Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Deg-degan


__ADS_3

Doni melirik smartwatch-nya. Pesan yang ditunggu-tunggu akhirnya masuk juga.


"Iya." Balasan singkat dari Amanda.


Pesan singkat tersebut mampu membuat suasana hati Doni menjadi sangat baik. Dia tersenyum simpul. Hatinya terasa hangat.


Doni sama sekali tidak mengetahui bagaimana cerita perjuangan sesungguhnya di balik balasan pesan tersebut. Betapa kerasnya Amanda berfikir tentang kata-kata apa yang harus dia gunakan untuk membalas pesan dari Doni.


Akhirnya setelah pemikiran yang panjang, pilihan kata "iya" adalah yang terbaik menurut hemat Amanda. Singkat, padat, jelas.


Amanda menghela nafasnya dengan berat. Seolah beban yang sangat besar sedang dipikul di pundaknya. Kalau saja bukan karena seorang cowok yang duduk di hadapannya saat ini, bisa dipastikan Amanda akan ngomel-ngomel panjang sebelum mengirimkan chat balasan untuk Doni.


Diam-diam dia melirik cowok tersebut. "Hemmm... Dia lumayan cakep juga." Amanda memuji dalam hatinya. Dia sudah tidak heran kalau di sekolah ini, dia bisa dengan mudahnya menemukan cowok-cowok keren bak bintang sinetron. Justru menemukan cowok atau cewek dengan tampang di bawah rata-rata adalah hal yang mustahil dan nihil.


Tanpa sengaja Amanda menatap sebuah jam dinding berukuran cukup besar tak jauh dari tempat duduknya.


"Wahhh... Lima belas menit lagi udah bisa pulang." Gumam Amanda. Ia sudah menyelesaikan tugasnya. Semua soal-soal latihan sudah selesai dikerjakan. Sudah beres semuanya. Ia pun bergegas merapikan alat-alat tulisnya.


"Ehemmm..." Seorang siswa perempuan yang menghampiri Amanda berdehem pelan. Amanda merasa agak terkejut.


"Ehh... Iya. Pada mau balik ke kelas ya?" Tanya Amanda sambil buru-buru bangun dari kursinya. Dia merapikan kembali kursi-kursi di sampingnya seperti semula. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum-senyum usil.


Cowok yang duduk di hadapan Amanda hanya melirik sekilas. Namun dia kembali melempar senyuman seperti sebelumnya. Amanda merasa tidak enak jika tidak membalas senyumannya. Akhirnya dia juga tersenyum tipis tanpa mengucapkan sepatah kata.


Amanda segera mengikuti gadis itu dan teman-temannya yang lain yang sedang berjalan menuju pintu keluar perpustakaan.


"Hemmm... Pantesan kita pada ga disamperin. Ternyata lagi pacaran." Celoteh gadis itu.


"Hahhh... Pacaran!? Siapa!?" Amanda jadi bingung. Dia berfikir siapa yang berani-beraninya pacaran di perpustakaan.


"Ya kamu! Siapa lagi!?" Ujar gadis itu sambil tertawa lebar. "Ganteng banget cowok kamu!" Gadis itu lagi-lagi menimpali sambil mencubit pinggang Amanda.


"Aduhhh..." Amanda menjerit tertahan. Dia berusaha menahan suaranya karena mereka masih berada di perpustakaan.


"Oh... Iya, maaf. Tapi aku ga pacaran. Aku ga kenal cowok tadi. Tiba-tiba aja dia datang terus duduk di situ." Amanda menjelaskan kronologis kejadian agar tidak semakin terjadi kesalah pahaman.


"Oh... Kirain itu pacar kamu. Hehehe..." Ucap gadis itu. Amanda menggeleng pelan sambil nyengir-nyengir sendiri.


Amanda dan teman-temannya bergegas turun dari lantai dua. Seorang cowok melewati mereka dengan cepat di tangga. Langkah kakinya yang jenjang memudahkan dia melewati sekelompok gadis di depannya. Cowok itu adalah cowok yang tadi duduk di hadapan Amanda. Lagi-lagi temannya melirik Amanda dengan tatapan usil.


