
Di luar gerbang mereka masih berkumpul diatas kendaraan mereka masing-masing, mereka mulai menyusun rencana agar Fani kapok membuly anak sekolah. Aldo mengajak mereka ke kedai es kelapa di depan sekolahnya sambil bercanda ria. Sampai di kedai tersebut yang sepi karena semua siswa sudah pulang menyisakan mereka, lalu memesan Es kelapa sambil melanjutkan candaannya
"Eh. Ra.. loe bisa bawa sepeda sendiri?" Tanya Ilham
"Bisa kok." Jawab Clara dengan senyum meyakinkan
"Kalau gak bisa biar gue aja yang ngantar loe Ra.. Kan gue tadi di jemput Ilham pakai mobilnya" tawar Imron
"huuu. modus loe" ejek Ilham
"heee." tawa kecil Imron
"Kalau masih lama yang mau di bahas. Mending saya pulang saja" Sahut Dion tidak sabar
"Eh. Tunggu.. bundaku nelfon" cegat Aiga yang lalu menelfon bundanya dan meminta izin pulang telat
beberapa menit kemudian
"Kalian gak apa-apa kalau telat pulang sekolah gak izin dulu?. " Tanya Aiga untuk menyadarkan mereka
"Udah biasa kok" jawab singkat Imron
"loe biasa bro. yang lain? bisa-bisa gak boleh sekolah disini lagi" sahut Ilham
"Seharusnya kalian hubungin keluarga kalian, biar mereka gak khawatir. Iya kalau kalihan gak apa-apa dijalan. kalau kalian misal di begal? apa gak histeris tuh keluarga.. kalian seharusnya bersyukur masih punya keluarga. bisa bercengkramah. Bisa bertukar pendapat, bisa berbagi keluh, dan yang jelas bisa menikmati hidup dengan mereka. kalau yang gak punya keluarga?. Dia hanya bisa menyesali kawan. Dia akan merasa iri dengan kita yang mempunyai keluarga lengkap" Nasehat Aiga ke yang lain yang membuat mereka diam dan tunduk meratapi keluarganya. Lalu mereka mengambil hp mereka dan mengabari keluarga masing-masing. Kecuali dengan Clara. Clara yang bernasib kurang beruntung dari teman-temannya, memiliki orang tua utuh tapi bercerai, dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka tak ada waktu untuk Clara. Hingga Clara memilih jalan yang salah. Dia jadi brutal dan ugal semenjak SMP kelas 2. Namun semenjak berteman dengan Aiga, sikap dan kepribadiannya perlahan berubah hingga sekarang. Clara yang sekarang adalah Clara yang baik hati, dermawan, dan tidak sombong.
"Clara.. Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Aiga sambil menyadarkan lamunan Clara.
__ADS_1
"Maafin aku yaa" Sambung Aiga sambil memeluk Clara dengan rasa bersalah
"Gak apa kok Ga." balas Clara sambil menyeka air matanya dan membalas pelukan Aiga.
Setelah mereka menghubungi keluarga mereka masing-masing. Mereka mulai membahas rencana yang dimulai oleh Aldo, namun lagi-lagi di tunda karena es kelapamya sudah jadi dan dihidangkan di hadapan mereka.
"Ayo cepat Do" Ucap Rinda tak sabar mendengarkan idenya Aldo
"Kalian gak apa sambil mendengarkanku dan minum esnya." Ujar Aldo
"Jadi gini..(bla. bla...bla....)...................
Gimana setuju?" Jelas Aldo mengungkapkan rencannya..
"Setuju" jawab kompak mereka kompak
"Maaf. kami tidak bisa" Ujar Dion masih dengan wajah sangarnya
"Yahhh. Kakak... terus ide kakak gimana?" Tanya Aiga memelas
"Kami tidak bisa kalau tidak memberi pelajaran ke anak itu haaa" Jawab Dion sambil tertawa
"Mereka terdiam menganga tak percaya. Dela dan Dion yang beberapa hari ini yang sangar dan susah senyum sekarang malah ngelawak.
"Oh.. gak lucu yaa. maaf," Lirih Dela
"hahaaaaaaa..... wkwkwkwkwk," Mereka semua tertawa
__ADS_1
"Sejak kapan kalian bisa humoris kayak gitu,?. Biasanya sangar dan dingin kayak es" ujar Rinda
"Sejak ketemu Kamu" Ucap Genit Dion
"Cieee...." Sorak Semuanya ke Rinda dan membuatnya memerah pipinya...
"He'em" deheman Dela membuyarkan sorakan
Dion yang mendengar deheman saudaranya menjadi malu dan kembali memasang wajah sangarnya kembali.
"Jelek tau gak.. sudah. tuh wajah gak cocok untukmu" goda Dela yang membuat ketawa se isi kedai
" hahahahahahah... Wajah sanngar tapi merah kayak apa yaaa"" ungkap Aiga..
"Kayak Udang" Ucap Aldo
"Haahahhahahaha..." mereka ketawa kembali
"Sudahlah Di.. Kita gunakan senjata kita kalau suasana jelek saja" ujar Dela
"Iya Del." jawab Dion
"Sudah yukk. pulang.." Ajak Dela
"Ayooo" kompak mereka
Mereka pulang dengan kendaraannya masing-masing,
__ADS_1