Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Ketemu di Toko Buku


__ADS_3

"Kak, nanti nitip buku mewarnai satu ya!" Seru Mutiara dari depan teras rumah.


Adik Amanda yang paling bungsu itu berseru agar Amanda tidak lupa membeli pesanannya.


"Iya! Iya!" Balas Amanda sambil berteriak.


Amanda berjalan santai sambil menikmati cerahnya suasana pagi ini. Sinar matahari pagi baik untuk kulitnya.


Setelah berjalan santai hampir lima belas menit, Amanda tiba di pangkalan angkot yang biasa dinaikinya.


Ia melihat sebuah angkot sedang melaju dengan kecepatan lambat. Amanda segera memberi tanda agar angkot tersebut berhenti.


Ketika angkot sudah berhenti, Amanda langsung masuk ke dalam angkot dengan sigap. Ia melihat situasi di dalam angkot. Penumpang tidak ramai. Hanya ada seorang ibu-ibu, mungkin usia lima puluhan. Ibu tersebut membawa keranjang belanja.


Amanda menebak dalam hatinya, pastilah ibu itu akan pergi berbelanja ke pasar pagi ini. Ia lalu tersenyum tipis ketika ibu tersebut tersenyum ke arahnya.


Setelah beberapa kali melewati lampu merah, akhirnya Amanda bisa melihat gedung toko buku favoritnya di ujung jalan.


Dia memberi tanda agar angkot berhenti dan bergegas turun setelah menyerahkan ongkos angkot pada sang sopir.


"Yes! Belum rame. Pasti karena masih pagi nih..." Ujar Amanda penuh semangat.


Amanda langsung masuk ke toko buku dan mengambil tas khusus yang disediakan toko buku tersebut untuk setiap pelanggan yang akan berbelanja.


Seperti biasa, Amanda merasa nyaman sekali berada di toko buku itu. Suhu udara yang adem di dalam ruangan, suasana toko yang rapi, bersih dan wangi, pelayan toko yang sigap dan ramah, itu semua membuat Amanda ingin memberikan tidak hanya bintang lima tetapi juga semua bintang yang ada di langit untuk toko buku tersebut.


"Hemmm... Coba ke sana ah! Kali aja ada novel yang menarik!"


Amanda berjalan menyusuri deretan rak buku yang berjejer rapi. Dia berhenti di bagian rak novel. Ada beberapa novel yang boleh dibaca gratis di sana.


Amanda memilih judul novel yang dia sukai lalu memungutnya dan memasukkannya ke dalam tas belanjaan.


"Baca sebentar ah..." Ucap Amanda sambil melirik sofa yang kosong di tengah ruangan.


Dia berjalan ke arah sofa dan duduk santai di sana. Sambil melihat keadaan di sekelilingnya, Amanda mengeluarkan novel yang diambilnya tadi dari rak buku.


Seperti biasa, Amanda membaca sekali lagi sinopsis cerita dari novel yang dipilihnya. Dari sinopsis cerita, dia jadi lebih mudah memahami gambaran alur cerita novel tersebut.


"Sayang... Sepertinya buku-buku ini sudah cukup."


Terdengar suara lembut seorang wanita. Amanda refleks mengalihkan pandangannya dari buku novel yang sedang dibacanya ke arah pemilik suara yang lembut itu.


Dia terpana melihat seorang wanita yang sangat cantik dan anggun.

__ADS_1


"Wowww... cantik banget..." Amanda mendesis pelan.


Amanda terus saja memperhatikan gerak-gerik wanita cantik tersebut. Dalam hatinya Amanda menduga bahwa pastilah wanita itu orang kaya. Amanda bisa menilai kelas wanita cantik tersebut dari style pakaian dan wibawanya.


"Orang kaya emang beda..." Batin Amanda.


Dia melanjutkan membaca novel dengan cepat. Namun lagi-lagi fokusnya terpecah karena mendengar suara seorang cowok yang terdengar tidak asing di telinganya.


"Ma, Pak Heru sudah menunggu di parkiran..."


Amanda sontak menoleh lagi. Dia nyaris saja menjerit ketika melihat sosok Doni berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.


DEG... DEG... DEG...


"Ya Tuhan! Dia kenapa ada di situ!"


"Jangan sampai dia melihatku di sini..."


Amanda mendadak panik luar biasa. Dia berfikir sebaiknya dia segera pindah dari sofa. Dia bisa saja bersembunyi di antara rak-rak buku yang ada di ruangan.


