Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Ikut ke Yayasan


__ADS_3

Doni celingak-celinguk mencari dimana posisi Amanda saat ini. Dia sudah mengelilingi beberapa rak buku tetapi belum juga melihat sosok Amanda ada di sana.


"Huhhh... Dia dimana ya?!" Doni bertanya dalam hati.


Amanda mengintip di antara sela-sela buku. Dia merasa begitu lega karena tidak melihat Doni di sana.


"Hahaha... Syukurlah... Dia tidak mencariku. Aman..." Ujar Amanda.


Amanda lalu berjalan menuju ke arah lift. Dia berfikir sebaiknya dia naik dulu ke lantai atas. Paling tidak, dia bisa meyakinkan diri dulu bahwa Doni sudah tidak ada lagi di sana.


Jika kondisi sudah benar-benar aman, dia bisa turun lagi dan duduk sambil membaca novel di sofa tadi.


Dalam hati, Amanda merutuk kesal karena kegiatan favoritnya membaca buku menjadi terusik. Hal itu semua karena kemunculan sosok Doni di toko buku tersebut.


"Kenapa sih aku harus ketemu dia di sini?"


"Dia betul-betul seperti hantu... Gentayangan dimana-mana. Huhhhh..."


Amanda berjalan cepat sambil membatin kesal. Dia tidak peduli dengan tatapan beberapa cewek ke arahnya.


Amanda tahu pastilah ekspresi wajahnya sangat kacau saat ini. Tapi ini bukan waktunya untuk memperdulikan hal remeh-temeh seperti itu. Bagaimana ekspresi wajahnya sekarang, itu tidaklaj penting.


Trap!!


DEG!!!


Hampir saja Amanda menjerit karena kaget. Dengan cepat ia mengatupkan mulut dengan tangannya.


Benar-benar seperti hantu, Doni tiba-tiba sudah muncul di depannya. Amanda mengelus dada saking kagetnya.


"Kamu itu! Kayak hantu tahu, aku kaget beneran!" Tuding Amanda dengan wajah serius.


Doni hanya mendengus pelan.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Doni.


Amanda langsung sewot.


"Ya mau beli buku! Lah kamu ngapain ngikutin aku, hah?!" Ujar Amanda galak.


"Beli buku buat siapa?!" Tanya Doni dengan wajah serius.


Amanda melengos. Dia merasa pertanyaan Doni adalah pertanyaan yang amat sangat tidak penting untuk dijawab.


Alih-alih menjawab, Amanda malah ngacir begitu saja. Dia sedang tidak ingin bercakap-cakap dengan Doni sekarang. Dia masih terlalu kesal dengan insiden di pensi.


Doni menangkap tangan Amanda. Amanda shock setengah mati.


"Apaan sih?! Lepaskan!" Amanda mengibaskan tangannya.


"Doni! Jangan ga sopan di sini ya! Berani-beraninya kamu pegang tangan aku!" Tukas Amanda gusar.


"Mama aku nungguin kamu di sana..." Ucap Doni dengan wajah cuek.


DEG!!!

__ADS_1


"Mama?" Amanda melongo sesaat.


"Ayo! Ikut aku!" Doni langsung menarik tangan Amanda.


"Eh... Eh... Lepaskan!"


"Doni... Lepaskan aku!"


"Apaan sih kamu? Kok maksa-maksa aku?"


Amanda berusaha mati-matian mengeluarkan suara dalam volume yang tidak menarik perhatian orang lain.


"Kamu melawan?" Doni menyipitkan matanya.


Doni kini menatap Amanda lurus-lurus. Amanda merinding sendiri melihat tatapan Doni yang tajam menusuk matanya.


"Jangan buat aku melakukannya lagi..." Doni berbicara dengan suara mendesis.


Sontak saja wajah Amanda merona. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah Doni. Jujur saja, kini Amanda merasa deg-degan.


"Apa maksud dia berkata begitu?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.


"Apa dia ingin melakukan hal itu lagi?" Amanda merasa wajahnya panas.


"Ayo! Kami buru-buru!" Suara Doni kini sudah berubah, terdengar lebih tegas.


Amanda tidak berdaya. Akhirnya dia mengikuti langkah Doni walaupun dengan hati terpaksa.


Doni menggandeng Amanda berjalan melewati beberapa deretan rak buku di sekitar mereka.


Amanda sempat menatap tatapan iri beberapa gadis yang dilewatinya. Ia menebak dalam hati, pasti para gadis itu terkagum-kagum dengan sosok Doni yang begitu tampan rupawan.


