
Makan malam bersama telah usai. Amanda masuk ke kamarnya. Kedua adiknya melongo melihat sang kakak yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Kayaknya kak Amanda lagi linglung ya?" Tebak Magdalena.
Mutiara terlihat bengong. Dia sedang mencoba memahami maksud dari kata-kata Magdalena.
"Iya ya... Lagi kebanyakan PR kali. Atau mungkin nilai ulangannya kak Amanda lagi jeblok, kak..." Mutiara menebak dengan berbagai kemungkinan.
"Ho-ohh... Iya juga. Kakak kan biasanya jadi aneh gitu sikapnya kalau ada masalah di sekolah." Ujar Magdalena.
"Hemmm..." Mutiara mengangguk setuju dengan kata-kata Magdalena.
"Ya udah, ayo kita nonton film baru yang lagi heboh di netflix itu!" Ajak Magdalena.
"Ayo!" Seru Mutiara penuh semangat.
"Kita ga ngajak kak Amanda?" Tanya Mutiara.
"Ah... Ga usah! Kalau udah gitu, kak Amanda pasti ga bakalan mau nonton!" Tukas Magdalena.
"Oh... Iya ya..." Sahut Mutiara.
Magdalena dan Mutiara lalu terlihat sibuk berdiskusi dan memilih daftar film baru di Netflix yang ingin mereka tonton malam ini.
Esok hari libur karena tanggal merah di kalender. Semua anak sekolah pasti senang sekali jika ada tanggal yang berwarna merah di kalender selain hari Minggu.
Itu artinya hari kebebasan di tengah-tengah kesibukan. Dan biasanya para siswa akan menghabiskan waktu mereka untuk healing dari kepenatan tugas-tugas dan pelajaran di sekolah dengan berbagai cara.
Sewaktu masih kelas 1 SD, Mutiara pernah bersikap aneh terkait dengan warna tanggal di kalender.
Pada saat itu, secara kebetulan ada tiga warna tanggal di kalender yang terpajang di dinding dapur. Warna hitam, merah, dan hijau.
Mutiara menganggap warna hijau di kalender juga merupakan warna yang memberi tanda hari libur, sama seperti tanggal yang berwarna merah.
Entah siapa yang mengilhami Mutiara berfikir seperti itu. Hal itu masih menjadi misteri hingga saat ini.
Mutiara ngotot tidak mau ke sekolah jika tanggal tetap berwarna hijau. Kedua orang tua Amanda menjelaskan dengan sabar arti dari warna setiap tanggal. Tapi hasilnya nihil. Mutiara tetap tidak mau pergi ke sekolah jika tanggal di kalender masih berwarna hijau.
Akhirnya Amanda mendapat ide cemerlang. Keesokan harinya dia membeli kalender baru di sebuah toko buku yang terletak tidak begitu jauh dari sekolahnya.
Dia mengganti kalender di rumah dengan kalender baru tanpa sepengetahuan Mutiara.
Di kalender tersebut hanya ada tanggal yang berwarna merah dan hitam. Sejak saat itu, Mutiara tidak lagi mempermasalahkan persoalan warna tanggal di kalender.
Meskipun dalam hati Mutiara bertanya-tanya mengapa tanggal yang berwarna hijau tidak pernah muncul lagi dan kemana perginya kalender mereka yang lama.
Begitulah masa kanak-kanak! Selalu saja ada keanehan dan kekonyolan di masa kecil setiap orang.
__ADS_1
Terlepas dari itu semua, malam ini Amanda yang terlihat paling aneh. Dia lebih banyak diam dan merenung. Kini dia sedang melamun di kamarnya, sendirian sambil mendengarkan musik kesukaannya.
Lagu-lagu romantis membuat Amanda semakin baperan. Amanda sedang baper berat.
Bagaimana tidak? Doni telah melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh Amanda.
Amanda merasa wajahnya panas jika mengingat kembali kejadian tadi pagi di aula sekolah.
"Aiiihhh... Kenapa dia melakukan hal itu padaku?"
"Ya Tuhan! Dia benar-benar tidak sopan! Bagaimana kalau ada siswa lain yang melihat apa yang dia lakukan?"
Amanda merasa sangat khawatir. Dia betul-betul khawatir jika ada siswa lain yang melihat hal konyol itu.
