Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Amanda Galau


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam, hujan masih turun dengan derasnya, membuat udara di malam itu menjadi semakin dingin.


Amanda sedang fokus mengerjakan beberapa tugas dan PR yang diberikan oleh guru mata pelajaran Bahasa Inggris di kamarnya. Dia sudah tiba di nomor soal terakhir ketika smartphone-nya tiba-tiba berdering nyaring, mengagetkan dirinya.


Helena. Nama yang muncul di layar smartphone Amanda. Amanda menghentikan kegiatan belajarnya, meletakkan pulpen di atas meja dan segera meraih smartphone-nya.


"Halo..." Ucap Amanda pelan.


"Halo, Amanda! Kamu lagi apa? Aku ganggu ga nih?" Ujar Helena di seberang sana. Suaranya terdengar begitu penuh semangat.


"Hemmm... Ga kok..." Amanda berbohong.


"Kamu lagi apa nih?" Helena bertanya lagi.


"Errrr... Lagi ngerjain PR Bahasa Inggris..." Akhirnya Amanda berkata dengan jujur.


"Oh... Aku jadi ganggu nih ceritanya!" Tukas Helena.


"Ga kok, Helen. Santai aja. Ada apa nih?" Amanda mulai merasa penasaran karena tidak biasanya Helena menelpon dirinya di malam hari.


"Serius kamu?" Helena mencoba memastikan lagi sebelum menyambung kalimatnya.


"Iya, Helen. Ada apa? Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Amanda.


"Ya udah, besok aku nyontek PR nya yaa... Hahaha..." Ujar Helena asal.


Amanda menahan diri untuk tidak mengomeli Helena. Teman sebangkunya ini memang hobi sekali mencontek. Benar-benar hobi yang buruk. Amanda hanya bisa mengeluh dalam hati.


"Amanda, kamu tahu apa!?" Ujar Helena setengah berteriak.


"Apa? Ada apa? Ada kabar baik ya? Kamu sepertinya senang sekali. Hehehe..." Tebak Amanda.


"Hahaha... Kak Edo udah putus sama pacarnya yang genit itu lohhh!!" Helena berkata sambil tertawa terbahak-bahak.


Amanda kaget setengah mati, hampir saja dia jatuh terjungkal dari kursinya. Kata-kata Helena betul-betul membuat dirinya shock. Bagaimana mungkin!


"Maksudmu?" Tanya Amanda penasaran.


"Hahaha... Kamu pasti ga percaya kan!? Hahaha..." Ujar Helena, masih diikuti oleh suara tawanya yang cetar.


"Putus lohhh... Putus..." Seru Helena girang.


"Hahhh... Kok bisa? Gimana ceritanya?" Amanda mendadak kepo. Dia melengos sendiri.


"Panjang ceritanya, Amanda. Yang jelas kak Edo yang mutusin hubungan mereka karena ga suka sama sikap cewek genit itu." Helena menjelaskan gossip yang baru saja didengarnya tadi sore.


"Oh... Kok bisa ya? Padahal mereka kan baru aja jadian..." Ucap Amanda pelan, seolah berbicara dengan dirinya sendiri.


"Ya bisa dong! Cewek genit ga beres gitu mah ga cocok sama kak Edo!" Tukas Helena berang.


"Hemmm... Iya sih..." Amanda setuju dengan pendapat Helena.


"Ya udah deh... Kamu lanjut aja dulu ngerjain PR. Ga enak juga, aku malah jadi gangguin kamu belajar. Hehehe..." Ujar Helena.

__ADS_1


"Hemmm... Gapapa, Helena. Santai aja..." Ucap Amanda.


"Besok pagi aku ceritain semuanya yaaa... Kamu pasti bakalan lebih shock! Hahaha..." Ujar Helena sambil tertawa lebar.


"Hemmm... Baiklah..." Ucap Amanda.


"Sampai jumpa besok di sekolah. Jangan lupa contekan buat aku ya... Hahaha..." Ujar Helena sekenanya.