Kelas I-2 sudah bising lagi. Semua siswa sedang sibuk membereskan barang-barang mereka ketika Amanda dan teman-temannya masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


Siswa-siswa yang tadinya mengerjakan tugas mereka di ruang multimedia juga telah kembali ke kelas. Semua siswa mengumpulkan buku-buku latihan mereka di meja Agung.


Agung mendengus pelan. Ini sebenarnya tugas sang ketua kelas, paduka yang mulia Vino. Namun seperti biasa, paduka yang mulia ketua kelas entah amnesia entah berpura-pura gila dan lupa akan tugasnya.


Yang jelas, Agung dengan segenap kesabarannya selalu melaksanakan segala tugasnya sebagai wakil ketua kelas. Ia menjalankan segala tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan sering kali ia juga merangkap menjalankan tugas-tugas ketua kelas.


Ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi, para siswa berhamburan keluar dari kelas. Semua siswa terlihat bersemangat. Jam pulang adalah jam yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa SMA Adhyaksa.


Agung keluar dari kelas sambil membawa setumpuk buku tugas teman-teman sekelasnya. Karena kepayahan membawanya sendirian, Agung meminta bantuan teman sebangkunya. Mereka berdua berjalan ke ruang guru untuk mengumpulkan buku-buku tersebut.


Vino berjalan santai keluar dari kelasnya tanpa perasaan berdosa. Dia masih sibuk dengan game online di smartphone-nya.


Sedangkan Amanda merasa siang ini hawanya sedikit berbeda. Ia tidak bersemangat seperti biasanya. Perasaannya campur aduk. Ia merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi siang ini pada dirinya dan Doni. Ia bahkan merasa deg-degan.


"Aduh... Kenapa aku jadi gugup!? Kan biasanya juga ketemu dia di halte." Batin Amanda.


Dia berusaha menenangkan rasa gugup yang semakin menyerang hatinya. Amanda melirik semua teman-temannya yang sudah meninggalkan kelas.


"Heiii... Kok melamun?!" Tanya Helena. Amanda sontak kaget dari duduknya.


"Aku duluan ya..." Ujar Helena sambil memakai tas ranselnya dengan sigap. Amanda hanya mengangguk untuk merespon kata-kata Helena. Sebentar saja dia sudah menghilang dari pandangan Amanda.


Hanya tinggal tiga orang siswa di dalam kelas. Amanda melangkah dengan ragu-ragu. Ia melihat di luar kelas ramai sekali siswa. Ia terus melangkah hingga akhirnya dia sudah berada di dekat kelas Doni.


"Hai Amanda!" Seru sebuah suara yang sudah dikenali Amanda. Amel keluar dari kelasnya dan melewati Doni yang sedang berdiri di depan kelas.


"Ehh... Amel..." Amanda membalas sapaan Amel sambil melirik Doni yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Yuk barengan jalan ke depan. Kamu dijemput atau naik angkot lagi?" Tanya Amel.


"Oh... Ehh... Errr... Naik angkot, Mel." Jawab Amanda ragu-ragu. Sesekali dia melirik Doni lagi. Amel mulai curiga, dia menangkap arah tatapan Amanda.


"Oh... Hahaha... Sepertinya ada yang janjian nih ya..." Ujar Amel sambil tersenyum-senyum penuh arti. Amanda semakin nervous. Dia mencoba tenang, tapi tetap saja hatinya masih deg-degan tidak karuan.


Amel menarik tangan Amanda dan membawanya mendekat ke Doni. Doni sebenarnya merasa shock, tetapi dia berusaha terlihat santuy.


"Anthony, kamu nungguin Amanda ya?!" Tebak Amel sok tahu. "Cieeee..." Amel mulai meledek sambil cengar-cengir.


"Ya udah, ga enak aku jadi ganggu! Aku duluan ya Amanda..." Ujar Amel sambil mengedipkan sebelah matanya pada Amanda. Ia kemudian berjalan meninggalkan Amanda dan Doni.


"Ehh... Amel, ayo kita barengan!" Seru Amanda. Dia jadi gelagapan. Dia bingung harus bagaimana. Dia masih berusaha keras menenangkan hatinya yang dari tadi terus bergejolak. Amel hanya tersenyum simpul dan bergegas menuju ke gerbang sekolah. Jemputan Amel sudah tiba.

