Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Setiap Hari Merindu


__ADS_3

Malam sudah semakin larut. Udara yang mulai terasa dingin, sayup-sayup masuk melalui celah-celah kecil ventilasi di kamar Amanda. Bunyi gerimis di luar jendela menambah syahdu suasana malam ini.


Amanda masih termangu. Dia duduk di depan jendela kamarnya. Menatap rintik-rintik halus gerimis di luar sana. Dia selalu suka dengan hujan. Dingin, adem, dan menenangkan. Namun malam ini suasana hatinya sedang tidak baik, sehingga dia tidak bisa menikmati syahdunya suasana malam ini.


Kedua adiknya, Magdalena dan Mutiara, sudah tertidur lelap. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sambil menghela nafas, Amanda beranjak bangun dari kursi. Ia merapikan alat-alat tulis yang dipakainya tadi. Ia lalu mempersiapkan buku-buku pelajaran yang perlu dibawa besok pagi.


Rasanya malas sekali ke sekolah, adegan siang tadi meninggalkan rasa trauma di hatinya. Tapi masa iya, gara-gara kejadian itu dirinya harus bolos. Amanda tidak selemah itu!


Adegan mesra tadi siang kembali terlintas di benaknya, membuat perutnya terasa mual. Kak Edo dan pacarnya berciuman dengan begitu mesra di dalam mobil. Amanda seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Seorang kak Edo yang begitu dikaguminya, mengapa bisa melakukan hal-hal seperti itu? Mengapa harus berciuman? Di tengah keramaian? Banyak orang yang akan melihat apa yang mereka lakukan.


Cahaya matahari yang bersinar terang tadi siang menembus kaca mobil kak Edo, membuat siluet mereka berdua terlihat cukup jelas dari luar. Sehingga Amanda secara tidak sengaja bisa melihat apa yang dilakukan kak Edo bersama kekasihnya.


Amanda merasa hatinya sakit sekali. Rasa cemburu dan kecewa campur aduk menjadi satu.Tapi ia menyadari posisinya. Ia bukanlah siapa-siapa bagi kak Edo. Amanda sudah menyadari itu sejak lama. Tapi tetap saja dirinya bersikap bodoh. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.


Kini hatinya mulai menyadari, sosok kak Edo bukanlah sosok laki-laki yang dikaguminya lagi. Kak Edo ternyata tidak sekeren prasangkanya selama ini.


“Ternyata dia sama aja seperti cowok-cowok lain!” Sergah Amanda.


Seharusnya dia dulu tidak mengagumi kak Edo secara berlebihan. Hingga hatinya patah dan hancur berantakan seperti saat ini. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Air mata masih menggenang di pelupuk mata. Amanda menangis sesenggukan di dalam diam.


Jika Amanda tidak bisa tidur malam ini dikarenakan rasa patah hati dan kecewa yang luar biasa, maka lain halnya dengan Tuan Muda Anthony. Ia juga belum bisa memejamkan mata. Ia berbaring santai di gazebo belakang rumah sambil memandangi rintik-rintik gerimis yang berjatuhan menerpa kelopak bunga di taman sekelilingnya.


Semilir angin dingin yang berhembus seolah membisikkan nada-nada rindu di telinga Doni. Ya ampun, malam ini dia betul-betul merindu. Merindukan gadisnya yang menggemaskan.


“Perasaan apa ini? Mengapa aku selalu merindukannya? Apa aku betul-betul jatuh cinta?” Doni mulai bimbang dengan perasaannya sendiri.


“Sayang, ayo masuk! Ini udah larut malam!” Nyonya Wishnu memanggil Doni dari atas balkon rumah. Wanita itu sudah memperhatikan Doni sejak lama.


“Iya, ma…” Ujar Doni. Dia bangun dan memperhatikan sekelilingnya. Gerimis masih cukup deras. Dia buru-buru mengenakan sandalnya dan berlari-lari kecil masuk ke dalam rumah.


Doni mengibas-ngibaskan rambutnya yang agak basah karena terkena gerimis. Nyonya Wishnu segera menghampiri putera kesayangannya.


“Sayang, kamu belum ngantuk?” Tanya Nyonya Wishnu. “Belum, ma…” Jawab Doni singkat. Nyonya Wishnu menatap puteranya sambil tersenyum.


“Ya sudah. Istirahat aja di kamar. Jangan di luar lagi ya, nanti masuk angin.” Nyonya Wishnu mengelus bahu Doni dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1


Tinggi badan Doni sudah melampaui tinggi badan Nyonya Wishnu, sehingga Nyonya Wishnu sudah tidak dapat lagi mengelus kepala Doni seperti dulu. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Putera semata wayangnya kini sudah beranjak dewasa. Dia bahkan lebih tampan dari Tuan Wishnu.


“Ma, Doni masuk ke kamar ya…” Ucap Doni pelan. Nyonya Wishnu menganggukkan kepalanya dan memperhatikan langkah Doni yang sedang berjalan menuju ke kamarnya.


Sebuah tangan yang hangat menyentuh pundak Nyonya Wishnu dengan lembut, membuat wanita itu tersentak kaget.


