
Doni berjalan dengan cepat hingga ia tidak melihat Satria lewat di depannya. Untung saja Satria sigap dan bisa menjaga keseimbangannya ketika bersinggungan dengan Doni.
"Hemmm... Maaf kak..." Ucap Doni sopan.
Satria mengeryitkan dahinya dan berlalu meninggalkan Doni. Kedua cowok bertubuh tegap itu berjalan ke arah yang berlawanan.
Agar bisa ke lantai dua, Doni menaiki tangga yang disediakan khusus untuk para siswa baru. Sedangkan siswa-siswa yang lebih senior dibebaskan untuk memilih menggunakan tangga atau lift untuk bisa naik ke lantai yang lebih tinggi.
Sementara itu, Amanda yang sedang berada di perpustakaan menjadi tidak fokus lagi membaca buku sastra yang sedang dipegangnya. Ia tidak bisa berkonsentrasi setelah menerima telpon dari Doni.
"Aduh... Ini kan belum jam pulang. Kenapa dia nelpon aku?" Amanda jadi penasaran.
"Jangan-jangan ada hal penting nih..." Amanda mulai punya firasat yang tidak enak.
Dia membolak-balik lembaran buku sastra tersebut dengan gelisah. Dia masih tidak mengerti mengapa Doni tiba-tiba menghubunginya dan ingin menemuinya di jam istirahat.
"Dasar cowok aneh..." Desis Amanda.
Akhirnya dia memutuskan berjalan menyusuri deretan buku sastra. Mencoba mencari buku sastra lainnya yang lebih cocok.
Amanda mendapat tugas di kelas jurnalistik. Coach Miranda menugaskan masing-masing siswa membuat laporan singkat tentang perbedaan prosa lama dengan prosa baru.
Setelah menyusuri buku demi buku di rak yang tinggi itu, Amanda menemukan sebuah buku sastra yang menurutnya cocok untuk dibaca.
Buku itu terletak di rak paling atas. Amanda berusaha menggapai buku itu dengan tangannya. Namun buku itu agak sulit dijangkau oleh Amanda karena letaknya yang tinggi dan terhimpit rapat oleh buku-buku lainnya.
Sambil berjinjit, Amanda mencoba meraih buku itu pelan-pelan.
"Iiiihh... Tinggi amat sihhh!" Ujar Amanda gusar.
Amanda betul-betul kesulitan menjangkau buku itu. Dia mencoba melirik kiri-kanan, berharap ada pustakawan yang lewat dan bersedia membantunya mengambilkan buku itu.
Amanda melirik sebuah kursi yang terletak tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Dia menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia mengambil kursi itu dan menggunakannya untuk memanjat agar bisa meraih buku yang diperlukannya.
"Tapi itu pasti kelihatan ga sopan..." Desis Amanda sambil melirik CCTV yang ada di setiap pojok ruangan perpustakaan.
Dua orang cowok tiba-tiba nongol di lorong tempat Amanda sedang berdiri. Mereka saling ngobrol sambil melihat-lihat judul buku di rak.
Amanda melirik ke arah kedua cowok itu. Salah seorang di antara kedua cowok itu tanpa sengaja juga melihat Amanda. Pandangan mereka bertemu.
Amanda mengenali salah satu dari kedua cowok tersebut. Ya, cowok dengan postur tubuh tinggi itu adalah Ryan!
__ADS_1
Ryan juga sepertinya merasa mengenali Amanda. Dia juga ingat pernah bertemu Amanda di sini, di perpustakaan. Mereka berdua pernah duduk di meja yang sama.
"Hei..." Sapa Ryan sambil tersenyum lebar.
"Ehhh... Hehehe..." Amanda menoleh sambil nyengir.
"Sendirian?" Tanya Ryan pada Amanda.
"Hehehe... Iya. Hemmm... Kebetulan, aku boleh minta tolong?" Sebuah ide bagus tiba-tiba terlintas di fikiran Amanda.
"Ya. Apa yang bisa kami bantu?" Ryan bertanya lagi sambil melirik ke arah temannya.
"Errrr... Ini... Bukunya ketinggian..." Amanda menunjuk buku yang dari tadi belum berhasil digapainya.
"Oh... Hahaha... OK! Kirain butuh bantuan apa." Ujar Ryan.
Ryan mengambil buku itu dan menyerahkannya pada Amanda. Mudah saja bagi dia mengambil buku di rak bagian atas, dikarenakan postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari Amanda.
