Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Obsesi Windy


__ADS_3

"Boleh kan pa?" Windy merengek manja.


Tuan Robby beserta istri dan puteri bungsunya sedang duduk bersantai di ruang keluarga.


Windy menggunakan kesempatan ini untuk membujuk papa dan mamanya agar menyetujui permintaannya yang aneh.


Nyonya Robby menggeleng-gelengkan kepala melihat ekspresi wajah Windy yang penuh harap.


"Hemmm..." Tuan Robby menggumam sambil memijit pelan pelipisnya.


Windy, puteri bungsunya ini selalu saja meminta hal yang aneh-aneh. Jika tidak dituruti, dia akan melakukan segala cara agar keinginannya dikabulkan. Tidak peduli walaupun hal itu nantinya dapat membahayakan dirinya sendiri.


Tuan Robby menarik napas panjang ketika menoleh ke arah Windy yang sedang menatapnya serius.


"Windy, apakah kota Semarang ini sudah membosankan sampai kamu begitu inginnya tinggal di sana?" Tanya Tuan Robby.


Windy melengos. Dia sudah bisa menangkap aura keberatan dari kalimat tanya yang baru saja dilontarkan oleh papanya.


"Papa... Windy mau sekolah di sana aja.. Di sekolahnya kak Doni." Tukas Windy.


Nyonya Robby tergelak beberapa saat. Kini wanita itu mulai memahami mengapa puteri bungsunya ini ngotot mau pindah ke luar kota.


Doni.


Tuan Muda Anthony Rafsanjani.


Ternyata itu motivasinya untuk pindah sekolah.


"Windy sayang... Kesayangannya mama... Kamu masih SMP loh... Kak Doni itu kan sudah SMA..." Ujar Nyonya Robby sambil tersenyum simpul.


"Terus kenapa, ma? Apa salahnya?" Tanya Windy.


Windy masih berusaha mempertahankan pendapatnya, bertahan dengan keinginan yang beberapa hari ini muncul di benaknya.


"Ya itu... Kamu kan tetap belum bisa satu sekolah sama kak Doni. Sekolah kamu di sini itu sekolah terbaik loh ya..." Nyonya Robby mencoba menjelaskan situasi agar Windy bisa mengerti.


Windy mendengus dan masih mencoba mencari-cari alasan, "Di situ ada SMP nya juga, ma... Kak Doni bilang SMP dan SMA Adhyaksa itu bagus banget. Ga kalah bagus dari sekolah di sini."


Windy mulai berbohong. Padahal sesungguhnya Doni tidak pernah menceritakan tentang sekolahnya kepada Windy.


Windy hanya mengarang cerita agar ia diperbolehkan tinggal di kota yang sama dengan Doni, bersekolah di sekolah yang sama, jadi dia nantinya bisa dengan mudah mendekati Doni yang cool dan tampan itu.


Tuan Robby berdehem. Wajah pria itu terlihat sangat serius.

__ADS_1


"Windy, kamu masih kecil. Belum waktunya tinggal di luar kota." Tuan Robby berkata dengan suara yang tegas.


"Tapi papa..." Windy mencoba menyela kata-kata Tuan Robby.


"Tidak ada tapi-tapi... Lebih baik kamu fokus belajar dulu. Ini tahun terakhir kamu di SMP. Kamu harus lulus dengan nilai yang bagus." Ujar Tuan Robby.


"Ma... Windy mau sekolah di sana, ma..." Windy merengek kembali.


Kini ia beranjak duduk di samping Nyonya Robby sambil menatap sinis ke arah Tuan Robby. Ia kembali membujuk Nyonya Robby untuk menyetujui permintaaannya.


Ia tahu, akan sangat sulit membujuk papanya. Namun biasanya dengan bantuan mamanya, papa bisa saja merubah keputusan-keputusan penting.


"Windy... Mama setuju sama papa. Benar kata papa, sebaiknya kamu fokus belajar di sini dulu ya..." Ujar Nyonya Robby.


Windy mulai memasang wajah cemberut. Ia merasa bujuk rayunya tidak akan berhasil. Otaknya bekerja keras memikirkan ide apa yang harus dia lakukan agar kedua orang tuanya ini menyetujui permintaaannya.


Nyonya Robby mengelus lembut rambut puteri kesayangannya sambil menatap Tuan Robby dengan tatapan penuh makna.


Sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiran Nyonya Robby. Ide untuk membujuk puteri bungsunya itu.


