
"Yessss! Makasih, papa!" Windy berteriak kegirangan setelah akhirnya papanya mengizinkan dia mengikuti papanya esok pagi.
Nyonya Robby hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah laku puteri bungsunya itu.
Nyonya Robby sebenarnya sudah mengetahui mengapa Windy kekeh sekali ingin ikut bareng papanya.
Itu tentu saja bukan sifat asli Windy. Windy sangat tidak suka bepergian dengan kedua orang tuanya. Dia lebih suka menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya.
Namun kali ini, ada modus tersembunyi. Windy ngotot sekali ingin ikutan papanya karena ingin bertemu anak Tuan Wishnu. Cowok tampan itu berhasil membuat Windy terpesona. Nyonya Robby mengetahui hal itu.
"Ma, Windy mau packing dulu yahhh... Soalnya besok pagi-pagi banget kita harus sudah berangkat, bukan..." Ujar Windy dengan rona bahagia di wajah cantiknya.
Nyonya Robby mengangguk sambil tersenyum. Tuan Robby menatap istrinya dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Apa yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Tuan Robby setelah Windy masuk ke kamarnya.
"Hahaha... Tidak ada. Tidak ada rencana apapun. Mengapa kamu curiga begitu?" Nyonya Robby tergelak sendiri melihat suaminya yang seolah khawatir ada rencana buruk yang sedang dipersiapkan oleh anaknya.
"Hemmm... Sepertinya kamu tahu sesuatu..." Gumam Tuan Robby.
"Anak kita sudah mulai puber! Jadi, maklumi saja..." Ujar Nyonya Robby sambil melirik usil suaminya.
"Apa hubungannya pubernya dia dengan kunjungan kerjaku?" Tuan Robby masih belum nyambung.
"Hahaha... Jangan sepolos itu, sayang!" Canda Nyonya Robby.
Tuan Robby mengedikkan bahunya dan berkata, "So what?!"
Nyonya Robby tertawa pelan. Wanita itu betul-betul merasa geli melihat ekspresi bingung di wajah suaminya.
"Ada cowok tampan di sana yang membuat Windy rindu ingin bertemu lagi." Ucap Nyonya Robby.
"Apa??!!" Tuan Robby melongo sejenak mendengar ucapan istrinya itu.
Pria itu mencoba mencerna kata-kata istrinya.
"Tuan Muda Anthony?" Tebak Tuan Robby.
Nyonya Robby mengangguk cepat dan mengedipkan sebelah matanya.
"Gadis mana sih yang tidak akan terkagum-kagum dengan sosok Tuan Muda?" Ujar Nyonya Robby.
__ADS_1
"Hemmm... Ya, Wishnu memiliki anak yang benar-benar tampan! Dia benar-benar lebih tampan dari papanya." Tuan Robby setuju dengan pendapat istrinya tentang sosok Tuan Muda Anthony.
"Seandainya Windy dan Tuan Muda bisa menjadi teman dekat, bukankah itu terdengar menyenangkan?" Ucap Nyonya Robby penuh harap.
"Hemmm... Ya..." Gumam Tuan Robby.
"Tapi terlalu dini untuk menjodohkan mereka..." Desis Tuan Robby.
"Maksudku, anak-anak sekarang sudah berbeda. Terkadang orang tua sudah tidak bisa memaksakan kehendak mereka lagi pada anak-anaknya!" Lanjut Tuan Robby.
"Iya sih... Anak-anak sekarang sudah lebih cepat dewasa. Dan mereka sudah punya pendiriannya sendiri." Imbuh Nyonya Robby.
"Hemmm..." Tuan Robby menggumam.
"Windy harus bijak. Tidak semua keinginannya harus terjadi. Ajari dia untuk bersikap lebih dewasa." Ucap Tuan Robby.
Entah mengapa Tuan Robby mempunyai kekhawatiran terhadap puteri bungsu mereka. Tuan Robby khawatir jika benar Windy sangat mengagumi Tuan Muda Anthony, maka bagaimana jika dia hanya bertepuk sebelah tangan nantinya?
Tuan Robby khawatir bagaimana jika Tuan Muda Anthony tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Windy.
Apakah Windy siap menerima kenyataan itu?
Nyonya Robby menatap suaminya dengan tatapan serius.
"Ayo, kita istirahat. Ini sudah malam..." Ajak Nyonya Robby.
