
"Aku bingung deh lihat berita yang viral akhir-akhir ini..." Ujar Nunik ketus.
Amanda mencoba tidak terusik dengan kata-kata Nunik. Mereka berdua sedang berjalan kaki, pulang dari rumah Tiwi.
Sepertinya Nunik belum puas merutuk hari ini. Dia masih betah ngoceh sepanjang jalan. Amanda mulai bosan mendengarnya.
"Amanda, kamu dengerin aku ga sih?" Tanya Nunik ketika menyadari Amanda sibuk sendiri dengan smartphone-nya.
"Hahhh... Apaan?" Ujar Amanda cuek.
"Diiiihhh... Bisa gitu ya! Aku dari tadi udah berbusa-busa, kamu malah ga nyambung!" Nunik mulai naek emosi.
"Apaan sih, Nik? Aku lagi bales chat loh!" Amanda mencoba mencari alibi.
"Ahhh... Alesan!" Tukas Nunik.
Amanda melihat Nunik mulai sewot. Dia juga tidak ingin Nunik makin emosi jiwa. Akhirnya dia mencoba merespon dengan baik ketika Nunik mengungkapkan lagi opininya.
"Ini loh, Amanda!" Nunik menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Ho-ohh... Gimana... Gimana..." Amanda berpura-pura antusias mendengar.
"Kamu sering perhatiin ga sih berita yang sering beredar akhir-akhir ini?" Nunik mulai memberi pertanyaan pancingan awal.
"Ummm... Iya. Berita yang mana nih?" Amanda terlihat bingung.
"Ya Tuhan! Emang ada berita apa aja sih yang selama ini sering kamu dengar?" Nunik mulai hilang kesabaran.
"Ya, kamu maksudnya yang mana satu? Secara, banyak banget berita yang ada di media!" Amanda benar-benar bingung topik berita yang mana sebenarnya yang ingin dibahas oleh Nunik.
"Hufffftt... Iya sih... Karena kebanyakan jadi gini deh!" Ujar Nunik.
"Iya, kamu ngomongnya yang spesifik dong!" Seru Amanda tidak mau kalah.
"Cieeeee... Hahaha... Spesifik... Spesifik... Hahaha..." Ledek Nunik.
"Ngeri amat, neng! Canggih bener kosa kata kamu sejak sekolah di sana ya!" Cibir Nunik.
"Hehehe... Ya gitu deh! Harus ada perubahan. Harus ada kemajuan, bukan?" Amanda menanggapi cibiran Nunuk dengan santai.
"Hahaha... Iya... Iya deh! Kamu yang menang!" Seru Nunik.
"Ya udah, muter-muter amat sih! Kamu tadi sebenarnya mau ngomong apa? Mau cerita apa?" Tanya Amanda.
Akhirnya Amanda jadi merasa penasaran juga.
"Gini loh, beppp... Aku perhatiin nih ya, akhir-akhir ini marak berita tentang kasus pelecehan dan kekerasan pada anak." Jelas Nunik.
"Ohhh..." Gumam Amanda.
"Iya kan? Kamu ngerasa gitu juga ga sih?" Tanya Nunik.
"Hemmm... Iya sih. Aku sering juga dengar berita-berita gitu di TV." Amanda setuju dengan pendapat Nunik.
"Nah... Itu dia! Di media sosial juga berita tentang itu berseliweran terus. Aku sampai bosan sendiri!" Nunik merutuk kesal.
__ADS_1
"Iya... Kenapa ya kasus seperti itu sekarang sering terjadi?" Amanda mulai memikirkan kata-kata Nunik.
"Hemmm... Entahlah, aku juga bingung! Makanya dari tadi tuh aku nanya kamu. Kamunya aja yang ga nyambung-nyambung." Tuding Nunik.
"Hehehe..." Amanda hanya menanggapi dengan terkekeh sendiri.
"Ehhh... Kamu ga buru-buru kan, Amanda? Ke rumahku yukkk! Kita ngerujak sebentar." Ajak Nunik ketika mereka tiba di depan persimpangan rumah Nunik.
Amanda terlihat berfikir sejenak.
"Aaahhh... Pake mikir lagi! Ayukkkk!" Nunik menarik tangan Amanda.
Amanda akhirnya pasrah mengikuti Nunik. Dia sedang tidak punya stock alasan yang cukup hari ini untuk ngeles dari Nunik.
"Sebentar ya, aku ambil buah mangga dulu." Ujar Nunik.
Amanda mengangguk patuh. Dia duduk di sebuah kursi di teras rumah Nunik. Teras rumah itu lebar, sehingga cukup nyaman untuk duduk-duduk di sana sambil menikmati rujak buah yang segar.
Nunik kembali dengan membawa dua buah mangga berukuran sedang di tangannya.
"Ini mangga harum manis!" Seru Nunik sambil tersenyum sumringah.
"Wowwww... Mantul!" Seru Amanda senang.
"Kamu mau pake garam atau kecap?" Tanya Nunik.
"Ga usah. Kalau ini benar mangga harum manis, aku suka rasanya yang original." Jawab Amanda.
"Hahaha... Ya, bener dong! Ini bukan mangga kawe-kawean!" Ujar Nunik asal.
