Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Gara-gara Payung


__ADS_3

Setelah beberapa hari yang cerah, hujan akhirnya turun juga pagi ini. Hujan betul-betul mengguyur kota itu dengan deras.


Amanda dan kedua adiknya berdiri dan melongo di teras rumah mereka. Mereka berharap hujan sedikit mereda walaupun mungkin tidak bisa langsung berhenti turun, agar mereka bisa berangkat ke sekolah.


"Deras banget hujannya... Gimana ini kak?" Tanya Mutiara cemas.


"Duhhh... Iya nih, gimana kita berangkat?" Magdalena juga tidak kalah cemas.


"Amanda, jangan lupa bawa payung ya!" Teriak ibu dari belakang. Ibu masih membereskan piring-piring di atas meja makan.


"Iya, bu!" Seru Amanda.


Untung saja ibu mengingatkan dirinya untik membawa payung ke sekolah. Hampir saja ia melupakan hal itu.


Amanda masuk ke dalam kamar dan mengambil payung lipat yang tersimpan rapi di rak. Ia memasukkan payung lipat tersebut ke dalam tasnya.


Setelah itu dia buru-buru kembali ke teras. Amanda melihat Magdalena dan Mutiara saling pandang dengan wajah tidak sabar.


Ayah Amanda muncul dan melihat suasana di sekitar rumah mereka lalu menoleh ke arah langit.


"Ayo, kita berangkat!" Ujar ayah Amanda.


"Tapi ini lagi hujan deras, ayah. Nanti waktu turun dari mobil kita bisa basah kuyup..." Kata Mutiara.


"Kan ada payung! Kalian bawa payung dong!" Amanda memotong kata-kata Mutiara.


"Iya, benar kata kak Amanda. Ayo ambil payung besar di belakang!" Perintah ayah Amanda pada Mutiara.


"Kakak lah yang ambil sana!" Mutiara malah memerintahkan Magdalena mengambilkan payung yang dimaksud ayahnya untuk mereka.


"Ehhh! Enak aja, kan kamu yang disuruh ayah!" Magdalena terlihat kesal karena diperintah oleh adiknya.


"Ahhh... Kakak ini! Pemalas!" Tukas Mutiara sambil ngomel-ngomel.


"Ehhh! Sembarangan mulut kamu tuh ya! Kamu yang pemalas. Kan ayah suruh kamu. Kamu yang pemalas! Dasar manja! Dasar pemalas!" Magdalena mengomel panjang lebar.


Mutiara terlihat ingin menjawab omelan kakaknya. Namun Amanda dengan sigap mencoba menenangkan kedua adiknya yang sedang bersitegang.


"Udah! Udah! Udah! Biar kakak yang ambil. Heboh bener sih, cuma perkara payung doang bisa sampe bising gitu. Huhhhh..." Gantian Amanda yang mengomel panjang lebar sambil masuk ke dalam untuk mengambil payung.


Ayah Amanda geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anaknya.


Amanda kembali sambil membawa payung besar di tangannya.


"Aku ga mau pegang!" Tukas Magdalena.

__ADS_1


"Masa aku yang pegang sih!?" Seru Mutiara.


"Hadeuhhh... Selo dong, gaes! Nanti kakak yang pegang payungnya buat kalian. Toh payung ini kan bisa ditinggal di mobil sama ayah!" Amanda memberi solusi lagi agar perang saudara tidak pecah pagi itu.


Ayah Amanda lalu berjalan ke garasi rumah dan mengeluarkan mobil usang mereka menuju halaman rumah.


"Ayo! Lekaslah!" Teriak ayah dari dalam mobil.


Sambil ngedumel, Magdalena mengambil payung besar di tangan Amanda.


"Kamu pake payung lipat ini aja!" Amanda memberikan payung miliknya untuk Magdalena.


Magdalena berjalan cepat di tengah hujan dan bergegas masuk ke mobil.


"Ayo!" Amanda menarik tangan Mutiara bersama dirinya.


Mereka menerobos hujan dengan menggunakan payung yang lebih besar tadi.


"Arah sekolah kamu sepertinya tidak hujan..." Ujar Ayah Amanda.


"Oh ya!?" Tanya Amanda.


"Ya, tapi tetap sediakan saja payung!" Kata ayah.


Mereka lalu berangkat menuju ke sekolah Magdalena. Magdalena dan Mutiara saling diam di dalam mobil. Amanda berusaha sabar dan tidak terlarut emosi melihat sikap kedua adiknya.


Beberapa menit berlalu. Langit terlihat semakin gelap. Sepertinya prediksi ayahnya Amanda keliru. Hujan mulai turun deras lagi.


