Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Pensi


__ADS_3

Hiruk-pikuk suasana di SMA Adhyaksa pagi ini benar-benar menghebohkan. Kegiatan belajar mengajar pagi ini berganti dengan pelaksanaan event yang selalu ditunggu-tunggu oleh semua siswa-siswa SMA Adhyaksa, yakni acara pentas seni.


Berbeda dengan kegiatan pentas seni yang biasanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah lain, pentas seni yang dilaksanakan di SMA Adhyaksa kali ini mewajibkan setiap siswa tetap mengenakan seragam sekolah seperti biasanya.


Hanya pada saat naik pentas untuk adegan tertentu, siswa boleh berganti pakaian dan mengenakan kostum khusus sesuai tema acara yang dibawakan.


Hal ini awalnya menimbulkan berbagai reaksi dari para siswa, khususnya para siswa yang sudah lebih senior.


Namun setelah diberikan penjelasan dan pemahaman oleh para guru melalui pengurus OSIS, para siswa berusaha menerima dan memaklumi keputusan peraturan sekolah tersebut.


Akhirnya hari ini, SMA Adhyaksa tetap dipenuhi oleh para siswa dengan seragam putih abu-abu.


Beberapa siswa undangan dari SMA-SMA lain terlihat sedikit kaget dengan hal itu.


Tetapi mereka sudah memaklumi bahwa SMA Adhyaksa memang berbeda dengan SMA-SMA lainnya di kota itu.


Di tengah-tengah keramaian, Amanda mencari-cari Helena di kelas namun tidak berhasil menemukan gadis itu.


"Hemmm... Kemana sih dia? Tadi ada di sini deh..." Amanda membatin sambil melihat sekeliling kelas.


"Hei, Amanda! Sini... Sini..." Terlihat Yuni melambai-lambai di depan pintu kelas.


Amanda menimbang sejenak, apakah sebaiknya dia menghampiri Yuni atau tetap menunggu Helena di bangkunya.


Akhirnya dia memutuskan menemui Yuni setelah melihat kelas mulai sepi.


"Ayo! Ngapain ngumpet di kelas sih? Kamu ga mau nonton kegiatan pensi ya?" Tanya Yuni.


"Hemmm... Aku nungguin Helena. Dia belum balik ke kelas." Tutur Amanda apa adanya.


Yuni dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak ketika mendengar jawaban Amanda.


"Helena?! Kamu bilang, kamu nungguin Helena?!" Yuni memastikan lagi kata-kata Amanda, seolah dia salah dengar tadi.


Amanda mengangguk mantap sambil tersenyum cengar-cengir.


"Nohhh... Tuh orang yang kamu tungguin lagi sibuk pacaran! Hahahah..." Yuni menunjuk ke arah Helena.


Amanda menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yuni. Ia terkesiap.


"Ohhh..." Hanya itu kata-kata yang meluncur dari mulut Amanda.


Yuni terkekeh lagi. Dia menarik tangan Amanda agar mengikutinya ke arah aula sekolah. Amanda mengikti dengan pasrah.


Melalui ekor matanya Amanda bisa melihat dengan jelas Kak Edo menggandeng tangan Helena dan berjalan masuk ke dalam aula.


Amanda mencelos. Entah mengapa Amanda merasa hatinya sedikit teriris melihat pemandangan tersebut.


"Dasar bodoh! Ngapain juga kamu sakit hati gara-gara mereka!"

__ADS_1


"Kamu kan udah tahu kalau Kak Edo dan Helena sedang dekat."


"Kamu tuh ga pantas sama Kak Edo. Dia bukan cowok yang baik, Amanda!"


Suara hati Amanda seolah berteriak dan berusaha menghibur. Amanda merasa galau sendiri. Dia semakin bingung dengan perasaannya sekarang.


Di satu sisi dia sudah bisa move on dari perasaannya untuk Kak Edo. Tapi di sisi yang lain, dia juga sulit menerima kenyataan bahwa Kak Edo malah berpacaran dengan teman sebangkunya, yaitu Helena.


Kenapa harus Helena? Kenapa harus teman sebangkunya?


"Ahhh... Rame amat! Desak-desakan begini jadinya!" Rutuk Yuni yang berdiri di depan Amanda.


Amanda baru sadar dari lamunan kegalauannya. Dia betul-betul baru menyadari betapa padat suasana di sekitar aula.


Siswa-siswa terlihat berdesakan di pintu masuk.


"Huhhh... Padahal sudah dibuat antrian, tetap aja ada yang curang!" Tukas Yuni gusar.


"Ayo, kita terobos juga!" Ajak Yuni pada teman-temannya dan Amanda.


Sekelompok gadis itu berjalan dan menerobos siswa-siswa yang sedang berlomba masuk lebih dahulu ke dalam aula. Antrian jadi kacau-balau.


