Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Bertamu di Rumah Amanda


__ADS_3

"Tuan Alfred, upayakan mobil yang lain saja." Pinta Doni melalui chat yang dikirimkannya langsung ke wa sekretaris pribadinya.


"Siap, Tuan Muda." Alfred membalas cepat.


Tuan Alfred sudah mengetahui apa tujuan Tuan Muda Anthony meminta dirinya dijemput dengan mobil lain. Mobil biasa bukan mobil mewah.


Tuan Muda Anthony tentu tidak ingin selalu terlihat dengan mobil mewah jika nanti mengantar Amanda pulang ke rumahnya. Itu akan mencolok sekali. Bisa menarik perhatian warga di sana.


Dengan cepat Tuan Alfred bisa mendapatkan mobil yang sesuai dengan keinginan Tuan Muda Anthony. Tentu saja mobil biasa tersebut tidak berasal dari garasi rumah Tuan Wishnu. Tidak ada mobil biasa di sana.


Di dalam garasi rumah pribadi Tuan Wishnu Rafsanjani hanya bisa ditemukan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi.


Doni melanjutkan fokusnya kembali kepada pelajaran yang sedang disampaikan oleh Coach Winnie. Semua terlihat mencatat dengan serius di buku catatan masing-masing.


"OK, guys... Untuk selanjutnya diskusi kita bisa via grup saja. Semangat! Good luck for you all." Coach Winnie menyampaikan kalimat penutupnya.


Amanda manggut-manggut. Doni duduk dengan tenang. Ryan berkata, "Terima kasih, miss. Senang belajar dengan miss."


Coach Winnie tersenyum puas. Dia lalu berpamitan dan pulang lebih dahulu seperti biasa.


"Kami pulang ya Ryan. Makasih untuk kelas coaching ini. Bermanfaat sekali." Ujar Amanda.


"You're welcome! Semoga kita bisa menang!" Seru Ryan.


"Hahaha... Iya, mudah-mudahan begitu!" Harap Amanda.


"Heyyyy... Optimis dong! Ya ga, Don?" Ujar Ryan sambil menepuk pundak Doni.


"Hemmm..." Balas Doni dengan gumaman.


"Ehh... Mengenai biayanya gimana, Ryan?" Tanya Amanda.


Amanda baru teringat bahwa dirinya sama sekali belum pernah membayar uang pelatihan bersama Coach Winnie ini.


"Ahhh... Santai saja, teman-teman. Semua sudah beres." Ujar Ryan sambil mengantar Doni dan Amanda sampai ke halaman depan villa.


"Hahhh... Apa? Maksudnya gimana? Kamu yang bayar semua?" Amanda bertanya dengan nada suara agak panik.


"Ya, ga masalah bukan? Hahaha..." Ryan bertanya balik sambil tertawa.


"Biaya coaching ini ga mahal kok..." Ujar Ryan lagi ketika melihat Amanda seperti ingin protes.


"Iya! Tapi ga bisa gitu dong! Kita kan belajar bareng. Masa bayarnya cuma kamu sendirian!" Seru Amanda.


"Hahaha... Calm down, friend... Anggap saja ini tanda terima kasih dariku karena sudah ditraktir uang pendaftaran lomba kemarin!" Tutur Ryan sambil tersenyum ke arah Doni.


Doni pura-pura cuek. Dia sepertinya tidak ingin terlibat dalam perdebatan antara Amanda dan Ryan. Di satu sisi, dia juga salut dengan Amanda. Bisa-bisanya Amanda teringat tentang biaya coaching mereka. Sementara dirinya bahkan tidak ingat sama sekali mengenai hal itu.


"Ayo!" Ajak Doni pada Amanda ketika sebuah mobil Avanza berwarna silver terlihat masuk ke dalam pekarangan villa.


"Baiklah... Terima kasih banyak, Ryan!" Ucap Amanda.


