Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Pameran Karya Ilmiah


__ADS_3

Amanda menghirup minuman boba yang baru saja dibelinya sambil memperhatikan suasana keramaian di sekitar aula SMA Negeri 10.


Beberapa siswa SMA Negeri 10 yang bertugas sebagai panitia pameran terlihat sibuk sekali. Para guru pendamping juga terlihat berseliweran di sana, keluar masuk aula.


Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Amanda menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Pengunjung pameran terlihat belum terlalu ramai. Mungkin dikarenakan hari ini adalah hari Minggu, dan waktu juga terbilang masih cukup pagi.


Bagi para siswa pada umumnya, hari Minggu adalah hari yang paling tepat untuk bersantai di rumah. Bisa tidur tenang sampai matahari meninggi pada hari Minggu adalah suatu kebahagiaan yang hakiki.


Namun hari ini Amanda tentu saja juga tetap merasa berbahagia karena bisa mengikuti pameran ini. Dia sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam ruangan aula yang sangat luas tersebut, namun seorang Amanda bukanlah gadis yang tercipta dengan kepercayaan diri setinggi itu.


Melihat kerumunan siswa yang mulai berdatangan, membuat nyali Amanda menciut. Sehingga dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam aula dan memilih duduk di bangku taman sekolah sambil menanti kedatangan Ryan, temannya.


Teman!?


Sejak kapan kami mulai berteman?


Amanda menerawang sejenak, rasanya aneh sekali. Dia dan Ryan baru saja berkenalan. Itu pun secara tidak sengaja. Kini dia sendiri merasa heran, mengapa sekarang dirinya malah janjian berdua dengan Ryan pada hari Minggu ini.


Berdua?


Ya, hanya berdua. Aneh sekali, bukan!?


Dia merutuki dirinya yang benar-benar lupa mengajak teman-temannya yang lain. Padahal bisa saja dia mengajak Helena, teman sebangkunya.


"Ahh... Tapi Helena mungkin ga sreg diajak ke acara beginian..." Batin Amanda.


Amanda berfikir seharusnya dia mengajak Yuni atau Amel. Mungkin kedua gadis itu mau menemaninya di sini.


"Kenapa aku ga ngajak Doni aja ya? Hemmm..." Gumam Amanda sambil menghirup lagi minuman boba yang sedang dipegangnya.


Tiba-tiba saja dia teringat cowok tampan yang aneh itu.


Bukankah tadi malam Doni juga menghubunginya? Amanda benar-benar menyesali mengapa dirinya tidak mengajak Doni.


"Huhhh... Anak aneh itu sih! Gara-gara kebanyakan gombal, aku jadi linglung sendiri." Amanda ngomel-ngomel di dalam hati.


Amanda merasa Doni sekarang memang sering bersikap aneh terhadap dirinya. Doni bahkan kerap kali menyatakan perasaannya, sambil menatap tajam mata Amanda.


Akan tetapi, seorang Amanda yang polos belum bisa memahami arti tatapan mata Doni. Ia hanya bisa tersipu jika ditatap begitu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Bodohnya aku... Apa sih maksudnya dia? Apa dia benar-benar menyukaiku? Dia sebenarnya mau apa?" Pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya itu membuat Amanda merasa deg-degan sendiri.


Demi menghilangkan rasa deg-degan di hatinya, Amanda memeriksa telpon genggamnya. Ryan belum membalas pesannya, bahkan cowok itu belum membaca pesan terakhir dari dirinya.


"Idihhh... Katanya jam sembilan. Ini udah mau setengah sepuluh..." Amanda mulai mengeluh.


Smartphone Amanda berdering. Amanda dengan cepat menerima panggilan dari Ryan.


"Halo..." Ucap Ryan.


"Halo, Ryan. Kamu dimana?" Tanya Amanda cepat.


"Aku udah di depan gerbang nih. Kamu dimana? Udah nyampe atau masih di jalan?" Tanya Ryan.


"Aku udah nyampe dari jam sembilan tadi lohhh..." Ujar Amanda dengan intonasi suara yang dibuat sewajar mungkin.


"Whatttt!? Oh my God! I'm sorry, honey!" Seru Ryan. Dia mulai menyadari bahwa Amanda sepertinya sedang kesal.


"Hemmm..." Amanda hanya menggumam pelan.