Malang bagi Amanda, entah mengapa tiba-tiba Doni menoleh ke arahnya. Amanda tanpa sadar langsung menutup wajahnya dengan novel yang sedang dibacanya.


"Sial... Mampus aku..." Ucap Amanda lirih.


"Oh... Hemmm..." Gumam Nyonya Wishnu.


Nyonya Wishnu mencoba mengingat-ingat wajah gadis yang sedang ditatap oleh puteranya dan dengan cepat wanita cantik itu menyadari apa yang sedang terjadi.


"Bukankah dia adalah gadis itu?" Nyonya Wishnu membatin.


Doni dan Amanda sama-sama kaget. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka akan bertemu di toko buku itu.


Amanda sendiri sebenarnya lebih kaget lagi. Dia heran bagaimana bisa Doni mengenali wanita cantik itu.


"Aneh..." Amanda membatin. Dia mulai menurunkan novel dari depan wajahnya dan bergegas bangun dari sofa.


Amanda dengan sigap berusaha menghilang dari pandangan Doni.


"Coba aja aku punya ilmu menghilang ala-ala ninja. Ga perlu serempong ini. Huhhh..."


Dia terus saja merutuk kesal dan berusaha pergi sejauh mungkin dari tempat tadi. Dia berharap sekali Doni tidak memperhatikan dirinya saat ini.


"Mudah-mudahan dia ga nyari-nyari aku..." Amanda berdo'a dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu, Nyonya Wishnu memperhatikan gerak-gerik Doni yang mulai terlihat berbeda. Nyonya Wishnu tahu Doni masih mencari-cari sosok gadis yang tadi duduk di sofa melalui ekor matanya.


Tetapi Nyonya Wishnu tergelitik juga untuk bertanya.


"Hemmm... Ada apa, sayang?"


Doni tidak menjawab pertanyaan Nyonya Wishnu. Dia hanya terdiam.


"Apakah ada seseorang yang kamu kenal di sana? Gadis yang duduk di sofa itu?" Tanya Nyonya Wishnu tanpa basa-basi.


Nyonya Wishnu tidak sabar ingin melihat secara langsung bagaimana reaksi Doni jika bertemu Amanda.


Selama ini Nyonya Wishnu hanya mendengar cerita dari Tuan Alfred yang melaporkan secara rutin kegiatan Doni dan segala tindak-tanduknya di luar rumah.


Oleh sebab itu, ini adalah kesempatan emas. Siapa sangka Nyonya Wishnu akhirnya bisa bertemu langsung dengan gadis yang sangat diidolakan oleh puteranya itu.


"Sayang..." Nyonya Wishnu mengelus lembut punggung Doni.


"Hemmm..." Doni menggumam pelan.


"Ayo samperin teman kamu itu! Mama tunggu di kasir ya!"


"Oh ya... Mama pikir tidak ada salahnya juga kita mengajak teman kamu untuk ikut ke yayasan..."


Nyonya Wishnu tersenyum manis ketika melihat gurat wajah Doni yang berubah lagi.


"Anak-anak pasti senang kalau kita datang bersama teman-teman kamu... Jadinya akan lebih rame." Ujar Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Tapi, ma..." Doni tidak melanjutkan kalimatnya karena Nyonya Wishnu sudah memberi tanda agar Doni segera pergi menemui gadis yang tadi duduk di sofa. Doni melengos.


"Ayo! Buruan gih... Bilang aja mama kamu yang ngajak dia!" Tukas Nyonya Wishnu.


Doni terpaksa menuruti perintah mamanya. Walaupun sebenarnya dia agak khawatir jika bertemu Amanda di sini. Dia sebenarnya tidak ingin Amanda terlalu cepat mengenali mamanya.


Tapi mau bagaimana lagi, mamanya yang meminta agar dia mengajak Amanda. Doni betul-betul tidak punya pilihan.


"Mama tunggu di cassa sebelah sana ya!" Nyonya Wishnu menunjuk ke arah meja kasir deretan ketiga.


"Hemmm..." Doni menggumam pelan lalu berjalan menuju ke arah rak tempat terakhir kali Amanda terlihat.


Nyonya Wishnu tersenyum dikulum melihat gerak-gerik Doni yang kelihatan bingung sendiri.


"Kalau dalam hal beginian, kamu memang beda dari papa." Batin Nyonya Wishnu.

__ADS_1


***


__ADS_2