Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Malam Minggu


__ADS_3

Amanda mencoba menggerakkan seluruh persendiannya yang terasa kaku dengan cara melakukan senam ringan di rumah.


Padatnya kegiatan Amanda di sekolah membuat dirinya begitu sibuk setiap hari hingga melupakan aktivitas olah raga ringan yang biasa dilakukannya di akhir pekan.


Biasanya Amanda dan kedua adiknya memilih melakukan jogging di sebuah taman di dekat rumah mereka. Namun dikarenakan tadi pagi Amanda beserta kedua sahabatnya pergi menjenguk Tiwi, Amanda akhirnya membatalkan kegiatan jogging bersama Magdalena dan Mutiara.


"Kak, mau nitip baso aci ga?" Mutiara tiba-tiba menghampiri Amanda yang baru saja menyelesaikan tahapan pendinginan.


Amanda mengatur nafasnya dan berfikir sejenak. "Hemmm... Ga deh... Kalian pada mau jajan baso aci ya?" Tanya Amanda.


"Iya kak..." Ucap Mutiara.


"Oh... Ya udah... Buruan gih. Ntar keburu sore, Bu De udah tutup warung." Ujar Amanda sambil melirik Magdalena yang sedang mengeluarkan sepedanya dari gudang belakang.


Setelah kedua adiknya pergi, Amanda duduk di kursi teras rumah mereka. Ia membiarkan keringatnya yang bercucuran mengering sendiri karena diterpa semilir angin sore yang terasa sejuk di kulit.


Perlahan angin sore yang sejuk itu mulai terasa dingin. Langit berubah menjadi agak gelap, mendung mulai menyelimuti.


"Wahhh... Sepertinya malam ini bakal hujan lagi nih..." Gumam Amanda.


Cuaca memang tidak mudah diprediksi. Tadi pagi langit begitu cerah, matahari bersinar terang benderang. Awan putih terlihat begitu mempesona dengan latar biru langit yang sempurna. Akan tetapi, kini mendadak langit menjadi gelap. Awan berwarna kelabu mulai terlihat bergelantungan di langit.


Amanda mulai khawatir dengan kedua adiknya yang baru saja pergi ke warung Bu De untuk membeli baso aci kesukaan mereka. Kalau hujan mendadak turun mereka bisa kebasahan saat pulang nanti, pikir Amanda.


Beberapa menit kemudian terlihat Magdalena mendayung sepedanya dengan cepat. Mutiara turun dari sepeda kakaknya sambil menenteng dua bungkus baso aci. Dia berlari-lari kecil di tengah gerimis yang mulai turun. Sementara Magdalena membawa sepedanya masuk ke dalam gudang belakang.


"Hujan-hujan gini enak banget makan baso aci!" Seru Mutiara girang.


"Untung aja kalian cepat pulang..." Ujar Amanda lega.


"Iya kak, tadi mau makan di warung Bu De. Tapi kak Lena langsung ngajak pulang, takut nanti kehujanan." Kata Mutiara.


"Dek...!!" Seru Magdalena dari dalam rumah.


"Iya kak!" Sahut Mutiara.


"Bawa ke sini basonya, nanti keburu dingin lohhh!" Teriak Magdalena.


"Iya! Iya!" Tukas Mutiara sambil bergegas ngeloyor masuk ke dalam rumah, meninggalkan Amanda yang masih duduk santai di teras depan.


Amanda menyandarkan tubuhnya dengan posisi santai di kursi teras yang cukup nyaman. Dia mulai merasa rileks, tubuhnya kembali terasa segar.


Amanda mengerutkan dahi sedikit. Fikirannya melayang sejenak pada kejadian tadi pagi. Ryan menghubunginya dan sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Namun pembicaraan mereka tadi terputus.


"Kenapa Ryan ga nelpon lagi ya?" Amanda bertanya dalam hati.


Amanda tadi pagi juga lupa menelpon Ryan kembali karena sibuk menenangkan Nunik dan Vera yang terus saja meledek dirinya. Mereka mendadak menjadi lebay. Nunik bahkan tanpa ragu mengatakan dengan lantang bahwa Amanda sekarang sudah menjadi rebutan cowok-cowok ganteng di sekolahnya. Sungguh lebay!


"Ada-ada aja mereka..." Desah Amanda sambil geleng-geleng kepala.


"Amanda! Udah sore, nak. Mandi dulu!" Ibu Amanda menyeru dari dalam rumah.


