Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Apakah Ini Pertanda?


__ADS_3

"Doni, Kamu tega banget ya!" Teriak Amanda kesal.


"Hemmm..." Doni hanya mampu menggumam, ia tidak tahu harus menjawab apa.


Melihat Amanda semarah itu, bukanlah hal yang biasa bagi Doni. Gadis itu biasanya selalu terlihat santai ataupun palingan hanya sewot sebentar dengan sikap cuek Doni yang biasa.


Tetapi entah bagaimana ceritanya, kali ini Amanda benar-benar marah. Emosi tingkat dewa. Doni sudah sangat keterlaluan, menurutnya.


Amanda masih saja ngomel-ngomel dengan suara nyaring. Doni sendiri sudah hampir merasa pusing mendengar omelan gadis yang sedang duduk di depannya itu.


Dia ingin menghentikan Amanda mengomel seperti itu tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya dia menyerah dan mencoba pasrah dengan keadaan.


"Aku benar-benar ga nyangka, Doni. Selama ini aku selalu percaya sama kamu." Intonasi suara Amanda mulai menurun.


Amanda menatap mata Doni. Dia menatap lurus-lurus sepasang mata yang indah itu. Seolah ingin mencari kebenaran di sana. Ia sudah sangat kecewa dibohongi seperti itu.


"Kenapa kamu tega bohongin aku? Jelaskan alasanmu!" Amanda merasakan kerongkongannya tercekat ketika mengucapkan kata-kata itu.


Doni masih saja terdiam. Namun matanya tidak gentar sama sekali membalas tatapan mata Amanda yang penuh amarah, menusuk dan menghujam. Ia menatap lembut Amanda, membuat Amanda menepiskan pandangannya sendiri sambil menghela nafas.


"Hemmm... Amanda..." Ucap Doni dengan suara yang lembut.


Amanda berusaha menajamkan pendengarannya meskipun dia sendiri berusaha setengah mati agar tidak goyah dengan apapun nanti penjelasan yang akan diutarakan oleh Doni.


"Percayalah... Ini semua tidak seperti dugaanmu..." Ucap Doni.


"Oh ya?!" Sela Amanda sinis.


"Hemmm..." Doni kembali menggumam dan memikirkan kata-kata apa lagi yang sebaiknya dia ucapkan. Kini dia merasa serba salah. Sepertinya apapun yang akan diucapkannya tetap saja akan terkesan salah bagi Amanda yang sudah terlanjur emosi.


"Kamu ke Jepang tapi mengatakan padaku hanya ke luar kota? Penipuan macam apa ini?" Tuduh Amanda.


Amanda menarik nafas sejenak dan melanjutkan kembali uneg-unegnya.


"Karena aku hanya anak orang susah... Aku bukan anak yang tajir seperti kamu. Jadi sesuka hatimu memperlakukanku begitu!" Tuding Amanda.


Doni tersentak mendengar kata-kata Amanda. Dia sungguh shock mendengar tuduhan Amanda dan menatap Amanda dengan tatapan tajam.


"Apa maksudmu?" Tanya Doni.


"Huhhh... Pura-pura bodoh lagi! Pura-pura ga salah! Modus!!" Seru Amanda berang.


"Terserah kamu aja deh! Tapi satu hal yang paling buat aku kesal adalah gadis Jepang itu! Kamu suka sama dia kan?" Ujar Amanda.

__ADS_1


Doni bertambah kaget lagi mendengar Amanda menyebut-nyebut "gadis Jepang".


"Apakah maksudnya Himawari?" Batin Doni.


"Bagaimana dia bisa tahu tentang Himawari? Ada apa ini sebenarnya?" Doni bertanya dalam hati.


"Kamu suka sama dia kan? Udah deh ngaku aja! Aku udah tahu semuanya! Ga ada lagi yang perlu kamu sembunyikan dari aku. Aku ga sebodoh dugaanmu!" Ujar Amanda sambil mendengus menahan amarahnya lagi.


Doni kini betul-betul semakin bingung melihat sikap Amanda.


Mengapa Amanda bisa mengetahui semuanya sedetail itu?


Dari mana dia bisa tahu semua itu?


"Amanda... Aku ga ngerti apa maksud kamu." Ujar Doni.


"Hemmm... Siapa yang mengatakan padamu tentang hal itu?" Tanya Doni penasaran.


"Huhhh... Ga penting! Ga penting aku tahu dari mana! Jangan mengalihkan pembicaraan, Doni. Jawab saja pertanyaanku tadi!" Seru Amanda dengan suara tegas.