Tuan Robby menghela nafasnya dengan berat. Pria itu lalu mengikuti istrinya masuk ke kamar mereka.
Tentu saja Tuan Robby tidak bisa betul-betul beristirahat seperti kata istrinya yang sangat dia cintai itu.
Pria itu kembali teringat tentang pekerjaannya. Kantor cabang perusahaan yang baru saja dibangun di kota itu masih jauh dari target.
Tuan Robby sebenarnya merasa was-was untuk mengembangkan kantor tersebut. Kendala-kendala yang harus dihadapinya sudah terbayang di depan mata.
Beban yang sangat besar yang diberikan perusahaan pada pundaknya betul-betul membuatnya kelelahan setiap hari, hari demi hari.
Namun di satu sisi, Tuan Robby merasa sedikit lega karena di sana ada sahabatnya, Tuan Wishnu Rafsanjani. Seorang CEO perusahaan terkemuka yang sedang menanjak reputasinya.
Tuan Robby juga sangat memahami betapa besarnya pengaruh Tuan Wishnu di kota itu. Tuan Wishnu adalan salah satu konglomerat muda di sana.
Tuan Wishnu juga dikenal menjalin hubungan sangat baik dengan para pejabat kelas atas di sana. Hal itu tentu menjadi poin penting bagi Tuan Robby.
__ADS_1
Koneksi Tuan Wishnu yang luas itu pasti bermanfaat juga untuk Tian Robby. Oleh karena itu, Tuan Robby berusaha untuk tetap tenang dan terus berfikir positif.
Walaupun sesungguhnya kekhawatirannya akan perkembangan kantor cabang perusahaan ke depannya nanti bisa saja tidak semudah yang dia bayangkan, tetapi selama ada Tuan Wishnu di sana, Tuan Robby masih bisa bernafas dengan lega.
"Huaaahhh..." Tuan Robby menguap lebar-lebar.
"Sudah waktunya tidur." Tuan Robby berkata pada dirinya sendiri.
Akhirnya Tuan Robby bisa memejamkam mata. Sebentar saja suami istri tersebut sudah tertidur lelap di kamar mereka.
Sementara itu, Windy melompat-lompat saking senangnya dengan keputusan papanya malam ini.
Windy menjadi girang sekali mengetahui papanya telah mengizinkan dia ikut bersama papa dan mamanya. Itu artinya dia bisa memastikan dirinya bertemu Tuan Muda Anthony secepatnya.
Windy bernyanyi-nyanyi riang sambil membuka lemari pakaiannya yang sangat besar.
"Hemmm... Baju yang mana aja nih ya yang mau dibawa?" Windy berfikir serius sekali.
Windy memiliki banyak koleksi pakaian. Lemari yang ada di hadapannya itu hanya salah satu dari dua lemari yang ada di kamar tidurnya.
Sebagai seorang gadis yang fashionable, Windy menuntut dirinya sendiri untuk tampil modis dan trendy sesuai dengan model pakaian yang sedang update.
"Nah... Ini aja deh..." Windy berseru penuh semangat.
Setelah sekian lama menimbang-nimbang dan memilih koleksi pakaian yang disukainya, dia akhirnya berhasil memutuskan mana saja pakaian yang akan dimasukkan ke kopernya.
Semua dia upayakan maksimal. Dia ingin tampil paripurna di depan Tuan Muda Anthony dan keluarganya.
Windy ingin membuat Tuan Muda Anthony dan keluarganya terkesan padanya di pertemuan kedua nanti.
"Wah... Sudah larut malam ternyata..." Ucap Windy.
Windy mulai merasa sedikit kelelahan karena sibuk sekali membereskan pakaian yang akan dibawanya nanti. Dia sudah beberapa kali menguap lebar, berusaha menahan kantuknya.
Namun akhirnya Windy memutuskan menyudahi urusan beberesnya dan bergegas mempersiapkan diri untuk tidur.
"Kita akan bertemu lagi, Tuan Muda..." Desis Windy sebelum memejamkan mata.
Di luar sana langit semakin gelap. Mendung yang tebal dan pekat perlahan-lahan menyelimuti langit malam itu. Gerimis mulai berjatuhan pelan-pelan, membuat udara malam itu terasa begitu dingin.
Windy berkali-kali menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang terasa kedinginan.
__ADS_1