Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Keputusan Tuan Wishnu


__ADS_3

Suasana di ruangan CEO Tanaka Mining, Co. Ltd. mendadak sunyi. Tidak ada yang berani bersuara, baik Tuan Alfred maupun Nyonya Martha.


Kedua orang kepercayaan Tuan Wishnu tersebut memilih berdiam diri dan menunggu kata-kata selanjutnya dari pimpinan utama mereka, lelaki tampan yang penuh wibawa, Tuan Wishnu Rafsanjani.


Sebuah suara helaan nafas yang cukup kuat akhirnya memecah keheningan di ruang kerja yang mewah tersebut.


Nyonya Martha dan Tuan Alfred memperhatikan Tuan Wishnu dengan seksama. Kedua orang penting perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd. itu duduk dalam posisi siap dan siaga.


"Baik Tuan Alfred. Apakah menurut anda akan memungkinkan jika kali ini kita pergi bersama Tuan Muda ke Jepang?" Tuan Wishnu bertanya dengan suaranya yang khas, berat dan dalam.


Nyonya Martha sontak melirik Tuan Alfred yang duduk berhadapan dengan dirinya, di sebelah kiri Tuan Wishnu.


Tuan Alfred menangkap lirikan mata Nyonya Martha. Pria muda yang tampan itu mengangguk pelan ke arah Nyonya Martha.


Tuan Alfred terlihat berfikir sejenak sebelum akhirnya menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Tuan Wishnu.


"Tentu saja, Tuan. Saya fikir jadwal kegiatan Tuan Muda di sekolah belum terlalu padat." Tuan Alfred menjelaskan detail kegiatan Doni untuk beberapa hari ke depan.


"Hemmm... Bagus. Aku tidak ingin mengganggu tugas utamanya sebagai seorang siswa." Ucap Tuan Wishnu sambil mengelus lembut dagunya yang mulus.


"Tapi jika dia sedang tidak sibuk di sekolah, ini akan menjadi moment yang tepat baginya untuk terlibat langsung dalam kerja sama internasional ini." Sambung Tuan Wishnu.


Nyonya Martha dan Tuan Alfred mengangguk setuju.


"Nyonya Martha, tolong dipersiapkan segala sesuatu." Perintah Tuan Wishnu.


"Baik, Tuan. Saya akan mengatur jadwal keberangkatan anda secepatnya." Ujar Nyonya Martha sigap.


"Tuan Alfred, tolong sampaikan kepada Tuan Muda bahwa kita akan berangkat ke Jepang malam ini." Tuan Wishnu kembali memberi instruksi.


"Siap!" Jawab Tuan Alfred.


"Dan pastikan Tuan Muda mengerti apa yang harus dilakukannya setibanya kita di Jepang nanti." Ucap Tuan Wishnu sambil menatap serius Tuan Alfred dan Nyonya Martha.


"Siap, Tuan!" Ucapan tegas terdengar dari mulut Tuan Alfred.


"Nyonya Martha, anda akan tetap di sini selama kami berada di Jepang. Tolong dipastikan semua agenda perusahaan lainnya tetap berjalan lancar dan stabil." Kata Tuan Wishnu.


"Baik, Tuan. Sampai saat ini semua agenda perusahaan sudah berjalan dengan baik." Nyonya Martha menjelaskan beberapa hal terkait kegiatan yang telah dilakukannya dalam beberapa hari ini.


Setelah merasa puas dengan penjelasan Nyonya Martha dan Tuan Alfred, Tuan Wishnu mengetikkan beberapa kalimat penting di laptop kerjanya.


"Baik, Terima kasih Nyonya Martha dan Tuan Alfred. Aku percaya kalian bisa diandalkan." Tuan Wishnu memuji kedua orang terbaiknya itu dengan tulus.

__ADS_1


"Anda boleh kembali ke ruangan, Nyonya Martha..." Ucap Tuan Wishnu.


"Hemmm... Sampaikan pada dewan direksi untuk mempersiapkan laporan perencanaan project mereka secepatnya. Aku berharap dapat menerima semua laporan itu malam ini." Tuan Wishnu lalu memberi perintah dengan nada tegas.


Nyonya Martha mengangguk cepat dan berkata, "Baik, Tuan. Saya pastikan semua laporan tersebut akan anda terima malam ini."


Tuan Wishnu mengangguk pelan. Kedua sekretaris pribadi itu kemudian berpamitan dan meninggalkan Tuan Wishnu sendirian di dalam ruangan.


Tuan Wishnu melanjutkan pekerjaannya dengan tenang dan penuh konsentrasi.


Nyonya Martha berpamitan pada Tuan Alfred ketika mereka berada di dalam lift. Ruang kerja Nyonya Martha dan Tuan Alfred berada pada lantai yang berbeda.


Dua orang karyawan pada divisi personalia memasuki lift tepat setelah Nyonya Martha keluar dari lift tersebut.


Kedua karyawan tersebut membungkuk memberi hormat pada Tuan Alfred.