Ryan mengangguk dan tertawa. Dia melambaikan tangan dengan wajah ceria ketika mobil tersebut meninggalkan villa.


"Aduhhh... Aku jadi ga enak nih sama kalian..." Desis Amanda ketika ia dan Doni sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa?" Tanya Doni.

__ADS_1


"Ya ga enak lah! Kamu udah bayarin uang pendaftaran, Ryan bayarin uang pelatihan. Aku ga bayar apa-apa loh!!! Ujar Amanda setengah berteriak.


Tuan Alfred melirik sekilas dari kemudi depan. Doni menarik nafas panjang.


"Hemmm... Kalau gitu, kamu harus menang!" Sahut Doni asal.


"Apa?" Amanda terlihat sedikit shock.


Doni tersenyum simpul. Seperti biasa, Amanda sedikit terpesona melihat senyuman Doni. Namun dia berusaha terlihat tenang dan tidak tergoda.


"Menang? Hemmm... Mudah-mudahan ya..." Gumam Amanda pelan tapi terdengar jelas di telinga Doni.


"Aku antarin sampai ke rumah ya!" Ujar Doni.


"Hemmm... Apa tidak merepotkan?" Tanya Amanda.


"Ga. Hari ini aku ga sibuk..." Sahut Doni.


"Baiklah kalau gitu..." Ujar Amanda sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian, Tuan Alfred berbelok ke arah sebuah gang kecil dan tidak lama kemudian mereka telah tiba di depan halaman rumah Amanda.


"Ayo, mampir dulu! Kamu kan ga buru-buru hari ini." Ajak Amanda ketika mereka tiba di depan rumah Amanda.


"Hemmm..." Gumam Doni.


Doni bingung mengambil keputusan harus bagaimana. Amanda sudah keluar dari mobil.


"Silahkan, Tuan Muda. Saya akan menunggu di depan sana." Tuan Alfred menunjuk sebuah lapangan kosong tidak jauh dari rumah Amanda.


Tentu saja Tuan Alfred sudah pernah beberapa kali ke daerah itu untuk mengumpulkan informasi tentang Amanda dan keluarganya. Informasi tersebut kemudian dilaporkan oleh Tuan Alfred kepada Nyonya Wishnu.


Amanda tersenyum pada Doni. Dia lalu mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah. Terdengar sahutan dari dalam rumah.


"Ayo, masuk Doni. Hehehe..." Ujar Amanda sambil mempersilahkan Doni masuk ke dalam rumah.


Doni tidak menjawab sepatah kata pun tetapi dia menurut pada perintah Amanda.


Dalam hatinya Doni berkata, "Rumahnya sederhana sekali."


Rumah Amanda memang berukuran kecil. Hanya terdiri dari dua buah kamar tidur, sebuah dapur kecil, sebuah kamar mandi, dan sebuah ruang tamu yang sederhana.


Doni menghitu-hitung, sepertinya garasi di rumahnya masih jauh lebih besar ukurannya dari rumah Amanda.


"Ehh... Ada teman ya, nak?" Tanya ibunya Amanda ketika melihat Amanda masuk dengan seorang cowok yang tampan.


"Iya, bu. Ini Doni. Kami sama-sama belajar tadi, bu." Terang Amanda.


"Ohhh... Iya... Nak Doni sudah makan siang?" Tanya ibunya Amanda.


"Hemmm..." Doni hanya menggumam, bingung harus menjawab apa.


"Amanda, ayo ajak temannya makan siang dulu. Ini udah siang kan?" Ujar ibu Amanda.


"Ohh... Iya, bu." Sahut Amanda.


"Sebentar ya, aku nyimpan tas dulu. Kamu duduk aja dulu di sini." Kata Amanda.

__ADS_1


Doni tidak menjawab hanya mengangguk saja. Selepas Amanda masuk ke dalam kamarnya, Doni memperhatikan sekeliling ruang tamu. Benar-benar jauh berbeda dari ruang tamu di rumahnya.


