ryan... Sepertinya mereka punya persamaan. Sama-sama suka nelpon malam hari." Gumam Amanda dalam hati.
Amanda dan kedua adiknya terlelap dengan cepat. Hujan masih turun dengan deras di luar sana membuat udara malam itu begitu nyaman untuk beristirahat.
__ADS_1