__ADS_1


"Ayo! Ngapain kita lama-lama di sini..." Ujar Doni memecah kebisuan dan kekakuan di antara mereka. Doni sengaja berjalan santai agar Amanda bisa lebih mudah mengikuti langkah kakinya.


Amanda mengikuti Doni dengan patuh. Dia sendiri bimbang harus bagaimana. Rasanya aneh sekali. Dia sendiri heran mengapa dirinya jadi sekaku ini? Padahal dia kan sudah sering bersama Doni di halte. Kenapa kali ini rasanya berbeda?


Sambil berjalan, Amanda masih tetap saja deg-degan. Dia berusaha menjaga jaraknya dari Doni agar tidak terlalu menarik perhatian.


Doni menyadari hal itu. Dia melirik Amanda. Yang dilirik jadi semakin salah tingkah.


"Kenapa jauhan gitu sih!?" Tanya Doni. Dia melirik Amanda dan menatapnya dengan tajam. Amanda melengos.


"Idih... Apaan sih! ngapain lihat-lihat begitu!?" Tukas Amanda sewot.


Dia selalu merasa risih jika Doni menatapnya begitu. Level deg-degan sudah berkurang. Akan tetapi Amanda merasa wajahnya panas lagi ketika melihat Doni tersenyum saat meliriknya.


"Aduh... Kenapa aku grogi gini!?" Amanda menggerutu dalam hati. Meskipun menggerutu, dia tetap mengikuti Doni dalam jarak yang cukup aman.


Doni semakin merasa gemas. Dia bahkan tertawa pelan. "Kamu benar-benar menggemaskan!" Doni berkata dalam hati.


Doni dan Amanda sudah sampai di gerbang sekolah. Beberapa siswa berjalan tidak sabar melewati mereka. Siswa-siswa tersebut ingin segera masuk ke mobil-mobil mereka yang nyaman. Udara siang ini cukup panas, matahari bersinar terik sekali.


"BRUGGG!!!" Amanda terjungkal dan menabrak Doni dari belakang.


Sekelompok siswa berjalan begitu serampangan hingga mereka tidak sadar menolak dan menyikut Amanda yang sedang berjalan santai di belakang Doni.


Doni merasa kaget. "Eh... Kamu kenapa!?" Tanya Doni khawatir.


"Maaf... Maaf... Aku ga sengaja!" Amanda cepat-cepat menarik tubuhnya dan menjaga keseimbangan. Ia menunjuk sekelompok siswa di depannya dengan lirikan matanya. Doni memperhatikan gerak-gerik sekelompok siswa tersebut, yang berjalan serampangan melewati mereka lalu menyeberang jalan dengan asal-asalan.


Doni sebenarnya sangat kesal melihat Amanda diperlakukan seperti itu. Namun dia juga senang karena tadi, walaupun sekejap, Amanda terasa begitu dekat.


Susana jalan sangat padat, mobil-mobil mewah berbaris tidak beraturan di depan gerbang. Antrian mobil-mobil yang ingin keluar dari barisan membuat jalan menjadi macet dan sedikit semrawut. Beberapa siswa harus berhenti berjalan dan melihat kiri-kanan dengan waspada.


Amanda terhenyak. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Sebuah mobil yang sangat dikenalinya ada di depannya. Apa yang dilihat Amanda di dalam mobil itu membuat setengah kesadarannya hilang.


Amanda tertegun. Dia hampir tidak bisa berkedip. Mulutnya ternganga. "Ya Tuhan..." Desah Amanda.


Doni berjalan dengan sigap, melewati beberapa mobil yang sedang antri dalam kemacetan. Ia baru menyadari Amanda tidak ada di belakangnya.


"Loh... Mana dia?" Doni celingak-celinguk mencari sosok Amanda di tengah kerumunan siswa dan antrian mobil-mobil mewah di sekitarnya.


Dia begitu lega ketika menemukan Amanda di sana, sedang berjalan dengan lesu. Ya, lesu!

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa wajahnya begitu?" Doni bertanya-tanya dalam hati. Dia menatap Amanda lurus-lurus.


Amanda merasa langkahnya kali ini begitu berat. Dia bisa melihat Doni. Cowok itu sedang menatapnya. Dia tahu. Dia tidak boleh terlihat lemah. Dia tidak boleh menangis. Doni tidak boleh melihatnya menangis.


__ADS_2