"Hemmm... Sampai ketemu besok, Helen." Ucap Amanda dengan nada pasrah.


Helena mengakhiri panggilan. Amanda terdiam, termangu di kursinya. Dia meletakkan smartphone usangnya di atas meja belajarnya dan mencoba mencerna isi pembicaraan dirinya dengan Helena barusan.


"Putus? Kak Edo?" Gumam Amanda pelan.


Bagaimana mungkin! Amanda terdiam dan terduduk membisu, membayangkan wajah kak Edo yang pernah sangat dikaguminya.


Bayangan sosok cewek yang menjadi pacar kak Edo kembali melintasi benaknya, disusul bayangan kemesraan mereka berdua yang pernah tertangkap langsung oleh matanya.


Mustahil! Rasanya itu sangat mustahil! Bahkan mereka baru saja jadian! Putus? Impossible!


Amanda tidak sabar rasanya menunggu esok pagi tiba. Dia ingin secepatnya mendengar langsung dari bibir Helena tentang kisah putusnya cinta kak Edo dan pacarnya itu.


Amanda menoleh ke atas meja belajarnya dan melihat buku PR Bahasa Inggris tergeletak di sana. Buku tulis itu seolah-olah memanggilnya untuk melanjutkan kembali tugasnya yang tertunda tadi. Amanda melenguh. Ia menarik buku itu dan melanjutkan menyelesaikan PR nya dengan hati yang amburadul. Amanda tiba-tiba saja merasa begitu galau.


Setelah menyelesaikan semua tugas dan PR nya, Amanda merapikan buku-buku dan alat tulisnya. Magdalena dan Mutiara masuk ke kamar. Mereka juga sibuk mempersiapkan buku pelajaran yang harus dibawa besok pagi ke sekolah.


Amanda berjalan gontai ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan wajahnya, menggosok gigi, dan mencuci kaki.


Amanda masuk ke kamar, dia melihat kedua adiknya sudah terlelap.


"Enaknya jadi anak kecil, hidup tanpa beban..." Batin Amanda.


Amanda membuka lemari pakaian mereka, mencari baju piyama yang biasa dipakainya untuk tidur. Dia berganti pakaian dengan cepat dan merebahkan tubuhnya di samping Magdalena.


Amanda merasa tempat tidur mereka mulai terasa sempit. Magdalena dan Mutiara sudah semakin besar sekarang. Sepertinya salah satu dari mereka harus mengalah untuk tidur di kamar sebelah. Namun sayangnya belum ada tempat tidur di kamar sebelah.


Amanda membayangkan betapa repotnya kedua orang tuanya nanti harus membeli tempat tidur baru. Ia melengos sambil berbaring miring dan menarik selimutnya untuk menghangatkan tubuhnya yang sedikit kedinginan.


Tiba-tiba smartphone Amanda berdering lagi, membuat Amanda terlonjak dari tempat tidur dan refleks bergerak meraih dan mengecilkan volume dering ponselnya. Dia menatap kedua adiknya dengan panik, khawatir jika mereka terbangun dan terganggu oleh suara dering dari smartphone itu. Untung saja Mutiara dan Magdalena masih tertidur pulas.


Amanda menatap cemas nama yang tertera di layar ponselnya. Doni.


"Ya Tuhan... Mau apa lagi dia malam-malam gini video call..." Desis Amanda.


Ia menarik kursi di depan meja belajarnya, lalu duduk dengan panik.


"Hai... Lagi apa?" Tanya Doni sambil tersenyum tipis.


Amanda terserang kepanikan tingkat dewa melihat senyum tipis di wajah tampan Doni. Ia mengubah posisi duduknya.


"Errrrr... Ada apa Doni? Kenapa VC malam-malam?" Amanda balas bertanya. Ia berusaha menyembunyikan rasa panik yang sedang menyerang.


"Aku rindu..." Ucap Doni pelan.