"Tapi ga cuma di TV atau sosmed sih... Aku lihat kebanyakan cerita yang aku baca sekarang juga membahas hal-hal begitu." Jelas Amanda yang hobi membaca novel.
"Hahhhh... Serius?!" Tanya Nunik.
"Iya, banyak sih yang gitu..." Jawab Amanda.
"Wuidihhh... Parah bener yahhh?" Nunik menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan kenyataan itu.
"Ya gitu... Aku juga heran!" Tukas Amanda.
"Aku sih mikirnya gini, okelah kita nih yang baca atau dengar. Tapi gimana dengan anak-anak kecil? Mereka yang ikut mendengar itu?" Tanya Amanda dengan wajah serius.
"Iya ya! Aku juga kepikiran ke situ... Menurutku itu sih ga cocok ya sering-sering didengar sama anak-anak." Nunik menjelaskan pendapatnya.
"Iya, itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, itu baik jika diketahui. Jadi anak-anak lebih waspada kan ya..." Ujar Amanda.
"Yuppp... Bener!" Sahut Nunik setuju dengan kata-kata Amanda.
"Tapi di sisi yang lain, anak-anak jadi kepo. Jadi pingin tahu lebih jauh. Jadi malah berminat dengan topik begituan. Iiiiihhh... Serem sendiri kalau dibayangin efeknya..." Amanda bergidik sendiri.
"Wah! Aku setuju! Makanya aku tuh dari tadi juga mikir ke situ. Ternyata kita sepemikiran ya!" Ujar Nunik.
"Iya, Nik. Aku ga kebayang aja kalau adik-adikku yang jadi korban konsumsi berita-berita kayak gitu." Ucap Amanda.
"Bener! Jangan sampai lah! Amit-amit..." Kata Nunik.
__ADS_1
"Iya. Tahu ga sih... Itu kedua adikku, udah tahu arti pacaran!" Seru Amanda.
"Oh ya!? Hahaha..." Nunik tertawa melihat ekspresi wajah Amanda yang aneh.
"Adik-adikmu memang gaul! Ga sekuper kakaknya!" Ledek Nunik.
Amanda memasukkan lagi sepotong mangga ke dalam mulutnya.
"Iya sih... Aku baru tahu arti pacaran itu apa ya waktu sekolah di SMP. Soalnya temen-temen kan pada heboh pacaran tuh!" Ujar Amanda.
"Lahhh... Ini bocil-bocil masih SD udah ngomong tentang pacaran. Hufftttt..." Amanda menggerutu.
"Aku sering dengar orang-orang dewasa ngomong. Katanya anak-anak sekarang udah lebih cepat dewasanya." Ujar Nunik.
"Iya, mungkin itu ada benernya!" Amanda menimpali kata-kata Nunik.
"Mengerikan... Kita memang harus pintar-pintar menjaga diri." Ucap Nunik.
"Iya... Semuanya semakin sulit sekarang." Keluh Amanda.
"Iya. Apa daya kita, cuma anak sekolah yang IQ pas-pasan. Hahaha..." Nunik tertawa terbahak-bahak.
Amanda ikut tertawa. Ia setuju dengan kata-kata Nunik.
"Ehhh... Ngomong-ngomong, kamu udah punya pacar belum nih?" Nunik mulai putar haluan pembicaraan..
"Ga, aku belum kepikiran ke sana, Nik." Jawab Amanda.
"Trus... Cowok ganteng yang kemarin itu siapa dong?!" Nunik mulai mengeluarkan serangannya.
"Hemmm... Dia itu temanku." Jawab Amanda.
"Teman apa teman nih?" Sindir Nunik.
"Teman loh... Serius!" Ujar Amanda mantap.
"Hemmm... OK... OK... Temen dulu baru demen kan yaaa..." Nunik lagi-lagi meledek Amanda.
Amanda memasang wajah masam. Untung saja Vera tidak ada di situ. Kalau tidak, Amanda akan terus menjadi bahan bully-an mereka berdua.
"Aku ga sabar deh pengin lihat siapa nanti yang bakalan jadi pacar pertama kamu!" Nunik seolah berkata pada dirinya sendiri.
"Idih! Ga penting amat, Nik!" Sergah Amanda.
"Ya penting dong, beppp!! Hahaha!" Nunik berkata sambil tertawa renyah.
"Tapi aku yakin, kamu dan cowok itu ada hubungan khusus. Kamu ga usah bohongin aku, Amanda." Tuding Nunik.
"Ga ah... Biasa aja, Nik. Kami cuma temenan!" Amanda masih kekeh dengan kata-katanya.
"Wah... Kalau gitu, Tio masih punya harapan ya! Hahaha..." Ujar Nunik sambil memasang ekspresi usil di wajahnya.
"Ehhh... Apaan sih!? Kok bawa-bawa Tio?! Iiiihhh..." Amanda bersungut-sungut kesal dan seperti alergi mendengar nama itu disebut-sebut oleh Nunik.
"Hihihihhh..." Nunik cekikikan sendiri melihat wajah Amanda yang lucu ketika dia sedang kesal begitu.
__ADS_1