
Alfred berusaha menahan senyumnya. Sungguh menggelikan melihat ekspresi panik di wajah Tuan Muda Anthony. Ini adalah pertama kalinya ia melihat ekspresi tersebut di wajah Tuan Mudanya.
"Hemmm... Apakah dia akan baik-baik saja, Tuan Alfred?" Tanya Doni dengan wajah masih terlihat cemas.
Alfred sendiri sebenarnya juga merasa bingung. Dia bukanlah seorang dokter. Dia tentu saja tidak tahu dan tidak bisa memprediksi keadaan kesehatan orang lain.
Terlebih lagi dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Amanda. Mengapa Amanda tiba-tiba sakit dan sepertinya sempat pingsan tadi. Tetapi Alfred tahu Tuan Muda membutuhkan jawaban yang bisa menenangkan hatinya.
"Saya fikir dia akan baik-baik saja bersama orang tuanya, Tuan Muda." Ucap Alfred tenang.
Alfred bisa mendengar dengan jelas Tuan Muda Anthony menghela nafas. Dia melirik sekilas ke arah Tuan Muda yang terlihat masih gelisah.
"Hemmm..." Gumam Doni.
"Semoga dia bukan keracunan makanan..." Doni membatin dalam kegelisahan yang menjadi.
"Hemmm... Sepertinya bukan, Tuan Muda. Jika Nona Amanda keracunan, tentu saja reaksinya akan berbeda." Tuan Alfred mencoba memberi pendapat.
Doni berfikir kembali. Ia setuju dengan pendapat Tuan Alfred.
"Saya fikir nanti sore Tuan Muda bisa coba hubungi kembali Nona Amanda. Semoga kondisinya sudah membaik." Saran Tuan Alfred.
"Hemmm... OK..." Ucap Doni.
Ingin rasanya dia menemani Amanda di rumahnya. Tetapi itu tidaklah mungkin. Doni akhirnya memutuskan akan menghubungi lagi Amanda nanti sore, sesuai saran Tuan Alfred.
Sementara itu, Amanda yang sudah merasa begitu lemas memilih langsung berbaring tanpa berganti pakaian.
"Amanda, ayo ganti pakaian dulu." Ujar ibu Amanda.
Amanda menggeleng lemah. Dia masih merasa sangat mual dan khawatir akan muntah lagi jika bergerak terlalu banyak. Keringat dingin mulai menetes di keningnya.
Sepertinya obat yang diberikan oleh ibunya mulai bereaksi di dalam tubuhnya.
"Masih pusing, bu. Mual..." Rintih Amanda.
"Iya, tidak apa-apa. Nanti diminum lagi air hangatnya ya..." Ucap ibu sambil meletakkan segelas air hangat di ats meja belajar Amanda.
"Lena, nanti ambilkan air hangat itu untuk kak Amanda ya." Pesan ibu sebelum meninggalkan Amanda di kamar.
"Iya, bu..." Sahut Magdalena patuh.
__ADS_1
Magdalena menatap Amanda dengan tatapan cemas. Dia bingung kenapa tiba-tiba kakaknya sakit tetapi ibu terlihat tenang, tidak khawatir seperti biasanya.
Padahal biasanya ibu akan sangat cemas jika ada anggota keluarga di rumah yang sakit. Tapi kali ini ibu tidak terlihat panik sedikitpun. Ibu hanya memberi sebutir pil obat untuk diminum kakaknya itu dengan segelas air hangat.
Aneh.
Amanda menggigil. Dia memanggil Magdalena dan meminta adiknya untuk menyelimuti tubuhnya yang terasa meriang. Magdalena dengan sigap menyelimuti kakaknya.
Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh Amanda. Seragam sekolahnya terlihat basah. Magdalena semakin cemas, dia terus saja memperhatikan keadaan kakaknya.
"Kak, kak Amanda kenapa?" Tanya Mutiara yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Ga tahu nih. Demam parah." Jawab Magdalena sok tahu.
"Ohhh... Kakak sudah dikasih obat?" Tanya Mutiara lagi.
"Sudah. Tadi ibu udah ngasi obat." Tutur Magdalena.
Mutiara dan Magdalena duduk di samping Amanda. Amanda terlihat sudah lebih tenang dan berusaha memejamkan matanya untuk menghilangkan pusingnya. Tidak lama kemudian Amanda sudah tertidur pulas.
"Udah tidur..." Mutiara berbisik pada Magdalena.
Mutiara lalu mengajak Magdalena keluar kamar agar Amanda bisa beristirahat.
Amanda keluar dari kamar. Ia melihat jam dinding yang tergantung di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Wahhh... Hampir dua jam aku tertidur..." Batin Amanda.
