
"Windy, kamu sudah siap?" Tanya Mama Windy entah sudah yang keberapa kali.
"Iya, ma. Sebentar!" Sahut Windy sambil membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan mamanya masuk ke dalam.
"Hemmm... Dandannya lama banget, kayak mau ke istana aja!" Canda mamanya Windy.
Windy hanya menanggapi kata-kata mamanya dengan senyuman manis. Dia kembali fokus dengan dandanannya, merapikan rambutnya yang panjang menjuntai.
"Gimana, ma? Udah cakep belum?!" Windy akhirnya meminta pendapat mamanya.
"Cantik. Anak mama pasti cantik! Ga dandan aja udah cantik banget, apalagi kalau dandan gini!" Puji Mama Windy.
"Hehehe..." Windy terkekeh bahagia.
Dia betul-betul ingin tampil sempurna malam ini. Dia ingin terlihat memukau di malam penyambutan kepulangan Tuan Wishnu dan istrinya.
Padahal sesungguhnya Windy dan keluarganya tidak menggelar acara makan malam khusus untuk menyambut kepulangan Tuan Wishnu dan istrinya.
Acara malam ini hanyalah makan malam biasa antara dua keluarga sekaligus kawan lama.
Tetapi Windy menyimpan harapan yang agak berlebihan pada acara malam ini. Dia memiliki ekspektasi yang cukup tinggi di acara makan malam nanti.
Diam-diam Windy berharap penampilan dirinya malam ini akan membuat Tuan Muda Anthony terkesima dan terkesan.
Dia telah menyusun rencana di benaknya untuk mendekati lagi cowok tajir dan tampan itu.
Windy tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kali ini. Kesempatan tidak datang dua kali.
"Hemmm... Tuan Muda Anthony pasti pangling malam ini." Goda Mama Windy.
"Hehehe... Serius, ma?!" Tanya Windy kegirangan.
"Hahaha... Mama tahu itu tujuan kamu!" Mama Windy tertawa lebar.
Windy memanyunkan bibirnya sebagai pertanda kesal sekaligus ke-geeran dengan kata-kata mamanya.
"Iya, ma. Kak Doni itu cool banget!" Windy memuji dengan tulus.
"Jelas! Siapa dulu dong! Dia bukan anak sembarangan. Pewaris tunggal perusahaan terbesar di kota ini." Terang Mama Windy.
"Hemmm... Iya juga ya!" Windy menggumam kagum.
Rasa kagum terhadap sosok Tuan Muda Anthony semakin menguat di dalam diri Windy. Sudahlah tampan, tajir lagi. Wowww... Tuan Muda Anthony betul-betul perfect untuk menjadi gebetan Windy.
"Ya udah! Buruan gih! Papa udah dari tadi nunggu kita loh..." Ujar Mama Windy.
Windy mengangguk cepat dan keluar dari kamar mengikuti mamanya. Dia sangat bersemangat malam ini.
Jika Windy sangat bersemangat malam ini, lain cerita dengan Tuan Muda Anthony.
Cowok tampan itu masih berbaring sambil bermalas-malasan di tempat tidurnya.
Dia ingat bahwa malam ini papa dan mamanya sudah membuat janji temu dengan Tuan Robby. Janji makan malam bersama.
Semua ini karena Tuan Wishnu merasa tidak enak menolak undangan makan malam dari teman lamanya itu.
Walaupun sebenarnya Nyonya Wishnu masih cukup lelah akibat padatnya agenda Tuan Wishnu selama berada di luar negeri, Nyonya Wishnu juga tetap berupaya memenuhi undangan makan malam tersebut.
__ADS_1
Efek selanjutnya adalah Doni juga diajak oleh papa dan mamanya memenuhi undangan makan malam dari Tuan Robby dan keluarganya.
"Sayang!!" Terdengar suara Nyonya Wishnu dari balik pintu kamar tidur Doni.
Doni mendengus. Ingin rasanya dia berpura-pura sedang tidur nyenyak di kamarnya, namun dia merasa tidak tega membiarkan mamanya menunggu dirinya terlalu lama di luar.
Ceklek!
"Lho? Sayang... Kenapa kamu belum bersiap-siap?" Sembur Nyonya Wishnu ketika batang hidung Doni muncul di balik pintu.
Doni menghela nafasnya. Wajahnya terlihat kuyu. Nyonya Wishnu menatap Doni dengan tatapan kasihan.
"Oh... Tidak! Kamu baik-baik saja, Doni?!" Nyonya Wishnu menyentuh dahi Doni dan merasa semakin khawatir.
"Badan kamu hangat sekali... Oh, tidak... Kamu tidak baik-baik saja!" Ujar Nyonya Wishnu.
"Hemmm... Ma, Doni ga ikut ya!" Pinta Doni.
Nyonya Wishnu menghela nafasnya sebentar dan menatap Doni lagi dengan mimik wajah yang lebih serius.
"Ya... Sebaiknya kamu tetap di rumah... Kamu benar-benar butuh istirahat, sayang! Kamu pasti kelelahan sekali selama ini..." Ucap Nyonya Wishnu lembut.