Amanda kembali menatap wajah Doni. Dia benar-benar berharap cowok berwajah tampan di depannya itu bersedia menjelaskan semuanya.


"Jelaskan alasanmu!" Ujar Amanda ketus.


Doni masih terdiam. Ia sedang mencerna apa yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.


Mengapa Amanda jadi aneh begini?


"OK. Cukup! Mulai sekarang jangan pernah dekati aku lagi. Anggap saja kita ga pernah saling kenal!" Tukas Amanda tanpa mau melihat lagi wajah Doni.


Amanda bangun dari tempat duduk dan meninggalkan Doni begitu saja. Doni hanya bisa melongo melihat sikap Amanda yang tidak terduga seperti itu.


"Hei, Amanda!" Seorang cowok bertubuh tinggi dan berwajah ramah tiba-tiba muncul.


"Ehhh... Ryan!" Sahut Amanda.


"Ngapain di sini, dear!?" Seru Ryan sambil tersenyum sumringah.


Ryan sepertinya tidak menyadari ada Doni di sana.


"Errrrr... Gapapa, ga ada apa-apa kok!" Jawab Amanda cepat-cepat.


"Ayo kita pergi, Ryan!!!" Ajak Amanda sambil bergelayut manja pada Ryan.

__ADS_1


Ryan tersenyum simpul. Dia lalu merangkul Amanda dan meninggalkan Doni yang terduduk sendiri dengan segala tanda tanya di dalam kepalanya. Dia merasa hatinya panas melihat Ryan dan Amanda seakarab itu.


"Sejak kapan mereka sedekat itu?" Doni membatin penuh emosi.


Doni merasa otaknya mendidih melihat kedekatan Amanda dan Ryan. Ryan berani merangkul Amanda seperti itu.


"Anak itu benar-benar mencari masalah!" Ujar Doni geram.


DRRRRTTTT.... DRRRRTTTT.... DRRRRTTTT...


Getaran smartphone Doni merasuki alam bawah sadarnya. Doni terbangun dan langsung terduduk di tempat tidurnya.


"Hoshhh... Hoshhh... Hoshhh..." Dia tersengal-sengal sendiri terbangun dari mimpi.


Doni melihat jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi. Dia heran, tidak biasanya Tuan Alfred menelpon dirinya jam segini.


"Halo, Tuan Muda. Maafkan saya mengganggu waktu istirahat anda." Ucap Tuan Alfred.


"Hemmm... Iya, ada apa Tuan Alfred?" Doni berusaha menetralkan intonasi suaranya agar tidak kentara seperti orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Tuan Muda, pagi ini ada meeting penting. Namun jika anda memutuskan untuk tidak bolos ke sekolah, meeting akan di-handle oleh Nyonya Martha." Tuan Alfred memberi opsi pilihan untuk Doni.


"Hemmm..." Doni menimbang sejenak.


"Biarkan Nyonya Martha yang memimpin meeting tersebut." Doni mengambil keputusan itu mengingat ada beberapa ulangan yang akan diselenggarakan di kelas hari ini.


"Siap, Tuan Muda." Tuan Alfred lalu memutuskan pembicaraan mereka melalui telpon.


Doni menguap lebar-lebar. Dia mengucek pelan matanya. Dia berfikir sebaiknya dia mandi dan bersiap-siap lebih awal untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa.


Jika dia melanjutkan tidurnya walaupun sesaat, bisa dipastikan dia akan bablas ketiduran dan terlambat ke sekolah.


Doni melayangkan lagi fikirannya pada mimpinya tadi. Mimpi adalah bunga tidur. Tetapi mengapa mimpi tadi seolah begitu nyata.


Meskipun jika difikir dengan logika, tidak mungkin kejadian di dalam mimpi itu benar-benar terjadi di dunia nyata.


Impossible.


Tidak mungkin seorang Amanda bisa tahu semua rahasia dirinya. Apalagi sampai mengetahui sosok Himawari, si gadis Jepang yang sangat mirip dengan Amanda.


Bisa kacau dunia persilatan jika itu benar-benar terjadi. Namun bagian yang paling mengganggu Doni dari mimpinya itu adalah bagian akhirnya.


Mengapa harus muncul sosok Ryan di penghujung mimpi? Itu betul-betul mengganggu fikiran Doni.

__ADS_1


Mengapa itu terkesan seperti sebuah pertanda?


Apakah akan ada sesuatu di antara mereka?


__ADS_2