"Wahh... Malah makin deras..." Keluh Amanda.


Dia berdo'a dalam hati agar hujan tidak semakin deras. Meskipun dia sudah menyediakan payung, tetap saja jika hujan sederas ini, dia bisa kebasahan.


Ayah Amanda tiba-tiba menghentikan mobil mereka. Amanda merasa sedikit kaget.


"Ohhh... Ternyata lampu merah..." Batin Amanda.


Tadinya dia merasa sedikit terkejut mengapa ayahnya tiba-tiba menghentikan mobil mereka.


Amanda tidak bisa melihat dengan jelas ke depan karena hujan turun terlalu deras.


Lampu lalu lintas yang berwarna hijau telah menyala. Amanda melirik ke arah lampu lalu lintas tersebut. Samar-samar dia bisa melihat bulatan lampu berwarna hijau telah menyala.


"Bahaya ini kalau ada genangan air." Ujar ayah Amanda.


"Kenapa ayah?" Tanya Amanda.

__ADS_1


"Mobil ini bisa mogok kalau kemasukan air." Terang ayah Amanda.


"Ohh... Iya ya..." Desis Amanda.


Amanda bisa memaklumi jika mobil tua ayahnya itu tidak bisa hidup jika kemasukan air.


"Mudah-mudahan jalanan ga banjir..." Amanda berdo'a dalam hati.


Amanda tiba-tiba teringat akan teman-temannya di SMA Adhiyaksa. Mereka adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang berada. Berbeda sekali dengan dirinya.


Teman-temannya di SMA Adhiyaksa selalu diantarkan oleh driver pribadi mereka dengan mobil-mobil mewah.


Sehingga hujan deras ataupun genangan air bukan kendala bagi mereka. Para driver pribadi itu siap untuk memayungi tuan atau anak majikan mereka setiap saat. Benar-benar pelayanan yang sempurna bagi anak-anak orang kaya.


Tentu saja itu tidak terjadi dalam hidup seorang Amanda. Seorang anak yang berasal dari keluarga yang hidup pas-pasan. Jadi Amanda tidak pernah berharap akan mendapatkan pelayanan yang seperti itu. Jangankan berharap, bermimpi pun Amanda tidak akan berani.


"Sudah gerimis lagi." Ujar ayah Amanda.


"Iya ya, ayah... Syukurlah... Susah juga kalau hujannya sederas tadi." Amanda menimpali.


Amanda tiba-tiba melihat sebuah pemandangan yang menyentuh hati. Ia melihat dua orang anak kecil dengan seragam SD sedang mendayung sepeda di tepi jalan.


Anak yang duduk di belakang terlihat lebih kecil daripada anak yang mendayung sepeda di depan. Mungkin mereka kakak beradik.


Sang adik memegangi payung kuat-kuat agar dia dan kakaknya tidak kebasahan karena hujan gerimis.


Sambil lewat, Amanda melirik lagi anak-anak tersebut. Wajah kedua anak itu terlihat gembira. Mereka tertawa di dalam hujan. Amanda merasakan sesuatu di hatinya.


Baru saja dia berfikir betapa bahagianya menjadi anak orang kaya uang selalu dinaungi fasilitas-fasilitas yang mewah dan nyaman.


Namun apa yang baru saja dilihatnya seolah menyentil hati sanubarinya. Anak-anak yang hidup dalam kehidupan mereka yang sederhana juga terlihat sangat bahagia dan menikmati hidup mereka yang apa adanya tanpa keluh kesah yang berlebihan.


Bahkan terkadang anak-anak yang terlahir di dalam keluarga yang kaya raya sering tidak seberuntung anak-anak yang hidupnya lebih sederhana namun berbahagia.


Mereka belum tentu mampu membeli kebahagiaan dengan sejumlah uang. Karena sesungguhnya kebahagian itu ada di dalam hati, dan tidak dapat dibeli.


Kebahagiaan adalah rahmat dan kasih sayang Tuhan yang diberikan kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya.


Dia merutuki dirinya sendiri yang sering kali mengeluh dan lupa bersyukur. Selalu melihat ke atas dan melupakan bahwa di dunia ini masih banyak orang yang hidupnya lebih sulit, tetapi mereka tidak lupa bersyukur dan berbahagia.


Sepanjang jalan Amanda terus saja merenung. Dia tiba-tiba mendapat pelajaran berharga lagi pagi ini.


"Sadarlah, Amanda. Jangan lupa berbahagia..." Amanda membatin.


----------

__ADS_1


__ADS_2