Yuni bergerak dengan gesit. Teman-teman Yuni mengikutinya dengan gerakan yang tidak kalah sigap. Amanda mencoba menyamai gerakan mereka namun tiba-tiba langkahnya terhenti.


Amanda merasa tangannya ditarik oleh seseorang. Dia menoleh ke belakang dan melihat Doni sedang menggenggam erat tangannya.


"Deg."


Doni tidak mengucapkan kata-kata apapun. Dia menarik tubuh Amanda mendekati dirinya. Dalam sekejap Amanda sudah berada dalam dekapan Doni.


"Deg. Deg. Deg."


Amanda spontan menjadi semakin deg-degan. Dia ingin melepaskan diri namun dekapan Doni yang kuat membuat dirinya sulit bergerak di tengah himpitan siswa-siswa lain.


Amanda bahkan tidak bisa lagi melihat Yuni dan teman-temannya. Sepertinya mereka sudah jauh berjalan di depan.


Doni lalu membawa Amanda melewati para siswa yang sedang bergerak cepat memilih tempat duduk yang mereka sukai di dalam aula.


Dengan cepat Doni dapat menemukan bangku yang kosong.


"Kita duduk di sana!" Ujar Doni.


Amanda tidak mampu membantah, dia membiarkan Doni menggenggam tangannya sampai ke bangku kosong.


Doni baru melepaskan genggamannya setelah Amanda duduk dengan nyaman.


"Hemmm..." Gumam Doni sambil duduk di samping Amanda.


Amanda masih merasa berdebar-debar. Tetapi dia berusaha terlihat tenang. Doni juga duduk dengan tenang tanpa suara.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, MC mulai naik ke atas pentas dan mulai membuka acara.


Suara gemuruh tepuk tangan terdengar dari segala penjuru aula. Para siswa sudah mulai duduk dengan tenang dan bersiap-siap menikmati sajian acara pentas seni hari ini.


Kakak-kakak kelas pengurus OSIS tampil di atas panggung dengan begitu mempesona. Mereka semua terlihat tampan dan cantik jelita.


Sejenak kemudian lampu menjadi redup. Semua lampu difokuskan ke arah pentas. Terdengar musik yang mengalun indah dari pentas utama. Semua siswa bersorak-sorai dan bertepuk tangan dengan gembira.


Amanda tidak bisa memberi tepukan karena lagi-lagi Doni menyentuh dan menggenggam tangannya.


Dia melirik Doni sekilas di antara remang-remang cahaya di dalam aula.


Amanda tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa Doni terlihat tampan sekali dilihat dari jarak sedekat itu, ditambah lagi dengan cahaya remang-remang yang indah.


"Hemmm..." Amanda menggumam. Dia bingung harus mengucapkan apa.


"Amanda..." Ucap Doni samar-samar terdengar di telinga Amanda.


Amanda menoleh ke arah Doni. Tatap mata mereka bertemu. Doni menatap Amanda begitu dalam membuat Amanda merinding sendiri.


Amanda mulai tidak bisa fokus lagi dengan aksi di atas pentas. Kini perhatiannya sudah sepenuhnya berpindah kepada Doni.


"I love you." Bisik Doni mesra.


Amanda merasa kaget setengah mati. Matanya terbelalak tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.


Doni mempererat genggamannya. Amanda merasakan hangatnya genggaman tangan Doni sampai ke hati.


"Aku serius, Amanda. Aku ingin kamu menerima cintaku!" Ucap Doni tegas.


"Deg. Deg. Deg."


Amanda terdiam, masih shock.


"Ya Tuhan! Apa aku ga salah dengar?" Amanda membatin dalam hati yang berdebar kencang sejak tadi.


Gemuruh tepuk tangan terdengar lagi. Suara musik terdengar semakin keras. Semua siswa bersorak gembira ketika lampu di aula semakin gelap. Hanya pentas utama yang terlihat terang benderang.


Sebuah tarian mulai ditampilkan. Para siswa menari dengan lincah di atas pentas.


Doni melepaskan genggamannya. Jemarinya yang panjang tiba-tiba menyentuh pipi Amanda.


Amanda merasa kaget bukan main, ia merasa pipinya semakin panas. Ia tertunduk malu dan tidak mampu menatap mata Doni.


"Apa yang dia lakukan? Bagaimana kalau ada yang melihat ini?" Amanda membatin cemas.


Hembusan nafas Doni yang hangat terasa di wajah Amanda. Doni merasa jantungnya berdetak lebih cepat ketika tanpa sengaja dirinya menatap bibir Amanda yang mungil. Dia menginginkannya. Dia benar-benar menginginkan hal itu.


Cupppp!

__ADS_1


***


__ADS_2