
"Hai, dear!"
"Oooppppssss!! Sorry... Sorry..."
Ryan hampir saja menubruk seorang siswa perempuan yang tiba-tiba lewat di depannya.
Siswa perempuan tersebut tersenyum tipis dan kemudian segera berlalu dari hadapan Ryan.
Amanda yang melihat kejadian itu berkata dalam hati, "Aku yakin sekali cewek itu sebenarnya kesal dengan Ryan!"
"Tapi karena kesemsem lihat si Ryan, dia ga jadi marah!"
"Huhhhh... Dasar! Wajah tampan selalu mudah untuk dimaafkan."
Amanda berceloteh dalam hati.
"Hai, Amanda!"
"Lihatlah! Gara-gara kamu aku sampe ga lihat ada cewek lewat!"
Ryan berseru sambil tertawa sumringah. Dia mencoba menggombali Amanda.
"Hadeuhh... Alasan aja kamu!"
"Memang kamu sembrono dari tadi!" Celutuk Amanda sekenanya.
"Hahaha..." Ryan tertawa.
"Anyway, kamu belum lama nunggu aku kan?" Tanya Ryan.
Amanda menggeleng dan tersenyum.
"Ga kok... Aman!" Sahut Amanda.
"OK!"
"Ayo kita ke SMA Negeri 10!"
Ryan dengan sigap menarik tangan Amanda dan menuntunnya menuju halaman sekolah.
"Eh... Eh... Eh..."
Amanda merasa sungkan diperlakukan begitu.
"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" Ujar Amanda sambil mengibaskan tangannya dari genggaman Ryan.
"Hemmm..."
"OK!" Ucap Ryan.
Amanda akhirnya berjalan di samping Ryan. Mereka tidak lagi bergandengan tangan.
Amanda dan Ryan sama sekali tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang menatap tajam ke arah mereka dari kejauhan.
"Apa yang dilakukan cowok sialan itu?!" Batin Doni kesal.
"Berani-beraninya dia mendekati Amanda seperti itu!" Doni mulai berang.
Doni berfikir apa yang sebaiknya dia lakukan. Dia mulai mempertimbangkan apakah sebaiknya dia membiarkan saja Amanda berjalan bersama Ryan ataukah dia menghardik mereka berdua.
"Hemmm..." Doni menggumam.
__ADS_1
Akhirnya langkah kakinya menuntunnya mengikuti Ryan dan Amanda. Doni berjalan cepat melewati beberapa siswa yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah.
"Amanda!" Seru Doni.
Amanda refleks menghentikan langkah kakinya. Dia merasa mengenali suara yang baru saja memanggil namanya.
"Doni..." Amanda membatin ketika menoleh ke belakang dan melihat Doni berjalan cepat ke arahnya.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Doni dengan nada tidak senang.
Ryan ikut menghentikan langkahnya. Dia menatap Amanda dan Doni bergantian.
"Hemmm... Aku mau ke SMA Negeri 10!" Jawab Amanda.
Doni mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia mencoba mengingat sesuatu.
"Aku dan Ryan mau ngambil hadiah di sana!" Terang Amanda.
Doni baru ingat bahwa Amanda dan Ryan telah memenangkan lomba menulis essay yang mereka ikuti beberapa waktu yang lalu.
Doni menjadi lebih kesal ketika menyadari dirinya tidak menjadi pemenang seperti Ryan.
"Kamu mau ikut?" Tanya Ryan tanpa merasa bersalah.
Doni melirik Ryan. Dia mendamprat kesal dalam hati.
"Iya, Doni. Kalau kamu mau ikutan juga boleh!"
"Bertiga akan lebih seru!" Ujar Amanda penuh semangat.
"Yang benar saja!" Gerutu Doni dalam hati.
"Tidak! Aku ada kerjaan!" Ujar Doni tegas.
Doni mendengus pelan dan pergi meninggalkan Amanda dan Ryan.
"Ya sudah kalau dia ga mau ikutan!" Ujar Ryan.
"Ayo, Amanda! Kita tidak boleh telat! Kita adalah juaranya bukan?!" Ryan berseru sambil tersenyum.
"Iya, betul. Nanti kita malah malu sama panitia." Amanda menimpali.
"Apalagi kamu dan Doni kan sudah jadi idola di sana! Hahaha..." Kelakar Amanda langsung disambut gelak tawa oleh Ryan.
"Dan hari ini fans Doni akan kecewa karena satu idola mereka tidak datang ya. Hahaha!" Ryan tertawa terbahak-bahak. Amanda ikut tertawa.
Sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di tepi jalan tidak jauh dari posisi Amanda dan Ryan berdiri.
Ryan mengenali mobil itu.