"Iya bu. Sebentar!" Ujar Amanda.


Amanda beranjak ke dalam, mengambil handuknya dan mengikuti perintah ibunya. Magdalena terlihat mulai sibuk di dapur. Ia dan Mutiara sedang mencuci mangkuk bekas baso aci yang baru saja selesai mereka santap.


Amanda mandi dengan cepat dan berganti pakaian. Suara hujan yang mengguyur genteng rumah mereka terdengar begitu jelas. Amanda sangat menyukai suara hujan. Dia mulai merebahkan tubuhnya untuk bersantai di atas tempat tidur sambil membaca sebuah novel detektif.


Amanda benar-benar fokus dan tenggelam dalam keseruan kisah petualangan sang detektif yang sedang dibacanya ketika ponselnya berbunyi dan bergetar di atas meja belajarnya.


Ryan.


"Halo, Amanda." Ucap Ryan dengan suaranya yang ramah seperti biasa.

__ADS_1


Amanda spontan membayangkan wajah Ryan dengan senyum sumringah yang selalu bertengger setia di wajahnya yang tampan itu.


"Halo, Ryan." Ucap Amanda sambil tersenyum.


Di ujung sana Ryan bisa merasakan senyuman hangat dari Amanda. Cowok tampan itu menjadi lebih bersamangat untuk menyampaikan sesuatu.


"Maaf ya, tadi pagi telponnya terputus..." Ujar Ryan merasa bersalah.


"Oh iya... Gapapa... Ada apa nih? Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Amanda tanpa basa-basi.


"Ya, sayang. Aku butuh bantuanmu." Ryan tertawa kecil dan berkata dengan intonasi suara yang mengalun lembut.


Amanda merinding beberapa detik. Dia merasa sedikit kaget dengan ucapan Ryan.


"Sayang!?" Kenapa hari ini semua manusia mendadak menjadi lebay?


"Hemmm... Apa yang bisa aku lakukan?" Amanda bertanya lagi.


"Besok pagi kamu ada waktu senggang ga?" Ryan balik bertanya.


"Hemmm... Iya." Jawab Amanda singkat.


Ryan seperti berpikir, kemudian berkata, "Besok pagi ada pameran karya ilmiah di aula SMA Negeri 10. Kamu temani aku ke sana ya..."


"Wowww... Keren! Acaranya pasti keren!" Amanda berkata penuh semangat.


Namun Amanda tersadar, sepertinya dia tidak tahu tepatnya dimana lokasi SMA Negeri 10 yang dimaksud oleh Ryan.


"SMA Negeri 10? Dimana ya lokasinya? Aku lupa-lupa ingat deh..." Tanya Amanda.


"Ga terlalu jauh sih dari sekolah kita. Arah ke pusat kota." Ryan mencoba memberikan gambaran lokasi SMA tersebut.


"Oh iya! Aku ingat! OK... OK... Besok pagi kita ketemu di sana ya!" Seru Amanda penuh semangat.


"Yesss! Aku tahu kamu pasti semangat mau ikutan ke sana." Ujar Ryan sambil tertawa lagi.


"Hemmm... Jam 9 pagi. Mau aku jemput, sayang?" Ucap Ryan santai.


Amanda tersentak sedikit. Ia merasa nafasnya tercekat. Sudah dua kali Ryan memanggilnya dengan ucapan "sayang". Cowok ini benar-benar lebay!


"Errrr... Terima kasih, Ryan. Kita ketemu di sana aja ya! Hehehe..." Ujar Amanda gelagapan.


"Baiklah. Sampai ketemu besok pagi, Amanda!" Ryan berkata dengan intonasi tenang yang biasa, seolah kata-kata yang sedari tadi diucapkan olehnya adalah hal paling normal dan alami sedunia.


"Iya, Ryan..." Ucap Amanda pelan.


Ryan memutuskan panggilan. Amanda sangat tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan karya tulis. Dia juga berencana akan mempelajari penulisan karya ilmiah yang baik dan benar secara bertahap. Dia merasa senang mendapatkan informasi tentang pameran tersebut.


"Semoga besok pagi cuaca cerah lagi..." Amanda berdo'a di dalam hati.


Selama beberapa saat setelah itu, Amanda kembali melanjutkan bacaannya yang tertunda. Dia bahkan tidak menyadari ketika kedua adiknya masuk ke kamar dan saling ribut karena memperebutkan remote TV yang sedang digenggam oleh Magdalena.


