Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Dia Ramah Sekali


__ADS_3

“Huhhh! Dasar genit! Cewek itu memang genit!” Helena mengumpat dengan penuh emosi. Pagi ini Helena terlihat murka sekali.


Amanda menoleh kiri-kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka berbicara.


“Ada apa, Helena?” Amanda berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang dibahas oleh Helena.


“Tahu apa!? Kemarin cewek sialan itu ciuman sama kak Edo!” Ujar Helena berang. Wajahnya sampai memerah karena menahan amarah.


“Cewek mana? Ciuman?” Amanda bertanya lagi. Dia ingin tahu informasi apa yang telah diketahui oleh Helena.


“Ya itu! Perempuan genit itu, siapa lagi!” Tukas Helena.


“Hemmm… Maksudmu, pacarnya kak Edo?” Tanya Amanda. Helena hanya mendengus.


“Mereka berciuman? Dimana? Kamu tahu dari mana?” Amanda mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada Helena.


“Dasar perempuan genit ga tahu malu, dia mencium kak Edo di dalam mobil. Banyak kok siswa yang lihat. Banyak saksi. Dasar perempuan gatal, brengsek!!” Helena mencaci maki dengan lancar.


“Oh gitu… Yang sabar ya Helena.” Amanda mengelus lembut bahu Helena. Dia berusaha menenangkan teman sebangkunya itu.


Amanda kini mulai memahami arah tujuan pembicaraan Helena. Ternyata Helena sudah mengetahui apa yang terjadi kemarin siang antara kak Edo dan kekasihnya itu. Pantas saja dia terlihat begitu berang.


“Gimana lagi kalau kemarin dia lihat langsung ya!? Bisa berabe…” Batin Amanda. Dia melirik Helena yang terlihat sudah mulai lebih tenang.


Dua gadis yang sedang patah hati oleh cowok yang sama ini mengekspresikan kekecewaan mereka dengan cara yang bertolak belakang.


Amanda memilih menyimpan sendiri luka di hatinya sedangkan Helena meluapkan semua kekesalannya dalam bentuk amarah, cacian dan makian.


Amanda sudah maklum, dia sedikit banyak sudah bisa memahami sifat-sifat Helena. Sehingga dia bisa bersikap lebih sabar dalam menghadapi Helena.


“Tapi… Kalau mereka berciuman, itu artinya kak Edo juga menyukai cewek itu, bukan!?” Ucap Amanda.


Logikanya mengatakan begitu. Ini bukan kemauan sepihak. Dia melihatnya sendiri kemarin siang. Tidak ada keterpaksaan di sana. Kak Edo dan pacarnya itu sepertinya sangat menikmati apa yang mereka lakukan. Tiba-tiba Amanda merasa jijik mengingat hal itu.


Helena terperangah. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Iya juga sih…” Desah Helena. Ia melirik sinis Amanda di sebelahnya.


“Ah… Sama aja itu! Gatal dua-duanya! Tidak tahu sopan santun! Ciuman kok di depan umum! Dasar manusia ga ada etika!” Helena semakin berang.


Dalam hatinya, Amanda setuju dengan kata-kata Helena.


“Dihhh… Aku benci sama kak Edo! Ternyata dia cuma cowok murahan!” Helena berkata lagi dengan suaranya yang lantang.


Amanda buru-buru mengingatkan Helena untuk mengecilkan volume suaranya. Helena mendengus kesal.


Untung saja beberapa siswa yang sudah ada di kelas tidak memperhatikan mereka. Amanda merasa sudah waktunya mereka berganti topik cerita.

__ADS_1


Tetapi Amanda tidak punya ide cerita. Dia sendiri sebenarnya sedang sibuk menata hatinya yang sedang hancur. Hanya saja, bedanya dengan Helena, dia terlihat lebih tenang.


Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi dengan nyaring, membuyarkan lamunan Amanda. Helena mendengus lagi.


Jam demi jam berlalu. Helena kelihatannya sangat bosan hari ini. Semua guru yang masuk pagi ini salah semua di matanya.


Helena betul-betul sedang bad mood. Dia sepertinya memaksakan diri ke sekolah hari ini. Ketika waktu istirahat tiba, Helena terlihat paling bersemangat.


“Kita ke kantin?” Tanya Amanda. Ekspresi wajah Helena langsung berubah. “Ogah ah! Lagi males!” Tukas Helena sewot. Dia tidak ingin ke kantin. Dia masih alergi bertemu kak Edo dan pacarnya itu.


“Yuk ikut aku ke kelas sebelah!” Ajak Helena sambil menarik tangan Amanda. Amanda hanya pasrah saja mengikuti Helena. Dia belum pernah ke kelas sebelah, kelas I-3.


“Hei Helen! Wah… Tampang kamu kacau begitu. Hahaha…” Seorang cewek di dalam kelas I-3 meledek Helena. Helena terlihat makin sewot.


“Kayak ga tau aja kamu gimana rasanya patah hati.” Celoteh cewek lain yang duduk di bangku depan. Mereka tertawa terbahak-bahak.


“Terus aja ngeledekin aku! Sampe kalian puas!” Gerutu Helena diikuti tawa kedua temannya.


Helena lalu mengajak Amanda duduk di bangku yang kosong.


“Kenalin ini Amanda, teman sebangku aku!” Ujar Helena pada kedua temannya tersebut. Amanda menyalami mereka secara bergantian. Kedua teman Helena itu bernama Rosalia dan Eva.