Tuan Alfred tersenyum penuh wibawa kepada kedua karyawan itu sebelum akhirnya dia juga keluar dari lift tersebut menuju ruang kerja Tuan Muda Anthony Rafsanjani.


Tuan Muda Anthony terlihat cukup sibuk dengan setumpuk file map yang terletak rapi di hadapannya.


"Selamat siang, Tuan Muda." Sapa Tuan Alfred.


"Selamat siang, Tuan Alfred. Silahkan duduk." Ujar Doni ketika menoleh ke arah Tuan Alfred yang berjalan dengan langkah tegap ke arah meja kerjanya.


Doni menutup sebuah file map yang sedang dipelajarinya dengan serius. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Tuan Alfred.


Kehadiran Tuan Alfred di ruangannya saat ini pasti menunjukkan ada hal penting yang ingin disampaikan oleh sekretaris pribadinya itu.


Tuan Alfred juga memperhatikan Tuan Muda Anthony dengan serius.


Meskipun masih menggunakan seragam SMA, aura Doni sebagai seorang pemimpin perusahaan sesungguhnya sudah mulai memancar dengan sempurna.


"Apakah ada hal penting yang ingin anda sampaikan, Tuan Alfred?" Tanya Doni.


"Siap, benar sekali Tuan Muda!" Jawab Tuan Alfred cepat.


"Hemmm..." Doni menggumam pelan.


"Mohon izin menyampaikan perintah Tuan Wishnu. Malam ini kita akan berangkat ke Jepang, Tuan Muda." Kata Tuan Alfred.


Doni terlihat agak terkejut mendengar kata-kata Tuan Alfred.


"Jepang?" Tanya Doni.

__ADS_1


Tuan Alfred mengangguk mantap.


"Saya telah mempersiapkan beberapa file untuk anda pelajari terkait kerja sama perusahaan Tanaka Mining Co, Ltd. dengan perusahaan Mr. Tatsuki di Jepang." Tuan Alfred berkata sambil menyerahkan sebuah file box berisikan berkas-berkas penting kepada Doni.


Doni menerima file box tersebut, meletakkannya di atas meja, dan kemudian mengambil beberapa berkas perting yang ada di dalamnya.


Doni mengernyitkan dahi ketika membaca beberapa kalimat yang tertera di sana.


"Baik, terima kasih Tuan Alfred. Saya akan mempelajari berkas-berkas penting ini." Ujar Doni.


Tuan Alfred kembali menganggukkan kepalanya.


"Saya akan menghubungi anda jika ada hal yang tidak saya pahami." Doni berkata sambil membolak-balikkan kertas-kertas di hadapannya.


"Siap, Tuan Muda! Anda tidak perlu sungkan." Ujar Tuan Alfred.


Setelah menjelaskan segala hal terkait persiapan keberangkatan mereka ke Jepang nanti malam, Tuan Alfred kemudian berpamitan pada Doni untuk kembali ke ruang kerjanya.


Doni mulai tenggelam dalam berkas-berkas penting yang sedang dipelajarinya ketika Tuan Alfred beranjak meninggalkan ruang kerja pewaris tunggal perusahaan tersebut.


"Hemmm... Jepang..." Gumam Doni pelan.


Doni sebenarnya sudah beberapa kali bertandang ke Jepang. Tuan dan Nyonya Wishnu biasanya membawa Doni bersama mereka ketika liburan atau cuti.


Tuan Wishnu bahkan sudah cukup mahir berbahasa Jepang, sedangkan Doni sendiri masih dalam tahap belajar.


Beberapa percakapan sederhana dalam bahasa Jepang sudah dapat dipahami oleh Doni. Namun untuk level pembicaraan bisnis dan hal-hal formal lainnya, Doni belum semahir papanya.


Doni beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan menuju sofa di sudut ruangan untuk sedikit bersantai.


Dia menyandarkan tubuhnya di sofa, mencoba lebih rileks. Posisi sofa di ruang kerja Doni diletakkan sedemikian rupa sehingga pemandangan indah dari ketinggian gedung perusahaan Tanaka Mining Co, Ltd. dapat dinikmati dengan sempurna.


Memandangi langit dan gedung-gedung tinggi di hadapannya, fikiran Doni tiba-tiba terlintas ke SMA Adhyaksa.


"Hemmm... Aku ga ke sekolah besok." Desah Doni.


Doni seperti merasa sungkan untuk bertolak ke Jepang malam ini. Rasa-rasanya dia tidak ingin libur dari sekolah meskipun hanya sehari.


Akan tetapi, Doni sangat sadar bahwa sebagai calon pimpinan perusahaan dia harus mengikuti arahan papanya. Dia harus terlibat dalam setiap keputusan penting papanya demi keberlangsungan perusahaan.


Doni mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sebentar saja dia sudah menemukan gambar Amanda di gallery foto ponselnya.


Doni tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ini tidak akan lama, sayang..." Ucap Doni pelan sambil bangkit dari duduknya dan kembali menekuni berkas-berkas penting yang diserahkan Tuan Alfred tadi.


__ADS_2