"Gini aja deh... Windy belajar yang rajin seperti permintaan papa. Nanti kalau nilai kamu bagus semua, kamu juga akan lebih mudah diterima di SMA Adhyaksa bukan?" Nyonya Robby mulai memberikan penawaran.


Windy melirik mamanya, kemudian menoleh ke arah papanya. Ia seolah ingin memastikan kebenaran kata-kata mamanya.


"Kenapa dengan Doni, sayang?" Tanya Nyonya Robby penasaran.


Sebenarnya Nyonya Robby sudah mulai bisa membaca pikiran Windy, puterinya.


"Gapapa, ma..." Ucap Windy singkat.


Hampir saja dia keceplosan. Tentu tidak mungkin dia menjelaskan pada kedua orang tuanya tentang rencananya untuk mendekati Doni.


Dia memutuskan untuk pindah sekolah juga dengan tujuan agar bisa lebih dekat dengan Doni. Sehingga cowok tampan yang tajir itu bisa digaet secepatnya.


Nyonya Robby melirik jam dinding besar yang tergantung indah di pojok ruangan.


"Ya sudah... Kamu istirahat saja di kamar ya. Ini sudah larut malam..." Ujar Nyonya Robby.


"Iya, ma..." Ujar Windy.


Dia meninggalkan kedua orang tuanya di ruang keluarga dengan wajah yang masih cemberut.


Nyonya Robby menggeleng-gelengkan kepala lagi sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


Setelah Windy menghilang dari pandangan, Nyonya Robby mendekati suaminya dan tertawa. Tuan Robby menatap istrinya yang tercinta dengan tatapan penasaran.


"Apakah ada sesuatu yang lucu, Venna?" Tanya Tuan Robby.


Nyonya Robby masih saja tertawa dan akhirnya mengangguk pelan.


"Sepertinya puteri kita tertarik dengan Tuan Muda..." Ujar Nyonya Robby.


"Hemmm... Anak-anak sekarang tumbuh dewasa dengan cepat..." Ujar Tuan Robby sambil tersenyum tipis.


"Sayang, apakah kamu keberatan jika kita memiliki menantu seperti Tuan Muda Anthony?" Nyonya Robby bertanya pada suaminya sambil tersenyum manis.


"Hahaha... Tentu saja tidak! Dia sangat sempurna!" Tuan Robby tertawa lebar.


"Ya, aku setuju. Dan... Mereka berdua sangat serasi, bukan?" Nyonya Robby berkata sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Tentu saja, sayang! Puteri kita sangat cantik, seperti dirimu." Ucap Tuan Robby mesra.


Nyonya Robby tertawa dan mencubit lengan suaminya dengan manja.


"Apakah tidak sebaiknya kita membicarakan hal ini dengan Wishnu dan Anne?" Tanya Nyonya Robby.


Tuan Robby mengelus jenggot halus di dagunya. Pria itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Hemmm... Sebuah rencana perjodohan, maksudmu?" Tuan Robby balik bertanya.


Nyonya Robby tersenyum dan memeluk suaminya dengan mesra.


"Tetapi sepertinya belum waktunya kita menjodohkan mereka. Aku ingin Windy menikmati masa remajanya dengan santai..." Tuan Robby menggumam pelan.


"Baiklah... Aku setuju. Tidak perlu terburu-buru..." Ujar Nyonya Robby.


Malam semakin larut. Tuan dan Nyonya Robby mengakhiri obrolan mereka tentang Windy dan Doni. Keduanya kemudian meninggalkan ruang keluarga dan menuju ke kamar tidur mereka untuk beristirahat.


Sementara itu, di sebuah kamar tidur yang luas dan mewah, Windy masih belum bisa memejamkan matanya. Dia terus menatap layar ponselnya. Foto Doni terpampang jelas di sana. Wajah Doni yang tampan terus saja menggoda dirinya.


"Duhhh... Gantengnya kebangetan..." Desis Windy.


Dia mulai membayangkan betapa bangga dirinya jika bisa memiliki kekasih seperti Doni. Tampan rupawan, atletis, cool, pewaris tunggal perusahaan...


Sempurna! Doni memenuhi semua kriteria yang diinginkan para wanita.


Windy sudah memutuskan, dirinya bersedia dengan ikhlas meninggalkan kekasihnya yang sekarang, demi mendapatkan hati Tuan Muda Anthony.

__ADS_1


"Dia pasti jadi milikku. Tunggu aja waktunya!" Windy berkata dengan mantap pada dirinya sendiri.


__ADS_2