
Semilir angin malam yang bertiup lembut, perlahan memasuki celah-celah ventilasi udara di dalam villa mewah itu.
Sebuah buku referensi fisika dan sebuah ensiklopedia dalam bahasa Inggris tergeletak di atas meja bundar di hadapan pemuda tampan yang terlihat sedang begitu serius berfikir sambil sesekali menatap layar laptop-nya.
Ryan menutup buku terakhir yang harus dipelajarinya malam ini. Ia meletakkan buku tebal yang baru saja selesai dibacanya itu di atas ensiklopedia kesayangannya sambil melirik sekilas Rudy yang berlalu di hadapannya.
Rudy berjalan dengan begitu anggun dan tenang laksana seorang pangeran muda yang berjalan penuh wibawa di atas karpet mewah kerajaan. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya ketika melihat satu-satunya saudara laki-lakinya yang tampan itu sedang memperhatikan dirinya.
"Hemmm... Kakak ikut kompetisi di SMA negeri 10 ya?" Tanya Rudy sekonyong-konyong.
Ryan tidak langsung menjawab namun dia terlihat memberi respons melalui alisnya yang terangkat sebelah.
Rudy tersenyum tipis. Senyuman yang penuh arti. Ryan menangkap gelagat aneh pada senyuman adiknya tersebut.
Raut wajah Ryan terlihat mulai serius. Dia sepertinya sedang mencoba menerka-nerka apa tujuan Rudy menanyakan perihal tersebut.
Ryan pada akhirnya tidak ingin bersusah-payah menahan rasa penasarannya. Dia melontarkan pertanyaan pembuka pada adik semata wayangnya, "Anything's wrong?".
Rudy kembali tersenyum tipis. Sambil menarik sebuah kursi di samping Ryan, dia menghela nafasnya dalam-dalam.
"Your handsome face mulai viral tuh!" Ujar Rudy dengan nada menyindir.
Ryan melirik sekilas ke arah Rudy yang sudah duduk santai di kursi. Dia sebenarnya merasa sedikit kaget dengan statement adiknya barusan. Namun dia berusaha terlihat tenang.
"Dan aku masih takjub, gimana ceritanya netizen sampe tahu kalau kakak punya adik sepintar dan setampan aku! Hahaha..." Sambung Rudy sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa maksudmu?" Tanya Ryan dengan nada mencibir.
Rudy tergelak sejenak. Dia melirik buku-buku tebal di atas meja.
"Makanya kak, jangan kebanyakan belajar!" Seloroh Rudy sekenanya.
Ryan mendengus kesal. Dia menjitak kepala adiknya dengan sebal.
"Awww!" Rudy menjerit tertahan sambil mengelus-elus kepalanya.
"Kalau nilaiku anjlok, ini karena kakak ya!" Ancam Rudy.
"Hahaha... Never! Justru kau akan semakin pintar karena mendapat sentuhan khusus dariku." Ryan berkata dengan penuh percaya diri.
"Mungkin netizen-netizen itu yang butuh sentuhan khusus dari kakak. Hahaha..." Rudy mengakhiri kalimatnya dengan tawanya yang terdengar begitu renyah namun sedikit menyebalkan.
"Apa sih maksudmu?" Tanya Ryan sebal.
"Entahlah. Tapi coba aja kakak pantau sosmed kakak, mumpung masih jadi trending topic." Tukas Rudy sambil tersenyum jahil.
Ryan terlihat mendengus kesal. Dia meraih ponselnya yang sejak tadi diam nganggur di atas meja.
__ADS_1
Ryan mengaktifkan mode "do not disturb" di pengaturan ponselnya sehingga dia tidak terusik oleh berbagai notifikasi dari semua aplikasi yang terpasang di ponsel pintarnya itu.
Ryan adalah tipe siswa yang fokus belajar dan tidak menyukai distraksi apapun ketika dia sedang tenggelam dalam buku-bukunya.
Rudy, adiknya, juga merupakan siswa yang fokus belajar. Sama seperti kakak semata wayangnya itu. Akan tetapi Rudy tidak terlalu sensitif dengan gangguan-gangguan di sekitarnya.
Sedikit berbeda dengan Ryan, Rudy bisa tetap fokus belajar dalam berbagai kondisi.
Hal ini membuat Rudy terlihat lebih santai ketika belajar ataupun mengerjakan seabreg tugas dari sekolahnya.
Ryan lagi-lagi terlihat serius menatap layar ponselnya. Dia beralih dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Sesekali dia berdecak kesal.
Seharian ini Ryan memang agak sibuk di sekolah. Ditambah lagi munculnya masalah baru karena Pak Cahyono, guru mata pelajaran matematika yang menyeramkan itu, tiba-tiba muncul di kelas mereka tadi siang dengan mimik wajah yang suram sehingga membuat suasana di kelas seolah berpindah lokasi ke sebuah hutan yang angker.
Teman-teman sekelas Ryan melakukan protes keras ketika Pak Cahyono meninggalkan kelas. Mereka bertanya pada Ryan mengapa Pak Cahyono masih juga masuk di kelas mereka.
Lebih parahnya lagi, beberapa siswa dengan sarkas menuding Ryan yang tidak becus menjadi ketua kelas. Siswa-siswa itu menyalahkan Ryan yang tidak berhasil membuat Pak Cahyono tereliminasi dari daftar guru mapel di kelas mereka.
Tentu saja sebagian besar siswa perempuan berada di kubu Ryan. Hampir semua siswi di kelas Ryan membela dirinya dan menyemangati Ryan untuk mencoba negosiasi kembali dengan wali kelas.
