
Akhir pekan kali ini terasa berbeda dengan akhir pekan sebelumnya. Jika akhir pekan sebelumnya Amanda bisa menikmati dengan cara bersantai di rumah, maka hal itu tidak terjadi di akhir pekan ini.
Seminggu full siswa SMA Adhiyaksa berjibaku dengan ulangan bulanan dari para guru di sekolah. Beberapa siswa berencana melakukan vacation dalam waktu singkat dengan mencari lokasi-lokasi yang menarik dan jaraknya tidak jauh dari pusat kota.
Sayangnya Amanda tidak bisa seperti itu. Akhir pekan ini dia harus mengikuti kelas coaching essay di rumah Ryan seperti sebelumnya.
Jadwal coaching mereka sebenarnya adalah hari Minggu pagi. Namun Coach Winnie secara kebetulan berhalangan hadir di hari Minggu sehingga Ryan memutuskan untuk mempercepat coaching dan mengubah jadwal pelatihan mereka menjadi hari Sabtu.
Amanda mau tidak mau terpaksa setuju dengan keputusan Ryan mengingat lomba essay akan ditutup dalam waktu dekat.
Begitu juga dengan Doni. Dia terpaksa mengosongkan jadwalnya agar bisa mengikuti coaching bersama Amanda dan Ryan. Tentu saja Doni tidak bisa membiarkan Amanda hanya belajar berdua dengan Ryan.
"Bu, aku pagi ini belajar di rumah teman ya..." Amanda meminta izin pada ibunya sebelum keluar dari rumah.
"Lho... Bukannya besok belajarnya?" Tanya ibunya Amanda.
"Iya, bu. Seharusnya besok tapi diganti ke hari ini. Soalnya pelatihnya besok ga bisa datang katanya." Terang Amanda.
"Ohh... Ya sudah. Hati-hati di jalan..." Ucap ibunya Amanda ketika putrinya itu berpamitan dan menciumi tangannya.
Amanda mengangguk dan mengucapkan salam. Dia berjalan penuh semangat ketika sinar matahari pagi menyapa dirinya di luar rumah. Ibu Amanda mendo'akan dalam hatinya agar anaknya sukses dalam setiap kegiatan yang dilakukannya.
Amanda sudah di dalam sebuah angkot ketika sebuah panggilan masuk di ponselnya.
"Halo..." Suara Doni terdengar menyapa di seberang telpon.
"Halo, Doni..." Sahut Amanda.
"Kamu lagi dimana?" Tanya Doni ketika mendengar suara bising di belakang Amanda.
"Ohh... Iya, aku lagi di jalan." jawab Amanda.
"Di jalan?" Doni memastikan lagi kata-kata Amanda.
"Ho-ohh... Di jalan mau ke rumah Ryan." Tutur Amanda.
"Hemmm..." Gumam Doni kecewa.
""Kamu ikut kan coaching hari ini?" Tanya Amanda.
"Ikut." Jawab Doni singkat.
"Ya udah, buruan gih. Jangan sampe telat. Ntar kita ga enakan sama Coach Winnie!" Seru Amanda.
"Hemmm... Tadinya aku mau ngajak kamu barengan." Ujar Doni.
"Hahhh... Apa? Barengan?" Amanda menanyakan ulang apa yang diucapkan Doni.
Suara lalu lalang kendaraan di jalan membuat Amanda kurang jelas mendengar suara Doni.
__ADS_1
"Hemmm... Iya..." Jawab Doni.
"Ohh... Iya, lain kali kita bisa barengan. Kamu sih tadi ga ngabarin aku." Kata Amanda.
"Iya, aku lupa." Doni menyesali mengapa dirinya tidak menghubngi sejak tadi.
"Buruan Doni! Aku udah hampir nyampe di rumah Ryan nih!" Amanda berseru penuh semangat ketika melihat jalan masuk ke arah villa Ryan sudah kelihatan di depannya.
Amanda menghentikan angkot tepat di depan jalan masuk menuju villa Ryan. Tidak ada angkot yang masuk ke jalan tersebut, jadi Amanda harus turun di persimpangan ini.
Letak villa Ryan tentu masih cukup jauh dari tempat Amanda berdiri saat ini. Berjalan kaki bukanlah pilihan yang tepat. Amanda memutuskan untuk memesan jasa ojek online.
"Doni, udah dulu ya. Aku udah nyampe di depan simpang jalan masuk ke rumah Ryan." Terang Amanda.
"Hemmm..." Doni membalas dengan gumaman.
"Aku mau order ojek dulu nih. Sampai ketemu di rumah Ryan." Amanda mengakhiri pembicaraannya dengan Doni di telpon.
