Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Tes Wawancara


__ADS_3

"Wowww!!" Vino berseru kuat-kuat ketika melihat penampilan Teguh pagi itu.


Teguh terlihat rapi sekali. Tinggal dipakaikan jas dan dasi, dia sudah mirip sekali dengan seorang eksekutif muda.


"Ayo! Buruan!" Ujar Teguh cuek.


Vino mengikuti Teguh masuk ke dalam mobil Fortuner milik papanya Vino. Teguh akan mengantar Vino ke sekolah kemudian dia akan melanjutkan perjalanan menuju kantor papanya Vino untuk mengikuti tes wawancara di sana.


"Udah mulai kerja ya, mas?" Tanya Vino.


"Kerja? Magang, maksudmu?" Teguh berusaha memperbaiki maksud pertanyaan Vino.


"Ya, gitu lah... Apalah itu namanya! Entah apa pun itu!" Tukas Vino.


"Belum, aku masih ikut tes." Sahut Teguh.


"Masih tes? Tes apa lagi sih? Banyak amat tesnya, mas!?" Seru Vino.


"Ya, benar. Memang seperti itu prosedurnya! Dimana-dimana ya pasti seperti itu. Kita harus melalui serangkaian tes dulu." Teguh menjelaskan dengan singkat.


Tapi ya dasar otak bebal, Vino tidak mau capek-capek memikirkan hal itu. Menurut hematnya, Mas Teguh hanya membuang-buang waktu dan energi saja.


"Kali ini sudah di tahap akhir, Vino. Tes wawancara." Terang Teguh.


"Ohhh..." Ucap Vino.


Vino lagi-lagi berfikir jika pihak perusahaan diberi tahu siapa Mas Teguh sebenarnya, tidak perlu melalui prosedur seribet itu. Lagipula Mas Teguh ini juga bukan mahasiswanya kaleng-kaleng. Perusahaan tidak akan rugi merekrut mahasiswa magang seperti Mas Teguh yang sangat qualified.


"Ada jalan gampang, kok malah nyari yang repot toh, mas!" Sindir Vino asal.


"Hahaha... Sorry, Vino. Aku punya harga diri. Ada integritas diri yang harus kita junjung tinggi." Ujar Teguh bijak.


"Huhhh... Sampe sekarang aku masih gagal paham sama integritas!" Ujar Vino sekenanya.


Tidak terasa mereka telah tiba di depan gerbang SMA Adhiyaksa. Beberapa siswa terlihat turun dari mobil mereka masing-masing dan berjalan kaki masuk ke dalam pekarangan sekolah.


Vino berpamitan pada Teguh. Setelah Vino turun dari mobilnya, Teguh melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan papanya Vino. Teguh tiba satu jam sebelum tes wawancara berlangsung. Ia selalu membiasakan diri bersikap disiplin dimana pun dia berada.


Teguh memasuki ruangan yang ditunjukkan oleh seorang karyawan perusahaan yang memang ditugaskan untuk mengarahkan para pelamar.


Ia melihat sebuah ruangan yang cukup luas, berbentuk seperti ruang tunggu dengannya beberapa jejeran kursi di dekat dinding. Ada beberapa orang pelamar lain selain dirinya di situ.

__ADS_1


Dalam hatinya Teguh merasa kagum dengan mereka yang bahkan sudah tiba lebih dahulu daripada dirinya. Para mahasiswa memang sudah banyak yang mulai mengerti dan menyadari arti pentingnya kedisiplinan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang pekerjaan.


Disiplin adalah modal utama!


Teguh memilih duduk di jejeran bangku yang agak kosong. Dia memperhatikan tidak ada wajah yang ramah di antara mereka. Ia mulai berfikir, mungkin semua pelamar ini memang belum saling kenal.


Seorang wanita usia tiga puluhan keluar dari sebuah ruangan yang ada di depan ruang tunggu.


"Selamat pagi, adik-adik. Salam sejahtera. Terima kasih atas kehadirannya. Dua puluh menit lagi kita akan memulai sesi wawancara. Mohon perhatikan nomor urut masing-masing. Terima kasih." Tutur karyawan tersebut sebelum berlalu masuk kembali ke ruang kerjanya.


Para pelamar mengangguk-nganggukkan kepala mereka. Ketika sang karyawan tadi menghilang ke dalam ruangannya, para pelamar mulai memperhatikan nomor urut mereka masing-masing.


Teguh melirik kartu nomor urutnya. "Hemmm... Nomor urut lima." Teguh menggumam.


Seorang gadis yang baru saja datang, duduk dengan anggun di samping Teguh. Sepertinya gadis itu juga akan mengikuti tes wawancara seperti Teguh.


"Hai... Kamu ikut tes wawancara juga?" Tanya gadis itu pada Teguh.


Teguh menoleh lalu mengangguk sambil tersenyum tipis. Gadis itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.


