Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Firasat Nyonya Wishnu


__ADS_3

Mobil BMW berwarna hitam yang dikendarai Alfred telah tiba di depan pintu gerbang sebuah rumah megah dengan arsitektur modern.


Gerbang terbuka secara otomatis, dua orang security memberi hormat dan bergegas memeriksa mobil Alfred dengan alat-alat pemeriksaan khusus.


"Silahkan masuk, Tuan Alfred. Nyonya sudah menunggu di dalam." Kedua security tersebut membungkukkan badan mereka dan mempersilahkan Alfred mengemudikan mobilnya ke dalam perkarangan rumah.


Alfred disambut hangat oleh kepala pelayan rumah tangga Tuan Wishnu. "Selamat siang, Tuan Alfred. Mari silahkan masuk, saya akan memberitahukan Nyonya bahwa anda sudah tiba." Ujar Pak Wicaksono sopan dan menuntun Alfred menuju ruang tamu.


Pak Wicaksono mempersilahkan Alfred duduk di salah satu sofa besar dan elegant di ruangan tersebut. "Tuan Alfred ingin minum apa?" Pak Wicaksono bertanya sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih, Pak Wicaksono. Tidak perlu repot-repot begitu." Ujar Alfred sungkan sambil merapikan jasnya. Dia mencoba tersenyum seramah mungkin. Dia selalu merasa kikuk jika hadir di kediaman Tuan Wishnu. Pelayanan di sini setara dengan pelayanan di hotel bintang lima.


"Baik, Tuan Alfred. Saya akan segera menemui Nyonya Wishnu. Mohon menunggu sebentar." Pak Wicaksono membungkukkan badan dan segera meninggalkan Alfred sendirian di ruang tamu.


Sebelum menemui Nyonya Wishnu, Pak Wicaksono memerintahkan para pelayan di dapur mempersiapkan jamuan sore untuk Alfred dan Nyonya Wishnu. Para pelayan segera melaksanakan perintah Pak Wicaksono dengan senang hati.


Nyonya Wishnu bergegas menuju ruang tamu untuk bertemu dengan Alfred. "Selamat siang, Alfred. Terima kasih sudah datang, saya pasti sangat merepotkan kamu." Nyonya Wishnu menyapa sambil sedikit berbasa-basi. Wajahnya yang cantik terlihat merona.


"Terima kasih, Nyonya Wishnu. Sudah menjadi tugas saya untuk patuh terhadap perintah anda." Alfred bangun dari duduknya dan membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.


"Terima kasih, Alfred. Silahkan duduk, kita santai saja." Sambil tersenyum, Nyonya Wishnu mempersilahkan Alfred duduk kembali.


Pak Wicaksono dan seorang pelayan masuk ke ruang tamu. Mereka membawa jamuan sore dan menghidangkannya di atas meja.


"Terima kasih, Pak Wicaksono." Ujar Nyonya Wishnu sambil melempar senyum kepada Pak Wicaksono dan pelayan yang mengikutinya sebelum mereka meninggalkan ruang tamu tersebut.


"Ayo, Alfred. Silahkan... Menjelang sore, saya fikir teh Jepang dan sedikit cemilan adalah menu yang tepat." Nyonya Wishnu mengambil poci teh yang aesthetic itu dan menuangkan teh ke dalam cangkir Alfred.


"Terima kasih, Nyonya." Ucap Alfred sopan. "Jangan sungkan-sungkan." Balas Nyonya Wishnu sambil menuangkan kembali teh ke dalam cangkir di hadapannya dengan elegant.

__ADS_1


Alfred terpana sejenak. "Benar-benar wanita berkelas." Dia menggumam dalam hati.


"Begini, Alfred. Ada beberapa hal yang ingin saya ketahui tentang Anthony..." Nyonya Wishnu mulai masuk ke inti pembicaraan.


"Baik, Nyonya. Informasi apa yang anda butuhkan tentang Tuan Muda?" Tanya Alfred.


Nyonya Wishnu mulai menanyakan beberapa pertanyaan sederhana tentang aktivitas Doni di sekolah dan di perusahaan.


Alfred menjawab dan menjelaskan dengan rinci berdasarkan hasil pengamatannya selama ini. Alfred memperlihatkan foto-foto dokumentasi yang berhasil dikumpulkannya. Nyonya Wishnu memperhatikan foto-foto tersebut dengan seksama.


"Hemmm... Kalau begitu, sejauh ini dia tidak ada masalah di perusahaan ya?" Nyonya Wishnu bertanya untuk memastikan kembali hasil analisanya.


"Benar sekali, Nyonya. Sejauh ini kegiatan Tuan Muda di perusahaan berjalan lancar seperti biasa." Alfred menjawab dengan mantap.


