Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Senyummu Mengalihkan Duniaku


__ADS_3

Malam ini Amanda dan kedua adiknya sibuk dengan PR mereka masing-masing. Mereka terlihat fokus sekali.


“Kak, ini gimana caranya?” Mutiara mendekati Magdalena.


“Ya dihitung aja.” Ujar Magdalena. Dia mengambil buku bekas coretannya dan mulai mengajari Mutiara cara menyelesaikan soal matematika yang ditanyakan tadi.


“Oh… Gitu ya?” Mutiara manggut-manggut. Ia melanjutkan mengerjakan lagi soal-soal berikutnya.


Magdalena menutup bukunya dan merapikan semua alat tulisnya. Mutiara melirik kakaknya.


“Udah selesai ya kak?” Tanya Mutiara.


“Iya. Mau nonton ah!” Seru Magdalena penuh semangat. Dia langsung keluar kamar.


Terlihat Mutiara mengerjakan hitungannya dengan cepat. Sepertinya dia juga tidak sabar ingin menonton acara kesukaan mereka di TV.


“Udah siap PR nya?” Tanya Amanda ketika melihat Mutiara menutup buku dan menyimpan semua alat tulisnya.


“Udah kak.” Ujar Mutiara. Dia bergegas keluar kamar. Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya.


Smartphone Amanda bergetar di atas meja belajarnya. Nunik sedang melakukan panggilan video.


“Hai…” Ujar Amanda.


“Lagi ngapain nih?” Tanya Nunik.


“Biasa… Lagi ngerjain PR.” Jawab Amanda sambil mengarahkan kamera ke meja belajarnya.


“Oh… Sorry, beppp. Ya udah aku ga lama-lama deh.” Ucap Nunik. “Besok kita jenguk Tiwi lagi yuk!” Ajak Nunik.


“Hemmm… Besok ya?” Amanda terlihat ragu.


“Iya, besok siang. Pulang sekolah, seperti biasa.” Ujar Nunik.


“Hemmm… Kayaknya kalau besok aku ga bisa. Besok siang aku ikut ekskul, Nik.” Amanda menjelaskan rencana kegiatannya besok siang.


“Oh… Baiklah. Lusa aja ya? Ntar aku ngomong lagi sama Vera.” Ujar Nunik.


“Iya, boleh Nik. Lusa aku bisa kok…” Amanda berkata sambil tersenyum.


“OK. Ntar aku kabarin lagi ya…” Nunik kemudian mengakhiri panggilan video.


Amanda melanjutkan mengerjakan PR nya. Ada dua PR yang harus dikerjakan malam ini. Dia sudah menyelesaikan satu PR. Tinggal satu PR lagi.


“Semangatttt Amanda!” Gumam Amanda pada dirinya sendiri.


Amanda mulai membayangkan besok siang dia akan ikut pertemuan pertama kelas jurnalistik. Dia pasti akan bertemu teman-teman baru. Sedikit kekhawatiran muncul di hati Amanda.


“Semoga aku dapat teman-teman baru yang baik hati.” Do’a Amanda.


Amanda menghela nafasnya. Dia teringat lagi hari-harinya di SMA Adhyaksa. Sebenarnya semua berjalan lancar. Dia sudah mulai memiliki banyak teman. Mereka semua bersikap baik kepadanya. Tidak ada yang menghina atau mem-bully dirinya seperti di sekolahnya yang lama.

__ADS_1


Perbedaan kasta antara Amanda dan siswa-siswa lain tidak membuat mereka mengucilkan Amanda dari pergaulan. Jadi, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Amanda.


Justru kekecawaan datang dari orang yang sudah dikenalnya lebih dulu. Amanda merasa sangat kecewa dengan kak Edo. Dia patah hati. Dia tidak menyangka seorang cowok yang selama ini sangat dikaguminya ternyata tidak sebaik yang dia bayangkan. Amanda merasa kecewa dan kesal sekaligus.


“Huhhh… Ngapain juga aku terus-terusan mikirin dia.” Gerutu Amanda.


Dia berusaha menepis jauh-jauh bayangan kak Edo dari benaknya. PR nya harus selesai malam ini. Amanda melanjutkan mengerjakan PR nya. Tiba-tiba Magdalena masuk ke kamar.


“Kak, dapat salam dari kak Tio.” Ujar Magdalena sambil senyum-senyum.


“Hah? Apa? Salam?” Amanda sontak menjadi kaget.


“Iya, tadi siang ketemu kak Tio. Dia nitip salam untuk kak Amanda.” Magdalena terkekeh-kekeh sendiri.


“Idih… Amit-amit! Jangan sering-sering ngobrol sama dia!” Ujar Amanda berang. Magdalena tertawa.


“Ga kok kak… Tapi dia kan fans setianya kakak!” Seru Amanda sambil tertawa ngakak.


“Iiih… Jijay… Amit-amit jabang babi!” Tukas Amanda.


Magdalena cuek saja dan meninggalkan Amanda yang terlihat dongkol.


Tio adalah teman sekolahnya di SMP Pelita Bangsa. Kelas mereka dulunya bersebelahan. Cowok itu sudah lama menyukai Amanda. Namun Amanda sangat tidak menyukai Tio karena perangainya yang buruk.


Tio sering terlibat kasus tawuran. Dia juga sering bermasalah dan berurusan dengan guru BK karena kerap kali tertangkap sedang merokok di belakang gedung kelas di saat jam belajar. Belum lagi tabiatnya yang kasar, Tio juga termasuk ke dalam daftar siswa-siswa bermasalah di SMP Pelita Bangsa.