“Ada apa sayang? Mengapa meninggalkanku di kamar?” Tuan Wishnu bertanya sambil merangkul mesra istrinya.


“Oh sayang… Doni sudah dewasa ya… Rasanya sebentar saja, waktu seolah berlalu begitu cepat…” Desah Nyonya Wishnu.


“Dia tampan sepertiku bukan?” Tuan Wishnu mulai menggoda istrinya.


“Doni bahkan lebih tampan.” Nyonya Wishnu berkata sambil mengedipkan matanya. Tuan wishnu melengos.


“Tentu saja! Dia tampan dan pintar. Anakku harus begitu.” Seru Tuan Wishnu. Nyonya Wishnu tertawa.


“Ayo, kita harus istirahat. Kamu pasti lelah sekali hari ini…” Bujuk Nyonya Wishnu. Tuan Wishnu mengikuti istrinya menuju ke kamar tidur mereka.


Sedangkan Doni masih resah dan gelisah di dalam kamarnya. Dia menatap layar smartphone-nya. Mencari kontak nama Amanda.


“Sedang apa dia sekarang?” Doni bertanya-tanya dalam hati.


Doni melirik jam digital di atas meja belajarnya. Pukul 11.30 malam. Ia menghela nafasnya, mencoba merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang nyaman. Namun kedua matanya tetap juga tidak bisa terpejam.


Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan wajah Amanda selalu saja menggodanya. Doni melengos. Ia menatap lagi chat singkat mereka di WA.


“VOILA!!!”


Terlihat Amanda sedang online di WA. “Dia belum tidur!” Doni berseru girang. Refleks dia menyentuh tanda Video Call di kolom chat tersebut.


“Hahhh?! Apa-apaan ini? Kenapa dia ngajak VC jam segini…” Amanda kaget bukan kepalang.


Dia ragu, apakah sebaiknya menerima panggilan dari Doni atau mengabaikannya saja. Doni tidak pernah menelponnya, mengapa pada malam selarut ini dia malah melakukan panggilan video.


“Emmm… Hai…” Amanda akhirnya menerima panggilan video tersebut. Amanda mencoba berprasangka baik. Mungkin saja ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Doni.


Doni tersenyum sumringah melihat wajah Amanda memenuhi layar smartphone-nya.

__ADS_1


“Belum tidur?” Tanya Doni berbasa-basi.


Amanda merapikan piyamanya.


“Belum. Kamu kenapa VC jam segini?” Amanda bertanya lugas.


“Hemmm… Memangnya kenapa? Ga boleh?” Doni menjawab dengan pertanyaan.


Amanda berdecak kesal. Dia menatap layar smartphone-nya dengan raut wajah dongkol. Doni tersenyum-senyum sendiri.


“Sial… Kenapa anak ini terlihat lebih tampan malam ini?” Amanda membatin dalam hati.


Rambut Doni yang agak basah dan acak-acakan terlihat berkilau sempurna di bawah cahaya lampu kamarnya yang terang benderang. Alisnya yang rapi menambah keindahan matanya. Hidungnya juga mancung sempurna. Semuanya terlihat pas, tidak berlebihan. Amanda menatap layar smartphone-nya dengan tatapan terpesona.


“Eh… Ternyata dia benar-benar tampan…” Amanda menggumam di dalam hati.


Selama ini dia tidak benar-benar memperhatikan wajah Doni, apalagi sedekat ini. Meskipun secara virtual, wajah Doni benar-benar terlihat tampan.


“Kamu ngantuk ya?” Tanya Doni. Dari layar smartphone-nya, ia bisa melihat mata Amanda yang sembap. Ia tidak tahu bahwa mata Amanda sembap karena tadi baru saja menangis.


“Hemmm… Ga kok…” Ujar Amanda. Namun tiba-tiba ia menguap lebar.


Doni tertawa geli. Ia sungguh menyukai Amanda yang apa adanya. Tidak sok jaim seperti cewek-cewek lain yang dikenalnya.


“OK. Ya udah kalau gitu. Besok siang tetap tunggu aku ya!” Ujar Doni santai, masih dengan posisi rebahan.


“Ehhh… Enak aja, main perintah-perintah!” Tukas Amanda galak. Dia mendadak menutup mulutnya. Dia nyaris lupa kedua adiknya sedang tertidur lelap.


Doni tertawa lagi, memperlihatkan jejeran giginya yang putih dan tersusun rapi. Ia terlihat semakin tampan ketika tertawa seperti itu. Amanda melengos.


“Good nite.” Ucap Doni sebelum mengakhiri panggilan videonya. Amanda membalas dengan menjulurkan lidahnya.


“Ada-ada aja dia! Sok boss besar bangettt!” Amanda menggerutu pelan agar tidak mengganggu tidur kedua adiknya.


Amanda kini mulai merasa sangat mengantuk. Dia merebahkan diri dan beberapa menit kemudian sudah tertidur lelap.


Doni menatap hasil screenshot di gallery smartphone-nya sambil tersenyum. Diam-diam dia telah menyimpan beberapa foto Amanda ketika mereka berbicara tadi. Ia bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk tidur.

__ADS_1


Tuan Muda Anthony akhirnya juga terlelap dengan tenang.



__ADS_2