
“Sudah bangun, sayang?” Tanya Nyonya Wishnu ketika melihat putera kesayangannya di dapur.
Doni sepertinya sedang mencari sesuatu untuk dimakan. Dia membuka kulkas besar di sisi kiri dapur, melihat makanan atau minuman apa yang mungkin bisa ditemukannya di sana. Aroma masakan di dapur membuatnya semakin merasa lapar.
“Hemmm… Iya, ma…” Jawab Doni. Dia masih sibuk celingak-celinguk sambil memeriksa beberapa kotak tempat penyimpanan makanan di dalam kulkas.
Pak Wicaksono memasuki dapur. “Nyonya, makanan utama sedang dimasak. Apakah ada menu tambahan yang perlu kita persiapkan?” Tanya pak Wicaksono.
“Owhh… Iya, tentu saja. Makanan pembuka dan makanan penutup bagaimana? Sudah dipersiapkan juga bukan?” Nyonya Wishnu memastikan lagi berbagai menu yang harus mereka persiapkan sore ini.
“Sudah Nyonya. Sesuai arahan Nyonya, tentu saja.” Ucap Pak Wicaksono.
“Baik. Terima kasih, Pak Wicaksono.” Ujar Nyonya Wishnu. Pak Wicaksono mengangguk dan tersenyum penuh wibawa.
“Hemmm… Bagaimana jika malam ini kita mengadakan dinner dengan konsep taman saja, pak? Kita bisa menjamu tamu di taman belakang. Sepertinya malam ini cuaca akan cerah.” Sebuah ide cemerlang tiba-tiba terlintas di fikiran Nyonya Wishnu.
“Ide yang bagus, Nyonya! Saya akan mempersiapkan semuanya!” Pak Wicaksono berkata dengan penuh semangat.
“Oh ya… Bagaimana bumbu racikan saya tadi? Apakah ada yang kurang?” Nyonya Wishnu mencicipi makanan yang sedang dimasak oleh seorang koki keluarga mereka.
“Sempurna, Nyonya.” Ucap koki tersebut sambil tersenyum ramah.
“Hahaha… Baiklah. Saya jadi lebih pede kalau chef berkata demikian.” Gurau Nyonya Wishnu. Pak Wicaksono ikut tertawa.
Doni memperhatikan mamanya dan kesibukan chef serta para pelayan di dapur. Dia menduga sepertinya akan ada jamuan penting malam ini.
“Ada tamu ya ma?” Tanya Doni. Ia duduk di meja makan sambil menyantap strawberry yoghurt.
“Oh… Iya, sayang. Om Robby dan keluarganya akan bertamu malam ini.” Ujar Nyonya Wishnu.
“Om Robby?” Doni sedang mengingat-ingat nama itu.
“Iya, Om Robby sahabat papa dari Semarang. Kamu masih ingat kan?” Nyonya Wishnu berkata sambil tersenyum.
“Oh… Iya…” Desis Doni. Dia sudah mulai ingat sahabat baik papanya itu.
Nyonya Wishnu menghampiri Doni di meja makan. Wanita itu membelai rambut puteranya dengan penuh kasih sayang.
“Kamu nyenyak banget ya tidurnya. Sampe sore gini baru bangun…” Ujar Nyonya Wishnu.
“Hemmm… Iya ma. Tadi habis ngerjain PR jadi ketiduran…” Doni memberi alasan. Padahal sebenarnya dia sedang senang. Doni selalu bisa tertidur pulas jika hatinya senang.
Doni akan semangat sekali makan jika mood-nya sedang baik. Tadi siang dia benar-benar bahagia. Bisa berlama-lama di samping Amanda adalah hal yang sangat disukai Doni. Makan mie pangsit berdua, rasanya itu hal yang manis sekali.
“OK sayang, lanjut aja dulu makannya. Oh iya… Ada jus jeruk Xanthang di kulkas ya. Minumlah biar kamu lebih segar.” Kata Nyonya Wishnu.
__ADS_1
“Baik, ma…” Doni menjawab dengan patuh.
“Mama mau ke taman belakang dulu ya…” Nyonya Wishnu bergegas meninggalkan dapur.
Doni menatap kepergian mamanya. Semua terlihat sibuk di dapur. Ia menuangkan jus jeruk Xanthang dengan hati-hati ke dalam sebuah gelas dan pergi meninggalkan dapur. Ia ingin menikmati minumannya sambil menonton TV di ruang keluarga.
Bunyi derap sepatu dan langkah kaki yang khas mengagetkan Doni. Seorang pria berjalan dengan penuh wibawa, masih dengan setelan jas kerjanya.
“Eh… Papa…” Desah Doni. Ia mengecilkan volume Micro LED TV di hadapannya.
Tuan Wishnu membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. Pria itu duduk di samping Doni.
Biasanya Nyonya Wishnu akan menyambut suaminya pulang dengan wajah ceria, membantu membukakan jasnya dan melonggarkan dasinya. Namun Tuan Wishnu sudah paham, pasti saat ini Nyonya wishnu sedang sibuk di dapur mempersiapkan jamuan untuk tamu spesial mereka.
“Gimana di sekolah hari ini?” Tuan Wishnu mulai berbasa-basi.
“Iya, lancar pa…” Doni menjawab cepat.