Amanda ingin menghardik kedua adiknya, namun mereka berdua sudah keluar dari kamar.


"Huhhh... Pasti rebutan channel lagi itu anak..." Desis Amanda sebal.


Amanda membalikkan tubuhnya yang masih berada dalam posisi rebahan. Namun lagi-lagi smartphone Amanda berdering dan mengagetkan dirinya yang sedang fokus membaca novel.


"Siapa lagi ini?" Amanda mendesis lagi.


DEG!


Doni.

__ADS_1


"Aduh... Apa lagi ini? Kenapa sih dia hobi banget video call malam hari?" Amanda bertanya dalam hati dengan rasa panik yang mulai datang menyerang.


Amanda berfikir sejenak, dia berniat mengabaikan panggilan video dari Doni. Namun jempolnya tanpa menunggu aba-aba sudah menyentuh layar ponselnya untuk menerima panggilan video tersebut.


"Hai..." Doni menyapa sambil tersenyum tipis.


"Hemmm..." Gumam Amanda sambil mencoba menetralkan debaran jantungnya.


"Gila. Kenapa aku sekarang jadi baperan gini?" Amanda merutuk dalam hati.


"Kamu ga kemana-mana malam ini?" Tanya Doni.


Amanda menggeleng. "Ga. Emangnya kenapa?" Amanda bertanya balik.


Seulas senyum terpampang sempurna di wajah Doni yang tampan. Amanda merasa dirinya mulai tidak kuat melihat senyuman itu. Dia berusaha mengalihkan pandangannya.


"Ini kan malam Minggu." Ujar Doni.


"Oh... Iya. Aku ga biasa keluar malam." Kata Amanda.


"Kamu sendiri ga keluar?" Amanda iseng bertanya.


"Untuk apa?" Doni balik bertanya.


"Ya terserah kamu. Nongkrong, nge-date, atau apalah... Mumpung malam Minggu!" Sergah Amanda sekenanya.


Doni tertawa kecil. Dia kemudian berkata, "Tapi aku lagi nge-date sama kamu..." Suaranya terdengar begitu lembut.


Amanda tersentak. "Apaan sih kamu!" Ujar Amanda dengan suara tercekik.


Doni tertawa lagi, kali ini tawanya lebih lebar dari sebelumnya. Amanda berusaha mati-matian agar ekspresi wajahnya terlihat normal di depan Doni yang terus saja menatapnya seperti tak berkedip.


"Kamu ini... Gombal gembel!" Keluh Amanda sambil memasang wajah sebalnya yang sesungguhnya sangat disukai oleh Doni.


"Aku ga gombal. Aku sayang kamu." Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Doni.


Amanda terperangah. Dia benar-benar shock. Mereka berdua terdiam beberapa saat. Doni menatap tajam wajah Amanda di layar ponselnya. Amanda sungguh merasa mati kutu ketika ditatap begitu. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang.


"Doni... Apa... Apa maksudmu?" Tanya Amanda terbata-bata.


Amanda merasa otaknya sedang buntu malam ini. Dia tidak bisa mencerna dengan baik kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Doni.


Sepertinya Doni juga merasa sedikit salah tingkah. Dia mulai merasa debaran yang aneh di dalam dadanya. Ini perasaan yang aneh.


"Kamu sudah makan malam?" Doni mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Belum." Jawab Amanda.


"Oh... Maaf, sepertinya aku jadi mengganggu..." Ucap Doni pelan.


"Ga kok..." Ujar Amanda. Kini dia benar-benar tidak mampu berkata-kata. Hanya kata-kata singkat yang keluar dari mulutnya.


Doni menghela nafasnya dengan berat, tersenyum tipis, dan berkata, "Happy Satnite."


Amanda terdiam membisu. Wajahnya bersemu. Dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun sampai Doni mengakhiri panggilan video tersebut. Dia kembali memandang layar ponselnya dengan tatapan kosong.


"Aku sayang kamu."


Kata-kata itu terngiang-ngiang dengan lembut di telinga Amanda.


"Oh Tuhan... Apa maksudnya ini?" Amanda mendesah dalam fikirannya yang gundah.


Suara panggilan dari ibunya membuyarkan lamunannya. Amanda memutuskan untuk mengisi perutnya yang mulai terasa lapar.

__ADS_1


"Karena baperan juga butuh energi..." Desah Amanda.


Ia melengos dan melangkah gontai menuju dapur.


__ADS_2