Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Dia Bukan Gadis Biasa!


__ADS_3

"Nak Ryan, ini ada cemilan pisang goreng!" Bu Sur meletakkan sepiring kecil pisang goreng dan segelas jus sirsak di atas meja.


"Wah... Cocok sekali, Bu Sur!"


"Pas banget, hujan-hujan begini."


Ryan langsung mencomot sepotong pisang goreng crispy tersebut. Bu Sur tersenyum dan meninggalkan Ryan di ruang baca.


Sambil menikmati cemilan yang disuguhkan oleh Bu Sur, dia memandangi pemandangan indah dari jendela.


Hujan turun deras petang ini. Langit sudah terlihat semakin gelap karena mendung yang tebal di langit.


Angin dingin berhembus semilir. Ryan benar-benar menikmati suasana yang syahdu. Alunan bunyi rintik hujan, semilir angin yang berhembus, aroma hujan mulai menyentuh indra penciumannya yang tajam.


Ryan sangat menyukai hujan. Dingin, tenang, dan menyejukkan.


Dalam keadaan yang begitu tenang, Ryan kembali terkenang kejadian hari ini bersama Amanda. Gadis yang sederhana itu ternyata betul-betul hidup sederhana.


Ryan tidak menduga bahwa Amanda berasal dari keluarga yang sesederhana itu. Sepanjang yang Ryan ketahui, tidak ada siswa SMA Adhyaksa yang hidup sederhana seperti Amanda.


Sudah rahasia umum, siswa-siswa yang bersekolah di sana adalah siswa-siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang kelas atas. Mereka terbiasa difasilitasi dengan kemewahan. Sehingga gaya hidup hedon sudah menjadi lifestyle para siswa di SMA Adhyaksa.


Maka, ketika dia melihat kehidupan Amanda, ini sungguh mengejutkan dirinya. Ini adalah hal yang tidak biasa.


"Bagaimana dia bisa tinggal di rumah sekecil itu?" Ryan membatin.


Ryan memutar kembali memori di otaknya tentang bentuk rumah Amanda yang sekilas tadi dilihatnya.


"Bahkan ruang penyimpanan peralatan tukang kebun di halaman belakang villa ini lebih luas dari rumahnya!"


"Benar-benar tidak bisa kubayangkan!" Ryan terus saja membatin.


Ryan tidak habis pikir, dia betul-betul tidak pernah menduga begitu adanya kehidupan seorang Amanda.


"Tapi dia bisa bergaul dengan siswa-siswa lain. Dia cukup luwes. Aneh..."


Ryan membayangkan pasti tidak mudah untuk bisa masuk dalam pergaulan kelas elite para siswa di SMA Adhyaksa.


Hebatnya Amanda, dia supel dan bisa bergaul dengan siapa saja. Dia tidak memanipulasi diri. Dia bisa menjadi dirinya sendiri meskipun harus masuk dan berbaur dalam pergaulan dengan teman-temannya.


"Hemmm... Dia memang berbeda!" Gumam Ryan.


Ryan tiba-tiba teringat teman Amanda yang bernama Doni. Doni sepertinya punya perasaan khusus pada Amanda. Tetapi Amanda kelihatan biasa-biasa saja.


"Apakah mereka berpacaran? Si Doni itu terlihat possessive sekali." Ryan bertanya dalam hati.

__ADS_1


"Tapi dia tidak terlihat seperti orang yang sederhana. Style-nya berbeda."


"Mengapa dia begitu possessive ya? Hemmm..."


"Doni... Mengapa kamu begitu tertarik dengan dia yang sederhana? Kamu bisa saja mendapatkan gadis lain yang lebih menarik!"


Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di dalam benak Ryan. Ada banyak sekali gadis cantik di SMA Adhyaksa. Doni bisa memilih satu di antara mereka. Tapi mengapa cowok pendiam yang aneh itu malah terus saja mendekati Amanda.


"Apa mungkin mereka sudah berteman sejak lama ya?!" Ryan jadi makin penasaran.


"Hemmm... Ini jadi makin menarik!" Ryan tiba-tiba menjadi begitu bersemangat.


"Hahaha... Kita akan lihat, Doni! Sejauh mana kamu bisa mendekati Amanda." Ryan mulai menyusun rencana.


Seorang Ryan yang sangat suka persaingan seolah tergugah untuk bersaing dengan Doni dalam mendekati Amanda.