Amanda pernah beberapa kali diganggu oleh Tio sehingga membuat dia ketakutan. Amanda selalu berusaha menghindar jika berpapasan dengan Tio yang suka usil dengan para siswa.


“Untung aja di SMA Adhyaksa ga ada siswa model begituan…” Amanda bergidik ngeri.


Di SMA Adhyaksa semua siswa terlihat begitu eksklusif, kecuali dirinya mungkin. Ia hanya berpenampilan seadanya, tidak parlente seperti siswa-siswa lainnya yang bersekolah di sana.


“Yang naik angkot juga cuma aku seorang…” Gumam Amanda lirih.


“Ehh… Dia juga sih…” Amanda tiba-tiba teringat Doni, siswa yang aneh itu.


Amanda menjadi penasaran, mengapa sosok Doni terasa aneh baginya. Doni tidak terlihat seperti siswa-siswa lain yang dikenalnya di SMA Adhyaksa. Dia berbeda.


“Dia terlihat sederhana, tapi ga juga. Dia terlihat cuek dan kalem, tapi ga juga…” Amanda mulai menimbang-nimbang, mengingat-ingat sikap Doni selama ini.


Doni sepertinya punya pesona sendiri di balik sikap dinginnya yang aneh.


“Dia sebenarnya tampan… Dia juga lebih tampan dari kak Edo… Dia juga kelihatannya cukup baik.” Sejenak Amanda membanding-bandingkan sosok Doni dengan kak Edo.


“Tapi kenapa sekarang dia ngekorin aku terus ya? Sebenarnya dia mau apa dari aku?” Amanda mulai berprasangka.


Amanda mulai menganalisa pertemuan mereka. Awal mereka berkenalan di halte, hingga kejadian tadi siang di kantin. Rasanya kini mereka sudah semakin dekat saja.


Amanda menyentuh tangannya, teringat kembali ketika Doni menggenggam tangannya tadi siang ketika mereka menyantap mie pangsit di kantin.


“Dia sepertinya pekerja keras… Tapi kenapa tangannya lembut sekali ya?” Amanda bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


“Dasar aneh! Dia memang benar-benar aneh…” Gumam Amanda.


Dia sebenarnya merasa bingung dengan sikap Doni yang kadang-kadang agak aneh pada dirinya. Kadang-kadang seperti perhatian sekali dibalik sikap cueknya yang aneh dan menyebalkan itu.


Bayangan wajah Doni dengan tatapannya yang dalam dan lembut membuat hati Amanda berdesir halus.


“Idihhh… Ngapain juga aku jadi geer sendiri…” Amanda tersadar dari lamunannya.


Dia mencoba fokus lagi mengerjakan PR nya yang tertunda. Malam ini semua PR harus selesai. Tidak boleh ada tugas yang menumpuk. Amanda sudah terbiasa disiplin mengerjakan semua tugasnya.


Amanda tidak ingin dirinya salah sangka lagi atau baper tak jelas. Doni adalah teman yang baru dikenalnya. Selama Doni bersikap baik padanya, dia juga akan bersikap baik pada Doni.


Smartphone Amanda bergetar lagi.


“Ya ampun… Siapa lagi ini?” Amanda mendengus pelan, dia melirik layar smartphone-nya. Ternyata si cowok aneh itu.


“Baru juga dipikirin… Udah nongol aja! Buat kaget beneran… Pake VC lagi… Aduh…” Amanda mencoba menenangkan detak jantungnya.


Amanda mencoba mengabaikan panggilan video dari Doni.


“Pura-pura ga tau aja deh…” Desis Amanda.


Amanda melirik smartphone-nya dengan panik ketika Doni melakukan panggilan video untuk kedua kalinya.


Sambil menghela nafasnya, Amanda akhirnya memutuskan menerima panggilan video dari Doni.


Wajah Doni memenuhi layar smartphone Amanda. Rambutnya terlihat basah dan berkilauan.


“Duhhh… Dia benar-benar tampan…” Amanda membatin sendiri dalam hatinya.


“Lagi apa?” Doni bertanya tanpa basa-basi, membuat Amanda melongo.


“Kamu baru selesai mandi ya?” Tanya Amanda ketika melihat Doni mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


“Iya…” Jawab Doni singkat.


Dia meletakkan smartphone-nya di holder khusus. Dia sudah mengatur posisi smartphone-nya sedemikian rupa agar Amanda tidak bisa melihat dengan jelas ruangan kamarnya yang mewah, sehingga tidak mencurigakan.


“Idih… Jangan mandi malam-malam dong! Itu ga baik buat kesehatan!” Amanda mulai memberi wejangan.


Doni tersenyum. Dia merasa hatinya tersiram air dingin dari kutub utara karena Amanda mulai perhatian dengan dirinya.


“Ya Tuhan… Senyumnya itu… Mati aku!” Amanda mulai merutuki dirinya yang benar-benar terpesona melihat Doni malam ini.


Ketukan di pintu membuat Doni terkejut. Pak Wicaksono memanggilnya dari luar kamar.


“Eh… Sudah dulu ya, nanti aku telpon lagi.” Ujar Doni cepat. Dia segera memutuskan panggilan videonya.


Amanda melongo menatap layar smartphone-nya dengan penuh tanda tanya.


“Apa? Telpon lagi… Apa yang mau dia bicarakan malam ini? Dasar aneh, buat jantungan aja!” Gumam Amanda gusar.

__ADS_1


“Tuh kan… Ga kelar-kelar ini PR aku jadinya…” Amanda ngomel-ngomel sendiri sambil melanjutkan mengerjakan PR nya.


__ADS_2