Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Kesal


__ADS_3

Pagi ini dua orang siswa SMA Adhyaksa merasa tidak enak hati.


Vino merasa sedikit kesal karena Teguh telah kembali ke Jakarta untuk mengurus beberapa surat penting di kampusnya.


Meskipun Teguh sudah berjanji hanya akan menghabiskan beberapa hari saja di Jakarta, namun tetap saja Vino merasakan itu akan menjadi waktu penantian yang sangat panjang.


Sementara itu Tuan Muda Anthony sepertinya merasa lebih kesal lagi dari Vino. Doni merasa sekretaris sekaligus pengawal pribadinya yang baru ini rasanya seperti bayangan tubuhnya sendiri. Selalu ada kemanapun Doni melangkah.


Sepanjang jalan menuju ke sekolah, Doni memikirkan bagaimana jadinya jika siang ini dia tidak pulang bareng Amanda. Dia sudah terbiasa menemui Amanda setiap kali pulang dari sekolah. Lalu bagaimana dengan siang nanti? Apakah sebaiknya dia kabur saja dari pria muda tampan ini? Tapi sepertinya itu bukanlah ide yang mudah.


Tuan Alfred tidak terlihat seperti pria dengan kemampuan pas-pasan. Dia memiliki wajah yang tampan rupawan dan sepertinya terlihat cukup pintar. Kabur darinya sepertinya akan menjadi hal yang konyol. Itu hanya akan menjadi mission impossible.


Kabur ke mana? Ke halte di dekat sekolah? Hahaha... Itu betul-betul ide yang menggelikan. Doni tidak berharap terlihat sekonyol itu di hadapan sekretarisnya ini.


Sesekali Doni melirik Alfred yang sedang mengemudi mobilnya dengan santai. Doni memilih duduk di depan, di samping Alfred. Dia memang sudah terbiasa bersikap begitu dengan semua driver pribadi keluarganya.


Doni tidak ingin terlihat begitu kaku, begitu berjarak dengan Alfred seperti kebiasaan majikan dan supir pribadi pada umumnya. Dia enggan duduk di belakang, meskipun Alfred sudah berkali-kali memintanya. Hingga akhirnya Alfred pasrah saja mengikuti kemauan Tuan Mudanya.


Doni tiba di sekolah lebih cepat pagi ini. Suasana di sekolah masih agak sepi. Doni masuk ke dalam kelas dan melihat hanya ada beberapa siswa perempuan di dalam kelasnya. Dia meletakkan tas di atas mejanya dan langsung keluar dari kelas. Siswa-siswa perempuan itu melirik Doni dan dua orang di antara mereka melempar senyum ke arah Doni. Doni membalas dengan senyuman tipis.


Doni berjalan mengitari taman depan kelas, sesekali dia melirik ke arah kelas Amanda. Dia yakin Amanda belum tiba di sekolah. Firasatnya mengatakan begitu.


Dari jauh terlihat Vino dengan ekspresi songongnya sedang berjalan santai. Seorang cowok memanggilnya dengan suara yang membahana.


"Vino!!!" Agung memanggil Vino.


Vino menghentikan langkahnya dan menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Vino, gimana? Kamu udah ngomong sama Bu Suhartini?" Tanya Agung ketika dia sudah berada di dekat Vino.


"Ngomong? Tentang apa?" Vino balik bertanya.


"Yaelah... Ya tentang guru matematika itu! Siapa lagi?" Tukas Agung.


"Oh... Pak Cahyono maksudmu?" Vino memastikan lagi guru yang dimaksud oleh Agung.


Agung mengangguk cepat.


"Hiiiiyyy... Ogah bener aku sama guru killer itu. Anak-anak siap untuk demo kalau nanti Bu Suhartini ga bisa mencari pengganti Pak Cahyono." Agung berkata dengan sengit.


Vino terdiam, dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Kedua siswa itu berjalan bersama memasuki kelas mereka.


Dari jauh Doni menatap Vino dengan tajam. Dia masih saja tidak menyukai Vino, entah mengapa. Padahal dirinya sudah mengetahui bahwa Vino dan Amanda tidak punya hubungan apa-apa. Tapi tetap saja Doni cemburu karena Vino sekelas dengan Amanda.


"Hemmm... Apa aku pindah kelas saja?" Batin Doni.


Mungkin kalau sekelas dengan Amanda, dia bisa lebih memperhatikan gadis kesukaannya itu. Dia jadi bisa berjaga-jaga jika ada cowok lain yang berusaha mendekati Amanda. Doni mulai berfikir bagaimana cara mengurus administrasi di dalam lingkungan SMA Adhyaksa agar bisa pindah kelas. Apakah itu mungkin?


"Doni... Ngapain kamu di sini?" Sebuah suara yang sangat dikenalinya membuat dirinya tersentak kaget.

__ADS_1


Amanda sudah berdiri di belakang Doni. Dia menatap cowok di depannya dengan tatapan terheran-heran. Dia baru saja tiba dan hendak masuk ke kelas, namun dia heran mengapa pagi-pagi Doni sudah muncul di depan kelasnya.


"Ada apa ya? Ngapain kamu ke sini?" Amanda mengulang pertanyaannya.


"Hemmm..." Doni hanya menggumam.


Sebenarnya Doni juga heran mengapa tanpa sadar dia sudah tiba di depan kelas Amanda. Padahal sejak tadi dia hanya mengitari taman di depan kelasnya.


"Haiii... Pagi, Nona!" Sebuah suara yang ramah terdengar menyapa Amanda.


Doni dan Amanda serentak menoleh ke arah si pemilik suara yang ramah tersebut.


"Ehh... Ryan!" Seru Amanda dengan wajah ceria.


