Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Cowok Keren


__ADS_3

"Beppp, udah siap kan? Kami otewe ke situ nih!" Nunik mengakhiri panggilan. Vera sudah sampai di depan rumah Nunik. Nunik bergegas keluar dan masuk ke mobil Vera. Sebelum ke rumah sakit, mereka akan menjemput Amanda terlebih dahulu.


Amanda sudah menunggu di depan teras rumahnya. Dia berpamitan pada ayah dan ibunya dan masuk ke mobil Vera.


Setibanya di rumah sakit, Vera langsung menghubungi Andri. "Andri, kami udah di rumah sakit. Teman-teman berkumpul dimana?" Tanya Vera.


Setelah mendapat penjelasan dari Vera, mereka sepakat menunggu di ruang tunggu yang terletak di dekat lobby utama rumah sakit.


"Siapa aja yang ikutan?" Amanda bertanya pada Nunik. "Hemmm... Kayaknya rame juga sih..." Jawab Nunik.


"Andri masih di jalan. Aku udah bilang kita semua pada ngumpul di sini." Ujar Vera sambil menatap kedua temannya.


"OK! Kita lebih aman nunggu di sini..." Nunik memperhatikan sekelilingnya. Ia melirik sebuah kursi kosong di sebelahnya. Ia meletakkan aneka buah-buahan yang mereka beli tadi di atas kursi kosong tersebut.


"Itu mereka!" Seru Vera. Ia melambaikan tangannya agar teman-temannya itu melihat mereka di lobby.


Terlihat lima orang gadis tertawa sumringah. Mereka membalas lambaian tangan Vera.


"Hei... Lama ga jumpa ya!" Ujar Tyas sambil bergantian memeluk Vera, Nunik, dan Amanda. Mereka semua saling bersalaman dan cipika-cipiki.


"Kita nunggu siapa lagi nih?" Tanya Intan, gadis yang paling mungil di antara mereka.


"Hemmm... Kita nunggu Andri dan teman-teman yang lain." Ucap Vera sambil tersenyum manis.


"Wah... Ini jatuhnya kayak reunian ya." Ujar Nunik sumringah. Kedelapan gadis itu saling tertawa.


"Eh... Apa kabar nih siswa SMA Adhyaksa?" Mitha melirik Amanda. "Hemmm... Iya, baik." Ucap Amanda sambil tersenyum.


"Kamu ini... Udah sekolah di sana, kok gayanya masih gini-gini aja sih?" Tyas berkata sambil memandangi Amanda dengan tatapan mencela.


Amanda merasa terpojok tetapi dia memilih berdiam diri. Nunik menatap tajam ke arah Tyas. Tyas membalas tatapan Nunik dengan cibiran.


"Gimana? Udah pada punya cowok baru belum?" Intan bertanya sambil tertawa.


"Ada yang mau balikan sama mantan lohhh!" Seru Tyas sambil melirik sinis Nunik yang berdiri di sebelahnya.


Nunik kini semakin merasa kesal. "Apa urusanmu hahhh!?" Nunik mulai ngegas.


"Hahaha... OK! OK! Itu masih lebih baik daripada jomblo seumur hidup yaaa!" Tyas semakin nyolot. Dia menatap Amanda dan tertawa lebar.


Vera yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka menjadi gusar. "Jangan ribut dong! Ini rumah sakit, bukan pasar!" Tukas Vera.

__ADS_1


"Nyinyir aja ini mulut si Tyas! Sirik aja sama hidup orang!" Tuding Nunik. Dia mendelik membuat Tyas ingin membalas dengan kata-kata yang lebih pedas.


"Itu Andri!" Tunjuk Vera. Terlihat Andri berjalan dengan beberapa siswa laki-laki. Vera melambaikan lagi tangannya agar Andri dapat melihat mereka.


"Apa boleh masuk serame ini?" Mitha bertanya.


"Entah!" Nunik berkata dengan nada ketus sambil mengangkat bahunya.


"Kita nanti bisa masuk bergantian toh!" Ucap Vera.


"Oh... Iya juga ya..." Gumam Mitha.


Segerombolan siswa itu akhirnya berjalan mengikuti Andri menuju ruangan tempat Tiwi dirawat. Amanda berjalan di deretan paling belakang, bersama Nunik yang masih meracau sepanjang jalan.


Tanpa sengaja Amanda berpapasan dengan seorang cowok yang dikenalinya. Cowok itu juga melihat Amanda. Mereka sejenak saling bertatapan.


Cowok itu adalah Vino yang sedang berdiri santai di depan pintu sebuah ruangan. Amanda mulai menimbang-nimbang, apakah dia perlu menyapa Vino atau sebaiknya bersikap seolah mereka tidak saling kenal.


Amanda khawatir jika dia menyapa, Vino nantinya tidak akan membalas sapaan darinya. Tapi Vino jelas melihatnya sejak tadi. Akhirnya Amanda memberanikan diri sekedar menyapa ketika mereka berdua sudah berada dalam jarak yang cukup dekat.


