Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Api Asmara Tuan Muda


__ADS_3

Doni memperhatikan dari kejauhan sosok Ryan yang sedang berbicara dengan Amanda di depan kelas I-2. Dia langsung negative thinking. Ryan terlihat gembira sekali.


"Apa yang mereka bicarakan?" Doni membatin curiga.


Ingin rasanya dia nimbrung di antara Amanda dan Ryan. Namun sayang, bel tanda masuk telah berbunyi. Sebentar lagi guru akan masuk ke kelas.


Doni terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencari tahu isi obrolan Ryan dengan Amanda.


"Ahh... Nanti aku tanya langsung!" Batin Doni lagi.


Doni masih memperhatikan sosok Ryan yang pergi masuk ke kelas I-3. Kelas I-3 bersebelahan langsung dengan kelas Amanda. Doni makin merasa berang ketika menyadari kelas Ryan dan kelas Amanda sedekat itu. Hal itu membuat mereka jadi mudah bertemu.


Doni lalu mengikuti teman-temannya masuk ke kelas. Guru mata pelajaran Biologi memasuki kelas seperti biasa.


"Makin lama makin aneh gelagatnya..." Doni membatin lagi.


Sambil menyimak penjelasan guru Biologi tersebut, fikiran Doni terus saja berkelana ke kelas Amanda. Doni memiliki feeling bahwa sikap Ryan mulai terlihat berbeda dari biasanya.


Sudah sering Doni memperhatikan gerak-gerik Ryan dan Amanda. Sejauh ini semua terlihat cukup normal. Ryan memang tipe cowok yang keramahan, menurut Doni. Jadi sebenarnya tidak ada hal yang mencurigakan jika Ryan berbicara atau ngobrol biasa dengan Amanda.


Akan tetapi apa yang dilihatnya barusan sepertinya agak berbeda dari biasanya. Sikap dan gerak-gerik Ryan terlihat berbeda. Ryan terlihat nyaman sekali ngobrol dengan Amanda. Doni tidak suka melihatnya. Mereka terlihat semakin dekat.


"Sepertinya dia mulai nyari-nyari kesempatan..." Doni berkata dalam hati.


Doni tidak ingin gelisah terlalu lama. Dia akan mencari tahu sendiri. Dia kembali menyimak penjelasan guru di depan kelas.


Setelah bunyi bel tanda istirahat berbunyi, Doni tidak ingin membuang-buang waktu. Dia bergegas menuju ke kelas Amanda. Berharap dapat menemui Amanda secepatnya.


Setibanya di depan kelas I-2, Doni celingak-celinguk mencari sosok Amanda di antara belasan siswa perempuan yang sedang berkerumun di dalam kelas tersebut. Doni mencoba memperhatikan dengan seksama ke arah kerumunan gadis itu.


"Ehemmm! Permisi!" Amanda muncul dan tiba-tiba berdehem pelan di belakang Doni.


Doni refleks membalikkan tubuhnya dan menatap serius Amanda yang sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum sumringah.


"Nagapain di sini, Tuan Besar?!" Ledek Amanda.


Doni menatap tajam Amanda. Tatapan Doni yang khas itu membuat Amanda selalu jadi salah tingkah.


"Darimana kamu?" Tanya Doni.


"Dari perpustakaan." Jawab Amanda.


"Hemmm... Sama siapa?" Tanya Doni lagi dengan nada menginterogasi.


"Sendirian aja..." Jawab Amanda tenang.

__ADS_1


"Aku cuma numpang balikin buku yang aku pinjam dulu." Sambungkan Amanda ketika melihat Doni mengernyitkan dahinya.


Amanda sudah bisa menduga akan ada banyak lagi pertanyaan yang akan dilontarkan Doni pada dirinya. Jadi, sebelum itu terjadi, Amanda berfikir sebaiknya dia menyerang Doni lebih dahulu.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Amanda. Ia berharap kali ini Doni akan merespon pertanyaannya dengan baik.


"Hemmm..." Gumam Doni seperti biasa.


Amanda berusaha keras menahan diri agar tidak mengomel di depan Doni. Ekspresi Doni selalu saja begitu. Sok keren dan sebenarnya memang keren, namun juga nenjengkelkan Amanda.


"Hi guys..." Ryan menyapa Doni dan Amanda dengan penuh semangat.


Doni langsung memasang wajah kaku dan tegang. Itu adalah ekspresi khas Doni jika emosi sedang memenuhi kepalanya.


"Gimana, Don... Udah submit essay?" Tanya Ryan berbasa-basi.


Amanda melirik Doni. Ia menunggu reaksi cowok keren dan aneh itu.