Magdalena dan Mutiara sepertinya tidak ada di rumah. Biasanya mereka bermain di rumah tetangga sebelah rumah. Amanda baru menyadari dia belum berganti pakaian sama sekali. Ia masih menggunakan baju seragam sekolah. Ia lalu memutuskan untuk mandi, membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Gimana, Amanda? Masih sakit perutnya?" Tanya ibu ketika berpapasan dengan Amanda di depan kamar mandi.
"Eummmm... Ga, bu. Sudah hilang sakit perutnya. Demam juga udah sembuh." Jawab Amanda.
"Syukurlahhh... Berarti itu tadi cuma karena masuk angin saja." Kata ibu sambil tersenyum ke arah Amanda.
"Dan kamu juga baru datang bulan, bukan?" Tebak ibu Amanda.
"Iya, bu." Amanda mengangguk.
"Tapi Amanda biasanya ga pernah sakit perut begini, bu. Apalagi pusing dan mual. Kalau datang bulan, ya normal aja. Cuma kram sedikit dan ga lama nanti udah biasa aja..." Tutur Amanda.
__ADS_1
"Iya, mungkin karena tadi belum lancar ditambah lagi kamu udah duluan masuk angin juga... Jadi nyeri gitu..." Ibunya Amanda mencoba menjelaskan tentang apa yang tadi dirasakan oleh Amanda.
"Ohhh... iya juga ya, bu. Katanya kalau lagi datang bulan gitu, perut jadi mudah kembung juga ya... Jadi mudah masuk angin." Sahut Amanda.
"Iya, kadang-kadang memang bisa begitu. Apalagi pergantian cuaca yang tiba-tiba. Tubuh kita kadang-kadang kaget juga." Ibu membenarkan kata-kata Amanda.
"Jangan lupa, minum air putih yang banyak ya. Supaya lancar datang bulannya." Pesan ibu.
"Iya, bu." Sahut Amanda sopan.
"Yang nganterin kamu tadi siang itu teman kamu yang kemarin pernah ke rumah, bukan?" Tanya ibunya Amanda.
Ibu Amanda masih ingat wajah teman Amanda namun lupa siapa namanya. Sosok anak laki-laki yang tampan dan sopan. Dia tidak banyak bicara dan sangat berwibawa, tidak seperti pembawaan anak-anak lain seusianya. Ibu Amanda menebak pastilah teman Amanda yang satu itu adalah anak dari keturunan bangsawan, bukan anak dari keluarga yang sembarangan.
Amanda salut ibunya masih ingat dengan Doni. Ya, mungkin karena baru saja ibu melihatnya. Wajarlah jika ibu masih ingat sosok Doni, begitu fikir Amanda.
"Iya, bu. Itu Doni, yang kemarin nganterin pulang juga." Jawab Amanda.
"Hemmm... Dia baik sekali ya. Sudah dua kali nganterin kamu pulang." Ucap ibu.
"Apalagi tadi kebetulan sekali. Kamu beruntung ada teman yang nganterin saat-saat kamu sakit begitu. Ibu ga kebayang kalau kamu pingsan di jalan sendirian..." Tutur ibu penuh syukur.
"Iya, bu. Si Doni itu memang baik anaknya." Imbuh Amanda.
"Amanda tadi lemas sekali, bu. Jadi ga nyuruh lagi dia singgah ke rumah..." Ujar Amanda.
"Iya, dia juga kelihatannya buru-buru sekali tadi." Kata ibu.
"Ohhh... Iya, bu. Mungkin hari ini dia harus buru-buru pergi ke tempat kerja bapaknya. Biasanya sepulang sekolah dia selalu bantu orang tuanya kerja." Amanda menjelaskan kebiasaan Doni sepulang dari sekolah.
Ibu Amanda sedikit terkejut mendengar penjelasan Amanda tentang kegiatan Doni sepulang dari sekolah.
"Yang benar saja? Tapi dia tidak terlihat seperti orang susah..." Batin ibu Amanda.
"Ternyata ga semua yang sekolah di SMA Adhyaksa itu anak orang kaya, bu." Ujar Amanda.
"Hemmm..." Ibu hanya menggumam.
Entah mengapa ibu Amanda tidak begitu yakin dengan kata-kata putri sulungnya itu.
"Tapi mungkin hanya kami berdua sih... Hehehe..." Amanda terkekeh pelan.
__ADS_1
"Hemmm... Kaya dan miskin itu tidak ada bedanya di mata Tuhan, Amanda. Tuhan melihat kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Itu yang membuat seseorang bernilai di mata Tuhan." Ibu menasehati dengan bijak.
"Iya, bu." Amanda menanggapi nasehat ibunya sambil tersenyum manis.