Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Ryan Curhat


__ADS_3

"Huahhh..." Amanda menguap lebar-lebar.


Mutiara melirik kakak sulungnya. Ia sebenarnya sedang fokus menyelesaikan PR IPA yang diberikan oleh gurunya tadi pagi. Tetapi suara Amanda yang menguap lebar jadi mengganggu konsentrasinya.


"Tidur kak kalau udah ngantuk." Mutiara nyelutuk begitu saja.


Terkejut akan kata-kata adiknya, Amanda jadi sewot sendiri. Dia menatap Mutiara dengan bibir manyun.


"Huhhh... Anak kecil mah tahu apa!" Seperti biasa, Amanda menggerutu dalam hati.


Amanda akhirnya berhasil merangkai kalimat-kalimat penutup untuk mengakhiri penulisan essay-nya. Dia menghembuskan nafas lega setelah berhasil submit essay di website perlombaan yang diikutinya.


Selesai sudah perjuangannya dalam hal perlombaan essay. Kini dia hanya tinggal menunggu pengumuman pemenang yang akan diumumkan akhir bulan nanti. Akan ada tiga orang pemenang yang terpilih dan tiga orang juara favorit pilihan para pembaca.


Tidak muluk-muluk, Amanda berfikir dia akan sangat beruntung jika dia bisa terpilih menjadi juara favorit para pembaca.


"Ahh... Sudahlah... Tak jadi juara pun tak mengapa." Gumam Amanda pasrah.


Mutiara melirik lagi kakaknya tetapi tidak berkata sepatah kata. Amanda merebahkan badannya di atas tempat tidur. Meluruskan tulang punggungnya yang terasa kaku karena kelamaan menulis tadi. Meskipun lelah, dia sudah puas karena sudah menyelesaikan essay-nya.


Tak bisa dipungkiri, Amanda selama ini sebenarnya merasa sangat terbebani dengan ajang lomba essay tersebut. Di satu sisi dia menyesal sudah mendaftarkan diri di lomba itu, namun di sisi yang lain dia juga merasa tidak enak dengan Ryan dan Doni jika dia tiba-tiba mengundurkan diri.


Serba salah. Hingga akhirnya Amanda memutuskan dia lebih baik melanjutkan perjuangan di lomba essay itu. Kalah atau menang bukan hal yang utama. Setidaknya ini adalah sebuah pembelajaran baru bagi dirinya. Begitu fikir Amanda.


Sambil rebahan, Amanda mulai autis dengan smartphone-nya. Scrolling dan scrolling... Dari satu akun social media ke akun social media lainnya. Terkadang Amanda terkikik sendiri. Video-video yang ditontonnya itu sepertinya lucu dan menggemaskan sekali.


"Kak, jangan berisik!" Seru Mutiara kesal.


Amanda melirik adiknya sambil bersungut-sungut sendiri. Dia mengambil handsfree dan memasangnya pada smartphone-nya. Kini suara-suara bising dari aneka video yang ditontonnya sudah tidak mengganggu Mutiara lagi.


Saat lagi asyik-ayiknya melihat sebuah video yang sedang viral di TikTok, Amanda dikejutkan oleh sebuah panggilan masuk di WA.


Ryan.


Amanda menimbang sejenak apakah sebaiknya dia menerima telpon atau mengabaikannya saja. Namun dengan cepat, hati kecil Amanda menolak untuk mengabaikan panggilan dari Ryan.


"Halo..." Sapa Amanda.


"Halo, Amanda." Sahut Ryan.


"Eummm... Ada apa, Ryan?" Tanya Amanda tanpa basa-basi.


"Ga ada apa-apa sih... Hemmm... Aku cuma mau ngobrol aja..." Ujar Ryan apa adanya.


"Ohhh..." Gumam Amanda.


Dalam hatinya dia merasa heran mengapa tiba-tiba malam ini Ryan menghubunginya.


"Tumben dia hubungi aku..." Batin Amanda.

__ADS_1


"Kamu lagi sibuk ya?" Tanya Ryan.


"Ahhh... Ga kok..." Jawab Amanda.


"Oh... Good. Kalau gitu, bisa dong ya aku ngajak kamu ngobrol malam ini." Ujar Ryan.


"Errrrr... Hehehe... Ada apa, Ryan?" Amanda memiliki firasat sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan Ryan dengannya malam ini.


"Hemmm... Kamu kan cewek... Aku mau sharing nih. Aku butuh pendapat kamu, khususnya sebagai cewek." Tutur Ryan.


"Eummm... Pendapat? Tentang apa?" Amanda bertanya setelah sempat terdiam beberapa detik karena mencoba mencerna penuturan Ryan barusan.


"Menurut kamu, apakah setiap sikap ramah tamah seseorang bisa langsung diartikan bahwa itu adalah sebuah pertanda cinta?" Ryan bertanya dengan suara yang agak berbeda dari biasanya.


Jujur Amanda masih merasa bingung dengan pertanyaan Ryan.


"Hahhh... Maksudnya gimana ya?" Amanda secara jujur bertanya karena dia belum memahami maksud, arah, dan tujuan pertanyaan dari Ryan tersebut.