Doni mendadak meradang. Dia tidak menyangka cowok itu berani menyapa Amanda di depan dirinya.


"Heiii... Dengar-dengar kelas kalian juga mau complain tentang guru matematika itu ya?" Tanya Ryan tanpa basa-basi.


"Errrr... Sepertinya begitu. Tapi ga tahu juga nih ntar bakalan gimana..." Ucap Amanda dengan suara pelan agar tidak menarik perhatian teman-temannya yang lain yang sedang melewati tempat mereka berdiri.


"Oh gitu... Si Vino udah melapor ke wali kelas?" Tanya Ryan lagi.


"Kayaknya belum..." Ujar Amanda.


Doni semakin kaget menyimak pembicaraan Ryan dan Amanda. Ternyata Ryan juga mengenali Vino, si songong itu.


Ryan sepertinya baru menyadari keberadaan Doni di antara mereka.


"Ehh... Kamu juga di kelas ini ya?" Ryan bertanya pada Doni. Masih dengan suaranya yang ramah.


"Hemmm... Bukan..." Jawab Doni singkat.


"Dia dari kelas I-6, Ryan. Hehehe..." Ujar Amanda sambil nyengir.


"Oh... Kamu beruntung, bro! Pasti Guru matematika kalian bukan Pak Cahyono!" Kata Ryan penuh semangat.


"Hemmm... Pak Cahyono? Siapa dia?" Tanya Doni sambil melirik Amanda.


"Itu tuh... Guru matematika yang kejam itu!" Tukas Amanda.


"Sssttttt..!!" Ryan memberi tanda agar Amanda mengecilkan volume suaranya.


"Awas ntar suara kamu kedengaran sama Pak Cahyono! Hahaha..." Ujar Ryan sambil tertawa dan mengedipkan sebelah matanya.


"Hihihi... Iya juga ya!" Amanda ikut tertawa.


Doni semakin emosi jiwa melihat Ryan yang kelihatannya sudah cukup akrab dengan Amanda.


"Berani-beraninya dia mengedipkan matanya begitu!" Doni menggerung di dalam hati. Kini dia benar-benar tidak menyukai sosok Ryan.

__ADS_1


"OK, guys! Aku ke kelas ya!" Ujar Ryan sambil tersenyum ramah pada Doni dan Amanda.


Doni menatap Ryan dengan sinis. Dia memperhatikan Ryan yang berjalan santai masuk ke kelasnya.


"Siapa dia?" Tanya Doni dengan nada suara ketus.


"Dia Ryan, dia ketua kelas juga. Temannya Vino, ketua kelas kami." Ujar Amanda.


"Ketua kelas!?" Gumam Doni dalam hati.


"Ya udah, aku mau masuk nih." Amanda berkata sambil melangkah melewati Doni.


Dengan sigap Doni menarik tangan Amanda, membuat gadis itu terperanjat kaget.


"Heiiii... Apaan sih!?" Seru Amanda panik.


"Tunggu aku jam istirahat nanti." Ujar Doni sambil menatap Amanda lekat-lekat.


Amanda menjadi salah tingkah melihat tatapan mata Doni. Dia khawatir ada siswa lain yang melihat mereka.


"Lepasin tangan aku, Doni..." Desis Amanda. Dia menghentakkan tangannya agar Doni melepaskan cengkeramannya.


Untung saja kali ini Doni patuh dengan permintaan Amanda. Dia segera melepaskan genggamannya. Amanda menghela nafas lega. Dia bergegas masuk ke dalam kelas dengan hati yang berdebar kencang.


"Aduhhh... Bahaya banget kalau dia kumat lagi!" Amanda berkata dalam hatinya.


Dia melirik ke depan kelas dengan cemas. Khawatir kalau-kalau Doni masuk ke dalam kelas dan menghampirinya lagi.


Bel tanda masuk sudah berbunyi. Doni kembali ke kelasnya dengan hati yang kesal. Wajah Ryan yang mengedipkan matanya ke Amanda berputar-putar dalam benaknya. Dia betul-betul tidak suka dengan sikap Ryan yang ramah sekali dengan Amanda.


Sementara itu, Amanda terhenyak di kursinya. Dia tidak mengerti mengapa Doni yang hemat kata-kata itu akhir-akhir ini seringkali bersikap aneh dengan dirinya.


"Aku menyukaimu..." Kata-kata itu terngiang-ngiang lagi di telinga Amanda.


"Apa maksudnya itu? Apa dia betul-betul menyukaiku?" Gumam Amanda dalam hati.


Amanda semakin merasa berdebar-debar. Tidak mungkin Doni menyukainya. Tidak mungkin. Doni cukup tampan. Rasanya belum pernah ada cowok tampan yang pernah menyukainya. Menurut Amanda, Doni tidak cocok dengannya. Doni lebih pantas menyukai cewek lain yang lebih cantik dari dirinya.


"Hemmm... Mungkin karena dia bukan cowok tajir, jadi dia ga risih deketin aku..." Batin Amanda.


Amanda melengos. Dia teringat sosok kak Edo yang dulu sangat dikaguminya.


"Kak Edo aja ga tertarik sama aku... Malah ga respect sama sekali... Masa iya si Doni yang aneh itu beneran naksir. Ga mungkin..." Amanda berkata dalam hati.


Amanda memutuskan tidak ingin baper lebih jauh. Namun di satu sisi dia juga resah dengan pesan Doni tadi untuk menunggunya di jam istirahat nanti.


"Huhhh... Ada-ada aja..." Gumam Amanda.


Dia mempersiapkan buku-buku pelajarannya. Sebentar lagi Bu Suhartini akan masuk ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2