Ryan menghela nafasnya dengan berat. Kehadiran sepintas lalu wajah Pak Cahyono dan wali kelasnya di benaknya membuat dirinya semakin merasa kesal.
"Heiiii... Kapan dia merekam ini?!" Ryan berseru dengan ekspresi wajah terheran-heran.
Rudy menoleh dan menatap layar ponsel Ryan. Dia melihat sebuah video singkat di instagram. Video itu memperlihatkan seorang gadis yang sedang selfie sambil merekam Ryan dan seorang gadis yang sedang mengatur posisi untuk sesi pemotretan dadakan di sebuah stand pameran.
Ryan sepertinya merasa sewot melihat postingan tersebut. Dia mencoba membuka profil si pemilik akun yang mengunggah video dirinya dan Amanda.
"Hemmm... Siswa sana rupanya!" Gumam Ryan.
Rudy masih setia memperhatikan gerak-gerik kakaknya. Ryan masih serius melihat-lihat semua akun social media yang dimilikinya. Kini wajahnya terlihat lebih santai.
"Cewek itu teman kakak?" Tanya Rudy.
Ryan menoleh sejenak. "Yang mana maksudmu?" Ryan bertanya balik.
"Ya itu... Yang barengan kakak. Seragamnya sama. Dia siswa SMA Adhyaksa juga bukan?" Rudy mencoba memastikan analisanya.
"Oh... Dia temanku satu sekolah. Kami beda kelas. Kelasnya di sebelah kelasku." Jelas Ryan.
"Hemmm..." Rudy mengangguk pelan sambil menyeruput susu vanilla hangat yang baru saja dibawakan oleh Bu Surti.
"Terima kasih, Bu Sur. Ini enak sekali." Rudy melontarkan pujian dengan tulus kepada Bu Surti.
Bu Surti tersenyum manis dan mengangguk pelan.
"Kalau nak Ryan dan nak Rudy butuh apa-apa, tinggal panggil saja ya. Ibu dan Pak Sam nanti ada di taman belakang." Ucap Bu Surti dengan suaranya yang lemah lembut.
__ADS_1
"Siappp...! Enjoy the night, Bu Sur!" Ujar Ryan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bu Surti kemudian berpamitan dan meninggalkan dua bersaudara yang tampan itu di ruang baca.
"Hemmm... Kakak ke pameran berdua sama dia aja? Wowww..." Rudy berkata dengan suara pelan seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
"No, dude! Lebih tepatnya bertiga." Ujar Ryan.
Ryan menyodorkan ponselnya ke arah Rudy. Rudy melirik sebuah postingan berupa foto di sebuah akun twitter dengan caption yang sangat lebay ala anak millennials.
Ryan, gadis itu, dan seorang siswa lain ada di postingan tersebut. Dari seragam yang dipakai, terlihat mereka berasal dari SMA Adhyaksa.
Rudy bangkit dari kursinya. Dia berjalan dan mendekati sebuah rak buku besar. Setelah beberapa menit memperhatikan isi rak buku tersebut, dia mengambil sebuah buku yang dibutuhkannya dan kembali duduk di kursinya sambil menikmati susu vanilla hangat yang diletakkan Bu Surti di atas meja.
Ryan sepertinya sudah cukup puas melihat banyak postingan tentang kunjungannya ke pameran tersebut.
Ia meletakkan smartphone di atas meja dan mengambil secangkir susu vanilla hangat di sana. Sambil menikmati lezatnya susu itu, fikirannya berkelana ke SMA Adhyaksa.
"Besok masuk ekskul lagi. Aku harus bicara dengan Amanda tentang jadwal belajar kami." Ryan membatin dalam hati.
"Hemmm... Temannya yang random itu bakal jadi ikutan ga ya?" Ryan bertanya-tanya dalam hati.
Ryan kembali menoleh ke arah layar ponselnya. Jarinya berselancar lagi melihat beberapa foto dan video mereka yang heboh berseliweran di akun sosmednya. Kali ini ia memperhatikan dengan seksama.
"Si random ini memang tampan! Tapi apakah otaknya sekinclong wajahnya?!" Batin Ryan.
"Hemmm... We'll see..." Gumam Ryan dalam hati.
Ryan lalu memutuskan untuk menghubungi Amanda. Dia menelpon Amanda agar bisa mendengar langsung suaranya.
"Hello, dear... Besok ikut ekskul kan?" Tanya Ryan ketika Amanda telah menerima panggilan darinya.
"Iya, Ryan. Kamu juga kan?" Amanda bertanya balik.
"Of course!" Ucap Ryan mantap.
Terdengar tawa pelan di seberang sana. Rudy melempar tatapan seriusnya ke arah Ryan yang masih sibuk bercengkerama di telpon.
Rudy kembali berfokus pada buku bacaannya setelah Ryan mengakhiri panggilan.
"OK. Kalau gitu besok kita atur jadwal belajar kita ya!" Ujar Ryan sebelum mengakhiri obrolannya di telpon.
Ryan kembali fokus dengan laptop yang sejak tadi bertengger di atas meja. Dia terlihat menuliskan beberapa catatan penting di buku catatannya.
Dua remaja tampan itu akhirnya kembali serius dengan tugas mereka masing-masing. Suasana di ruang baca menjadi hening.
Gerimis tipis di luar sana menambah nyaman suasana di villa mewah Ryan. Pak Sam dan Bu Surti bergegas meninggalkan taman belakang ketika gerimis yang turun mulai bertambah deras.
__ADS_1