"Aku bingung, honey... Ada teman sekelasku yang sepertinya menyukaiku." Kata Ryan.


"Ohhh... Trusss?" Amanda tiba-tiba jadi kepo ingin tahu kelanjutan ceritanya.


"Apakah semua cewek seperti itu? Suka ke-geer-an sendiri." Ucap Ryan.


Sebagai cewek, Amanda sedikit merasa tersinggung mendengar ucapan Ryan. Yang benar saja lah, Amanda jadi berfikir apakah dirinya juga dianggap begitu oleh Doni.


"Rasa-rasanya sikapku sama pada setiap orang. Kenapa dia sendiri yang jadi lebay?" Keluh Ryan.


"Kalau boleh tahu, emangnya cewek itu ngapain sama kamu? Errrrr... Maksudku, darimana kamu tahu bahwa dia menyukaimu?" Amanda mencoba memilih kata-kata terbaik menurutnya agar Ryan tidak salah paham.


"Hemmm... Dia menembakku." Ujar Ryan.


Amanda merasa kaget. Dia tidak menyangka ada cewek yang pede menembak Ryan.


"Wahhh... Pede banget cewek itu! Heheheh..." Celoteh Amanda.


Terdengar Ryan mendengus di seberang telpon.


"Dia pasti cantik!" Seru Amanda.


"Hemmm... Bukan soal cantik atau ga, tapi aku ga suka cewek agresif gitu. Dan ke-geer-an! Lagipula aku ga suka sama dia." Tukas Ryan.


"Ya... Ya... Cinta ga bisa dipaksa!" Amanda mengiyakan kata-kata Ryan.


"Menurut kamu, aku yang salah atau gimana?" Ryan meminta pendapat Amanda.


"Maksudnya??" Amanda bertanya balik.


"Ya itu... Apakah selama ini aku yang salah bersikap? Apakah sebaiknya aku ga ramah lagi sama dia?" Ryan bertanya dengan intonasi suara yang berbeda.

__ADS_1


"Ohhh... Eummmm... Aku juga ga tahu harus ngasi saran apa, Ryan. Tapi kalau kamu ramah ke setiap orang, kayaknya kamu ga perlu juga berubah hanya untuk dia. Hanya agar dia tahu bahwa kamu ga punya perasaan apa-apa sama dia." Amanda mulai menyampaikan pendapatnya.


Ryan diam dan menyimak setiap perkataan Amanda.


"Kita kan ga perlu berubah untuk orang lain. Kecuali berubah untuk menjadi orang yang lebih baik..." Tutur Amanda.


"Hemmm... That's right! Bener kata-kata kamu." Ryan menyetujui ucapan Amanda.


Ryan tidak menyangka ternyata Amanda bisa jadi bijaksana juga. Dia senang karena tidak salah memilih teman curhat. Padahal tadi dia hanya iseng-iseng saja menghubungi Amanda. Sekedar ingin punya teman ngobrol malam ini.


"By the way, kamu ga ke-geer-an nih aku telpon malam-malam?" Kelakar Ryan.


"Hahaha... Ga tuh! Kenapa aku harus geer?" Imbuh Amanda.


"Who knows?! Hahaha..." Tukas Ryan sambil tertawa.


"Biasa aja lagi!" Ujar Amanda santai.


"Ohh... Berarti kamu sering ditelpon cowok ya kalau malam?" Tuding Ryan.


"Ya ga dong! Jarang banget ada teman yang nelpon aku malam-malam. Kalau pun ada, biasanya karena ada keperluan sih..." Jelas Amanda.


"Hemmm... I see..." Ucap Ryan.


"Kamu aja nih yang aneh! Nelpon aku malam-malam cuma buat curcol!" Ledek Amanda.


"Hahaha... Iya. Ga masalah, bukan!? Kamu cocok juga jadi biro konseling." Canda Ryan diiringi tawa Amanda.


Mutiara lagi-lagi melirik kakaknya yang tertawa di telpon dengan tatapan tidak senang. Amanda menyadari hal itu. Dia mengendalikan diri dan mengecilkan suaranya.


"Trus... Itu cowok kamu, masa ga pernah nelpon malam hari?" Ujar Ryan dengan nada menyindir.


"Cowok aku?" Tanya Amanda.


"Iya. Si Doni. Setiap malam Minggu dia pasti nelpon kamu kan!" Seru Ryan.


"Ya ga lah... Dia bukan cowokku. Kami hanya teman biasa." Bantah Amanda.


"Ohhh... Really!?" Tanya Ryan seolah ragu dengan kata-kata Amanda.


"Ya." Jawab Amanda singkat.


"Hemmm... Kalau gitu, aku masih punya kesempatan dong ya!" Ujar Ryan sekenanya.


"Kesempatan apa? Idihh... Ngaco kamu!" Ujar Amanda.


Ryan tertawa terbahak-bahak. Malam ini dia merasa sudah lebih relax setelah ngobrol ngalor ngidul dengan Amanda.


"Hemmm... Ternyata dia seru juga diajak ngobrol!" Batin Ryan.

__ADS_1


__ADS_2