Dia lalu mengajak Amanda agar mendekat ke arah mobil sedan tersebut.
"Ayo, Amanda!"
"Silakan masuk, Tuan Putri!"
Ryan mempersilakan Amanda masuk ke mobilnya. Pak Samsul yang duduk di bagian kemudi tersenyum-senyum melihat ekspresi wajah Amanda.
Ini memang bukan pertama kalinya Pak Samsul melihat Amanda. Pria itu sudah pernah beberapa kali melihat Amanda di villa Ryan.
Pak Samsul masih ingat Amanda pernah datang ke villa untuk belajar bersama Ryan dan temannya. Hanya saja Pak Samsul tidak pernah melihat wajah Amanda sejelas ini.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Pak Samsul melihat dengan jelas raut wajah Amanda.
Ekspresi wajah Amanda adalah perpaduan antara kesal dan bingung. Pak Samsul menilai wajah Amanda yang lugu itu sangat menarik di mata Ryan.
Pak Samsul yang telah mengenal Ryan sejak kecil bisa membaca sedikit perasaan di hati anak majikannya itu. Ryan tidak pernah terlihat begitu riang di depan seorang gadis di hadapannya.
Ryan biasanya berusaha menjaga wibawa jika dia berbicara dengan seorang gadis di depan Pak Samsul.
Meskipun Pak Samsul juga sudah hafal sekali dengan sifat manja dan suka bercanda pada dirinya dan istrinya, namun hal itu tidak berlaku jika dia berbicara dengan gadis lain di depan mereka berdua.
Jadi, kali ini sikap Ryan terlihat agak berbeda di mata Pak Samsul. Pak Samsul menduga, Ryan dan gadis ini sepertinya sudah cukup dekat.
"Nak Ryan... Tujuan kiita kemana sekarang?" Tanya Pak Samsul sopan.
"Oh iya... Kita ke SMA Negeri 10 ya, Pak!" Sahut Ryan.
"Baik." Pak Samsul tersenyum dan mengemudikan mobil dengan tenang.
Doni menatap sinis ke arah mobil mewah yang membawa Amanda pergi.
"Dia sudah semakin keterlaluan!" Geram Doni.
Doni bergegas masuk ke dalam mobil Tuan Alfred. Wajahnya yang kaku terlihat menyeramkan.
"Hemmm... Pasti ada yang ga beres nih!" Tebak Tuan Alfred dalam hati.
Doni menatap lurus ke depan. Jalanan yang macet membuat suasana hatinya makin memburuk.
"Tuan Muda, sore ini ada meeting mendadak dengan Tuan Besar." Suara Tuan Alfred memecah keheningan di dalam mobil.
"Oh... Meeting mendadak?" Tanya Doni.
"Benar, Tuan Muda. Nyonya Martha baru saja menghubungi saya dan mengatakan ada hal penting yang harus segera dibicarakan." Terang Tuan Alfred.
"Hemmm..." Gumam Doni.
"Sepertinya ini terkait kasus beberapa hari yang lalu." Ujar Tuan Alfred.
Doni menoleh. Ia menatap wajah Tuan Alfred yang tampan dan tegas.
"Apakah sudah ada titik terang?" Doni penasaran.
"Sepertinya begitu, Tuan Muda." Jawab Tuan Alfred singkat.
"Nyonya Martha sudah berhasil mengusut semuanya. Fakta dan bukti pendukung juga telah berhasil dikumpulkan." Jelas Tuan Alfred.
"Hemmm..." Doni menggumam namun wajahnya terlihat semakin menyeramkan.
Tuan Alfred mengakui dalam hati, meskipun memiliki wajah yang tampan seperti wajah Tuan Wishnu, tetapi Tuan Muda Anthony jauh lebih menyeramkan daripada papanya jika mood-nya sedang tidak baik.
Tuan Alfred bisa merasakan hal itu sejak pertama kali melihat sosok Tuan Muda Anthony. Menurut pengamatannya, dibalik sifat tenang dan pendiam yang dimiliki oleh Tuan Muda Anthony, sesungguhnya dia memiliki karakter yang kuat, pemberani, dan keras hati.
"Saya akan menemui anda kembali nanti sore, Tuan Muda." Ujar Tuan Alfred ketika mereka tiba di perusahaan Tanaka Mining, Co., Ltd.
"OK." Sahut Doni singkat.
Kedua pria muda yang tampan itu berpisah setelah melewati lobby. Mereka menuju ruang kerja masing-masing.
Setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka selalu membungkukkan badan untuk memberi penghormatan.
"Duhhhh... Dua oppa itu bening banget yah!" Seru para karyawan wanita ketika Tuan Muda Anthony dan Tuan Alfred sudah menghilang dari pandangan mereka.
__ADS_1
***