Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Pesta Makan Malam


__ADS_3

“Tuan Muda, anda sudah ditunggu untuk acara makan malam.” Seru Pak Wicaksono dari depan kamar.


Doni membuka pintu kamarnya. “Mari pak.” Ucap Doni dan menutup kembali pintu kamarnya.


“Mohon maaf Tuan Muda, saya jadi mengganggu waktu istirahat anda.” Pak Wicaksono berkata lagi.


“Oh… Tidak apa-apa, pak.” Doni tersenyum pada Pak Wicaksono. Mereka berdua menuju taman belakang, tempat dilaksanakannya pesta makan malam.


Nyonya Wishnu tersenyum sumringah ketika melihat Doni dan Pak Wicaksono berjalan bersama.


Doni melangkah dengan santai, melewati beberapa pelayan yang sedang menyajikan makanan pembuka untuk menu malam ini.


Beberapa pelayan membungkukkan badan ketika melihat Doni dan Pak Wicaksono lewat di hadapan mereka.


Doni menyapa para pelayan sambil tersenyum. Pak Wicaksono berpamitan pada Doni dan melanjutkan tugasnya mengatur segala sesuatu agar berjalan lancar sesuai rencana.


Siluet Doni tampak begitu sempurna di bawah cahaya temaram lampu taman. Penampilannya yang casual tetap terlihat elegant. Aura sosok Tuan Muda sepertinya memang sudah melekat pada dirinya.


“Sayang, ayo kemari.” Nyonya Wishnu memanggil Doni mendekat ke arahnya. Doni memahami dan mengikuti perintah mamanya.


“Oh… Wowww… Inikah Tuan Muda kebanggaan kita?” Ujar Tuan Robby dengan nada kagum yang tidak dibuat-buat.


Doni membungkukkan badannya dan kemudian menyalami Tuan Robby dengan sopan.


“Kau sudah semakin dewasa! Om senang bertemu denganmu lagi!” Seru Tuan Robby sambil memeluk Doni.


“Terima kasih, om. Senang bertemu dengan anda.” Ucap Doni sopan. Dia lalu menyalami istri Tuan Robby dan puterinya. Kedua wanita itu menatap doni dengan tatapan terpesona.


“Oh… Anne… Puteramu tampan sekali.” Puji Nyonya Robby.


Nyonya Wishnu tersenyum lebar. “Apakah kamu setuju jika aku katakan dia bahkan lebih tampan dari papanya?” Ujar Nyonya Wishnu sambil melirik usil Tuan Wishnu. Yang dilirik mencoba santuy.


“Hahaha… Rasanya itu memang tidak berlebihan!” Nyonya Robby tertawa.


Doni tersenyum tipis. Dia duduk di samping Tuan Wishnu dengan tenang. Tuan Wishnu menatap puteranya dengan bangga.


“Puterimu juga cantik sekali. Siapa namanya?” Nyonya Wishnu mulai berbasa-basi.


Gadis itu yang sejak tadi menatap Doni dengan kagum tiba-tiba tersentak kaget.


“Oh… Ehh… Windy, tante…” Jawab gadis itu. Sesekali dia mencuri pandang lagi ke arah Doni.


“Duhhh… Ganteng banget… Dia lebih ganteng dari pacarku. Hemmm…” Windy menggumam dalam hatinya.


Doni masih duduk dengan tenang. Dia memperhatikan sekelilingnya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Windy.


Windy merasa seperti melayang ketika melihat sepasang mata indah Doni menatapnya tanpa sengaja.


Doni mencoba tersenyum tipis agar tidak kelihatan kaku dan arrogant. Ia segera mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


“Duhhh… Matanya… Dalem bangettttt…” Batin Windy. Dia jadi geregetan sendiri.


Hampir saja dia menyesali tindakannya tadi siang menolak ajakan kedua orang tuanya ke sini.