"Eh... Vino!" Sapa Amanda.


Tak disangka-sangka, Vino membalas sapaan Amanda. "Ngapain kamu di sini?!" Tanya Vino.


"Jenguk teman yang dirawat di sini." Jawab Amanda cepat. Dia jadi salah tingkah, kenapa tiba-tiba dirinya refleks dan begitu berani menyapa Vino.


Ah setidaknya Vino peduli padanya kali ini. Setidaknya dia tidak menjadi kambing congek di rumah sakit itu.


"Oh... OK!" Ujar Vino. Dia melihat beberapa teman Amanda meliriknya dengan tatapan kagum.


Amanda dan segerombolan siswa itu terus berjalan meninggalkan Vino yang berdiri santai di depan sebuah ruang bedah. Vino sedang menunggu mamanya yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Hei... Itu siapa?" Nunik bertanya pada Amanda ketika mereka telah berada cukup jauh dari tempat Vino berdiri.


"Teman sekelas ku. Dia ketua kelas kami." Ujar Amanda.


"Ganteng banget!" Seru Intan. Gadis itu terlihat sangat antusias.


"Siapa sih!?" Tanya Tyas penasaran. Dia tadi tidak memperhatikan ketika Amanda menyapa Vino.


"Itu, temannya si Amanda!" Ujar Intan penuh semangat.

__ADS_1


"Cowok SMA Adhyaksa emang terkenal cakep-cakep! Sedunia juga pada tahu!" Ucap Nunik lebay.


Segerombolan gadis itu mulai ber-gossip dengan penuh semangat. Beberapa orang di rumah sakit mulai memperhatikan gerak-gerik mereka.


Andri dan teman-temannya merasa kalah pamor dan kesal. "Hehhh... Bising banget sih! Jaga sikap, ini rumah sakit!" Hardik salah seorang cowok di antara mereka.


"Iya! Kalian ga lihat ya orang-orang pada merhatiin tuh!" Tukas Andri kesal.


Tyas mencibir sambil tertawa cekikikan. Nunik masih sangat terkagum-kagum.


"Kamu ga naksir sama cowok sekeren itu?" Nunik berbisik pada Amanda.


Amanda tertawa pelan. "Keren dimananya? Biasa aja..." Ucap Amanda polos. Dia tertawa sendiri membayangkan jika seandainya Nunik melihat siswa-siswa SMA Adhyaksa yang lain, pastilah Nunik akan lebih terpesona.


Kak Andrew yang luar biasa tampan bak seorang pangeran dari sebuah kerajaan. Anggota OSIS mereka yang luar biasa cakepnya. Belum lagi kakak-kakak kelas yang penuh pesona.


Amanda sendiri mengakui bahwa apa yang selama ini dibicarakan oleh para siswa dari sekolah-sekolah lain ternyata memang ada benarnya.


Cowok-cowok cakep dan cewek-cewek cantik memenuhi SMA Adhyaksa.


Andri menghentikan langkahnya. Dia menatap teman-temannya. "Sepertinya kita nanti akan masuk bergiliran. Kita terlalu ramai." Ujar Andri.


Beberapa siswa laki-laki yang mengikutinya menganggukkan kepala mereka. Semua setuju dengan pendapat Andri.


Akhirnya mereka sepakat membagi kelompok. Satu per satu kelompok akan masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk Tiwi. Sisanya menunggu di ruang tunggu yang terletak tidak jauh dari ruangan tempat Tiwi dirawat.


Vera, Nunik dan Amanda memilih menjadi satu kelompok. Nunik tidak ingin menambah personil. Dia masih sebal dengan Tyas. Vera hanya bisa tersenyum melihat tingkah Nunik.


"Aku do'ain kamu jadian sama cowok tadi." Ujar Nunik tulus.


"Idih... Apaan sih, Nik!?" Amanda mulai protes. Vera berusaha menahan tawanya.


"Iya, aku setuju! Biar kamu ga dikatain lagi jomblo seumur hidup!" Ucap Vera. Dia merasa kasihan melihat Amanda yang selalu jadi bahan bully-an teman-temannya.


Amanda mengernyitkan dahinya. Dia heran mengapa semua teman-temannya merasa bahwa pacaran adalah sebuah kewajiban di masa-masa SMA.


Seolah menjadi seorang jomblo adalah sebuah kesalahan yang fatal. "Apakah berhasil punya pacar yang keren adalah sebuah prestasi!?" Gumam Amanda.


"Aku sekolah untuk belajar. Bukan untuk pacaran..." Amanda kembali menekankan pada dirinya tujuan utamanya bersekolah.


Teringat akan sekolahnya, dia kembali teringat wajah kak Edo. Rasa nyeri kembali hadir di hatinya. Amanda menghirup nafas dalam-dalam. Aroma khas rumah sakit terasa begitu pekat di indera penciumannya.

__ADS_1



__ADS_2