“Jadi kamu masih ngarepin si Edo itu?” Tanya Rosalia dengan nada sinis. Eva mencoba menahan tawanya dan melirik Amanda yang hanya berdiam diri.


“Udah! Ga usah bahas-bahas dia. Jijik aku!” Helena berkata dengan ekspresi wajah yang sangat dongkol.


Rosalia dan Eva tertawa lebar. “Santuy dong Helen!” Ujar Eva mencoba menurunkan emosi Helena. Helena membalas dengan senyuman sinis.


“Oh ya? Kamu juniornya kak Edo?” Tanya Eva. Amanda mengangguk pelan.


“Iya, kami dari SMP yang sama.” Jawab Amanda.


“SMP mana ya? Aku lupa deh si Edo itu dari SMP mana…” Rosalia kelihatan sangat penasaran.


“SMP Pelita Bangsa.” Jawab Amanda sambil tersenyum tipis.


“Oh iya… Iya… Aku pernah dengar itu, cuma lupa aja nama sekolahnya.” Gumam Rosalia.


Amanda tersenyum lagi. Seperti biasa, dia tidak berani banyak bicara dengan orang yang baru saja dikenalnya.


Suasana kelas I-3 tidak terlalu ramai. Sebagian siswa sepertinya sedang berada di kantin. Dua orang siswa masuk berbarengan ke kelas. Satu cewek dan satu cowok. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu. Amanda merasa mengenali sang cowok.


“Eh… Kayak pernah lihat, dimana ya?” Amanda bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Dia mulai berfikir keras. Dia yakin pernah melihat cowok yang bertubuh tinggi itu.


“Haaa!!! Dia kan cowok yang kemarin di perpustakaan!” Batin Amanda dalam hati. Ya, cowok itu adalah cowok yang kemarin duduk satu meja dengannya di perpustakaan.


Helena dan kedua temannya masih berceloteh riang. Mereka sedang sibuk meng-ghibah.

__ADS_1


Amanda memperhatikan gerak-gerik cowok itu yang sedang menulis sesuatu di papan tulis. Sepertinya ada pengumuman yang ingin disampaikan.


“Ryan, aku balikin formulirnya besok boleh ga?” Seorang cewek yang duduk di bangku belakang mengajukan pertanyaan. Sepertinya pertanyaan itu ditujukan pada cowok tersebut.


Rosalia dan Eva sejenak berhenti berbicara. Mereka sekilas membaca tulisan yang ada di papan tulis. Setelah itu mereka lanjut ngoceh lagi.


Amanda juga membaca tulisan di papan tulis. Ternyata cowok yang bernama Ryan itu membuat pengumuman tentang pengisian formulir pendaftaran kegiatan ekstra kurikuler.


Setelah selesai menuliskan pengumuman tersebut, Ryan berjalan ke arah meja guru dan meletakkan setumpuk kertas di sana.


“OK. Paling telat besok ya!” Seru Ryan dari depan kelas.


Kebetulan sekali Amanda duduk di bangku depan, tepat di depan meja guru. Tanpa sengaja Ryan menoleh ke arah Amanda yang sedang menatapnya. Tatapan mata mereka pun bertemu.


“Eh… Kamu di sini…” Ujar Ryan. Dia tersenyum ramah. Amanda membalas senyuman Ryan.


“Dari kelas mana?” Tanya Ryan. “Emmm… Kelas sebelah.” Jawab Amanda singkat.


“Oh… Iya, kelas I-2 atau I-4?” Tanya Ryan lagi.


“Kelas I-2.” Amanda menjawab sambil tersenyum.


“Wowww… Kalau gitu kamu sekelas dengan si Vino!” Seru Ryan. Amanda mengangguk.


“OK.” Ujar Ryan. Dia lagi-lagi tersenyum ramah.


Setelah Ryan kembali ke bangkunya, Helena langsung nyosor dengan berbagai pertanyaan.


“Kamu kenal dia!?” Tanya Helena penasaran.


“Hemmm… Kemarin ketemu di perpustakaan.” Jawab Amanda jujur.


“Oh… Pantesan…” Gumam Helena.


“Siapa? Si Ryan?” Tanya Rosalia. Helena mengangguk.


“Dia ketua kelas kami.” Ujar Eva.


“Oh… Pantesan dia kenal si geblek itu.” Ucap Helena.


“Ya iyalah! Dia kan dulunya sekelas sama Vino.” Rosalia menjelaskan hubungan pertemanan antara Ryan dan Vino semasa SMP dulu.


“Ah… Ga penting banget si geblek itu!” Helena mulai naik darah lagi. Sepertinya hari ini semua orang bisa jadi salah di mata Helena. Rosalia tertawa paling keras, membuat Helena semakin dongkol.


“Kami balik ke kelas ya.” Ujar Helena sambil melirik Apple Watch baru di pergelangan tangannya.


“Cieeeee!! Jam tangan baruuuu!!” Rosalia dan Eva berteriak serempak. Helena melambai sambil bergegas keluar dari kelas I-3 bersama Amanda.

__ADS_1


Amanda juga baru menyadarinya. Padahal sejak tadi pagi dia terus berada di samping Helena, tetapi dia tidak memperhatikan benda canggih itu melingkar dengan manis di pergelangan tangan Helena.



__ADS_2