Doni mengangguk pelan. Nyonya Wishnu mengelus pundak Doni dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa, mama akan sampaikan nanti ke mereka bahwa kamu tidak bisa ikut karena sedang kurang sehat... Kesehatan kamu lebih penting, sayang!" Kata Nyonya Wishnu.
Doni merasa lega mendengar kata-kata mamanya. Dia bersorak di dalam hati.
"Ya sudah, istirahatlah... Mama dan papa pergi sebentar ya..." Ujar Nyonya Wishnu.
"Iya, ma..." Sahut Doni.
Tubuhnya memang agak hangat malam ini. Sepertinya Doni mulai demam karena kelelahan dan kurang istirahat.
Selain kondisi tubuhnya yang kurang fit, Doni memang sebenarnya sangat enggan bertemu dengan Tuan Robby dan keluarganya.
Terutama gadis kecil itu. Doni sangat tidak menyukainya. Menurut Doni, puteri Tuan Robby itu memiliki sifat yang kurang baik dan terlalu agresif dengan laki-laki.
Doni paling tidak suka melihat perempuan agresif seperti itu, karena menurut hematnya itu adalah sikap yang tidak layak ada pada seorang gadis.
"Huhhh... Untung saja mama bisa ngerti kondisi aku..." Ujar Doni lega.
Tiba-tiba Doni teringat Amanda. Rasanya sudah lama dia tidak menghubungi Amanda melalui smartphone-nya.
Doni tidak mau membuang-buang waktu, dia segera menghubungi Amanda.
"Halo..." Ucap Amanda.
Doni senang sekali karena tidak biasanya Amanda menerima panggilan video darinya secepat itu.
"Hemmm..." Doni menggumam.
"Ada apa, Doni?" Tanya Amanda tanpa basa-basi.
"Kamu lagi apa?" Seperti biasa Doni tidak menjawab malah balik bertanya.
"Lagi nulis-nulis aja..." Jawab Amanda.
__ADS_1
Amanda sedang menulis di diary-nya. Dia sedang meluahkan segala isi hati dan kekecewaannya hari ini pada buku diary miliknya.
"Kamu lagi apa?" Amanda melontarkan sebuah pertanyaan lagi dan tidak berharap Doni akan bersedia menjawab.
Amanda sudah sangat hafal dengan kebiasaan Doni yang tidak suka menjawab pertanyaan yang ditujukan pada dirinya.
"Kamu nulis apa sih?" Tanya Doni kepo.
"Ya nulis! Mau tahu aja aku nulis apa!" Sanggah Amanda.
"Hemmm..." Gumam Doni.
"Besok sore kamu ada kegiatan?" Doni menatap lekat-lekat wajah Amanda di layar ponselnya.
"Hemmm... Sepertinya tidak ada! Kenapa?" Seru Amanda.
"Besok sore aku jemput kamu ya!" Ujar Doni.
"Jemput? Emangnya kita mau kemana?" Tanya Amanda curiga.
"Hemmm... Temani aku, sebentar saja." Jawab Doni.
Amanda menatap wajah Doni. Dia langsung deg-degan melihat ekspresi wajah Doni yang sedang serius menatap dirinya.
"Aduh! Lagi-lagi dia begitu!" Amanda menggerutu di dalam hati.
"OK! Besok aku minta izin ortu dulu ya!" Ujar Amanda polos.
"Hemmm... OK!" Sahut Doni.
"Ya sudah, maaf aku jadi mengganggu waktu kamu!" Sambung Doni.
"Ga kok... Biasa aja!" Balas Amanda.
"Kamu sepertinya lelah sekali, beristirahatlah..." Lanjut Amanda.
Amanda memperhatikan ekspresi wajah Doni yang tidak seperti biasanya. Ia terlihat lemas.
"Hemmm... Aku ga bisa istirahat kalau belum lihat wajah kamu." Ujar Doni sekenanya.
Amanda merasa wajahnya panas mendengar kata-kata Doni barusan.
"Dasar gombal!" Tukas Amanda.
"Hemmm..." Doni menggumam dan tersenyum tipis.
Dia merasa senang sudah melihat rona wajah Amanda yang sangat disukainya.
"Ya sudah... Selamat malam!" Ujar Doni sebelum memutuskan panggilan video dengan Amanda.
Doni lalu meletakkan smartphone-nya di atas meja. Dia rebahan lagi sambil menyusun rencana baru.
Sebuah rencana untuk menembak Amanda. Doni sudah tidak sabar lagi dengan kegalauan yang selama ini dia rasakan.
Sudah berkali-kali Doni menunjukkan perasaannya pada Amanda tetapi gadis itu selalu mengabaikan hal itu.
Doni sangat takut jika tiba-tiba ada cowok lain yang menyukai Amanda seperti dirinya. Dia tidak bersedia menyerahkan Amanda pada cowok lain.
__ADS_1
Amanda harus menjadi kekasihnya. Gadis sederhana itu telah mencuri perhatian Doni sejak pertama kali Doni melihatnya. Dan kini, seiring berjalannya waktu, hatinya juga telah tertambat semakin kuat pada Amanda.
***