
Amanda merasa lelah sekali hari ini. Kegiatannya yang full seharian di sekolah benar-benar telah menguras tenaganya.
Keadaan diperparah dengan tingginya intensitas sinar matahari yang menyinari, menyebabkan udara menjadi begitu panas. Bahkan angin yang bertiup pun seolah meniupkan hawa panas yang kering.
Pulang dengan angkot bukan hal yang mudah. Panas dan debu seolah mengikuti Amanda kemana saja.
Belum lagi Amanda harus berjalan kaki ke rumah setelah turun dari angkot. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar lima belas menit.
Amanda seperti sedang olah raga sore ini. Keringatnya bercucuran dan mulai membasahi pakaian seragam sekolahnya.
Amanda senang sekali ketika melihat pagar rumahnya.
"Yessss! Akhirnya nyampe juga!" Amanda bersorak dalam hati.
Setibanya di dalam rumah, Amanda langsung menuju ke dapur. Ia mengambil gelas di rak piring, lalu menenggak air minum sebanyak dia bisa. Ibu melihat Amanda dengan tatapan terpana.
Amanda merasa dehidrasi. Ruangan kelasnya memang memiliki pendingin ruangan yang mampu membuat ruangan terasa sejuk.
Namun begitu Amanda melangkahkan kaki di luar ruangan kelasnya, kulitnya langsung tersengat pancaran radiasi sinar matahari.
Suhu udara hari ini mencapai tiga puluh tiga derajat. Suhu terpanas dalam beberapa minggu belakangan ini.
"Haus sekali Amanda?" Tanya ibu.
Amanda menjawab dengan anggukan. Dia lalu meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja dan masuk ke kamarnya untuk beristirahat sejenak.
Ibu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya di dapur, menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
Amanda merebahkan badannya di atas tempat tidurnya. Hanya dia seorang diri di kamar. Kedua adiknya pasti sedang bermain di rumah tetangga mereka.
Amanda masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia merasa nanggung untuk berganti pakaian sekarang. Dia ingin merebahkan badan selama sekitar setengah jam saja.
Setelah itu, dia akan ke kamar mandi untuk mandi sore dan berganti pakaian. Begitu rencana yang telah disusun Amanda sambil rebahan.
"Ngumpulin tenaga dulu buat mandi..." Desah Amanda.
Fikiran Amanda kembali menerawang tidak menentu. Terlalu banyak materi pelajaran yang diterimanya hari ini menyebabkan otaknya terasa lelah. Namun dia juga merasa heran mengapa hatinya begitu gelisah sore ini.
"Ahhh... Gini nih, otakku jadi lemot kalau kebanyakan belajar gini..." Rutuk Amanda kesal.
Tiba-tiba Amanda teringat sesuatu. Seseorang, lebih tepatnya.
"Hemmm... Dia lagi apa ya?" Amanda bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Amanda melayangkan fikirannya pada Doni. Ia menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menelpon Doni sekarang atau nanti saja.
Amanda ingin membicarakan tentang rencana belajar menulis essay esok sore di rumah Ryan.
"Jam segini dia pasti udah ga sibuk lagi..." Gumam Amanda.
Amanda mencoba menghubungi Doni. Namun Doni tak kunjung mengangkat telponnya hingga dua kali panggilan.
"Loh... Kok ga diangkat?" Amanda menjadi penasaran.
Amanda mencoba positive thinking. Mungkin Doni sedang beristirahat juga. Meskipun sebenarnya Amanda merasa resah sendiri, ia berusaha menenangkan fikirannya.
"Apa dia lagi maen-maen sama temannya?" Amanda mulai menduga-duga.
"Ehh... Tapi dia kan lagi di luar kota. Bantu papanya kerja." Suara hatinya membantah.
Merasa mumet sendiri dengan fikirannya, Amanda bangkit dan mengambil handuk.
"Harus mandi nih, biar segar lagi." Tukas Amanda.
Sementara itu, di negeri Sakura, Tuan Muda Anthony juga tidak menyadari ponselnya telah bergetar beberapa kali akibat panggilan dari Amanda.
Doni agak kaget ketika iseng-iseng melihat ponselnya. Di layar ponselnya tertera dua buah panggilan yang terlewati dari Amanda.
