
"Halo..." Sapa Amanda ketika menerima telpon dari Ryan pagi itu.
Amanda sedang menikmati sarapan di meja makan bersama Mutiara dan Magdalena.
Kedua adiknya itu diam-diam menajamkan pendengaran mereka. Mereka ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Amanda dan seseorang di seberang sana.
"Amanda, aku hanya ingin mengingatkan lagi..."
"Jangan lupa, nanti siang kita barengan ke SMA Negeri 10 untuk mengambil hadiah."
Ryan mengingatkan Amanda tentang rencana mereka nanti siang.
"Iya. OK." Sahut Amanda singkat.
Amanda mempercepat makannya ketika menoleh ke arah Magdalena dan Mutiara yang sudah selesai sarapan.
Dia tidak ingin membuat kedua adiknya itu menunggu dirinya terlalu lama. Mereka harus segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat.
"OK. Pulang sekolah nanti, tunggu aku ya. Kebetulan aku nanti ada sedikit urusan dengan kakak-kakak pengurus OSIS." Terang Ryan.
"Hemmm... Sipppp..." Sahut Amanda.
"Baiklah, sampai jumpa nanti di sekolah!" Ujar Ryan sebelum mengakhiri pembicaraannya dengan Amanda.
"Ayo, kak!" Seru Mutiara ketika melihat Amanda memindahkan piring kotor dari atas meja makan.
"Iya, sebentar! Kalian langsung ke depan aja..." Amanda membalas seruan adiknya dan bergegas keluar rumah.
Sebentar saja mereka sudah berada di jalan menuju ke sekolah masing-masing. Seperti biasa, Amanda adalah yang terakhir diantar ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, Amanda merasa mendapatkan spirit baru. Dia mendadak menjadi lebih bersemangat. Apalagi membayangkan siang ini dia akan menghadiri acara spesial. Dia semakin bersemangat.
Sambil berjalan menuju ke kelasnya, Amanda melirik sekilas ke kelas sebelah. Kelasnya Ryan. Cowok ganteng bertubuh tinggi itu tidak terlihat di mata Amanda. Amanda tersenyum di dalam hati.
"Kayaknya dia belum datang nih..."
"Kalau udah datang, nanti pasti nyamperin aku ke kelas."
Amanda membatin sambil masuk ke kelasnya. Dia yakin nanti Ryan akan menemui dirinya di kelas.
Ryan biasanya bersikap begitu. Setiap kali dia merasa ada keperluan dengan Amanda, dia pasti langsung bertandang ke kelas Amanda. Dia tidak sungkan sama sekali.
__ADS_1
Terlebih lagi, banyak siswa di kelas Amanda yang sudah lebih dahulu kenal dengan Ryan. Hal itu membuat Ryan merasa begitu leluasa keluar-masuk di kelas Amanda.
Ketua kelas 1-2 juga teman lama Ryan sewaktu di SMP dulu. Ya, si Vino. Cowok cuek tidak berperasaan itu.
Berbicara tentang Vino, manusia paling cuek se-SMA Adhiyaksa, selama ini Vino memang tidak banyak berkutik. Dia tidak pernah membuat masalah sama sekali. Benar-benar tidak ada masalah. Bahkan sebenarnya dia tidak berbuat apa-apa sama sekali.
Bayangkan saja, dia tidak mau ambil pusing tentang urusan berkaitan dengan acara pensi kemarin. Vino betul-betul mampu bersikap apatis. Jiwa cuek Vino sangat kuat tertanam di dalam sanubarinya.
Agung, sang wakil ketua kelas, terpaksa mengambil alih banyak hal. Dia didesak oleh teman-teman sekelasnya untuk menggantikan tugas Vino dalam mengurus persiapan pensi.
Jadilah akhirnya sang wakil ketua kelas kewalahan sendiri mengikuti keinginan teman-teman sekelasnya itu.
Namun berkat kerja keras Agung dan semua teman-teman, kelas mereka berhasil mempersembahkan karya yang memukau di atas pentas.
Vino, sang ketua kelas, terselamatkan oleh Agung dan teman-teman sekelasnya. Amanda hanya bisa geleng-geleng kepala pada saat itu. Dia betul-betul jengkel melihat Vino. Itu adalah peasaan jengkel yang pertama kalinya untuk Vino.