Di sini hanya ada kursi kayu model lama, hiasan rumah yang sederhana. Namun suasana di rumah itu cukup adem. Ventilasi udara cukup, sehingga rumah tetap terasa teduh meskipun cuaca di luar cukup terik.


Berbeda dengan rumahnya, AC harus on setiap hari. Jika tidak, bisa dipastikan Doni tidak bisa merasa nyaman di rumahnya sendiri.


Amanda keluar dengan tergopoh-gopoh. Dia membawa sebuah nampan berukuran sedang berisikan segelas teh hangat dan menu makan siang.


"Hehehe... Ayo, kita makan dulu. Ibu kebetulan masak sayur asem dan ayam goreng." Ujar Amanda sambil menyajikan menu makan siang itu di atas meja.


"Hemmm... Terima kasih." Ucap Doni.


Doni merasa sungkan namun Amanda terlihat cuek saja.


"Ayo, Don. Makan. Sorry, cuma menu sederhana." Ujar Amanda berbasa-basi.


"Kak, tempe bacemnya ketinggalan nih!" Teriak Magdalena dari dapur.


Magdalena lalu datang membawakan sepiring kecil penuh berisikan tempe bacem.


"Ohh iya... Aku lupa. Hehehe..." Ujar Helena pada adiknya.


Magdalena terpukau sejenak melihat Doni. Teman kakaknya itu terlihat keren seperti aktor bintang film.


"Kamu mau ikutan makan?" Sindir Amanda pada Magdalena.


"Ga kak..." Ujar Magdalena lalu buru-buru balik ke dapur.


Magdalena tidak tahan untuk tidak ber-gossip dengan Mutiara. Mutiara pelan-pelan mengintip ke ruang tamu. Dia ikut cekikikan berdua dengan Magdalena. Amanda bisa mencium bau-bau keusilan adik-adiknya. Namun dia tidak ingin membuat kehebohan di depan Doni.


"Husss... Jangan begitu. Ga boleh gitu, ga sopan." Hardik ibu.


Magdalena dan Mutiara saling cemberut. Kedua anak perempuan itu masuk ke kamar dengan hati penasaran.


Doni menyantap hidangan yang disajikan dengan lahap. Menu yang sederhana namun cukup lezat. Cocok sekali disantap siang-siang begini. Tanpa sadar, Doni menghabiskan makanannya dengan cepat.


"Hehehe... Gimana? Enak?" Tanya Amanda tanpa basa-basi.


"Hemmm..." Doni mengangguk pelan.


"Aku ga bisa lama-lama nih." Ujar Doni ketika dia ingat Tuan Alfred yang sedang menunggunya di luar.


"Ohh... Iya, gapapa. Biar aku sampaikan ke ibu dulu ya kalau kamu mau langsung pulang." Ujar Amanda.


Amanda memindahkan sajian makan siang mereka dan menemui ibu di dapur.


"Bu, teman Amanda itu mau pamit pulang." Kata Amanda sambil meletakkan nampan tadi di atas meja makan.


"Ohh... Iya... Iya... Sudah makan kan?" Tanya ibu sambil melirik isi nampan yang sudah ludes.


Amanda mengangguk cepat. Dia dan ibunya kemudian pergi ke ruang tamu.


Doni bangun dari duduknya dan berpamitan pada ibu Amanda.


"Terima kasih, bu. Untuk makan siangnya. Saya pamit dulu." Ujar Doni sopan.


"Ohh... Iya, nak. Hati-hati ya." Ucap ibunya Amanda.

__ADS_1


Amanda mengantar Doni sampai ke halaman depan rumah. Ibunya Amanda memperhatikan Doni dari ujung sepatu hingga ke ujung rambutnya.


"Hemmm... Sepertinya dia bukan anak sembarangan..." Batin ibunya Amanda.


__ADS_2