"Hemmm... Belum." Jawab Doni datar.


"Sipppp! Jangan lupa batas waktunya!" Pesan Ryan.


"By the way, katanya awal bulan depan sekolah bakal ngadain pensi." Ryan berkata sambil berdiri santai dan sesekali tertawa dengan teman-teman yang kebetulan menyapanya.


"Pensi?" Tanya Amanda.


Ryan mengangguk cepat. "Iya, pentas seni." Imbuh Ryan.


"Wowww... Seru dong!" Ujar Amanda.


"So pasti. SMA Adhiyaksa kan sekolah yang famous. Pentas seni di sini selalu keren katanya." Ujar Ryan.


"Team OSIS kali ini juga keren-keren. Pasti pensi akan keren sekali!" Seru Amanda bersemangat.


"Eummm... Tapi aku belum dengar info tentang itu. Kamu tahu darimana?" Tanya Amanda.


"Aku kan ketua kelas!" Ujar Ryan bangga.


"Ohh... Iya ya... Hahaha..." Amanda menertawai dirinya sendiri karena menyadari kebodohannya melontarkan pertanyaan yang konyol.


Jelas sekali seorang ketua kelas lebih cepat mendapat informasi terbaru tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah.


Amanda tiba-tiba sadar bahwa ada Doni di antara mereka. Doni hanya diam saja sejak tadi. Tapi aura kehadirannya terasa tidak bersahabat.


"Ehhh... Aku ke sana dulu ya!" Ujar Ryan ketika seorang siswa memanggil dirinya dari depan kelas I-3.

__ADS_1


Amanda memperhatikan Ryan yang berjalan hingga menghilang memasuki kelasnya.


"Hemmm..." Doni menggumam membuat Amanda menoleh cepat ke arahnya.


"Kamu lihat dia terus!" Suara Doni terdengar seperti sedang protes.


"Hahhh... Apa!?" Amanda tidak mengerti maksud ucapan Doni.


"Kalian makin dekat ya!" Tuding Doni dengan nada sinis.


"Apaan sih?! Dekat apaan maksud kamu?" Tanya Amanda.


"Ingat! Aku udah bilang, kamu ga boleh dekat-dekat sama dia!" Ujar Doni dengan nada mengancam.


"Lho... Siapa juga yang dekat sama dia! Ada-ada aja kamu!" Bantah Amanda.


Doni hanya mendengus mendengar bantahan Amanda. Sebuah ide usil terlintas di benak Amanda. Ia tiba-tiba ingin memancing emosi Doni.


"Emangnya kenapa kalau aku dekat-dekat sama dia?" Ujar Amanda sekonyong-konyong.


"Kamu ga senang!?" Intonasi suara Amanda terdengar menantang.


Doni mempertajam tatapannya. Berusaha menusuk Amanda dengan tatapannya. Tapi Amanda tidak bergeming. Dia sedang ingin menggoda Doni. Jadi dia berusaha keras agar tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Doni.


"Apa maksudmu?" Giliran Doni yang bertanya balik.


Doni mendadak bingung dengan sikap Amanda yang seolah-olah berani menantang dirinya. Dia mulai yakin, ada yang tidak beres antara Ryan dan Amanda.


"Ada hubungan apa kamu sama dia?" Tanya Doni dengan nada menginterogasi.


Amanda menjadi salah tingkah. Bukan karena kata-kata interogasi dari Doni. Namun karena Doni sudah berdiri sangat dekat dengan dirinya. Amanda memperhatikan sekeliling mereka. Dia khawatir jika ada di antara para siswa yang bersileweran di sana yang memperhatikan dirinya dan Doni.


Amanda menggeser tubuhnya agar tercipta jarak di antara mereka. Doni semakin sinis.


"Doni, jangan begitu! Biasa aja lagi. Aku sama Ryan ga ada hubungan apa-apa." Jelas Amanda.


"Hemmm... Jangan dekat-dekat dengan dia lagi." Pesan Doni.


Amanda menghela nafasnya. "Ini anak kenapa lagi sih?" Batin Amanda.


Doni berlalu pergi meninggalkan Amanda di depan kelas I-2. Bel tanda istirahat usai telah terdengar nyaring. Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya karena bingung dengan sikap Doni.


"Kenapa sih dia bersikap begitu? Apa salahku? Lagian siapa dia, larang-larang aku dekat sama Ryan?!" Amanda ngomel-ngomel dalam hati.


"Aku kan bukan pacarnya. Kenapa dia possessive gitu? Hemmm... Tuh kan, aku jadi baper sendiri." Batin Amanda.

__ADS_1


__ADS_2