Sebelumnya Windy menolak dengan keras ajakan mamanya berkunjung ke rumah Tuan Wishnu. Namun karena tidak punya alasan yang tepat, Windy terpaksa mengikuti perintah orang tuanya untuk hadir di acara makan malam ini.


Windy sering mendengar cerita tentang keluarga Tuan Wishnu. Namun ini adalah kali pertama ia datang ke kediaman yang megah ini dan bertemu langsung dengan keluarga Tuan Wishnu.


Windy membayangkan acara pesta makan malam ini pasti akan sangat membosankan. Para orang tua pasti akan membicarakan perkembangan bisnis mereka. Topik-topik pembicaraan yang berat dan tidak menarik bagi remaja seusia Windy.


Dia lebih suka beristirahat di kamar hotel yang nyaman sambil video call dan bercengkerama dengan teman-temannya atau kekasihnya.


Apalagi besok pagi mereka akan terbang kembali ke Semarang. Jadi sebenarnya malam ini Windy hanya ingin beristirahat dan menyimpan tenaganya untuk keberangkatan mereka esok pagi.


Namun kini Windy bersyukur, dia tidak melewatkan sebuah kesempatan bertemu seorang pemuda yang sangat tampan dan kaya raya.


Poin plus nya adalah, pemuda ini adalah putera dari sahabat papanya, sepertinya akan lebih mudah untuk mendekatinya.


Semakin Windy menatap sosok pemuda di hadapannya ini, semakin kagum dan terpikat hatinya. Pemuda ini terlihat cool dan berwibawa di mata Windy.


Windy mulai bertanya-tanya dalam hati apakah saat ini pemuda itu sudah memiliki kekasih. Dia bertekad akan mencari tahu nanti. Yang penting saat ini, Windy merasa dia harus bisa mencuri perhatian dan lebih dekat dengannya.


Windy terkenal cantik dan tajir melintir. Dia punya banyak fans di sekolahnya. Begitu banyak cowok yang ingin menjadi kekasihnya, jadi tidak akan sulit bagi Windy untuk mendekati putera sahabat papanya ini.


“Well, siapa nama Tuan Muda kita ini? Maaf… Aku benar-benar lupa.” Ucap Tuan Robby.


Tuan Wishnu tersenyum penuh wibawa dan melirik Doni yang masih berdiam diri. Doni memahami arti lirikan mata papanya.


“Namanya Anthony. Tapi dia lebih suka dipanggil Doni.” Ujar Nyonya Wishnu sambil tersenyum. Wajahnya terlihat cantik sekali malam ini.


Nyonya Wishnu kemudian menceritakan dengan singkat mengapa puteranya lebih suka dipanggil Doni.


Sejak kecil Doni sering protes mengapa papanya menamakan dirinya dengan Anthony. Dia memaksa semua orang di rumah untuk memanggil dirinya dengan sebutan Doni.


Windy menyimak dengan seksama penjelasan Nyonya Wishnu.


Namun mendiang kakak-kakaknya dulu memilih memanggil dirinya dengan panggilan Tonny.


Meskipun tidak begitu menyukainya, akhirnya Doni pasrah dan tidak ambil pusing dengan nama panggilannya.


Akan tetapi, setiap kali dia merasa dekat dengan seseorang, dia tetap menyebutkan namanya adalah Doni. Terkesan lucu dan aneh, namun begitulah adanya. Jangan Tanya kenapa!


“Hahaha… Unik sekali. Tapi aku yakin kau sudah mempersiapkan puteramu dengan sebaik-baiknya.” Tuan Robby berkata pada Tuan Wishnu.


“Tentu saja, sebagai pewaris utama Tanaka Mining Co. Ltd. dia harus bersiap-siap dari sekarang.” Tuan Wishnu menepuk-nepuk pundak putera kebanggaannya.


Doni tersenyum simpul. Dia melirik mamanya dengan tatapan penuh arti. Nyonya Wishnu memahami maksud tatapan mata Doni.