Selama ini Amanda tidak begitu peduli dengan sikap dan tingkah laku Vino. Walaupun teman sebangkunya, Helena, sangat membenci Vino. Hal itu tidak mempengaruhi pandangan Amanda tentang Vino.
Namun setelah acara pensi kemarin selesai, Amanda dongkol luar biasa. Dia kini mulai setuju dengan pendapat Helena bahwa Vino adalah cowok yang sangat menjengkelkan.
"Huhhh..." Amanda menghela nafas ketika melirik Vino sekilas di depan kelas.
Vino baru saja tiba, dia masuk ke kelas dengan langkah tegap dan pastinya cuek seperti biasa. Beberapa pasang mata melirik juga ke arah Vino, tetapi tidak ada yang berkata-kata.
Agung yang sudah lebih dahulu datang, mendengus pelan. Diam-diam dalam hatinya Agung berdo'a agar Vino digantikan saja oleh orang lain yang lebih bertanggung jawab.
Agung mulai merasa lelah menghadapi Vino. Kesabarannya mulai menipis. Dia mulai memimpikan sosok pengganti Vino yang lebih baik. Sosok ketua kelas yang sesungguhnya. Sehingga ia bisa bekerja sama dalam banyak hal. Tidak bekerja sendirian seperti akhir-akhir ini.
"Hei, bro!" Ahmad tiba-tiba menyapa Vino yang sedang autis dengan ponselnya.
Vino tidak bergeming. Sepertinya hanya jasadnya saja yang masih berada di dalam kelas, rohnya mungkin sudah berpindah ke dalam ponselnya.
Ahmad sedang tidak ingin menunggu lama. Dia menepuk kuat pundak Vino.
"Anjirrrrr!" Pekik Vino kaget.
Vino menghentikan permainannya. Dia menoleh ke arah Ahmad dengan mata melotot.
"Lo budek apa gimana sih!" Ahmad terlihat berang.
"Ga punya otak lo! Kira-kira dong kalau mukul! Gua jabanin juga nih!" Ujar Vino sewot.
__ADS_1
Ahmad geleng-geleng kepala. "Sorry, bro!" Tukas Ahmad cuek.
"Nyokap gue ultah hari ini." Ujar Ahmad.
Vino mendengus. Dia tidak peduli dengan ucapan Ahmad.
"Bilang nanti ke bokap dan nyokap lo, nanti malam datang ke rumah gue. Ada hajatan kecil-kecilan..." Ahmad berbicara dengan nada santai.
Vino melirik Ahmad dengan sinis.
"Kenapa ga nyokap elo aja yang langsung ngabarin ke nyokap gua!?"
"Ribet amat!"
Vino berkata sekenanya. Ahmad melengos.
"Itu amanah nyokap gue! Yang penting gue udah nyampein, terserah elo mau gimana!" Ahmad bangkit dari bangkunya dan terlihat keluar dari kelas.
Vino hanya melirik sekilas. Setelah itu dia kembali fokus ke ponselnya.
Amanda diam-diam mencuri dengar kata-kata Ahmad tadi.
"Idih... Parah bener dah si Vino ini! Amit-amit..." Batin Amanda.
Amanda lalu duduk dengan tenang di bangkunya. Helena belum datang. Diam-diam Amanda berharap agar Helena tidak masuk sekolah hari ini.
Bukan tanpa alasan Amanda berharap begitu. Tetapi hari ini ada ulangan matematika. Jika Helena datang, itu artinya tukang nyontek akan mengganggu dirinya lagi.
Amanda sangat tidak suka memiliki teman sebangku yang hobi sekali mencontek seperti Helena.
Namun apa daya, mereka sudah terlanjur duduk bersebelahan. Andai saja Amanda dulu mengetahui sifat buruk Helena, dia tentu tidak akan mau duduk di samping Helena seperti sekarang.
"Amanda! Amanda!" Terdengar suara seorang cowok memanggil-manggil Amanda dari depan kelas.
Amanda menoleh dan melihat sosok Ryan sedang melambai ke arahnya.
"Nanti pulang tunggu aku ya!" Seru Ryan dari depan kelas.
Amanda mengangguk cepat. Ryan lalu menghilang, bergegas masuk ke kelasnya. Sepertinya dia agak sibuk pagi ini.
Beberapa siswa perempuan yang duduk di bangku depan saling berbisik. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu.
__ADS_1
Amanda merasa dirinya menjadi topik perbincangan mereka.
***