Sebentar kemudian dia telah berhasil memesan ojek di posisi terdekat. Tidak sampai lima menit, ojek yang dipesan Amanda tiba dan langsung mengantarkan Amanda ke tujuannya.
Ryan menyambut kedatangan Amanda dengan wajah ceria seperti biasa.
"Hai Amanda. Maaf ya, aku tahu perubahan jadwal ini pasti mengganggu hari liburmu." Ryan meminta maaf dengan tulus.
"Hehehe... Gapapa, Ryan. Biasa aja kok..." Sahut Amanda.
"Sipppp..." Sahut Amanda.
"Lho... Teman kamu ga datang?" Tiba-tiba Ryan teringat akan Doni.
"Hemmm... Datang. Dia pasti udah otewe juga nih..." Jawab Amanda.
"Good." Ucap Ryan.
Amanda melihat seorang cowok masuk ke ruangan dan berbicara sebentar dengan Ryan. Cowok itu terlihat keren walau hanya dengan piyama seadanya.
"OK. Aku paham." Ujar Ryan pada adiknya, Rudy.
Rudy lalu tersenyum tipis ketika melewatiAmanda. Cowok itu naik ke lantai dua.
"Errrrr... Itu siapa, Ryan?" Tanya Amanda kepo.
"Adikku. Namanya Rudy." Jawab Ryan.
"Ohhh... Hemmm..." Amanda menggumam pelan.
"Hahaha... Gimana? Adikku juga tampan, bukan?" Tanya Ryan usil.
"Iya... Hehehe..." Jawab Amanda polos.
__ADS_1
"Siapa yang lebih tampan? Aku atau adikku?" Tanya Ryan sekenanya.
"Kalian berdua sama-sama tampan walaupun tidak mirip sama sekali." Amanda menjawab dengan bijak.
"Hahaha... Ya, banyak yang ngomong gitu!" Seru Ryan.
Coach Winnie tiba-tiba masuk ke ruangan, disusul oleh Doni di belakangnya.
"I'm really really sorry, guysss... Aku benar-benar ga bisa hadir besok. Maaf sudah membuat kalian kerepotan hari ini." Coach Winnie berkata dengan nada memelas.
"No problem, miss." Ryan menyahut sambil tersenyum.
Amanda juga mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai pertanda setuju dengan kata-kata Ryan. Doni hanya duduk kalem memperhatikan gerak-gerik Amanda di hadapannya.
Amanda menyadari itu. Dia melirik Doni dengan tatapan menohok.
"Ini anak... Apaan sih? Bukannya merhatiin Coach Winnie, malah ngelihatin aku terus..." Amanda menggerutu di dalam hati.
"OK... Aku udah baca essay yang kalian kirim kemarin. Well, aku coba review satu-satu yahhh..." Coach Winnie memulai materinya.
Amanda mulai merasa dag-dig-dug. Dia yakin karya tulisnya akan mendapat banyak perbaikan dari Coach Winnie.
"Amanda!" Seru Coach Winnie.
"Iya, miss..." Sahut Amanda sopan.
"Hemmm... Aku lihat, kamu banyak kemajuan." Puji Coach Winnie.
Amanda kaget bukan main mendapat pujian dari Coach Winnie.
"Terima kasih, miss..." Ucap Amanda.
"Ya, struktur kalimat sudah bagus. Rapi, kamu juga detail dalam memilih kosa kata." Coach Winnie menjelaskan hasil analisanya.
"Hemmm... Tapi, akan lebih bagus lagi kalau kamu bisa menambahkan fakta-fakta ilmiah untuk memperkuat opini kamu di dalam essay ini." Saran Coach Winnie.
"Baik, miss..." Ujar Amanda.
"Doni! Essay kamu juga sudah cukup baik. Tapi lebih dipertajam lagi ya pembahasannya." Jelas Coach Winnie.
"Hemmm... Iya, miss." Sahut Doni.
"Ryan, kalau kamu bisa mempertahankan kualitas tulisan kamu tetap sebaik ini, aku fikir kamu punya peluang untuk menang!" Coach Winnie memberi motivasi untuk Ryan.
"Wowww... Terima kasih, miss." Ryan berkata dengan semangat membara.
"Well... Kalian semua keren-keren! Aku senang kalian bisa belajar dengan cepat!" Coach Winnie lagi-lagi memuji kemampuan mereka.
Coach Winnie lalu melanjutkan memberi penjelasan tentang teori selanjutnya. Ketiga muridnya itu memperhatikan penjelasan Coach Winnie dengan antusias.
__ADS_1