"Bagaimana di sekolah?" Nyonya Wishnu mulai penasaran.


"Hemmm... Begitu ya..." Nyonya Wishnu menggumam pelan. Perhatiannya tertuju pada beberapa foto Doni di sebuah halte.


"Alfred, apakah menurut kamu Anthony aman berada di tempat umum seperti ini?" Nyonya Wishnu bertanya dengan nada khawatir.


"Sesuai perintah Tuan Wishnu, saya selalu memperhatikan Tuan Muda dan memastikan keselamatannya. Tuan Muda akan selalu aman di bawah penjagaan saya, Nyonya." Alfred berusaha meyakinkan Nyonya Wishnu.


"Oh... OK! OK! Baik, saya percaya itu. Terima kasih, Alfred." Ujar Nyonya Wishnu ceria. Wanita itu tahu suaminya pasti memilih orang terbaik untuk mengawasi dan menjaga puteranya. Pemuda tampan ini memang orang yang tepat.


"Sepertinya Anthony berteman dengan gadis ini... Apakah gadis ini yang membuatnya begitu gelisah?" Tebak Nyonya Wishnu. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tidak biasa.


Alfred ikut tersenyum. "Saya akan menyelidikinya jika anda menginginkan hal itu, Nyonya." Alfred mengangkat cangkir di hadapannya. Dia mencoba menikmati teh Jepang yang disajikan oleh pak Wicaksono dan pelayan tadi.


"Baik. Lakukan saja." Ujar Nyonya Wishnu. "Siap, Nyonya. Saya akan melaporkan perkembangan penyelidikan pada anda secepatnya." Alfred menjawab sigap.

__ADS_1


"Hahaha... Baik. Terima kasih, Alfred. Ayo dicicipi cemilannya. Ini takoyaki dengan potongan halus gurita. Pelayan dapur kami sangat expert dalam hal olahan makanan Jepang. Kamu harus cobain lho!" Nyonya Wishnu menyodorkan sepiring kecil takoyaki ke hadapan Alfred.


Alfred berterima kasih dan mulai menikmati makanan Jepang yang lezat itu.


Nyonya Wishnu masih tersenyum membayangkan wajah putera kesayangannya dan wajah gadis yang ada di beberapa foto tersebut. Firasat hatinya mengatakan ada sesuatu antara Doni dan gadis itu.


Raut wajah Doni di foto itu bukanlah ekspresi dia yang biasanya. Seorang ibu yang telah melihat raut wajah Doni sejak pertama hadir di dunia ini tentu saja sangat mengenali perubahan demi perubahan pada setiap ekspresi putera semata wayangnya itu.


"Gadis yang sederhana... Sepertinya dia baik." Nyonya Wishnu menggumam lagi di dalam hati.


Alfred sudah selesai menyantap hidangan jamuan di hadapannya. Ia harus segera berpamitan dan kembali ke perusahaan menyelesaikan tugas-tugasnya yang lain.


"Maaf, Nyonya. Apakah ada lagi yang ingin Nyonya ketahui?" Alfred bertanya dengan sopan.


"Oh... Iya, tidak ada. Saya rasa cukup untuk hari ini. Kamu harus kembali ke perusahaan ya... Maafkan saya sudah mengganggu pekerjaan kamu." Nyonya Wishnu berkata dengan lemah lembut.


"Tentu saja tidak, Nyonya! Melayani anda dan Tuan Muda juga adalah tugas utama saya. Begitu perintah Tuan Wishnu." Alfred tersenyum penuh wibawa.


"Oh... Suamiku bisa saja! Baiklah Alfred, saya menunggu perkembangan selanjutnya." Ucap Nyonya Wishnu.


"Siap! Saya mohon izin pamit, Nyonya!" Alfred bangkit dari duduknya, membungkukkan badannya lagi dan berpamitan pada Nyonya Wishnu. Ia bergegas kembali ke gedung perusahaan Tanaka Mining Co. Ltd.


Nyonya Wishnu menghampiri Doni yang masih tertidur lelap di sofa. "Benarkah gadis itu yang mengganggu fikiranmu, Tuan Muda Anthony?" Nyonya Wishnu tersenyum-senyum sendiri memandangi wajah puteranya yang semakin tampan dari hari ke hari.


Doni tiba-tiba menggeliat. Ia berusaha membuka kedua matanya. Sambil menguap, ia mencoba bangun dan duduk di sofa.


"Mama di sini? Ehh... Kita jadi ke yayasan?" Tanya Doni. Ia ingat tadi mamanya mengatakan akan ke yayasan sore ini.


"Jadi dong sayang. Ayo, udahan ngantuknya. Mandi dulu gih!" Seru Nyonya Wishnu. Doni tersenyum tipis dan memeluk mamanya dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1


__ADS_2