Amanda adalah gadis sederhana yang cukup menarik dan apa adanya. Terlebih dari itu semua, Amanda adalah gadis yang pintar. Itu membuat Amanda terlihat semakin menarik.


Ryan merasa nyambung jika berbicara dengan Amanda selama ini. Khususnya jika mereka berbicara dalam hal-hal yang bersifat akademis. Ini yang sulit ditemukan Ryan pada gadis-gadis lain seusia mereka.


Topik pembicaraan para gadis di SMA Adhyaksa biasanya berkutit seputaran fashion, K-drama, K-pop, tempat tongkrongan yang mewah, dan sejenisnya.


Namun Amanda tidak disibukkan dengan hal-hal seperti itu. Dia tidak ikut arus. Dia tetap menjadi dirinya sendiri.


Ryan meraih smartphone-nya. Dia langsung menghubungi Amanda.


"Halo, baby!" Sapa Ryan dengan ceria ketika melihat wajah Amanda sudah muncul di layar ponselnya.


Amanda langsung memperlihatkan wajah dongkolnya. Dia menyesali mengapa tangannya begitu latah menerima panggilan video dari Ryan.


Sebenarnya Amanda tidak sedang ingin melakukan video call dengan siapapun petang ini. Dia sedang menikmati senja yang indah karena diliputi hujan yang sedang turun.


Ryan telah mengganggu waktu istirahatnya yang tenang. Amanda betul-betul merasa dongkol.


"Apaan sih? Jam segini video call segala!" Ujar Amanda sewot.


"Hahaha... I am really sorry, my baby!"


"Apakah saya mengganggu tuan putri saat ini?" Ryan berbasa-basi membuat Amanda semakin dongkol.


Amanda mendengus dan berkata, "Iya lah! Kau jelas mengganggu. Emangnya ada keperluan apa sih?"


"Ya... Ga ada sih... Cuma mau ngajak ngobrol santai aja sore-sore gini!" Sahut Ryan.


"Idih! Kamu sih enak, bisa nyantai..."

__ADS_1


"Aku masih banyak PR nih..." Keluh Amanda.


"Hey! PR apa?" Tanya Ryan.


"PR Matematika dari Pak Cahyono. Tahu sendiri kan gimana guru kita yang satu itu..." Amanda terlihat sangat sebal.


"Oh... Ya... Pak Cahyono betul-betul payah! Sepertinya beliau juga punya dendam pribadi sama aku." Tutur Ryan.


"Hah?! Apa?! Masa sih!?" Amanda melongo.


"Gara-gara kasus kemarin. Semua ketua kelas yang ikut demo, pasti merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan." Ujar Ryan.


"Hemmm... Iya ya..." Amanda menggumam.


"Si Vino mungkin cuek saja ya! Hahaha..." Ryan tertawa terbahak-bahak membayangkan reaksi Vino, ketua kelasnya Amanda.


"Ya gitu deh..." Ucap Amanda mengiyakan kata-kata Ryan.


"Tapi dia kadang-kadang kurang ajar juga!" Tukas Amanda.


"Hahaha... Ada apa? Apa yang dia lakukan?" Ryan masih saja tertawa.


"Ya gitu... Dia kan tidak pernah mau disalahkan. Jadi ketika Pak Cahyono nyalahin dia, dia ga mau terima. Dia balik menyalahkan kami." Amanda mulai ngoceh dengan nada kesal.


"Hahaha..." Tawa Ryan semakin menjadi-jadi.


"Kalau aku boleh ngasih saran, mending kalian milih ketua kelas baru deh!" Saran Ryan.


"Iya, seharusnya begitu. Dia ga pantas jadi ketua kelas!"


"Tapi... Mau gimana lagi? Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kak Ravel yang nunjuk dia." Ujar Amanda gusar.


"Oh... Begitukah?"


"Sulit sekali. Padahal negara kita ini adalah negara demokrasi."


"Tapi masih saja ada hal-hal seperti ini yang terjadi di berbagai bidang..." Ryan mulai berorasi.


Amanda menyimak dengan sabar. Dia mendadak kaget ketika pintu kamarnya terbuka dan wajah Ibu muncul di balik pintu.


"Eh... Sudah dulu ya! Lain kali kita ngobrol lagi!" Amanda berkata pada Ryan.


Amanda lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Ibu masuk ke kamar dan sepertinya ingin berbicara dengan Amanda.


***

__ADS_1


__ADS_2