"Ya sudah, kamu nunggu di mana nih?" Ryan melangkah ke dalam pekarangan SMA Negeri 10 sambil memutar pandangannya ke sekeliling penjuru sekolah.


"Hemmm... Aku di bangku taman, di depan aula." Ujar Amanda.


"Oh... OK. Tunggu ya, aku segera ke situ." Ryan mengakhiri panggilan dan berjalan cepat menuju aula.


Ryan dengan cepat dapat menemukan gadis yang sedang duduk sendirian di bangku taman. Amanda menoleh ketika Ryan memanggil namanya dari kejauhan.


"Hehehe... Maaf ya, aku telat!" Ujar Ryan cengengesan.


"Gimana sih kamu! Janjinya jam sembilan kan?" Tanya Amanda sewot.


"Hehehe... Iya, maaf sayang. Aku ketiduran. Lagi pula, maksudku jam 9 aku berangkat dari rumah..." Ryan mulai mencari-cari alasan.


Amanda hanya diam dan bertahan dengan wajahnya yang terlihat sedikit kesal. Ryan terkekeh sendiri.


"Jangan ngambek gitu dong!" Sambil duduk di samping Amanda, Ryan mulai mengeluarkan bujuk rayunya.


Amanda semakin manyun. Dia bangun dari tempat duduknya dan berjalan sedikit untuk membuang kemasan minuman boba tadi ke tong sampah yang terletak tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Ryan menatap Amanda yang sedang membelakanginya. Rambut hitam Amanda yang dikuncir kuda terlihat serasi dengan dandanannya yang simple dan natural. Sederhana saja.

__ADS_1


"Dia manis juga..." Gumam Ryan.


"Ayo... Kita masuk!" Ajak Amanda ketika melihat Ryan yang sedang melongo di bangku taman.


Ryan bangkit dari duduknya dan berjalan santai ke arah Amanda. Mereka berdua kemudian masuk ke aula dan mulai mengisi buku tamu.


Panitia yang bertugas menyambut tamu, melirik Ryan sekilas. Gadis itu sepertinya terkesima dengan penampilan Ryan pagi ini. Ryan dengan wajahnya yang tampan dan ramah memang terlihat keren sekali dengan outfit yang santai namun cukup elegant. Ditambah lagi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap, membuat dia dengan mudah menjadi pusat perhatian di tengah keramaian.


"Terima kasih, kak..." Gadis itu melempar senyum manis pada Ryan.


Ryan membalas dengan senyuman yang tidak kalah ramah, membuat beberapa panitia di sekitar mereka menjadi heboh.


Amanda yang sejak tadi berdiri di belakang Ryan, mendengus pelan ketika melihat reaksi gadis-gadis itu.


"Wahhh... Dari SMA Adhyaksa... Pantesan ganteng bangetttt!!" Suara seorang gadis di antara panitia tersebut sayup-sayup terdengar di telinga Amanda.


"Apa di sekolah ini ga ada cowok keren? Sampe segitunya..." Amanda protes di dalam hati.


"Kita ke stand mana dulu nih?" Tanya Ryan.


Amanda mencoba memperhatikan sekeliling mereka. Dia mengitari pandangannya ke sekeliling aula yang sudah didesain sedemikian rupa.


"Hemmm..." Gumam Amanda bingung.


"Kita ke situ dulu..." Ryan menarik tangan Amanda agar mengikutinya.


Amanda memilih pasrah mengikuti Ryan yang membawa dirinya menuju stand pameran karya tulis ilmiah bidang teknologi. Stand pameran tersebut berada di samping stand pameran karya tulis ilmiah bidang sains.


Stand teknologi cukup luas dibandingkan dengan stand bidang lainnya. Beberapa karya tulis imiah yang telah memenangkan perlombaan tingkat nasional terpajang rapi di dinding stand.


Ryan sedang melihat sebuah pigura besar berisikan dokumen karya tulis ilmiah yang menjadi pemenang pertama kontes menulis karya ilmiah tingkat provinsi tahun lalu ketika seorang siswa mendekat dan menyapa dirinya dengan ramah.


"Hai kak..." Tegur siswa tersebut ramah.


Ryan menoleh. Sambil tersenyum dia berkata, "Oh... Hai..."