“Kamu nyaman kan sekolah di situ?” Tanya Tuan Wishnu.
“Iya…” Ujar Doni sambil mengangguk.
“Good. Apakah kamu membutuhkan les tambahan?” Tuan Wishnu bertanya lagi.
“Sementara belum, pa. Tapi Doni mungkin akan mendaftar kegiatan ekskul dalam minggu ini.” Doni menceritakan peraturan di SMA Adhyaksa tentang kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh semua siswa.
Tuan Wishnu lupa melepaskannya tadi. Jika Nyonya Wishnu mengetahui hal ini, tentu saja Tuan Wishnu akan mendapat teguran dari Nyonya rumah.
“OK pa…” Ucap Doni.
“Diatur saja gimana baiknya ya. Papa juga tidak mau kamu terlalu lelah.” Tuan Wishnu berkata sambil menepuk-nepuk pundak Doni.
“Aman. Papa tenang aja.” Ujar Doni sambil tersenyum.
Dia akan mendiskusikan lagi tentang pengaturan jadwalnya dengan Nyonya Martha. Wanita itu sangat baik dan pengertian. Urusan Doni akan selalu dimudahkan oleh sekretaris papanya itu.
Tuan Wishnu mengangguk dan ikut tersenyum. Pria itu kemudian meninggalkan Doni sendirian di ruang keluarga.
Doni melanjutkan bersantai sambil menikmati acara favoritnya di layar TV yang super lebar tersebut.
Waktu terasa berlalu begitu cepat. Para pelayan dapur dan tukang kebun bekerja dengan sigap.
Tuan Wishnu dan Nyonya Wishnu sudah bersiap-siap. Mereka sudah berpakaian rapi dan terlihat sangat serasi.
“Sayang… Doni sudah tahu kan malam ini ada tamu penting?” Tuan Wishnu bertanya pada istrinya.
__ADS_1
“Iya, aku sudah memberi tahunya tadi.” Ucap Nyonya Wishnu.
“Hemmm… Apakah dia sudah diberi tahu bahwa dia juga harus ikut makan malam bersama?” Tuan Wishnu mulai curiga.
“Iya juga ya… Hahaha… Putera kita yang cool itu kadang-kadang memang mengkhawatirkan!” Nyonya Wishnu berkata sambil tertawa.
“Sayang, sepertinya Robby sudah tiba…” Tukas Nyonya Wishnu sambil melirik jam di dinding kamar.
“OK. Aku akan menyapa mereka. Coba cek Tuan Muda Anthony. Aku khawatir anak itu ketiduran lagi di kamarnya.” Ujar Tuan Wishnu sambil tersenyum simpul.
“Baik, sayang. Semoga dia sudah bersiap-siap.” Nyonya Wishnu bergegas menuju kamar Doni.
“Permisi, Nyonya. Tuan Robby beserta keluarga sudah tiba.” Tiba-tiba Pak Wicaksono muncul dan berbicara dengan Nyonya Wishnu.
“Oh… Baik. Tuan Wishnu akan segera menyapa mereka. Saya dan Doni akan menyusul turun.” Ujar Nyonya Wishnu.
Pak Wicaksono tersenyum dan membungkukkan badan. Pria itu berpamitan pada Nyonya Wishnu dan bergegas turun untuk mengatur pelayanan para tamu spesial Tuan Wishnu.
“Tok! Tok! Tok!” Nyonya Wishnu mengetuk pintu kamar Doni.
“Sayang… Ayo turun! Om Robby sudah tiba.” Nyonya Wishnu memanggil Doni.
Tidak ada tanggapan dari dalam kamar. Nyonya Wishnu mencoba membuka kamar Doni.
“Ya Tuhan… Anak mama…” Desah Nyonya Wishnu. Doni benar-benar sedang terlelap. Persis seperti dugaan papanya.
“Halo, Tuan Muda! Tamu kita sudah menunggu di bawah.” Nyonya Wishnu menepuk lembut pundak Doni untuk membangunkannya.
Doni menggeliat di dalam selimutnya.
“Ayo bangun! Papa udah nunggu di bawah.” Ujar Nyonya Wishnu mulai tidak sabar.
Doni mencoba membuka matanya. Ia berusaha bangun. “Ada apa, ma?” Tanya Doni sambil menguap lebar.
“Lho… Kan mama tadi udah ngomong, malam ini kita kedatangan tamu.” Ujar Nyonya Wishnu sambil geleng-geleng kepala.
“Oh… Itu kan tamunya papa.” Tukas Doni. Dia merebahkan lagi tubuhnya dan menarik selimutnya yang tebal.
“Eh… Ga boleh gitu, sayang! Buruan bersiap-siap ya. Lima menit harus kelar. Ini perintah!” Ucap Nyonya Wishnu tegas.
Doni mendengus di bawah selimutnya.
“Buruan sayang, mama tunggu di bawah!” Nyonya Wishnu berkata dengan nada mengancam.
Wanita itu meninggalkan Doni yang masih berusaha mengumpulkan semua nyawanya yang sejenak tadi menghilang ke alam mimpi.
__ADS_1
Doni bangkit dengan ogah-ogahan. Dia menguap lagi. Namun dia harus bersiap-siap. Dia betul-betul lupa bahwa malam ini ada tamu penting yang berkunjung ke rumah mereka.