__ADS_1


"Hahhh... Apa?" Wajah Amanda kini bersemu.


Amanda sungguh terpesona sekaligus merasa sangat gugup mendengar ucapan Doni. Ia menggigil kedinginan. Entah karena udara malam yang dingin, entah karena ucapan rindu dari Doni.


Amanda meraih selimutnya dan melingkari tubuhnya dengan selimut itu. Doni memperhatikan setiap gerakan Amanda dengan gemas.


"Kamu kedinginan?" Tanya Doni.


"Hemmm..." Amanda hanya mengangguk-angguk, berusaha terlihat tenang padahal hatinya menjerit-jerit tidak karuan.


Doni tersenyum dan menatap tajam wajah Amanda di layar ponselnya. Dia mengubah posisi rebahannya dan melanjutkan melihat reaksi panik Amanda yang menggemaskan.


Sambil menguatkan hati menatap wajah Doni yang terlihat begitu tampan malam ini, Amanda melontarkan pertanyaan lagi, "Ada apa kamu VC jam segini?"


"Hemmm... Aku sudah jawab tadi." Tukas Doni singkat.


Amanda berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona dengan selimutnya.


"Apaan sih..." Desis Amanda pelan. Dia tidak ingin kedua adiknya terbangun karena mendengar suaranya.


Doni terdiam namun sepasang matanya yang indah itu tetap menatap Amanda dengan tajam. Amanda merasa tidak kuat beradu tatapan mata dengan Doni meski secara virtual begini.


Wajah Doni memenuhi seluruh ruang di layar smartphone-nya. Kemanapun Amanda mengalihkan pandangannya ke setiap inci bagian wajah Doni, dia tidak bisa menemukan sedikitpun cela di sana. Wajah itu terlihat begitu sempurna.


"Kamu tadi pulang naik apa?" Tanya Amanda, berusaha mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi debaran jantungnya.


"Hemmm... Kenapa?" Doni bertanya balik.


"Aku kan nanya..." Tukas Amanda. Jantungnya masih berdebar kencang, tentu saja!


"Kebiasaan ini anak, kalau ditanya pasti nanya balik!" Amanda merutuk dalam hati.


"Kamu ga rindu sama aku?" Doni tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang aneh.


"Doni...! Apaan sih kamu..." Ujar Amanda dengan suara tertahan. Dia merasa tengggorokannya tercekat, tidak menyangka akan diberikan pertanyaan aneh begitu.


Lagi-lagi Amanda merasakan wajahnya menjadi panas, meskipun tubuhnya agak kedinginan. Doni menatapnya dengan lembut, membuat Amanda terhanyut beberapa detik.


"Ya sudah, kamu istirahatlah..." Doni berkata dengan suara lembut.


Amanda tersentak, ia mencoba mengembalikan kesadarannya yang hilang beberapa detik tadi.


"Hemmm... Kamu juga..." Amanda berkata dengan susah payah.


Doni mengakhiri video call mereka. Amanda menatap layar ponselnya dengan hati berdebar. Pikiran Amanda tanpa bisa dicegah melayang membayangkan wajah tampan Doni. Ya, Doni ternyata memang tampan. Kini Amanda mengakui hal itu dengan hati yang tulus.


"Aku rindu..." Ucapan itu terus bergelayut manja di pikiran Amanda.


Semakin ia memejamkan mata, wajah Doni dengan tatapan mautnya semakin jelas muncul di benaknya.


"Ya Tuhan... Apa aku mulai menyukainya?" Amanda mendesah dalam kegalauan. Ia menarik selimutnya, malam ini terasa begitu dingin. Tak ingin semakin bucin, Amanda berjuang keras memejamkan matanya.


Amanda meringkuk dalam balutan selimutnya yang hangat dan tidak berapa lama kemudian tertidur pulas dalam mimpinya yang indah. Mimpi yang tanpa disadari akan mengubah hari-harinya di sekolah.

__ADS_1


__ADS_2