"Kakak, kita lagi buka pendaftaran untuk lomba menulis essay nih. Kalau boleh tahu kakak dari sekolah mana nih?" Siswa itu bertanya dengan sopan.


Amanda yang sejak tadi berdiri di samping Ryan menoleh ketika mendengar kata-kata "lomba menulis essay". Dia sepertinya mulai tertarik dengan informasi yang disampaikan oleh siswa yang ternyata adalah panitia acara pameran tersebut.


"Oh... Iya, kita dari SMA Adhyaksa." Ujar Ryan memperkenalkan dirinya dan Amanda.


"Wowww... Keren sekali, kakak! Kita bakalan seneng banget kalau kakak berdua bersedia mengikuti perlombaan di tempat kita lohhh... Pastinya akan ada hadiah-hadiah yang menarik." Siswa tersebut mulai mengeluarkan kalimat-kalimat yang persuasif.


"Hemmm... Gimana menurut kamu?" Ryan akhirnya meminta pendapat Amanda setelah sekian lama Amanda diam saja dan sepertinya tidak mengerti kode dari dirinya.


"Apa? Tentang apa nih?" Tanya Amanda polos.


"Hahaha... Tentang lomba essay ini dong, sayang. Masa tentang minuman boba kamu!" Ryan mulai berkelakar.


"Diiihhhh... Apaan sih? Kenapa lari ke minuman boba?" Amanda mulai sewot lagi.


Ryan tertawa lebar. Siswa tersebut ikut tertawa. Amanda menjadi sebal sendiri.


"Gimana kakak cantik? Mungkin kakak-kakak yang cantik dan ganteng ini bersedia mendaftarkan diri di perlombaan essay yang diadakan oleh sekolah kita?" Siswa tersebut bertanya sambil tersenyum ramah dan mengambil dua buah brosur di atas meja panitia.


Ia menyerahkan brosur-brosur tersebut pada Ryan dan Amanda. Ryan membaca isi brosur itu dengan cermat.


"Plusnya lagi kakak, kita bakalan mengikutsertakan para pemenang kita di ajang menulis essay tingkat nasional yang akan diselenggarakan semester depan." Siswa tersebut menjelaskan target yang ingin dicapai secara detail.


"Hemmm..." Gumam Ryan.


"Siapa tahu kakak berdua ini nantinya yang jadi juaranya kan ya... Biasanya siswa-siswa SMA Adhyaksa terkenal sebagai siswa-siswa yang berprestasi." Puji siswa tersebut.


Ryan tertawa kecil. Amanda terlihat seperti ingin bertanya.


"Kamu mau nanya, Amanda?" Tanya Ryan.


"Errrr... Iya nih..." Ujar Amanda.


"Yup! Silahkan kakak... Duduk dulu kakak, biar lebih enak kita ngobrolnya." Siswa itu tersenyum dan menyodorkan dua buah kursi untuk Ryan dan Amanda.


Setelah Ryan dan Amanda duduk dengan nyaman, siswa itu melanjutkan penjelasannya.


"Ohh... Kakak-kakak ini masih kelas X tohhh... Aman kakak, lomba ini boleh diikuti oleh siswa kelas X sampai kelas XII." Ujar siswa tersebut.


"Yang penting sudah SMA, kakak... Hehehe... Lombanya khusus buat siswa SMA." Sambung siswa tersebut.


"Hemmm... OK. Kita coba ikutan deh." Ryan berkata dengan mantap.


"Apa? Kita? Elo kaliiii..." Tukas Amanda.

__ADS_1


"Heiiii... Kamu kan ikut ekskul kelas menulis! Bukannya ini cocok buat kamu?" Ujar Ryan.


"Hemmm... Iya sih. Tapi aku belum pernah ikutan yang beginian..." Amanda terlihat ragu.


"Ahh... Itu mah gampang. Ntar kita belajar bareng." Sergah Ryan.


Siswa SMA Negeri 10 itu akhirnya menyunggingkan senyum lebar. Dia mengambil dua buah formulir dan mengarahkan Ryan untuk mengisi formulir tersebut.


Ryan menuliskan namanya dan mengisi formulir pendaftaran itu sesuai arahan panitia. Seorang panitia lainnya mengambil foto Ryan dan Amanda yang sedang mengisi formulir pendaftaran tersebut.


"Ryan, ini kita isi apa?" Tanya Amanda.