“Anthony, om akan selalu mendukung kamu. Bersiaplah, belajarlah dengan lebih serius.” Tuan Robby berkata dengan penuh wibawa dan menatap Doni dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


“Banyak yang ingin melihatmu gagal. Tapi aku ada di sisi papamu. Kau harus kuat melebihi papamu!” Terdengar Tuan Robby berkata-kata lagi dengan nada tegas.


Suasana menjadi hening sejenak. Sepertinya semua sedang larut dengan fikiran mereka masing-masing.


Doni memahami betul beban tanggung jawab yang akan dipikulnya oleh karena itu dia benar-benar mempersiapkan diri sesuai arahan papanya.


“Pewaris tunggal perusahaan…” Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Windy.


Gadis itu semakin terpesona. Tekadnya untuk kenal dekat dengan Doni semakin kuat.


“Mari… Silahkan menikmati hidangan pembuka. Aku harap kalian suka.” Nyonya Wishnu mencoba memecah keheningan.


“Terima kasih, Anne. It’s awesome!” Puji Tuan Robby.


Backsound musik classic nan romantis terdengar syahdu di taman belakang. Kedua keluarga terpandang itu menikmati jamuan makan malam dengan tenang dan santai. Suasana telah mencair kembali.


“Pasti masakan ini hasil racikanmu! Enak sekali.” Tebak Nyonya Robby.


“Terima kasih, semoga cocok di lidah.” Ucap Nyonya Wishnu bahagia.


Nyonya Wishnu dan Nyonya Robby mulai bernostalgia tentang masa-masa indah mereka ketika berliburan di Thailand beberapa tahun yang lalu.


Nyonya Wishnu dan Nyonya Robby sudah lama saling kenal, jauh sebelum mereka menikah. Meskipun bukan teman dekat, mereka berteman baik. Kedekatan mereka bertambah ketika mengetahui pasangan hidup mereka ternyata adalah sahabat baik.


Kedua wanita itu juga sangat memahami karakter suami mereka masing-masing. Tuan Robby yang hobi bercanda dan Tuan Wishnu yang sangat pencemburu. Kedua pria hebat itu terlihat lucu sekali jika mereka sedang bersama sehingga Nyonya Robby dan Nyonya Wishnu harus siap menghadapi sikap suami mereka dengan bijak.


Sementara itu Tuan Robby dan Tuan Wishnu membicarakan perkembangan bisnis mereka dengan santai.


Sesekali Doni nimbrung dalam pembicaraan bersama kedua pria hebat tersebut.


Windy menatap Doni dengan penuh minat.


Kerlap-kerlip cahaya lampu dekorasi membuat taman belakang rumah terlihat begitu indah. Suasana menjadi terasa romantis ditambah bunyi musik yang mengalun merdu.


Doni terhenyak sesaat. Bayang wajah Amanda tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia merasa begitu merindu. Ingin rasanya segera kembali ke kamarnya dan video call lagi dengan Amanda.


“Hai kak Doni…” Sapa Windy ceria.


Gadis itu mendekati Doni yang sedang mengambil beberapa jenis seafood yang sedang dipanggang oleh para pelayan.


“Kakak suka seafood juga ya?” Tanya Windy sekedar berbasa-basi.


“Hemmm… Silahkan dipilih kamu mau yang mana. Pelayan kami akan menghidangkannya untuk mu.” Ujar Doni.


Ia kemudian meninggalkan Windy dan berjalan santai melihat para pelayan bekerja dengan sigap.


Doni memilih berbicara santai dengan para pelayan untuk mengusir rasa bosannya di acara pesta makan malam ini.


Windy melengos. “Wah… Cuek bener dia!” Batin Windy.

__ADS_1


Gadis itu semakin penasaran. Dia mulai menyusun rencana untuk mendekati Doni. Dia sudah bertekad untuk kenal lebih dekat dengan Doni. Kini Doni adalah target barunya.



__ADS_2