"Huhhh... Kenapa sih sampe bengong gitu?"


"Apa segitu anehnya kami berdua? Sampai-sampai semua melirik dengan tatapan aneh... Huhhh..."


Sambil berjalan di belakang Doni, Amanda merutuk sendiri di dalam hati.


Dia merasa sedikit lega karena Doni sudah melepaskan genggaman tangannya.


Amanda tercengang sedikit ketika melihat seorang wanita yang cantik dan anggun melambai ramah ke arah Doni.


"Itu ibu yang tadi..." Amanda membatin.


"Oh... Sayang, mengapa lama sekali?"


"Hemmm... Ya sudah, ayo! Kasihan Pak Heru nanti menunggu lama di parkiran..."


Wanita cantik itu berbicara sambil tersenyum. Suaranya terdengar begitu lembut.


"Hemmm... Sayang, kamu ga ngenalin ke mama kawan kamu yang manis ini?" Ujar Nyonya Wishnu sambil tersenyum simpul.


"Hemmm..." Doni menggumam dan melirik sinis ke arah Amanda.


Amanda merasa sebal sekali melihat cara Doni menatap dirinya.

__ADS_1


"Iiiihhh... Kenapa dia mendadak jadi sinis begitu?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.


"Ini Amanda, ma. Teman sekolah Doni." Ujar Doni dengan suara datar.


"Ohh... Halo, Amanda. Apakah Doni mengganggu waktu kamu saat ini?"


Nyonya Wishnu bertanya dengan mimik wajah ramah dan bersahabat. Ekspresi wajah Nyonya Wishnu itu membuat Amanda secara refleks menggelengkan kepalanya.


"Hemmm... Baiklah, kalau begitu kamu tidak keberatan kan menemani Doni ke yayasan?" Nyonya Wishnu tersenyum manis.


"Errrr... Iya, bu..." Hanya itu kata-kata yang terlontar dari bibir Amanda.


Amanda sebenarnya merasa bingung sendiri kenapa dia harus mengikuti Doni dan mamanya saat ini. Dia bahkan tidak mengerti kemana tujuan mereka nanti.


"Yayasan... Yayasan apa sih?"


"Kenapa aku jadi harus ikut mereka sih?"


"Huhhhh... Ini semua gara-gara dia! Kayaknya dia selalu buat masalah dalam hidupku! Grrrrr..."


Amanda merasa benar-benar kesal. Dia menatap tajam Doni sekali-sekali. Sedangkan Doni hanya memasang wajah cuek. Dia tidak peduli dengan tatapan Amanda yang seolah ingin meracuninya dengan sianida.


"Ohhh... Pak Heru, mohon maaf jadi menunggu begitu lama..." Nyonya Wishnu berkata dengan sopan.


"Tidak perlu sungkan, Nyonya. Apakah semua sudah beres?" Tanya Pak Heru dengan nada suara yang tidak kalah sopan.


Nyonya Wishnu mengangguk cepat dan bergegas masuk ke mobil ketika Pak Heru membukakan pintu mobil untuknya.


"Ayo masuk, Amanda." Ajak Nyonya Wishnu.


Pak Heru menatap dengan tatapan bingung ke arah Amanda yang masih berdiri termangu. Sementara Doni sudah masuk dan duduk di jok depan.


Amanda merasa lebih bingung lagi melihat mobil mewah yang ada di hadapannya.


Kejutan apa lagi ini? Mengapa ada mobil mewah begini di sini?


"Pak Heru, ini Amanda. Temannya Doni di sekolah. Dia akan ikut kita ke yayasan." Nyonya Wishnu mencoba menjelaskan secara singkat kepada Pak Heru.


"Oh... Baik. Mari, silakan masuk, Nona Amanda!" Ujar Pak Heru.


DEG!!!


Nona Amanda?


Mengapa harus dipanggil formal begitu?


Berbagai pertanyaan mendadak muncul di benak Amanda. Namun dia menepis semua itu dan masuk ke dalam mobil dengan patuh.


Sepanjang perjalanan, Amanda tidak bisa mengalahkan pertarungan di dalam benaknya. Meskipun dia hanya duduk dan diam, sesungguhnya berbagai pertanyaan terus saja berkelebat di benaknya.


"Ini bukan ojol. Ini mobil pribadi! Ya, ini mobil pribadi."


"Buktinya, bapak itu patuh dan hormat sekali pada mamanya Doni. Hemmm..."


"Siapa dia sebenarnya?"

__ADS_1


Amanda menatap lurus-lurus siluet Doni yang duduk di jok depan.


***


__ADS_2