"Hemmm... Motivasi ya?" Ryan terlihat berfikir sejenak.


"Oh... Ini bisa diisi motivasi atau mungkin tujuan kakak-kakak mengikuti lomba ini..." Siswa tadi menjelaskan secara singkat pada Amanda.


"Oh... OK... Terima kasih penjelasannya, kak..." Ucap Amanda sopan.


Stand mulai ramai didatangi pengunjung. Panitia bergerak cepat menawarkan brosur lomba pada para siswa yang ada di sana. Beberapa siswa langsung menolak dengan sopan. Ada juga siswa yang tertarik dan bertanya pada panitia.


"Terima kasih, kakak-kakak sudah bersedia mendaftarkan diri di acara kita. Untuk jadwal perlombaan dan technical meeting, bisa dilihat di brosur ya kak... Nanti kakak-kakak akan kita undang ke grup peserta lomba supaya kakak-kakak bisa selalu update info dari panitia." Siswa tersebut mengakhiri penjelasannya.


"OK. Thanks..." Ucap Ryan sambil tersenyum.


"Kita ke sebelah yuk!" Ryan berkata pada Amanda.


Mereka berdua lalu meninggalkan stand teknologi dan masuk ke stand sains. Stand sains masih agak sepi, tidak seramai stand teknologi. Hanya ada tiga orang siswa pengunjung dan dua orang panitia yang bertugas menjaga stand.


Ryan melihat-lihat karya ilmiah tentang ilmu astronomi dengan penuh minat.


"Kamu bener-bener suka astronomi ya?" Tanya Amanda.


Ryan mengangguk tanpa menoleh. "Aku mau jadi peramal." Ujar Ryan sekenanya. Amanda tergelak sendiri.


Smartphone Amanda bergetar dan berdering di dalam tote bag yang dibawanya. Amanda melihat panggilan video dari Doni.


"Haiiii... Ada apa nih?" Ujar Amanda ketika melihat wajah Doni muncul di layar ponselnya.


"Kamu lagi dimana?" Tanya Doni.


"Oh... Aku lagi di pameran, di SMA Negeri 10." Jawab Amanda.


"Pameran? Pameran apa?" Doni bertanya lagi.


"Pameran karya ilmiah..." Ucap Amanda sambil melirik Ryan yang tiba-tiba berjalan mendekatinya.


"Hemmm..." Doni menggumam sambil memperhatikan suasana di sekitar Amanda.


"Ehh... Ada karya kakak kelas kita lohhh! Gila! Juara satu tingkat nasional! Wowww..." Seru Ryan.


Doni menajamkan penglihatan dan pendengarannya, menyimak suara yang sepertinya dikenalinya.


"Kak Angga ya..." Gumam Amanda.


Ryan mengangguk cepat. Dia kemudian meninggalkan Amanda, berjalan ke sudut stand dan berdiri dengan santai di sana sambil membaca cepat sebuah karya ilmiah lainnya.


"Kamu sama siapa di situ?" Doni mulai kepo.


"Sama Ryan." Jawab Amanda santai.


"Apa?!" Doni tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.


"Doni, udah dulu yahhh... Aku mau keliling stand dulu..." Kata Amanda ketika melihat Ryan memberi tanda untuk meninggalkan stand tersebut.


"Hemmm... OK..." Doni langsung mengakhiri panggilan video tersebut.


Doni merasa hatinya panas bukan main.


"Ryan... Apa yang mereka lakukan di sana?" Doni mulai meradang.


"Halo... Tuan Alfred, kita ke SMA Negeri 10 sekarang." Doni menghubungi sekretaris pribadinya.


"Siap, Tuan Muda. Saya akan segera menjemput anda." Alfred menjawab dengan sigap.


Kedua cowok tampan itu berkemas dengan cepat. Alfred bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Tuan Muda Anthony tiba-tiba memutuskan pergi ke sekolah di hari Minggu.


Lagipula Tuan Muda Anthony biasanya menghabiskan hari liburnya dengan bersantai di rumah. Tuan Wishnu membebaskan puteranya dari aktivitas pekerjaan maupun latihan di hari Minggu.


Mengapa pagi ini Tuan Muda malah mendadak ingin ke sekolah?


"Hemmm... Ada apa di SMA itu?" Gumam Alfred penasaran.

__ADS_1



__ADS_2