Doni agak keheranan mengetahui Amanda menelpon dirinya. Itu bukan hal yang biasa. Pasti ada hal yang penting, hingga Amanda bolak-balik menelpon dirinya sore ini.
"Hemmm... Apakah dia baik-baik saja?" Doni mulai gelisah.
Doni berfikir untuk menghubungi kembali Amanda setelah dirinya tiba di hotel tempat ia menginap. Ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan.
Himawari bukan Amanda. Ya, bukan! Mereka adalah gadis yang berbeda. Sekilas pandang, kedua gadis itu terlihat mirip. Akan tetapi jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh, mereka tidak terlalu mirip.
Himawari memiliki wajah yang lebih oriental, khas wajah orang Jepang. Tinggi badan Himawari juga melampaui tinggi badan Amanda. Doni bisa menerka-nerka tinggi badan Himawari ketika mereka tadi berjalan berdua mengitari taman di villa Mr. Kimigawa.
Sejujurnya sulit bagi Doni memutuskan siapa yang lebih cantik di antara mereka berdua. Himawari dan Amanda memiliki pesona tersendiri.
Baru kali ini Doni merasa bimbang hati terhadap para gadis. Dua gadis sekaligus, gadis yang mirip rupa dan wajahnya.
"Apa ini efek puber?" Doni mulai ngelantur sendiri.
Doni menatap ruas jalan yang mereka lewati. Mobil telah masuk ke area hotel.
Taman yang dilalui mobil itu mengingatkan Doni akan mimpinya tentang Amanda. Ya, Amanda mengenakan kimono yang cantik sekali.
__ADS_1
Oh no!
Bukankah Himawari tadi juga mengenakan kimono yang sangat cantik!?
Doni merasa aneh dengan apa yang dialami dirinya seharian ini. Sebuah mimpi yang aneh. Namun kenyataan yang terjadi ternyata lebih aneh lagi.
Mobil yang membawa Tuan Muda Anthony, Tuan Wishnu, dan Tuan Alfred berhenti di depan lobby hotel.
Ketiga petinggi perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd. itu mengucapkan terima kasih pada driver utusan Mr. Tatsuki sebelum masuk ke kamar mereka masing-masing.
Doni bergegas ke kamarnya dan segera menelpon Amanda. Namun Amanda tidak menerima panggilan dari Doni. Hal itu membuat Doni merasa sedikit kesal. Ia mencoba mengulang panggilan beberapa kali hingga akhirnya telepon Doni tersambung.
"Halo..." Sebuah suara yang imut-imut terdengar di seberang sana.
"Hemmmm..." Doni menyangka pastilah itu suara adiknya Amanda.
"Hemmmm... Amanda..." Ucap Doni pelan.
"Ohh... Kak Amanda lagi mandi." Sahut suara yang imut-imut tersebut.
"OK..." Ujar Doni singkat. Dia lalu menutup panggilan.
"Hemmm... Pantas ga diangkat..." Gumam Doni lega.
Doni berganti pakaian. Ia baru menyadari tubuhnya terasa kepanasan menggunakan pakaian tebal dan berlapis.
Suhu udara di dalam kamar hotel cukup hangat sehingga Doni tidak membutuhkan pakaian tebal seperti saat berada di luar hotel.
Doni duduk selonjoran di atas tempat tidurnya. Dia sedang mencoba merenungi kembali kejadian hari ini.
Apa rencana Tuhan di balik semua ini?
Ini pastilah bukan sebuah kebetulan belaka. Bertemu dengan dua gadis yang serupa, dari dua negara yang berbeda.
Aneh!
Aneh sekali!
Meskipun dalam waktu yang singkat, perkenalannya dengan Himawari telah dapat memberi gambaran karakter dan sifat gadis itu.
Doni dapat menilai bahwa sosok Himawari adalah sosok gadis yang tidak banyak bicara. Sifatnya tegas dan sangat disiplin. Agak berbeda dengan sifat Amanda yang periang dan terkadang lebih santai dengan waktu.
Budaya Jepang tentu saja membentuk kebiasaan rakyatnya, termasuk Himawari. Jepang memang terbukti memiliki budaya yang mengesankan.
__ADS_1
Himawari juga cukup mengesankan.