"Makasih..." Ucap Amanda sambil tersenyum.
"Bro, aku balik ke kelas ya! Ada kakak kelas yang nyariin aku!" Sela cowok yang dari tadi bersama dengan Ryan.
"Oh... OK! Duluan aja. Ntar aku nyusul." Kata Ryan.
Cowok itu meninggalkan Ryan dan Amanda. Ryan menoleh pada Amanda dan tersenyum lagi.
"Ehh... Ga juga sih... Kebetulan ada tugas ekskul." Amanda menceritakan tugas yang diberikan coach Miranda di kelas jurnalistik.
"Wowww... Keren! Kamu ngambil kelas jurnalistik!" Ryan memuji Amanda dengan tulus.
"Hehehe... Biasa aja..." Ucap Amanda.
"Kalau gitu... Kelas ekskul kita bersebelahan!" Ujar Ryan penuh semangat.
"Oh ya!?" Tanya Amanda.
Dia mencoba mengingat-ingat lagi. Seingatnya memang ada satu kelas ekskul di sebelah kelas jurnalistik tetapi dia lupa kelas ekskul apakah itu.
"Iya. Aku ngambil kelas astronomi." Kata Ryan.
"Oh iya... Iya... Kelas persiapan olimpiade astronomi ya?" Ulang Amanda.
Ryan mengangguk cepat. Dia ingin mengutarakan sesuatu lagi pada Amanda, namun seorang cowok bertubuh tinggi dan tegap sepertinya mendekat ke arah mereka berdiri.
__ADS_1
Ryan menatap cowok yang kini sudah berdiri di belakang Amanda. Kedua cowok tampan itu saling beradu pandang. Ryan terdiam beberapa detik karena Doni menatapnya tajam.
Amanda melihat perubahan wajah Ryan. Refleks dia menoleh ke belakang. Hampir saja Amanda menjerit saking kagetnya ia mengetahui Doni tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Auto panik.
"Ya Tuhan... Kamu di sini?" Desah Amanda.
Doni tidak bersuara. Dia hanya menatap Amanda dengan tatapan dingin, membuat Amanda merasa membeku di situ.
Ryan menangkap gelagat aneh pada tatapan mata Doni. Dia merasakan aura intimidasi yang begitu kuat dari Doni.
"Hemmm... Aku balik ke kelas ya. See you!" Ryan berkata pada Amanda sambil melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.
Amanda mengangguk sambil berusaha tersenyum seperti biasa.
Ryan menoleh sekilas ke arah Doni dan tersenyum tipis. Doni masih bertahan dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
Setelah Ryan menghilang dari pandangan, Doni menarik tangan Amanda membawanya ke sebuah pojok di ruangan perpustakaan itu.
Doni menatap tajam mata Amanda seolah Amanda baru saja melakukan kesalahan. Amanda merasa gugup. Dia berkali-kali melirik apakah ada siswa yang memperhatikan mereka berdua saat ini. Dia juga melihat sebuah CCTV di atas mereka.
"Siapa dia?" Tanya Doni tanpa basa-basi.
"Hemmm... Dia Ryan..." Hanya itu kata-kata yang meluncur dari mulut Amanda.
"Dia pacar kamu ya?" Tanya Doni lagi.
"Hahhh... Apa? Pacar? Pacarku?" Amanda terperangah.
Dia mendadak bingung mengapa Doni menanyakan pertanyaan aneh begitu.
"Siapa juga yang pacaran sama dia? Apaan sih..." Amanda mendesis kesal.
Doni masih menatap wajah Amanda. Sorot matanya mulai berubah menjadi lebih lembut.
"Hemmm..." Gumam Doni.
Doni sedang memikirkan kata-kata penting yang ingin dia sampaikan pada Amanda.
"Amanda, ayo kita balik ke kelas!" Yuni tiba-tiba muncul.
Doni ikut menoleh, dia melihat Yuni dan teman-temannya mendekati Amanda.
"Aku balik ke kelas ya..." Ucap Amanda.
__ADS_1
Doni melengos melihat Amanda mengikuti Yuni dan teman-temannya. Mereka menuju bagian sirkulasi untuk melakukan peminjaman buku melalui mesin peminjaman mandiri.
Sebenarnya di satu sisi, Doni sedikit lega dengan perkataan Amanda. Namun di sisi lain, dia tetap saja merasa khawatir. Cowok tadi cukup tampan dan dia berbicara begitu dekat dengan Amanda. Doni tidak suka itu. Dia sepertinya merasa cemburu.