"Aku, Imelda." Ucapnya santai.


Teguh menyambut tangan gadis itu dan mengucapkan namanya.


Teguh menyebutkan nama kampusnya. Gadis itu terlihat mengernyitkan dahinya.


"Wowww... Bukankah itu kampus yang cukup terkenal di ibu kota?" Selidik Imelda.


Teguh menjawab dengan senyuman.


"Jauh banget kamu magang ke sini..." Celoteh Imelda.


"Hemmmm..." Teguh menggumam sebentar.


"Iya, nyari suasana yang berbeda aja..." Ujar Teguh.


"Owww... Iya..." Imelda manggut-manggut.


Seorang karyawan keluar dari ruangan dan berkata, "Adik-adik, tes wawancara kan segera dimulai. Mohon untuk peserta tes dengan nomor urut 1 sampai dengan nomor urut 3, untuk segera masuk ke dalam ruangan. Terima kasih."


Semua peserta menegakkan duduk mereka. Tiga orang mahasiswa bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam ruangan tes.

__ADS_1


Pintu ruangan tes terbuka, sekilas Teguh bisa melihat wajah para pewawancara. Mereka terdiri dari dua orang wanita dan seorang pria paruh baya.


"Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan top di sini. Perusahaan ini juga terkenal sering meluluskan mahasiswa magang. Makanya mahasiswa suka ngambil ke sini." Terang Imelda.


"Hemmm... Oh begitu..." Gumam Teguh.


"Yup. Sebenarnya aku juga nyoba di Perusahaan Tanaka. Tapi baru dapat panggilan di sini, ya udah deh coba ke sini dulu." Tutur Imelda.


"PT Tanaka Mining, Co., Ltd.?" Tanya Teguh memastikan lagi perusahaan yang dimaksud oleh Imelda.


Imelda manggut-manggut. Ia menimpali, "Ya! Tidak ada yang tidak tahu perusahaan itu. Perusahaan terbesar dan terkeren di sini!"


Teguh setuju dengan pendapat Imelda. Dia sudah cukup sering mendengar berita tentang perusahaan pertambangan tersebut.


PT Tanaka Mining, Co., Ltd. itu sering menjadi perbincangan di kota ini. Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang pertambangan, sedang berkembang pesat, memiliki gedung yang tinggi, besar, dan mewah. Siapapun yang melihat gedung pencakar langit itu pasti akan terkagum-kagum.


Teguh sendiri sangat terkesima kala melihat gedung PT Tanaka Mining, Co., Ltd. untuk pertama kalinya. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya, ada sebuah perusahaan sebesar dan sehebat itu yang sahamnya sepenuhnya dimiliki oleh orang pribumi.


Biasanya perusahaan sebesar dan semewah itu dipimpin oleh orang asing. Jarang sekali ada CEO atau direktur utama dari kalangan penduduk lokal.


Perusahaan-perusahaan besar berdiri dengan megah, menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun kesenjangan sosial di negara ini semakin hari semakin terasa.


Karena itu tadi, salah satu penyebabnya adalah masyarakat lokal hanya direkrut untuk posisi-posisi rendah dengan upah bayaran yang minim. Sedangkan pimpinan mengeruk keuntungan yang luar biasa.


Teguh menyadari, ini sudah menjadi lingkaran setan. Mencari titik temu permasalahan sama sulitnya dengan mencari penyelesaian dari persoalan itu sendiri.


Sebagai seorang mahasiswa yang sering terjun dan bergaul di tengah-tengah masyarakat, ia kerap kali melihat betapa rendahnya kesadaran sebagian orang akan pentingnya pendidikan di era modern seperti sekarang ini.


Dimana skill dan pengetahuan adalah modal penting untuk bersaing di dalam berbagai sektor pekerjaan. Agar bangsa ini mampu bersaing di dunia global. Sehingga rakyat bisa lebih makmur kehidupannya.


Pandangan-pandangan seperti itu menjadi motivasi tersendiri bagi Teguh. Dia bercita-cita suatu hari nanti di masa depan, dia juga akan dapat mendirikan perusahaan sendiri. Sehingga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal, membangun daerah, dan menyejahterakan rakyat di sekitarnya.


Teguh benar-benar memiliki cita-cita yang mulia.


"Teguh, sebentar lagi giliran kamu tuh..." Ucapan Imelda membuyarkan lamunan Teguh.


"Hemmm... OK..." Ujar Teguh.


Teguh sudah bersiap-siap untuk masuk ke ruangan tes ketika dia melihat tiga orang mahasiswa tadi sudah keluar dari ruangan tes.


"Good luck!" Seru Imelda menyemangati Teguh.

__ADS_1


Teguh mengangguk dan tersenyum. Dia berjalan memasuki ruang tes dengan perasaan optimis.


__ADS_2