"First kiss?"
"Dia merebut ciuman pertamaku begitu saja! Dasar bodoh! Kamu bodoh sekali, Amanda!"
Amanda tidak berhenti merutuki dirinya sendiri. Dia sungguh kesal. Namun dia jadi berdebar sendiri jika mengingat lagi kejadian itu.
"Begitukah rasanya?" Amanda membatin.
Dia menutup wajahnya dan menggigit pelan bibirnya.
"Dia tidak seharusnya melakukan itu! Ternyata dia sama saja seperti cowok lain, sama saja seperti kak Edo!"
"Aku tidak suka disentuh seperti itu! Doni sudah tidak sopan! Huhhh... Aku ga mau ketemu dia lagi!"
Amanda beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di depan meja belajar. Dia mengambil buku diary dan mulai menuliskan beberapa kalimat di sana.
Amanda meluahkan semua perasaannya yang campur aduk dan saling berkecamuk di dalam buku diary-nya. Setelah menulis, dia merasa lebih tenang.
"Kenapa semua cowok sekarang agresif sekali?"
"Apakah aku terlihat seperti cewek murahan yang bisa seenak jidatnya disentuh-sentuh begitu?!"
Amanda merutuk lagi. Dia menyesali apa yang telah terjadi tadi pagi. Wajah Doni kembali melintas di dalam benaknya.
"Huhhh... Dia memang ganteng! OK! Tapi seharusnya dia bisa lebih sopan!"
Amanda berkata dengan tegas pada dirinya sendiri.
"I love you."
"Aku serius, Amanda. Aku ingin kamu menerima cintaku!"
Tiba-tiba ucapan Doni tadi pagi terngiang-ngiang lagi di dalam fikiran Amanda.
__ADS_1
"Cinta...??" Amanda menggumam.
"Dia bilang dia mencintaiku?"
Amanda tercenung. Dia menutup buku diary-nya. Sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, dia mencoba mencerna lagi kata-kata Doni.
"Oh... Tidak! Apakah maksudnya dia ingin aku jadi pacarnya?!"
"Apakah itu yang dia mau?"
Amanda bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya hanya cewek bodoh yang akan menolak cinta seorang cowok sekeren Doni.
Tetapi Amanda sedang tidak ingin menjalin hubungan pacaran. Tidak dengan siapapun. Amanda tidak ingin dirinya salah pergaulan.
"Tapi Doni itu anak yang baik, Amanda. Sudahlah, terima saja cintanya!"
Sesuatu berbisik pelan di relung hati Amanda.
"Kamu itu fokus belajar saja, jangan sibuk pacaran! Emang kamu mau sekolah kamu nanti jadi berantakan?"
Suara yang lain berbisik lagi membuat Amanda galau.
"Idih... Lebay amat sih! Banyak kok cewek-cewek yang pacaran dan mereka tetap jadi orang yang sukses."
"Jangan, Amanda! Ingat, jangan mendekati zina. Pacaran itu dekat sekali sama zina. Ingat Amanda, itu juga bagian dari dosa!"
"Ya ampun! Siapa juga yang mau berzina! Please deh... Realistis aja. Pacaran itu juga bisa ngasih hal yang positif."
"Kamu bakalan makin semangat ke sekolah karena ada dia. Pacar kamu itu ganteng banget loh! Kamu pasti bangga punya cowok sekeren dia. Ayolah, Amanda!"
"Tidak, jangan Amanda! Kamu lihat kan, belum pacaran saja dia sudah berani nyentuh-nyentuh kamu! Bayangin gimana setelah pacaran nanti?"
Amanda semakin galau dengan pertempuran yang sedang berlangsung di dalam benaknya.
"Ya Tuhan... Kenapa sih hal seperti ini harus aku alami?" Amanda mendesis lirih.
"Doni... Kenapa kamu jadi aneh gitu?" Amanda mencelos.
Drrrrrtttt.
Amanda tersentak dari lamunannya. Dia melirik smartphone-nya yang bergetar di atas meja.
Ryan.
"Hemmm..." Amanda menimbang sejenak apakah sebaiknya dia menerima atau mengabaikan saja panggilan dari Ryan.
"Mungkin ada yang penting yaa..." Batin Amanda.
__ADS_1
"Halo..." Ucap Amanda akhirnya.
***